Mocca Yola, suatu malam yang tragis telah merenggut kesuciannya. Pulang ke rumah dalam keadaan hancur malah dikejutkan dengan sebuah peti mati dengan foto sang ayah tercinta di dekatnya.
Tidak hanya itu, ternyata semua sudah direncanakan oleh dua orang wanita bermuka dua yang berpura menangis tersedu di samping peti jenazah. Semua mereka lakukan tak lain demi mendapatkan harta keluarga Yola.
Setelah itu mereka mengusir Mocca dari rumah, mengirimnya ke tempat yang sangat jauh. 7 tahun kemudian dia kembali dengan si kembar Genius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YWulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah si kembar
Mocca terbelenggu, teriakannya membuat para karyawan dan pelanggan terdiam menatap heran padanya "M-maaf, silahkan dilanjutkan."
Ia memasang senyum canggung sambil meminta maaf pada mereka, kedua tangannya mendorong halus tubuh Leon "Paket sudah diterima, silahkan pergi." usirnya pada Leon.
"Ikut denganku." bisik Leon.
"Jangan mimpi!"
Leon menyentuh kedua tangan Mocca yang tengah mendorong tubuhnya itu "Ikut denganku, atau kau tidak akan pernah bertemu dengan anakmu lagi."
Deg! Deg!
"Apa yang dia katakan? Dia tahu aku melahirkan anaknya? Apa.. Apa si kembar ada di tangannya? Tidak, tidak mungkin." perlahan dorongan tangan Mocca melemah.
Melihat reaksi Mocca membuat Leon sedikitnya mengerti, kedua anak itu adalah anak Mocca yang kemungkinan juga merupakan anaknya.
Tiba tiba..
"Ada apa ini?"
Niki datang, melihat situasi yang tampak membingungkan terlebih setelah melihat ekspresi wajah Mocca yang seperti sedang dalam tekanan.
"Dilihat dari ekspresi Mocca, pria ini pasti sudah mengganggunya. Huh! Beraninya mengganggu temanku." batin Niki menggerutu sembari memberikan tatapan tidak suka pada pria itu.
Mocca mengambil sebuah ponsel kemudian melacak posisi si kembar, dia tidak percaya bahwa mereka ada di tangan pria itu. Dan ternyata benar "Mereka, masih di sekolah."
Mocca menghela nafas lega.
"Mm? Melacak keberadaannya melalui GPS ponsel kah? Ternyata tidak sebodoh yang aku kira." pikir Leon.
"Tidak buruk, kau cukup pintar. Tapi aku sudah mengirim orang orangku untuk membawanya lho! Bagaimana kalau ikut denganku saja."
Mocca terdiam, begitu juga dengan Leon yang menatap menunggu jawaban Mocca. Sebenarnya siapa pria itu, kenapa bisa berlaku demikian. Menggunakan anak kecil untuk mengancam itu sangat memuakkan.
Dia melirik arloji kuno yang melingkar di tangannya, seharusnya ini jam pulang sekolah, tapi mereka belum juga pulang.
"Aku akan tunggu di mobil, diluar sana. Pastikan datang, atau nanti jangan menyesal."
Mendekatkan wajahnya ke telinga Mocca dan kembali berbisik padanya, hembusan nafas Leon membuat Mocca sangat gugup sampai tidak bisa berkutik. Tak lama Leon membalikkan tubuhnya dan pergi begitu saja.
"Mocca, kau baik baik saja?" Niki menghampirinya.
Mocca gemetaran, dia berusaha mengatur nafasnya yang sempat terasa begitu sesak akibat tekanan dari Leon "Niki aku--- aku harus pergi dulu."
"Mocca tenanglah, tunggu-"
Tapi Mocca memutuskan untuk tetap pergi, menuruti perintah Leon untuk menyusulnya.
Diluar, Leon berjalan pelan menuju mobil. Namun kemudian berpapasan dengan seseorang yang dia kenal "Cassa?"
Cassa temannya tengah menenteng sesuatu "Leon? Kau disini?"
"Kau juga disini? Apa yang kau lakukan disini?"
"I-itu.. Sebenarnya ini adalah toko milik istriku. Kau sendiri?"
Tap!
Leon mendaratkan tepukan di pundak Cassa "Ternyata begitu. Aku ada urusan dengan seseorang disini. Ngomong ngomong, terima kasih." Leon tersenyum puas.
"Eh?"
"Suasana hatinya sedang baik? Siapa orang yang dia temui disini? " pikir Cassa.
Leon pun berlalu, diikuti oleh Mocca yang masih memakai seragam toko, membuat Cassa kebingungan dan terdiam. Tak lama setelah Leon dan Mocca masuk ke dalam mobil, Niki pun keluar.
Niatnya mengejar Mocca malah bertemu suaminya "Niki, ada apa? Apa yang terjadi?" ia melihat kekhawatiran di wajah istrinya.
"Suamiku, pria itu sudah mengganggu temanku. Entah kenapa temanku mengikutinya, pria brengsek itu pasti mengancamnya dengan sebuah pisau sebelum aku tiba disini, cepat telpon polisi!"
Cassa malah semakin bingung lagi. Melihat suaminya hanya terdiam Niki pun segera mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor polisi "T - tunggu tunggu! Jangan telpon polisi." ia menahan Niki.
"Kenapa tidak boleh?! Kalau temanku kenapa-napa, apa yang harus aku katakan pada kedua anaknya nanti. Jika tidak mau bantu diam saja, jangan menghalangiku."
"Bu-bukan begitu. Istriku dengarkan dulu, sebenarnya pria itu adalah.. Pria itu adalah cucu satu satunya keluarga Domino, dia Leonard Domino, dia temanku."
"Apa?"
...* * *...
Di dalam mobil. Mocca dan Leon duduk bersebelahan dengan Mocca yang terus memalingkan wajahnya, enggan melihat Leon "Sekarang katakan, apa yang kau inginkan!" bertanya dengan malas.
Leon malah bermain ponsel "Jalan." ucapnya pada pak Supir.
"Tunggu! Kau mau membawaku kemana? Jangan macam macam denganku, aku bisa laporkan!"
"Huh? Memangnya polisi mana yang berani menangkapku, Leonard Domino, cucu satu satunya keluarga Domino." tiba tiba dia menjadi besar kepala.
Tunggu dulu, cucu satu satunya keluarga Domino?
Mocca menaruh jari telunjuknya di dagu runcingnya, seperti pernah mendengar hal itu tapi dimana? Ah sudah ingat. Leonard Domino, pewaris kekayaan keluarga Domino, sempat dirumorkan menderita penyakit importen.
Jika benar begitu maka yang bersama Mocca malam 7 tahun lalu itu siapa?
"Kau.. Leonard Domino, pewaris kekayaan keluarga Domino?" tanya Mocca.
Leon memutar bola matanya melirik wanita di sebelahnya itu "Ternyata cukup mata duitan." pikir Leon "Benar, aku orangnya." aku-nya.
"Yang importen itu?"
Krak!
Leon mencengkram ponsel di tangannya sampai hancur terbelah tak kala mendengar pertanyaan Mocca, pertanyaan yang bagaikan sebuah panah beracun mendarat tepat di jantungnya.
Tidak menyangka ada yang masih membahas tentang hal itu walaupun berita sudah di hapus. Padahal Mocca hanya sekilas pernah mendengarnya dari Niki.
Leon jadi murung, membuat Mocca bingung apakah dia telah salah berucap. Namun tiba tiba Leon mendorong tubuh Mocca dan langsung menciumnya dengan sangat brutal.
Mocca meronta - ronta, serangan mendadak itu membuat dadanya sangat sesak.
"K-kau! Lepaskan aku!"
"Biar ku beritahu, rumor itu palsu. Jika benar aku begitu, bagaimana bisa malam itu terjadi bahkan sampai menghamilimu?" berbicara sembari menekan.
"Atau.. Kau ingin mencobanya agar lebih percaya?"
"Lepaskan! Kau pria brengksek! Begitu bertemu langsung mengajak nikah, sekarang menculikku dan melakukan pelecehan padaku."
Leon akhirnya melepaskan Mocca, dia merapikan pakaian dan posisi duduknya sementara Mocca masih terengah.
"Pria brengsek ini! Tidak benar, aku harus menelepon Niki." Mocca mengeluarkan ponsel, namun dengan sekelebat ponsel itu beralih tangan.
Mocca sudah di ambang batas kesabarannya "Kembalikan! Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?!" ia berusaha merebut ponselnya kembali.
"Menikah.. Ayo menikah." suaranya kembali lirih dan sangat hangat.
"Jangan karna aku sudah melahirkan anakmu, kau pikir aku mau menikah denganmu?" Mocca menatap Leon dengan tatapan tajam.
"Kau mengatakan dia anakku."
"Dia anakmu! Anakmu! Kau puas? Memangnya kenapa? Aku ibunya, ibu yang sudah melahirkan dan merawatnya sedari bayi. Aku bisa menjamin masa depannya tanpa siapapun--"
"Bagaimana dengan perusahaan Yola?"
Mocca terkejut bukan main, Leon sudah mencari tahu tentangnya sampai ke akar akarnya "Aku bisa membantumu mendapatkan perusahaan Yola kembali." tawarnya membuat Mocca gundah.
Awalnya dia mengira, perlahan akan mencari pendukung untuk membantunya mengambil kembali perusahaan Yola. Tapi sekarang, bantuan tidak terduga datang menghampiri. Tapi kenapa harus dia orangnya?
Bagaimana ini? Tiba tiba diingatkan dengan hal itu.
"Ayah.. Ibu.. Kakak.. Aku harus bagaimana?" batinnya.
Leon menyentuh tangan Mocca "Menikahlah denganku, aku akan berikan semua yang kau mau. Perusahaan Yola hanya masalah kecil bagiku, aku bisa memberikan 100 perusahaan seperti Yola jika kau mau."
Deg! Deg! Deg!
Lelucon yang sangat buruk, pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa dipermainkan. Jika dihitung kembali, mereka baru bertemu dua kali.
"Aku.."
...** * **...