NovelToon NovelToon
Song Of Songs Mafia : Haga Revenge

Song Of Songs Mafia : Haga Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Supernatural
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lombu Willem

Haga seorang ketua kriminal gang Ono Sitefuyu menghadiri pesta pernikahan yang dalam sekejap berubah menjadi aksi pembantaian massal. Haga menjadi salah satu korbannya, ditemukan mati bersimbah darah di suatu ruangan.

Keajaiban terjadi, ia diberi kesempatan untuk hidup kembali. Tetapi dalam wujud orang lain, Haga mulai menjalani kehidupan sebagai sorang polisi.

Banyak fakta-fakta menarik yang ditemukannya semenjak jadi seorang detektif. Hendrikus ternyata bukan orang suci dan menyimpan banyak sisi kelam. Ia ternyata bergabung dalam kelompok mafia Song of Songs, sehingga membuat Haga ikut terseret dalam aktivitas para mafia itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lombu Willem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meluruskan?

Hamidghal Octovianus Nazara ditemukan hangus terbakar di dalam mobil Jeep hitam miliknya kemarin malam. Diketahui ia sedang dalam perjalanan menuju Nias Selatan untuk menghadiri pesta pernikahan sahabatnya yang berlangsung hari ini.

Waktu menunjukkan pukul sebelas siang, data administrasi dan hasil laboratorium awal sudah ada di meja aparat kepolisian. Laporan awal dari kantor forensik menyebutkan bila korban telah dibius terlebih dahulu, menghadang mobil Hamid, lalu membakarnya hidup-hidup.

“Tak ada sidik jari yang ditemukan?” tanya Peter, pada petugas laboratorim yang mengantarkan setumpuk kertas ke ruangan itu. Peter Argumentasi adalah petugas dari pusat yang dikirim ke Gunungsitoli untuk menyelidiki kasus pembunuhan massal di rumah pesta. Dan karena Hamid ada hubungan dengan kejadian saat itu, Peter mengambil alih kasus tersebut.

“Tidak ada. Ditubuh korban hanya ditemukan jejak pavulon, obat keras yang mampu memberi efek lumpuh sementara. Tetapi tak membuatnya kebal akan rasa sakit,” kata laboran itu.

Peter mengambil map dari tangan laboran itu.

Empat penyidik handal akan membantunya dalam mengungkap setiap keping informasi yang didapatkan. Mereka telah duduk di kursi masing-masing dan siap mendengar semua penjelasan dan arahan dari pimpinan mereka.

Mengambil posisi berdiri, Peter mulai berbicara dihadapan timnya. Dibelakang tubuh besarnya, ada satu papan putih berisikan beberapa foto, hasil jebretan yang didapatkan di tempat kejadian perkara, di jalan perbatasan.

“Mayatnya ditemukan hangus terbakar kemarin malam,” menunjuk satu foto, menggunakan pointer, yang memperlihatkan tubuh Hamid hangus terbakar di mobilnya.

Lalu ia menggeser sinar dari pointer itu, ke bawah papan dan menunjuk foto lainnya; Gideon, Oliver, Bertus dan Stefanie. “Aku ingin mereka diselidiki hingga tuntas," tegas Peter.

Ditengah-tengah diskusi, seorang petugas datang membuka pintu ruangan itu. Menyampaikan pesan untuk Peter, bila seseorang bernama Gideon datang mencarinya.

Mengekor petugas itu dari belakang, pria berumur 44 tahun itu berjalan keluar meninggalkan unit itu untuk sementara waktu.

Ditengah-tengah ruangan, ia bisa melihat Gideon yang sedang berdiri dekat meja salah seorang petugas, menunggu kedatangannya. Mengenakan kaos oblong hitam dan celana jeans chinos bewarna krem, ia memenuhi permintaan polisi untuk dimintai informasi.

“Saya sangat berterima kasih telah meluangkan waktu anda untuk datang,” ujar Peter pada Gideon. Keduanya berjabat tangan.

“Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu anda pak?” melempar senyum mencoba mengakrabkan diri.

Orang lalu lalang melintas diantara kedua pria itu. Kursi sengaja dibuat kurang dan terisi penuh, sehingga saksi yang datang tidak mendapatkan tempat untuk duduk. Trik kuno yang masih berlaku hingga saat ini di tiap kantor polisi. Dilakukan secara sengaja untuk membuat tamu yang datang, bersedia melangkahkan kakinya ke ruang introgasi. “Kursinya penuh. Ayo kita bicara ditempat yang agak sepi,”

Keduanya kini duduk didalam ruangan kecil berantakan tempat para saksi dan tersangka sering ditanyai.

“Sekali lagi saya ucapkan terimakasih Gideon,” ungkapnya.

“Pembunuh Hamid, apakah sudah ditemukan ?” tanya Gideon.

“Masih sangat dini untuk menyimpulkan,”

Gideon melirik mengalihkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu, “Saya janji ini akan berlangsung cepat,”

“Aku punya banyak waktu. Tenang saja,”

Peter mengambil arsip map, meletakannya diatas meja, mengambil posisi duduk melipat tangan sehingga membuat map itu tertindih oleh bagian dalam tangannya. Ia memulai dengan mempertanyakan hubungan antara keduanya. "Bagaimana anda bisa mengenal Hamid? "

“Kita tidak terlalu akrab. Tetapi kami saling kenal saat sekolah dulu,"

"Apakah dia memiliki musuh yang menginginkannya mati? "

"Mungkin saja," Gideon tertawa.

“Anda betul," Peter juga ikut-ikutan tertawa. "Apakah anda mengenal Akhizaro ?”

“Tidak kenal. Tapi saya tahu siapa dia,”

“Oh ya?”

“Iya. Dia polisi, kenal dengan teman saya. Haga juga mati disana,” jawab Gideon. Entah sadar atau tidak, ada senyum yang terlukis dibibir Gideon saat menyebutkan kematian Haga.

Senyuman yang terlukis itu mampu dipahami dengan jelas oleh dua bola mata Peter. "Tetapi anda kan bersama dengannya, disaat-saat terakhirnya,"

"Dua pemusik, Bertus dan Stefanie juga ada disana,"

"Jadi anda tidak tahu kenapa teman ada bisa mati?"

Gideon hanya diam. Dia menggelengkan kepala isyarat tidak tahu-menahu.

"Apa kau yang membunuhnya?"

Mata Gideon membelalak, "Itu tuduhan kejam tak berdasar, tuan,"

Lalu Peter membuka map yang diberikan oleh laboran saat di ruang kerja unit pembunuhan. “Apakah anda mengenal gadis ini?" Memperlihatkan foto Stefanie "Dimana dia sekarang?'

“Tidak ada yang kuketahui tentang itu,” jawab Gideon.

Peter masih belum berhenti. Mengambil secarik foto dari arsipnya lalu mengangkatnya untuk diperlihatkan pada Gideon. “Kalau gadis ini? Apa anda mengenalnya?”

Gideon bimbang sesaat. Ritme wawancara sudah semakin cepat, dan ia berusaha memperlambat. Sementara ia melihat petugas dihadapannya tengah sibuk menulis dan mencoret-coret catatan miliknya dengan sangat tenang.

“Ya aku mengenalnya? Dia topik pembicaraan selama bermingu-minggu,”

Peter membaca kegelisahan tergambar di wajah pria yang ada dihadapannya. "Bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat itu? "

"Maaf Pak, saya tidak tahu," Gideon melirik jam tanganya sekilas, ”Apa ada pertanyaan lagi ? Saya baru ingat ada janji penting hari ini,”

“Anda sudah cukup membantu,” Peter berdiri. Sejurus kemudian, Gideon juga ikutan berdiri. Keduanya berjabat tangan. Setelah itu Gideon tanpa berbasa-basi melangkah cepat keluar dari gedung itu.

Ditengah langkah yang tergesa-gesa, Gideon secara tanpa sengaja bertabrakan bahu dengan Haga, "Gideon?" kata pria itu kepadanya.

Gideon merasa aneh mendengarnya. Tidak pernah sebelumnya ia bertemu dengan petugas polisi yang saat ini berada dihadapannya. "Maaf. Anda mengenal saya?"

Haga akhirnya tersadar bila saat ini ia telah menjelma dalam wujud orang lain, Hendrikus. "Saya pernah melihat wajah anda di file kepolisian,"

Gideon tidak menanyakan lebih dalam, ia menduga bila polisi ini terlibat dalam penyelidikan kasus kematian Hamid. "Maaf, saya buru-buru," melangkah menuju pintu keluar.

"Hendrikus!" teriak seseorang, tetapi orang yang dituju tidak merasa bila dirinya yang dipanggil. "Woi, brengsek!" Haga masih tertegun menatap pintu keluar.

Seorang petugas wanita yang juga hendak menuju keluar, kemudian mencolek perut Haga, menyuruhnya untuk berbalik badan. "Bos manggil kamu, sayang," wanita itu pergi dengan tersenyum.

"Hendrikus, kesini kau!" teriakan itu akhirnya terdengar lagi, dan Haga sadar bila dirinyalah yang dipanggil, sehingga dengan langkah cepat ia menuju ke ruangan atasannya.

"Permisi pak,"

"Berdiri kau disitu!" Rozi memerintahkannya sambil menunjuk ke tempat Haga harus berdiri, "Kau sadar dengan perbuatanmu?" langsung melemparinya dengan pertanyaan.

Haga terdiam. Hingga saat ini dia masih belum menyadari alasan dari kemarahan atasannya tersebut. "Maaf Pak, salah saya apa?"

"Kau salah apa? Kau tanya kau salah apa?" menghantam meja kerja dengan telapak tangannya, hingga menimbulkan suara yang keras dan terdengar oleh orang-orang diluar ruangan itu. "Keparat kau! Bisa-bisanya kau masih tanya apa kesalahanmu?"

Dengan polosnya ia tetap merasa jika dirinya tidak melakukan kesalahan, justru sebaliknya merasa senang karena telah memecahkan satu kasus. Penemuan mayat Hamu.

"Tidak pak! Saya justru baru meluruskan satu kasus," Haga menjelaskan bila si pria pemulung bukanlah tersangka dalam kasus penemuan mayat di tempat pembuangan sampah. Memang benar sidik jarinya ada disana, itu karena sebelum melapor, pemulung itu telah membuka kantong plastik tersebut dan menggeledah tubuh korban, untuk diambil barang-barang berharganya.

Rozi makin kesal dengan hal itu, berdiri tiba-tiba hingga kursinya terdorong jatuh kebelakang. Melangkah mendekati Haga, "Plakkk," satu tamparan keras menyapu sisi sebelah wajah Haga.

Bergerak refleks, Haga tidak sadar sedang mencengkram kerah baju atasannya.

1
Ansar rauf
pusing bacanya, alur ceritanya berbelit-belit
Ansar rauf
mantap
Ansar rauf
👍
Lady Meilina (Meilina07.)
mampir thor
Honeybee_🐝
Hadir thor....🥰
Tetap Semangat 💪
Salam dari ( Ayah dari calon anak sambungku )
Ummu Jihad Elmoro
aku mampir, kk.. 😇
Nnzxy
lanjut kak semangat!!
aku udh mampir
Lombu Willem
Terimaksih kak 🙏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNOL💘 ¢ᖱ'D⃤
dh mampir thor
anggita
gunungsitoli,, sumatra utara.👏
anggita: smoga novel sampeyan sukses yah.,
total 2 replies
anggita
👍👌👍👌
anggita
trus berkrya.
anggita
mpir nglike👍 ae lah.
qinan_velvet
Ikut nyimak Kak...... gelar karpet dulu..... Semangat
KumiKimut
lanjut ❤️
Lombu Willem
terimakasih juga kak 🙏
Pangeran Matahari
semangat y kk..

mampir jg kekisah cinta cucu manja oma
Pangeran Matahari
keren novelnya
ForGoodluck
Thor, dapet notifikasi dari update-an ceritamu itu kayak minum es di siang hari bolong!
Lombu Willem: menyegarkan atau bikin sakit gigi 😅
total 1 replies
Lombu Willem
Sip
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!