NovelToon NovelToon
Pengantin Kecilku Raina

Pengantin Kecilku Raina

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Tamat
Popularitas:341.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Azizah

SEBELUM MEMBACA, JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR!


Raina seorang gadis miskin, ia baru saja berumur 17 tahun. Ibunya bekerja di sebuah rumah megah. Pemilik rumah megah itu adalah seorang pengusaha sukses di Indonesia.

Suatu hari Rian Wijayanto--anak majikan ibu Raina, akan melangsungkan pernikahan nan mewah, tamu-tamu saja dari kalangan berada dan teman-teman bisnisnya. Tempat pesta pernikahan sudah disiapkan, para tamu undangan mulai hadir satu persatu.

Ternyata dikabarkan bahwa calon pengantin wanita sudah melarikan diri. Mereka tidak mungkin membatalkan pernikahan tersebut, karena nama mereka yang dipertaruhkan. Akhirnya majikan ibu Raina, meminta Raina untuk menikah dengan Rian.

Bagaimana kisah mereka berdua?
Kuy, baca ceritanya segera, biar gak bikin penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Azizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 12

*****

Rian tengah membantu Raina menyampul buku. Sudah lama pekerjaan ini tidak dilakukan Rian, semenjak dia lulus kuliah beberapa tahun lalu. Tangannya terasa sedikit kaku, saat mencoba menyampul buku itu dengan rapi.

"Mana pulpen, Sayang?" tanya Rian seraya menadahkan telapak tangannya. Raina mengeluarkan pulpen bernuansa biru, lalu memberikan kepada Rian.

Rian menuliskan nama panjang Raina di kolom yang sudah disediakan, lalu menuliskan kelas berapa.

"Wah ... tulisan kakak bagus banget," puji Raina.

"Rian gitu loh," jawab Rian dengan tersenyum manis.

"Puji dikit langsung bangga," ucap Raina dengan memanyunkan bibirnya.

"Harus, apalagi yang muji istri kakak sendiri," jawab Rian seraya mengacak-acak rambut pendek Raina, lalu kembali melanjutkan aktivitas yang sempat terhenti.

"Akhirnya selesai juga!" Rian berteriak senang, saat berhasil menyelesaikan tugas yang biasa dilakukan Raina saat-saat sekolah akan dimulai.

"Makasih ya, Kak," ucap Raina yang terlihat senang.

"Huwa ... sama-sama, Sayang." Rian terlihat begitu mengantuk sekali. "Ayo kita tidur," ajak Rian seraya bangun dari duduknya, dengan diikuti oleh Raina yang juga bangun dari duduknya. Lalu berjalan mengikuti Rian menuju tempat tidur. Malam itu mereka berdua langsung tidur untuk menyambut hari esok.

Besok paginya, terlihat Raina tengah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Dia sedang berada di depan cermin, memperlihatkan dirinya yang tengah memakai seragam sekolah SMA.

Sementara Rian juga sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja, setelah beberapa minggu libur panjang.

"Sayang!" panggil Rian dan Raina menoleh ke arah suara.

"Tolong pakaikan dasi, Kakak," pinta Rian dan Raina langsung berjalan menghampiri Rian yang sedang berada di depan lemari pakaian. Rian memberikan dasi yang akan dia pakai kepada Raina.

Raina terlihat begitu kesulitan saat melingkarkan dasi di kerah baju Rian, karena Rian terlalu tinggi untuknya. Rian yang paham dengan kondisi istrinya, ia mencoba untuk mensejajarkan dirinya dengan Raina yang pendek mungil.

Biasanya Rian memang selalu memakai dasinya sendiri, tapi kini dia sudah menikah dan ia ingin Raina mengurusnya sebagai seorang suami.

Mungkin di sekolah Raina juga memakai dasi seperti Rian, tidak membuat Raina mengalami kesulitan saat memakaikan dasi Rian. Tak butuh waktu yang lama, Raina selesai memasang dasi sang suami.

"Makasih, Sayang," ucap Rian yang kembali berdiri dengan tegap.

"Sama-sama," jawab Raina seraya berjalan menuju meja belajarnya. Ia mengambil ransel bernuansa biru, dan bersiap-siap akan pergi ke sekolah.

Rian dan Raina berjalan keluar dari dalam kamar, seraya menuruni tangga satu persatu. Hingga mereka berakhir di meja makan, terlihat Surya yang sudah lebih dahulu berada di sana.

Raina dan Rian langsung duduk di kursi. Tak lama kemudian Darmi muncul dari dapur dengan membawa nasi goreng kesukaan Rian dan Raina. Mereka mulai sarapan bersama dengan tenang dan nikmat.

Raina memang bukan orang yang lambat, ia selalu cepat dalam hal apapun. Tak butuh yang lama untuknya, dia berhasil menghabiskan sarapannya lebih dahulu dari Rian. Melihat Raina yang sudah selesai sarapan, Rian dengan buru-buru menghabiskan sarapannya.

Raina menyandang tas punggungnya, lalu menyalami tangan Darmi dan Surya. Tak lupa mengucapkan salam sebelum pergi. Rian juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua berjalan pergi meninggalkan meja makan. Mobil bernuansa hitam sudah berdiri di depan pintu. Sang bodyguard langsung membuka pintu untuk Raina dan Rian.

Seperti biasa, Raina dan Rian selalu berangkat bersama, karena sekolah dan kantor Rian satu arah. Meskipun Rian seorang pria yang cukup kaya, tapi Rian selalu berangkat kerja tanpa memakai jasa supir.

Rian menjalankan mobilnya setelah selesai memakai sabuk pengaman, ia mulai membelah jalan yang mulai padat oleh kendaraan lain. Raina menurunkan setengah kaca jendela mobil, ia menghirup udara segar yang masuk ke dalam mobil.

Rian hanya tersenyum menatap istrinya, karena memang kebiasaan Raina seperti itu. Beberapa menit kemudian Rian kembali menghentikan mobilnya di depan gerbang sekolah SMA Permata.

Raina melepaskan sabuk pengamannya, lalu menyalami tangan Rian seraya berucap, "Aina masuk sekolah dulu ya, Kak. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumsalam," jawab Rian dengan lembut.

Raina membuka pintu mobil dan berjalan keluar dari dalam mobil. Sebelum pintu mobil ditutup, tak lupa Raina melambaikan tangannya kepada Rian dan lambaian itu dibalas oleh Rian.

Raina berlari kecil masuk ke dalam kawasan sekolahnya. Sementara Rian kembali menjalankan mobilnya setelah tidak melihat Raina.

Raina sedang berada di depan papan pengumuman, ia tengah melihat daftar di mana dia akan di tempatkan. Ternyata di berada di kelas IPA-XII¹. Raina langsung berjalan menuju kelas barunya. Sesampainya di sana ....

"Sialan! Lagi dan lagi gue satu kelas dengannya," ucap Indah--Gadis yang amat membenci Raina, karena Raina mampu mendapatkan peringkat di atasnya.

Raina hanya menundukkan kepalanya, ia tidak peduli dengan ucapan Indah dan beberapa temannya. Raina mendapatkan tempat duduk paling depan, di barisan nomor empat, tepat di sebelah Indah.

Ada hal yang tidak kalian ketahui tentang Raina. Ia memang menemukan orang-orang baik di tempat tinggalnya, tapi tidak berlaku untuk di sekolah. Raina selalu dikucilkan dan dibuli, karena Raina anak seorang pembantu. Mereka mengagap Raina gadis sok cantik, sok kaya, dan gadis murahan. Karena apa? Karena Raina selalu memiliki barang yang bermerek, mereka berfikir kalau Raina menjual dirinya untuk mendapatkan uang yang banyak.

Padahal semua itu didapatkan dari Surya dan Rian. Dari dulu Surya dan Rian sudah menyayangi Raina. Mereka selalu memberikan hadiah untuk Raina, jika menemukan sesuatu yang cocok untuk Raina. Tidak peduli seberapa mahal barang itu. Tanpa mereka ketahui, bahwa Raina selalu mendapatkan perlakuan tidak enak dari teman-teman sekolahnya. Meskipun Raina sudah pernah menolak, untuk jangan membelikan dia barang-barang mahal lagi. Ia merasa tidak enak dengan para pelayan muda lainnya. Tapi jawaban Surya dan Rian, "Tidak apa-apa. Kami mau memberikan yang terbaik untukmu."

Apa yang bisa dilakukan Raina? Tidak mungkin dia mengatakan kalau dia dibuli karena memiliki barang-barang mahal itu, 'kan? Yang akhirnya Raina memilih untuk diam. Tapi, dia masih bersyukur masih memiliki satu teman, yaitu Chika.

"Raina!" Lamunan Raina langsung buyar, saat namanya dipanggil oleh suara yang tidak lagi asing di telinganya. Raina tersenyum saat melihat Chika berjalan menghampirinya. Chika mendapatkan kursi di belakang Raina, tentu saja membuat Raina sangat senang.

"Aku berharap kita satu kelas lagi, ternyata Tuhan mengabulkan do'aku," ucap Chika yang terlihat begitu bahagia.

"Aku juga berharap begitu," jawab Raina dengan tersenyum manis menatap Chika.

Chika seorang murid pindahan satu tahun lalu. Chika mempunyai sifat yang ceria, ramah dan baik pada siapa saja. Walau dirinya terkadang juga dibuli, karena berteman dengan anak seorang pembantu. Tapi, Chika tidak pernah peduli dengan hal itu. Baginya, semua manusia sama saja di mata Tuhannya. Harta, status hanya sementara, semua itu milik Tuhan. Mati hanya membawa kain kafan, lalu untuk apa berbangga diri di dunia?

                             *****

"Pagi, Pak!" sapa orang-orang yang dilalui Rian.

"Pagi juga," jawab Rian dengan tersenyum manis, membuat siapa langsung terpesona dengan aura Rian. Itulah sifat Rian, ramah kepada siapapun, tak memandang status mereka. Hampir seluruh karyawan wanita menyukai Rian, dan ingin menjadi bagian dalam hidup Rian. Selain tampan, kaya, baik lagi, siapa yang tidak akan jatuh cinta dengan sosok Rian? Di jaman seperti sekarang, akan sulit menemukan pria seperti Rian. Hanya ada di cerita-cerita atau film-film.

Rian berjalan keluar dari dalam lift, setelah pintu lift terbuka dan memperlihatkan karyawan yang tampak begitu sibuk. Memang ini hari pertama mereka bekerja, setelah beberapa minggu libur panjang.

"Pagi, Pak!"

"Pagi juga." Silih berganti para karyawan menyapa Rian, dan Rian selalu membalas sapaan dari mereka.

"Pagi, Pak!" sapa Dinda--Sekretaris Rian, wanita yang memiliki wajah cantik dan selalu memakai pakaian yang memperlihatkan lengkuk tubuhnya. Semua itu dilakukannya untuk menggoda Rian.

"Pagi juga," jawab Rian dengan tersenyum manis. Dinda berjalan mengikuti Rian seraya memegang beberapa berkas di tangannya.

Rian duduk di kursinya dan ia langsung disungguhi oleh berkas yang diletakkan Dinda di atas meja.

"Hari ini saya ada jadwal apa, Din?" tanya Rian seraya membuka berkas itu satu persatu.

"Hari ini bapak cuma ada jadwal miting jam 08. 00," jelas Dinda.

Rian melirik jam-nya dan masih ada waktu setengah jam lagi sebelum miting. "Baiklah. Kamu boleh pergi," ucap Rian dengan tersenyum menatap ke arah Dinda.

"Hmm ... Bapak tidak mau dibuatkan kopi atau teh?" tanya Dinda.

"Tidak usah," jawab Rian dengan menggeleng.

"Baiklah, Pak. Saya permisi dulu," ucap Dinda dengan menundukkan sedikit kepalanya, lalu berjalan pergi meninggalkan ruang kerja Rian.

Rian tersenyum kepada semua orang, bukan berarti dia menyukai mereka. Tapi, karena dia memang orang yang mudah tersenyum.

Bersambung .....

1
Qaisaa Nazarudin
Karma tuh sama Suami sendiri marah2..
Qaisaa Nazarudin
Sadar diri kamu yg Salah dan Bodoh,Jadi jangan menyalahkan orang lain dan berniat utk menjadi Pelakor ya..😡
Qaisaa Nazarudin
Semoga aja sang mantan gak kembali lg menagih simpati ya..
Qaisaa Nazarudin
Alhamdulillah kalo Rian bisa menerima pernikahan ini…
Aku kalo baca novel akan baca sinopsisnya dan komentar2 para Tiders dibawahnya terlebih dahulu,Kalo alurnya berat aku skip aja,cari yg lain,Aku baca novel utk hiburan,gak mau yg alurnya berat2,karena hidup ku hari2 udah berat..🙏🏻🙏🏻😁
Bunga Bunga Liar
top
Hayati Nasution
gk ada mp nya ni Thor, padahal aku nunggu2 lo😄
Abizar zayra aLkiaana
👣👣
Rina_Ntok
ninggal jejak kak...
bukan REHABILITASI...tetapi Ruang TERAPI gitu kak ...kalau rehabilitasi itu kyk dia make aj...
Suci Dava
mungkin yg di maksud teraphy bkn rehabilitasi 🙏
Siti fitrianingsih
👍
Chotijah Eka
aku suka sama novel ini andaikan saja ada bukunya pasti ku beli
Prisillia Jauzza
d
Iin Suharta
lanjut , kok lama banget upnya...
NUR(V)
ini kok lama banget up nya kak dah lama aku menunggu ayo kak up lagi jangan lama lama ayo semangat.... entar ni aku lupa jalan ceritanya...
NUR(V)
lanjuttt
NUR(V)
aku mampir kak
Nayi Siti
rada lupa thor . jd baca ulang lagi
Irma Herlina
senang sekali kembali hadir ditunggu ya thor cerita selanjutnya
Ayu Azizah
Insyaallah. Bakal saya usahakan Up tiap hari.
Pria Tin
kangen banget thorrr... lanjut teruss kalo bisa tiap hari
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!