Dear,
Diriku yang kelak berusia 27 tahun.
Aku tak tahu akan jadi apa engkau kelak. Tapi aku akan mempersiapkan engkau menjadi perempuan tangguh yang memperjuangkan cita-citanya. Bukankah engkau masih ingin menjadi seperti Najwa Shihab - salah satu perempuan hebat yang dimiliki negeri ini?
Jika memang itu keinginanmu, maka hal pertama yang harus kulakukan adalah berhasil lulus tes dan bergabung dalam Midori Magz. Engkau tahu 'kan, majalah sekolah itu memiliki banyak penggemar. Bukan hanya dari kalangan Midori High School saja, melainkan menjadi idola anak muda seantero kota ini.
Hei diriku yang kelak akan berusia 27 tahun, kau harus tahu bagaimana perjuanganku untuk mewujudkan mimpimu, mimpiku, mimpi kita.
Salam sayang,
Darimu yang berusia 16 tahun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoru Akira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 : Amarah
Semesta Arata
Arata masih mengabaikan Ayyara hingga menjelang jam istirahat pertama. Cowok itu hanya mempedulikan pelajaran dan sama sekali tak menanggapi celotehan Ayyara yang duduk berdampingan. Ia selalu merasa kesal jika Ayyara mengabaikan salam bunda. Meski Arata pun sering melakukan hal yang sama pada otousan, tapi entah mengapa Arata tak mau Ayyara meniru sikapnya yang salah.
"Nanti aku minta maaf sama, Bunda. Udah dulu dong marahnya," rengek Ayyara saat guru baru saja keluar kelas. Adelia yang duduk di depan mereka ikut menoleh saat mendengar rengekan Ayyara.
"Kalian bisa bertengkar juga toh."
"Tau nih Arata, dia ngambek mulu dari tadi."
"Ya kamu sudah bersikap tidak sopan sama, Bunda."
"Kan kubilang nanti bakal minta maaf."
"Wah, pertengkaran rumah tangga nih kayaknya. Nggak ikutan deh," celetuk Adelia membuat Ayyara kesal.
Cewek itu menimpuk kepala temannya dengan potongan penghapus. Sayang lemparannya meleset, jadi Adelia tak bisa merasakan perbuatan jahat Ayyara.
"Tetap saja sikap kamu tidak benar," kata Arata membuat mata bulat Ayyara melotot.
Dia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi tertahan di ujung lindah. Mungkin dia menyadari adu argumentasi saat ini hanya akan memperkeruh keadaan.
"Gomen, nggak bakal ulangi lagi!" janji Ayyara hampir putus asa karena sahabatnya bersikap tak acuh sejak tadi.
"Minta maafnya sama, Bunda."
"Udah ih, nanti kalau pulang juga. Gimana mau minta maaf sekarang?"
"Awas kalau kamu bohong!"
Ancaman Arata menunjukkan kalau dia bersungguh-sungguh.
"Hai... Baikan ya?" Ayyara mengulurkan jari kelingking yang segera disambut Arata meski agak terpaksa.
"Udah drama berantemnya? Kalian tuh aneh, nggak bisa hidup tanpa satu sama lain pakai acara berantem segala."
Lagi-lagi celetukan Adelia membuat Ayyara gemas dan kali ini melempar bolpoin hingga mengenai pundak cewek itu. Adelia meringis kesakitan. Sementara Ayyara hanya mencibir dengan menjulurkan lidah.
“Oh ya Ra, besok jadi berangkat sama Kak Jojo ke tempat kegiatan klub fotografi?”
Mendengar pertanyaan Adelia, bukan Ayyara yang menjawab. Justru Arata bangkit dari tempat duduk dan berjalan keluar kelas. Langkah kaki cowok itu tergesa. Ayyara tahu ada hal yang pasti terlupakan.
“Kenapa sih dia?” tanya Adelia saat Arata menghilang dari pandangan. Ayyara hanya tertwa tanpa menjawab pertanyaan temannya itu.
“Ke kantin aja yuk, beli camilan.”
***
Ruang ekskul fotografi sudah terlihat ramai saat Arata sampai. Boris dan Anugrah sedang memberi pengarahan kepada peserta yang akan mengikuti photography tour and camp. Sementara Metha terlihat mengecek kamera sebelum menunjukkan kepada para peserta.
Mereka memang berencana mengenalkan teknik dasar terlebih dahulu sebelum hari H. Salah satu alasannya agar peserta terbiasa menggunakan kamera DLSR saat kegiatan besok. Meski materi yang akan disampaikan adalah tentang teknik penggunaan kamera ponsel.
“Nah ini, lakon utamanya baru datang,” seru Anugrah disambut pekikan girang cewek-cewek yang mendominasi ruangan itu. Semakin jelas alasan mereka mengikuti kegiatan ini hanya demi bisa melihat Arata.
Arata membungkuk sopan membalas sapaan Anugrah, lantas memilih duduk di kursi di dekat almari. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian.
“Nah karena mentor sesungguhnya udah dating, selanjutnya dia yang akan kasih penjelasan. Haruto, bantu saya ya.”
Wajah Metha berubah ceria saat menydari atmosfir dalam ruangan itu menjadi lebih bersemangat. Alasan mereka untuk mengikuti photography tour and camp sudah datang.
Terpaksa Arata mengikuti perintah Metha dan membantu cewek itu menjelaskan penggunaan dasar kamera DLSR. Ia berdiri di antara gerombolan cewek yang dirasa tidak begitu heboh saat melihatya memasuki ruangan tadi.
“Ingat kesepakatan kita ya, paling nggak kamu perlu tujuh orang untuk bertahan,” bisik Metha saat mereka berdiri bersisihan.
Tubuh Arata menegang. Kesepakatannya dengan Metha demi keselamatan Ayyara membuat cowok itu merasa semakin tidak nyaman di ruangan. Metha benar-benar pandai memanfaatkan keadaan Arata demi kepentingan dirinya sendiri.
“Hei, kamu nggak nyaman terkepung di sini ya?”
Pertanyaan itu meluncur dari seorang cewek yang duduk di dekat pintu saat Arata membantu menjelaskan cara mengatur ISO di dalam ruangan. Ia memperhatikan cewek berambut keriting sebahu itu sejenak. Berbeda dengan kebanyakan cewek yang histeris saat melihatnya, wajah cewek itu polos tanpa make up. Mengingatkan Arata pada tipikal cewek seperti Ayyara. Bahkan sikapnya juga sopan apabila dibandingkan cewek-cewek di ruang ekskul fotografi. Meski tidak yakin, Arata ingin percaya jika dia bergabung bukan karena dirinya.
Arata tersenyum. Dia hanya mengangguk menanggapi pertanyaan yang ditujukan padanya. Lantas mengulurkan kamera DLSR di tangannya di hadapan cewek itu. Ia menunjukkan cara mengatur kebutuhan cahaya yang diperlukan untuk foto dalam ruangan.
“Aku Laura.”
Cewek itu mengulurkan tangan saat Arata selesai menunjukkan cara pengambilan gambar. Arata menyambut uluran tangan cewek itu saat mengingat kesepakatannya dengan Metha. Jika ia tak memulai membuka diri, bagaimana caranya agar bisa menahan tujuh orang untuk tetap tinggal?
“Haruto,” kata Arata sambil menjabat tangan cewek yang mengaku sebagai Laura.
“Senang kenalan sama kamu. Semoga kita bisa berteman,” ucap Laura dibalas senyum paksa Arata.
Dia memang belum sepenuhnya terbiasa menghadapi situasi seperti saat ini. Terlebih saat beberapa cewek lain terang-terangan mencuri pandang ke arahnya dan menatap Laura dengan pandangan tidak suka. Ingin rasanya ia segera menghilang saat itu juga.
“Kamu harus selektif untuk memutuskan siapa yang harus tinggal. Jangan sampai justru menyusahkan kita ke depan.”
Metha sudah berdiri di belakang Arata ketika memutuskan untuk membantu peserta cowok. Pernyataan Metha membuat perasaannya semakin kalut. Jika bukan karena Ayyara, ia tak akan sudi menjadi budak perempuan tak punya hati itu.
“Aku yang akan menentukan,” tegas Arata justru membuat Metha tertawa sinis.
“Kamu hanya tidak tahu seperti apa cewek yang barusan kamu ajak bicara. Dan kamu nggak akan pernah tahu apa yang bisa diperbuat cewek untuk mendapatkan milikinya.”
Metha melangkah ke peserta lain yang kini mencoba memotret objek yang ditempatkan di atas meja.
“Apa maksudmu?” kejar Arata.
Cowok itu menarik tangan Metha untuk keluar ruangan. Ia tak lagi mempedulikan pandangan orang-orang di ruang ekskul fotografi yang kini tertuju pada mereka.
“Wah aku nggak tahu kalau ternyata kamu sebegitu pedulinya demi menyelamatkan Ayyara. Beruntung banget ya dia. Apa dia tahu kalau kamu berkorban seperti buat dia?”
“Shut up. Katakan saja apa maksud kamu bicara seperti tadi?”
“Menurutmu?”
Arata benar-benar tak memahami maksud perkataan ketua ekskulnya itu. Pikiran Arata kalut. Dia benar-benar buta tentang perasaan ataupun pikiran orang lain selain Ayyara. Selama ini dunianya hanya dipenuhi Ayyara. Sekalipun ada orang lain, kebanyakan dari mereka dari jenis yang sama. Oleh sebab itu dia tak bisa menerka ke mana arah pembicaraan Metha. Dan entah mengapa dia semakin mudah tersulut hanya karena provokasi kecil dari kakak kelasnya itu.
“Well, kita tunggu aja. Kalau bukan karena aku mungkin ada orang lain yang akan membuat Ayyara celaka.”
Tangan Arata hampir saja menampar cewek di depannya jika tidak ada yang mencegahnya. Wajah Arata berubah pias saat menyadari siapa orang yang menahan tangannya.
Semesta Ayyara
“Ra, Haruto berantem sama kakak kelas di depan ruang ekskul.” Nathasa - teman sekelasku, melapor sambil terengah-engah. Kakinya masih gemetar karena habis berlari.
"Berantem sama siapa?" Adelia yang lebih dulu tanggap. Sedang otakku masih mencerna informasi yang diberikan Nathasa.
“Kak Metha.”
“Hah, tuh cowok udah gila apa!”
Tanpa mempedulikan teriakan Adelia, aku berlari menuju jejeran ruang ekskul yang terletak di belakang gedung perpustakaan.
Aku tak habis pikir apa yang ada di benak Arata sampai lepas kontrol terhadap Metha. Bahkan dia lupa posisinya sebagai cowok dan Metha cewek. Tak masuk akal. Jika mendengar rumor yang beredar di MHS memang mungkin Metha membuat ulah. Tapi sampai Arata pun terpancing amarahnya oleh cewek itu, pasti bukan perkara biasa. Sebab aku tahu pasti Arata tak pernah mempedulikan hal semacam ini, kecuali itu…
Astaga. Bodohnya aku.
Jelas saja aku yang menjadi persoalan bagi mereka.
“Dame!” teriakku tepat sebelum Arata mendaratkan tamparannya di pipi Metha.
Muka Arata langsung pias saat menyadari aku menghentikan tindakan kekerasannya. Sedang aku sama terkejutnya saat melihat Ardian melakukan hal yang sama di belakangku. Apalagi ketika menyadari Jonathan berdiri di koridor tak jauh dari tempat kami berdiri. Cowok itu tersenyum sinis. Masih seperti biasa.
“Wah…wah… adegan apa nih barusan? Kalian kompak banget bisa datang bersamaan,” sindir Metha membuat Ardian salah tingkah dan melepaskan genggamannya dari tanganku.
“Kamu apa-apaan sih, emang perlu ya sampai bertindak ceroboh begitu. Dia itu cewek loh. Masa iya kamu bersikap kasar gitu.” Aku mengomel layaknya orang tua memarahi anaknya yang ketahuan bertindak nakal. Tak peduli jika saat ini berpasang-pasang mata menatap ke arah kami.
“Gomen, boku wa…29)” Arata tak melanjutkan kalimatnya. Dia terduduk di bangku beton. Sesaat kemudian ia berdiri dan membungkuk di depan Metha. “Maaf atas perbuatan saya.”
Cewek itu tersenyum sinis. Bisa kulihat jelas kemarahan di wajah Metha saat menatapku dan Arata bergantian. Tangannya mengepal. Bahkan rahang yang terhalang bingkai kacamata itu pun mengeras.
“Kalau ketuanya aja nggak punya jiwa lapang dada gimana ada yang mau gabung ekskul,” celetuk Jonathan semakin membuat amarah Metha terlihat jelas. “Aku juga yakin, pasti kamu yang berbuat ulah lebih dulu kan. Makanya juniormu sampai ngamuk kayak gitu. Apa itu tindakan yang pantas dilakukan? Itu yang katanya kekuatan untuk melawan Midori Magz.”
“Jo, cukup! Kamu nggak lihat banyak adek kelas di sini. Selesaikan urusan kalian sendiri. Jangan di depan umum!” tegas Ardian membuat keduanya tersenyum masam. Lantas Jonathan melangkah pergi. Disusul Metha yang berlari menyamakan langkah kaki cowok itu. “Kamu pasti kaget banget sama kejadian ini ‘kan? Udah balik kelas aja. Ajak teman kamu. Mungkin dia masih syok dengan perbuatannya di luar kendali.”
Ardian memintaku kembali ke kelas. Sedang cowok itu menuju ke arah ruang ekskul fotografi dan tampak bicara dengan seorang cowok berkacamata. Aku tak tahu namanya.
“Yuk balik kelas,” kataku sambil menarik tangan Arata. Dari denyut nadinya, aku bisa merasakan getaran hebat di balik dadanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri jika sudah menyadari perbuatannya keliru. Dan tak akan ada kalimat yang bisa diucapkan saat pikirannya benar-benar kalut.
semangaaattttt
dtunggu up ny thor.
semangatttt
bagus cerita2 nya
feedback ya thor ke novelku Pendekar Wanita Dari Masa Depan 💙 gege tunggu di sana😆