Kariva Diana Natashya, gadis cantik di kampus X yang menyandang predikat sebagai bunga kampus. Katanya, “tidak tertarik dengan kaum adam.”
Masa iya, sih?
Namun, hidupnya berubah 180° ketika sang ayah menjodohkannya dengan anak sahabat dengan alasan “permintaan terakhir.”
Hei, Ayah Heru baik-baik saja, kok. Tidak sakit ataupun sekarat.
Tak ingin mengecewakan sang ayah, Natashya mengangguk saja. Toh, tidak ada larangan bahwa mahasiswa tidak boleh menikah, kan?
Masalahnya, cuma satu. DIA TIDAK MENGENAL CALON SUAMINYA!!
❄️❄️❄️
Antonio Riko Alfiansyah, lelaki tampan di kampus X yang menyandang predikat idola kampus nomor satu. Kata mahasiswi di sana, sih, “tampannya tumpah ruah.”
Lelaki yang tidak pernah mengenal kata pacaran ini berakhir dijodohkan dengan gadis keturunan es yang suka bicara pedas. Anton jadi kurang yakin untuk menerima.
Tak ingin mematahkan kebahagiaan Mama-nya, Anton menerima saja. Yang penting keluarganya bahagia, dia juga bahagia, kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayla Noona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 | Insiden Bangun Tidur
Anton membuka matanya lebar-lebar. Hampir semalaman ia terjaga karena terlalu waspada dengan pergerakan Natashya. Pokoknya, setiap gadis itu bergerak sedikit saja, Anton langsung siaga satu.
Padahal, ya, Natashya bukan tipe gadis yang tidur dengan pola amburadul.
“Gue ngantuk banget, anjir.” Anton menutupi mulutnya, ia menguap lebar sekali. Lantas dirinya mencoba untuk kembali memejamkan mata. Seharusnya, tidak apa-apa, kan, jika ia bangun lebih siang hari ini?
Tangannya terulur ke samping. Kosong. Natashya tidak ada.
Baguslah. Gue bisa tidur nyenyak.
Ceklekk..
Natashya keluar dari kamar mandi dengan balutan bathrobe. Gadis itu menatap heran ke arah Anton.
Dia masih tidur?
Natashya melirik jam yang tergantung di dinding, pukul delapan pagi. Nia pernah bilang kalau Anton termasuk anak yang disiplin. Tapi, apa ini? Kenapa dia belum bangun?
Yah, walaupun keduanya sempat bangun jam lima tadi untuk menunaikan ibadah. Tapi, masa iya masih mau tidur?
“Yo?” panggil Natashya seraya mengguncang bahu lelaki itu.
“Hm?”
“Bangun.”
Anton menepis tangan Natashya dari bahunya, lantas mengubah posisi menjadi membelakangi Natashya. Selimut yang ada dinaikkan hingga menutupi seluruh tubuh Anton, menghalau segala upaya Natashya untuk membangunkan dirinya yang super ngantuk ini.
Natashya mendengkus. Gadis itu memilih untuk tidak mengindahkan sikap suaminya ini. Tangannya meraih koper yang sudah Riana beri pagi ini.
Jam enam tadi, Riana mengetuk pintu dan memberikan dua koper berisi pakaian Anton dan Natashya. Wajah wanita itu merengut kesal, sedangkan Natashya tersenyum puas.
Ingat tidak kalau Natashya pernah bilang akan melakukan sesuatu yang bisa membuat Riana bertemu Dokter Prisa? Itulah alasan ekspresi merengut wanita yang menjabat sebagai bundanya ini.
Bagaimana kalau kita flashback sebentar?
...Flashback on....
Natashya baru saja kembali dari acara jogging-nya bersama Anton. Ia beranjak ke kamar untuk menunaikan ibadah Shubuh. Seusainya, gadis itu mengendap-endap menuju kamar Heru dan Riana.
Gadis itu tersenyum miring, di tangannya terdapat beberapa carik kertas dengan lukisan laba-laba tiga dimensi. Natashya juga mengguntingnya menjadi seperti bentuk laba-laba asli. Di belakangnya, ia menuliskan beberapa kalimat mutiara untuk sang bunda tercinta.
...__________...
...Ini hadiah kecil dari Natashya buat Bunda tercinta....
...I hope you’ll like this:)...
...__________...
Natashya meletakkan kertas itu di dekat bantal Riana. Dia dan Randy tahu sekali kalau Riana sangat takut dengan laba-laba. Jadi, ya, boleh, lah, ngerjain dikit, hihi.
Nice sekali!
Usai menyelesaikan tugas negara, Natashya kabur dari sana secepat kilat.
...Flashback off....
“Bagus, ya, kamu ngerjain Bunda sampe kayak gini?” Riana berkata sinis. Karena ulah putrinya ini, ia sampai mencak-mencak tengah malam karena kaget melihat laba-laba di dekat bantal. Heru sampai geleng-geleng melihat tingkah Riana yang absurd di tengah malam.
Natashya mengedikkan bahu. “Hadiah kecil dari Tashya,” balasnya sok lugu.
Riana mendengkus, lalu pergi meninggalkan Natashya yang masih berdiri di ambang pintu.
Setiap kali mengingat kejadian itu, Natashya tergelak sendiri. Seharusnya ia memasang kamera CCTV agar bisa melihat secara live kepanikan Riana semalam.
Brukk!
Natashya berjengit kaget. Saking fokusnya membayangkan ekspresi panik Riana, ia gagal fokus dengan urusan koper di depannya. Dan, bukan hanya Natashya yang kaget, tapi juga Anton.
Lelaki itu menggeram kesal. Kenapa, sih, dia niat banget bangunin gue?!
Anton menyibak selimut dan terduduk di ranjang. Maniknya menajam, kekesalannya memuncak dan siap untuk diletuskan. “Shya, lo—”
Anton membelalak kaget. Astaga, pemadangan macam apa ini?!
Natashya dengan balutan bathrobe tengah membungkuk untuk memilah pakaian di koper. Tapi, bukan itu masalahnya. Melainkan mengenai bathrobe yang Natashya pakai saat ini... ujung bawahnya menyingkap hingga ke atas. Paha putih mulus itu terpampang jelas di sana. Anton jadi ingin me—astagfirullah, sadar, Nton!
Anton menggeleng keras, pikiran buruknya harus segera dienyahkan!
“Shya, lo apa-apaan, sih?!” protes Anton tanpa melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
Natashya berbalik, ekspresinya bertanya-tanya. Memangnya dia salah apa?
“Apa?”
“Kenapa lo pake jubah mandi di sini?”
Kerutan di dahi Natashya masih terlihat. “Ya, karna gue habis mandi,” jawabnya logis.
Hei, Natashya ini keterlaluan sekali polosnya!
“Gue cowok normal, ya, Shya,” ucap Anton menegaskan.
Natashya mengangguk paham. “Gue juga nggak pernah bilang kalo lo nggak normal, Yo.”
AARRGGHHH!
“Gue cowok normal, Shya, dan lo tau itu. Terus ngapain lo pake jubah kayak gitu di depan gue, hah?! Lo mau uji iman gue?”
Bagaikan tersambar petir, Natashya baru menyadari hal tersebut. Ia tersenyum kikuk seraya mengeratkan ikatan tali bathrobe. Ah, gue lupa soal itu.
“Iya, sorry. Gue... lupa.”
Lupa?! ALASANNYA LUPA?!
Anton tercengang. Kenapa ada makhluk seperti ini, sih? Ngeselin, tapi cantik.
Anton melotot tajam menyadari tatapan Natashya mengarah ke bawah. Yah, jangan salahkan ‘dia’ yang naik tingkat keaktifan. Kan, Natashya yang memulai.
“Ehm, sakit, ya?” tanya Natashya merasa bersalah.
Sakit, Shya. Sakit banget. Apalagi lo nggak mau tanggung jawab.
Anton menarik selimut untuk menutupi area terlarangnya yang mulai aktif. Ia memalingkan wajah ke arah lain, berusaha menyembunyikan semu panas di wajahnya. Sepertinya Natashya ini memang tipe cewek super polos.
Entahlah, Anton harus merasa beruntung atau malah kecewa. Beruntung karena Natashya adalah gadis baik-baik yang tidak pernah melakukan hal-hal ‘semacam itu’ atau kecewa karena Natashya tidak akan bisa memuaskan dirinya di... oke, tidak perlu dibahas.
“Cepet pake baju,” perintah Anton yang sudah merasakan hawa tak nyaman di sepanjang sudut kamar.
Natashya tak lagi menjawab, tapi langsung melaksanakan. Gadis itu kembali memilah pakaian dengan membungkukkan badannya.
“Tashya! Berdiri!”
Natashya sontak berdiri tanpa sadar. Dia berbalik dan menemukan wajah Anton yang merah padam.
“Kenapa, Yo?”
“Jangan bungkuk!”
“Kenapa?”
“Pokoknya jangan!”
“Terus gue ambil bajunya, gimana? Jongkok?”
Anton mendengkus. Itu ide yang lebih buruk.
“Hobi banget, sih, lo buat gue frustrasi! Kenapa nggak lepas jubah lo sekalian?” ucap Anton asal. Kedua tangannya terlipat di depan dada.
Natashya menarik tali bathrobe hingga terlepas dan hampir membuka jubahnya jika Anton tidak dengan sigap langsung menghentikan pergerakan gadis itu. Anton langsung berdiri cepat dan mencengkeram kedua lengan Natashya hingga posisi gadis itu terpojokkan.
“Lo gila?” sinis Anton.
“Kan, lo yang suruh.”
“Tapi, bukan berarti lo harus turutin kayak gitu juga, Shya. Lo pengen gue ambil hak gue sekarang?”
Natashya terdiam sejenak. Bola matanya berkilah ke sana kemari. “Itu keputusan lo. Kalo lo mau, ambil aja.” Natashya menjawab ragu.
Kini giliran Anton yang terdiam, ketegunannya begitu dalam. Apa dia tidak salah dengar? Natashya membiarkan dirinya... mengambil haknya sebagai suami?
“Lo berhak buat itu, jadi gue nggak akan halangin,” sambung Natashya meyakinkan Anton akan perkataannya. Namun, hatinya mengelak. Dia masih belum mau, huhu~
Dan, tentu saja. Binar manik Anton menggelap. Tatapannya berubah tajam. Jemarinya terangkat dan mengusap sudut bibir Natashya yang begitu tipis.
“Lo sendiri yang bilang.”
Cup!
Anton mencium bibir Natashya yang disambut lumayan baik oleh gadis itu. Ini ciuman pertama Natashya sepanjang 25 tahun ia hidup. Rasanya... agak aneh.
“Yo...” Natashya bersuara lirih. Bibir lelaki itu mulai menjalar ke mana-mana.
Alhasil, Natashya mendorong Anton dan menyentil dahi lelaki itu kencang.
Takk!
“Aww.. Shya! Lo apa-apaan, sih?!” Anton mengusap dahinya yang terasa nyeri. Sentilan Natashya tidak main-main kuatnya.
“Ini udah siang, jangan macem-macem. Gue laper.” Natashya mendorong Anton lebih jauh. “Mandi sana!”
Anton mendengkus. Ia menyambar handuk dan baju ganti ke dalam kamar mandi.
Tadi bilang boleh, waktu gue mau lakuin malah disentil! Aneh banget tuh cewek!
^^^To be continue...^^^
...❄️❄️❄️...
Bangun tidur aja ribet amat, nih, pasutri, wkwkwk. Sudahlah, jangan dihiraukan. Mereka memang begitu.
See you di chapter selanjutnya:)
Like-nya jangan lupa, ya.