Ini squel dari novel : only you, my possessive husband dan the dark side of love. Anak anak mereka.
Hidup Adelion Zildzyan Febriano, dan kembarannya Anindhita cheisya Febriano berubah drastis ketika mengenal sosok Alula Carletta. Gadis cantik dengan segudang misteri.
Pertemuannya yang tidak sengaja dengan Alula membuat Adelion jatuh cinta. Namun, justru menyeret saudara kembar itu dalam kubangan teka-teki yang amat rumit dan membawa keluarga mereka dalam bahaya.
Siapakah Alula?
Mampukah Delion dan Dhita menyatukan kepingan puzzle itu, dan mengungkap jati diri Alula?
Ikuti kisahnya disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Single elit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Anindita
Anindita meletakan ponselnya di atas meja rias, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Senyum nakal terukir di bibir Anindita dengan tepukan pelan di atas pahanya. Di kepalanya sudah tersusun rencana untuk sang Abang, yang notabenenya sama sekali belum pernah dekat dengan wanita. Anindita takut jika abangnya penyuka sesama jenis, karena temannya cowo semua. Alhasil, Anindita pengin ngenalin si Abang sama seseorang.
Seorang cewe yang baru beberapa hari lalu di kenal nya. Pertemuan singkatnya di Coffee Shop sama cewe itu, menyisakan kesan manis. Anindita yakin, jika cewe itu, cewe baik baik.
Anindita pun beranjak dari kursi dan melangkahkan kakinya keluar kamar.
Setelah tiba di depan kamar sang Abang, Anindita berdiri di depan pintu sambil merubah ekspresi wajahnya agar tidak ketauan. Anindita pun mengetuk benda itu sembari memanggil nama si pemilik kamar.
"Abang... Aku masuk ya."
Anindita langsung membuka pintu itu dan melangkah masuk, tanpa menunggu ijin dari si pemilik kamar.
"Kebiasaan kamu mah." Kata Adelion, dan si Anindita cuma nyengir sambil berjalan mendekat ke kasur.
"Abis kelamaan nunggu Abang bilang boleh. Pasti pura pura gak denger." Anindita mendaratkan bokongnya di tepian kasur.
Adelion cuma melirik sekilas.
"Bang"
"Hemm" sahut Adelion.
"Nengok sini sebentar kenapa, sibuk banget emang?" Anindita kesal merasa di abaikan.
"Kenapa?"
Adelion bertanya tanpa melihat wujud Anindita di sampingnya. Cowo itu tetap fokus menatap layar laptop, sambil jemarinya bermain di atas keyboard. Karena tugas kuliahnya sudah menumpuk gara gara rencana balas dendam kemarin.
"Temenin aku ke coffee shop." Pintanya.
"Gak bisa" sahut Adelion.
"Gak mau tau, pokoknya Abang harus mau." Kekeh Anindita.
"Gak bisa Dhita" tolak Adelion lagi. Masih tetap pada posisinya, membelakangi sang adik yang hanya berbeda umur satu menit itu.
Anindita terdiam, ia memikirkan cara lain untuk membuat si Abang mau menemaninya pergi kek Coffee Shop. Tanpa harus memaksa.
Detik detik berlalu, hingga akhirnya ide brilian pun muncul di otak cerdasnya. Anindita tersenyum tipis seraya bangkit dari duduknya, ia berjalan ke arah pintu pelan pelan sambil berkata.
"Yaudah, kalo Abang gak mau nemenin aku ga papa. Tapi nanti kalo aku kenapa-kenapa Abang yang tanggung jawab."
Eh...
Segera Adelion menghentikan kegiatannya, dan langsung meraih tangan Anindita.
"Curang kamu mah mainnya ngancem. Tunggu! abang ganti baju dulu." Adelion bangkit dari kursinya, berjalan ke arah walk in closed dengan langkah malas.
"Yess" Anindita berseru lirih sambil mengangkat satu tangannya ke udara.
"Jangan lama lama!!"
Anindita berteriak sambil berjalan keluar kamar Adelion dengan senyum penuh kemenangan.
***
Adelion dan Anindita tiba di depan Coffee Shop. KOPI SENJA namanya. Kedai kopi itu tidak terlalu besar, tapi rame. Sampe Adelion dan Anindita mengedarkan pandangannya mencari kursi yang kosong untuk mereka duduki.
Dua remaja itu pun akhirnya duduk di kursi yang tersisa. Meski tidak begitu banyak perjuangan, tapi rasanya senang begitu mendapat tempat.
"Tau darimana kamu tempat ini?" Tanya Adelion sembari meletakkan headphone beserta laptop miliknya di atas meja. Manik hitamnya menilik ke sekeliling.
"Hemm, gak tau dari siapa siapa sih. Gak sengaja aja kemarin nyasar kesini sama temen temen." Kata Anindita jujur.
Memang benar ia kemarin tidak sengaja mampir ke Kopi Senja, karena tadinya ia berniat ke toko buku yang kebetulan berjarak beberapa toko saja dari kedai itu.
Adelion pun manggut-manggut percaya.
"Abang tunggu sini" Anindita beranjak dari kursinya, berjalan menuju ke dalam kedai. Niatnya bukan hanya untuk memesan Kopi, tapi sekalian ketemu cewe yang akan ia kenalkan sama si Abang.
Jarak dari luar kedai ke dalam sih tidak jauh, tapi Anindita sengaja memelankan langkahnya sembari nengok kanan kiri, seperti mencari seseorang.
Nampaknya Anindita sedikit kecewa, karena cewe yang pengin dia kenalin sama si Abang tidak juga terlihat. Padahal kata cewe yang bernama Nina, kedai itu miliknya bersama Alula dan Juna.
Tapi dari deretan cewe cewe yang sibuk berkutat di balik meja, tidak nampak Alula ataupun Nina.
"Mau pesan apa kak?" Tanya si cewe yang berdiri di balik meja itu karena melihat Anindita seperti orang bingung.
Sapaan si mbaknya, bikin Anindita jadi kaget.
"Umhh" Anindita berpikir sambil melihat deretan nama kopi yang tertera di daftar menu.
"Cappucino satu, affogato satu" sebut Anindita asal. Dia tidak tau kopi kesukaan si Abang apa, karena sebelumnya dia tidak pernah melihat Adelion ngopi. Tapi beberapa teman cowoknya suka cappucino. Jadi dia pesan yang itu aja.
"Ada lagi?" Tanya cewe itu, karena melihat Anindita tak pergi juga dari sana. Biasanya pelayan yang mendatangi meja pengunjung. Kecuali mereka ingin request langsung dengan barista.
Anindita menggeleng. Dia masih berdiri di depan meja. Sambil menunggu barista meracik kopi pesanannya, dia nengok kanan kiri lagi, barangkali Alula nongol.
"Juna! Nina udah dateng?"
Yang di panggil Juna, tapi Anindita yang nengok. Pasalnya ia familiar dengan suara itu. Dan benar saja, orang yang tunggu akhirnya nongol. Panjang umur.
Alula yang baru saja datang langsung meletakkan tasnya di atas meja, berdiri tepat di samping Anindita.
Si Juna yang sedang meracik kopi pun berbalik badan, "belom kayaknya. Dari tadi dia gak keliatan."
Setelah mengucapkan itu, Juna kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Tapi gue ke kosan nya gak ada Jun. Kata si ibu kost Nina gak pulang dari semalem, gue pikir dia nginep disini." Tutur Alula bingung, padahal dia lagi pengen curhat masalah Reyga sama cewe periang itu.
Di lantai dua memang tersedia satu ruangan, yang Alula sulap menjadi kamar untuk sekedar melepas lelah saat ia ikut membantu sepulang kuliah. Atau hanya tempat untuk menghilangkan suntuk. Kadang Juna atau Nina juga bermalam disana jika sudah terlalu larut untuk pulang ke kosan.
Anindita dari tadi udah gatel pengin nanya, tapi enggak enak. Karena itu sama aja ikut campur urusan orang. Meskipun sebenarnya Anindita penasaran banget sama apa yang terjadi dengan Nina.
"Nginep di rumah temennya kali." Sahut Juna lagi sembari mendekat ke arah meja, dengan membawa dua cangkir kopi di tangannya.
Anindita menerima kopi itu dengan senyum manis, hingga lesung pipinya terlihat sempurna. Kemudian menjauh dari sana.
"Enggak mungkin Jun, Nina gak punya temen lain selain gue sama Lo." Kata Alula. Sembari tangannya sibuk dengan benda pipih di tangannya, berulangkali cewe berambut panjang itu menempelkan ponsel ke telinganya.
"Susah banget di telpon. Apa dia pulang kampung ya? Tapi kok gak ngabarin gue." Gerutunya kesal.
Sementara Anindita kembali duduk di samping Adelion, meletakkan kopi itu ke atas meja dengan raut kecewa.
Udah susah susah bawa Abangnya buat ke tempat itu, tapi malah gak jadi kenalan.
"Kenapa muka kamu gitu? Di cuekin cowok?" Adelion meledek sambil cekikikan.
"Dihhh sok tau!! Lagian cowok mana sih yang bisa nolak pesona seorang Anindita?" Ucapnya percaya diri.
"Wahhh, takabur nih anak!! Perlu di ruqyah" Adelion memegang kepala Anindita sambil komat kamit.
Anindita menangkis tangan Adelion, lalu menoyor kepala cowo itu sambil melotot, bikin Adelion makin ketawa lepas. Sampe seseorang lewat di sampingnya, mengalihkan perhatian.
"Lula!!"
Bukan Anindita yang manggil, tapi Adelion.
🍁🍁🍁
To be continued....
Alula Carletta
takut rindu🤭🤣🤣🤣
jan kelamaan bang oby iklannya