sebuah lengan membawaku kedalam pelukannya entah kenapa ragaku tidak bisa aku kendalikan, aku menatapnya lelaki dengan manik coklat dengan rahang kokoh.
sentuhan demi sentuhan membuatku terlena, aku tidak bisa berbuat apa apa entah ada apa dengan tubuhku, aku menikmati setiap sentuhannya.
"egh"
hanya itu yang keluar dari mulutku, hingga sesuatu yang melesak masuk kedalam tubuhku aku hanya mampu menangis namun menikmatinya sangat menikmatinya.
hingga berita kehamilan menyebar membuatku tak bisa mengelak sebuah pernikahan dengan lelaki yang tidak aku inginkan menjadi tameng penghalang impian impianku untuk meniti masa depan yang indah dan cerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiya12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehamilan Kena
"Tuan" bi inah berlari menghampiri tuannya, dengan cepat membantunya untuk bangkit dan memapahnya ke kamar.
wanita itu mencari obat Tuan nya di nakas dekat tempat tidur, lalu memberikannya dengan segelas air ditangannya.
"Terima kasih bi" ujarnya setelah merasa lebih baik setelah meminum obatnya "kemasi beberapa pakaian saya bi, kita ke Bandung sekarang Kena kecelakaan"
"APA?" bi inah sedikit berteriak karena terkejut.
"segera bi!" keduanya mulai sibuk dengan urusannya masing masing...[]
Andra Herlambang, tengah menunggu dokter yang memeriksa keadaan Kena. Hatinya gelisah, ketakutan terbesar kehilangan permata hatinya, sudah cukup kehilangan belahan jiwanya ia tidak lagi ingin kehilangan sang putri.
"bagaimana keadaan putri saya?" ujar Andra saat dokter keluar dari ruang UGD.
"kondisinya tidak terlalu parah, kita lihat setelah siuman nanti dan beruntung ya kandungannya masih bisa diselamatkan" jelas dokter.
"kandungan?" Andra memicingkan matanya menatap dokter Airlangga, di name tag nya.
"iya, putri bapak tengah hamil 5 minggu" jelasnya kemudian.
"hamil? 5 minggu? bagaimana mungkin?" Andra sangat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter itu, mana mungkin kena hamil.
"iya kita tunggu dokter kandungan datang pukul 8 nanti" ujar Airlangga "pasien nanti dipindah ke ruang rawat, silahkan bapak urus dulu administrasi nya" Andra hanya diam seolah tidak peduli dengan apa yang dikatakan sang dokter.
"kalau begitu saya permisi" Airlangga pun memutuskan untuk pergi, sepertinya Andra memang sedang tidak ingin berbicara lebih.
"hamil? 5 minggu" pertanyaan itu berkali kali terngiang di telinganya, apa yang harus dia lakukan?
"Tuan ini barang barang nona Kena" Jef membawa sekotak barang barang kena.
"tolong urus administrasi nya dan ambil kamar VIP" jef langsung pergi setelah mengangguk, Andra menjatuhkan bobotnya dikursi tunggu.
"Tuan tidak menemui non kena?" pertanyaan bi inah membuatnya menoleh.
"Kena hamil, 5 minggu kata dokter apa bibi tau sesuatu" ujar Andra dengan datar, bi inah yang baru saja datang cukup terkejut tapi dengan cepat ia membuang nafasnya pelan.
"saya menemukan ini tadi siang" ujar Bi inah lalu menyodorkan dua benda pipih dengan dua garis samar yang telah ia keluarkan dari sakunya.
"apa ini?" tanya Andra bingung.
"alat tes kehamilan tuan, sepertinya nona kena baru mengetahuinya hari ini" jelas bi inah, Andra menatap kedua benda itu dengan tatapan sulit di artikan...[]
Kena mengerjapkan matanya perlahan, aroma obat menguar membuatnya mual, kamar bernuansa putih dengan selang infus menempel di tangannya, tubuhnya terasa lemas dan sulit untuk bergerak.
"sudah bangun?" pertanyaan Andra membuat Kena gugup.
"papah" lelaki itu bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Kena. ini sudah pukul enam pagi.
"apa yang sakit?" tanya Andra dengan lembut, kena merasa sedikit aneh dengan sikap papahnya.
"seluruh badan" ujar kena sedikit ragu, Andra membuang nafasnya dengan pelan ia mengeluarkan dua benda pipih di saku celananya dan memberikannya pada kena tidak lupa dengan sebuah amplop yang sejak tadi di pegangnya.
"apa ini?" tanya kena bingung.
"di alat tes kehamilan itu menunjukan dua garis namun salah satunya samar" kena menutup mulutnya, itu artinya papanya tahu jika ia hamil.
"dan di amplop itu semalam papa meminta dokter kandungan mengecek keadaan dia" ujar Andra, lalu menunjuk perut kena di akhir kalimat.
"pah, kena bisa jelasin semuanya tolong dengerin kena" ujar kena mengiba, air matanya juga luruh begitu saja.
"dengar kena, perjanjian kita dulu jika kamu melanggar maka dengan berat hati papa harus membuangmu" ucap Andra tanpa ragu, membuat ngilu di hati kena.
"pah, ini semua kecelakaan tidak seperti yang papah pikirkan kena di jebak" jelas kena, namun Andra menggeleng apapun alasanya kesalahan yang diperbuat kena tidak dapat di toleransi.
"paaaah, aku mohon lelaki itu sudah menikah dengan Aisyah aku bisa apa?" kena tergugu dalam tangisnya, ada rasa iba menyeruak di lubuk hati Andra, satu sisi merasa kasihan tapi lain sisi ini adalah hukumannya.
"mulai sekarang, kamu harus urus semuanya sendiri dan papah akan memberhentikan kamu dari pekerjaan kamu sebelumnya" kena menggeleng, itu artinya tidak ada rumah mewah tidak ada pekerjaan jika semua fasilitas ditarik kena hanya bisa bertahan hidup dengan uang tabungannya saja.
"papah kena mohon" Kena turun dari tempat tidur hingga infusan ditangannya lepas dan menyebabkan tangannya berdarah, ia berlutut memegang kaki sang papah.
"maaf saya harus pergi" ujar Andra melepaskan genggaman tangan Kena di kakinya dan berjalan meninggalkannya.
"papaaah engga pah kena ikut papah" ujar kena, ia bangkit dan mencoba mengejar lelaki itu.
"papaaaah" teriak kena, orang orang yang berlalu lalang di Koridor memperhatikannya namun tak berani melakukan apapun.
Andra sudah hilang dari penglihatan kena, dia menangis tergugu bagaimana hidupnya setelah ini? dibuang oleh papahnya, hamil, kehilangan pekerjaannya dan Rey, lelaki itu bahkan pindah agama demi menikahi Aisyah...[]
"Kecelakaan beruntun yang melibatkan 3 mobil di tol cipularang ruas jalan 81 kilo meter mengakibatkan jalan macet hingga dua kilometer, 2 korban jiwa dan 3 korban luka luka di larikan ke RS Thamrin Purwakarta"
"sayang kayaknya mobil temenmu deh" Robert yang sedang menonton siaran berita memanggil Vanya yang tengah sibuk menelpon seseorang.
"temenku yang mana?" ujar Vanya, kemarin ia terlalu sibuk dengan acara pernikahan hingga tidak bisa mengurus Kena.
"ya ampun honey, ayo kita kerumah sakit itu" ujar Vanya, Robert sigap mengambil kunci mobil dan keduanya langsung bergegas menuju mobil.
"halo ais, Kena kecelakaan sekarang dirawat di RS Thamrin Purwakarta aku dan Robert segera kesana" ujar Vanya dengan panik.
"iya, baru liat tadi siaran berita di TV" jelas vanya "yaudah ketemu disana ya bye"....[]
Vanya dan Robert keluar dari mobil setelah tiba dirumah sakit, tak lama Ray dan Aisyah datang menghampiri mereka.
"Vanya" Aisyah menghambur ke pelukan Vanya.
"semoga kena tidak apa apa" mereka berempat menuju resepsionis lalu menanyakan ruang rawat kena.
"suster, dimana korban kecelakaan kemarin yang bernama kena" ujar Vanya.
"Kena? tunggu saya cari sebentar" setelah menunggu beberapa saat sambil memperhatikan suster itu memainkan keyboard dikomputernya.
"VIP ruang melati 1" ujar suster itu.
"makasih" setelah mendapatkan informasi keempat orang itu menuju ke tempat yang diberitahu suster itu.
langkah mereka terhenti saat melihat Kena duduk di lantai di depan ruang rawatnya.
"Kenaaa" Vanya berlari menghambur ke pelukan Kena, sedangkan wanita itu hanya diam tidak merespon.
"kamu gapapa?" ujar Vanya, Aisyah, ray dan Robert datang menghampiri. seketika mata kena membuat melihat ray berdiri di samping aisyah.
tatapan nyalang kena pada Ray membuat aisyah bingung, ada apa sebenarnya. Kena bangkit dan berjalan perlahan mendekati Ray.
PLAK
satu tamparan sukses membuat semuanya terkejut.
"kamu kenapa nampar saya?" tanya Ray membuat Kena tertawa sinis.
"manusia bejad seperti anda bahkan pantas untuk mati" hardik Kena, membuat aisyah kebingungan.
"Kena aku bisa jelasin seb..."
"aku tidak butuh penjelasan apapun" ujar Kena memotong ucapan Vanya.
"sebenarnya ada apa?" kini aisyah membuka suara.
"dia, suamimu adalah laki laki yang sudah menghamiliku aisyah!" aisyah menutup mulutnya tidak percaya, bagaimana mungkin ray melakukannya.
"apa? aku menghamilimu mana mungkin, aku bahkan tidak mengenalmu" ujar ray tidak Terima, aisyah menggeleng tidak percaya.
"hebat, bahkan kau pura pura tidak mengenaliku" Kena bertepuk tangan, dengan seringai kejam dia menarik kerah kemeja lelaki itu.
"KAU! AKU BERSUMPAH AKAN MENGHANCURKAN SEMUA TENTANGMU" teriak Kena tepat di wajah Ray, lelaki itu diam tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
"kena apa yang kau lakukan" ujar vanya, Kena menoleh padanya lalu melepaskan cengkraman nya di kerah kemeja ray.
"kau, kalian pengkhianat" kalimat itu adalah kalimat terakhir yang kena ucapkan sebelum masuk dan mengunci kamar rawatnya, dibalik pintu dia meluruhkan tubuhnya menangis tergugu. Apa yang telah dilakukannya? ia baru saja menghancurkan pernikahan aisyah, tapi dimana keadilan untuknya Rey pergi begitu saja dan menikah dengan sahabatnya sendiri.
kepalanya terasa berat, semua yang dilihatnya menajadi kabur dan perlahan semua menjadi gelap.
lanjutkan