Ferdi Nichol Aditya Atmaja, seorang pria tampan berusia 27 tahun. Sangat suka meledek temanya Nova, yang kecanduan membaca novel online.
Bagi Ferdi cerita novel online yang dibaca oleh Nova sangatlah basi. Berbicara seputar perempuan miskin yang dinikahi oleh CEO dengan jalur di lecehkan terlebih dahulu.
Ferdi menilai itu semua adalah sebagai bentuk merendahkan kaum wanita. Ia mengkritik hampir semua novel online yang Nova baca. SAMPAI KEMUDIAN HIDUP FERDI BERUBAH SEPERTI CERITA NOVEL ONLINE.
Ya, ia diminta oleh ayahnya untuk menyelamatkan perusahan keluarga mereka. Dengan menikahi seorang janda kaya beranak tiga. Tentu saja Ferdi menolak, namun keadaan semakin hari semakin menghimpit.
Hingga akhirnya memaksa Ferdi untuk menempuh jalan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pratiwi Devyara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga Untuk Ferdi
"Frans, Ferdi mana?. Koq dia nggak kesini-kesini. Udah dua hari loh."
Jeffri bertanya pada Frans, anak pertamanya ketika akhirnya ia datang berkunjung.
"Dia juga nggak pulang ke rumah, pa. Ditelpon dan di chat nggak diangkat, nggak di read juga." jawab Frans.
"Oh ya?" Jeffri agak kaget demi mendengar hal tersebut.
"Iya, nggak tau kemana tuh anak." lanjut Frans kemudian.
"Coba tanya Jordan atau Sean." ujar Jeffri lagi.
Frans pun lalu menelpon Jordan.
"Jo."
"Eh, Frans. Kenapa Frans?" tanya Jordan pada kakak dari temannya itu.
"Si Ferdi kemana ya, koq nggak pulang-pulang udah dua hari. Papa nanyain dia soalnya."
"Fe, Ferdi?" Jordan berujar tatkala Nath berjalan di sampingnya.
"Iya." jawab Frans.
"Emangnya dia nggak cerita kalau lagi di tugaskan pak Nath keluar kota." ucap Jordan.
Nath menatap Jordan dan Jordan menempelkan jari telunjuk di bibir.
"Oh gitu, Ferdi nggak ada ngabarin soalnya."
"Mungkin belum, karena dia emang sibuk banget dua hari ini sama kerjaan." dusta Jordan lagi.
"Oh ya udah, berarti aman ya. Soalnya kita kira dia kemana, takut ada apa-apa." ujar Frans.
"Aman-aman koq" jawab Jordan lagi.
"Ya udah ya Jo, kalau gitu. Ntar coba gue hubungin lagi deh si Ferdi nya." tukas Frans.
"Oke, Frans."
Lalu telpon tersebut pun disudahi.
"Kenapa lo bohong ke Frans?" tanya Nathan pada Jordan. Ia kebetulan masih ada di tempat itu karena ingin tahu.
"Iya, masa kita jujur pak Nath. Orang tuanya Ferdi kan sakit. Mereka juga lagi kalut, masa ditambahi berita soal Ferdi digebukin orang."
"Iya juga sih." ujar Nath.
"Ya udah, nanti siang lo pada mau jenguk Ferdi kan?" Nath kembali berujar.
"Iya pak." jawab Jordan.
"Nanti gue nitip sesuatu untuk dia."
"Oke pak."
Nath kemudian berlalu, dan Jordan pun melanjutkan pekerjaan.
***
Siang itu Jordan dan Sean kembali menjenguk Ferdi. Sedang pekerjaan kini dilimpahkan pada Nova dan beberapa karyawan lain.
Tadinya Nova ingin ikut, tapi kata Nath banyak pekerjaan yang harus segera di selesaikan. Sejatinya Nova sangat kesal pada Jordan dan juga Sean, yang bisa dengan mudah bebas tugas karena Ferdi.
"Awas lo berdua ya, gue bales nanti suatu saat." ancam Nova saat itu.
Jordan dan Sean hanya tertawa, kemudian pergi meninggalkan kantor.
"Gimana keadaan lo, Fer?" tanya Jordan.
Gimana keadaan gue, emang lo pikir gue kenapa?" Ferdi balik bertanya.
"Oh iya, ya."
"Hehehe."
Jordan dan Sean tertawa.
"Abis lo vibesnya kayak orang sakit beneran." ujar Jordan.
"Kita kayak berasa jenguk korban kekerasan beneran, Fer." timpal Sean.
"Bangsat." seloroh Ferdi sambil tersenyum.
"Oh iya, ada titipan makanan nih dari pak Nath." ujar Sean lagi seraya meletakkan dua buah paper bag ke atas meja, di samping tempat tidur Ferdi.
"Ya udah, buka gih. Makan bareng-bareng." tukas Ferdi.
"Kan buat orang sakit." ujar Jordan.
"Halah."
Lagi-lagi Ferdi berujar, ketiganya kini terkekeh-kekeh.
"Sakit, pala lu sakit." lanjut pemuda itu kemudian.
Jordan pun terlihat mulai membuka bungkusan tersebut.
"Widih, ada note nya nih." ucap Jordan.
"Dari Nova." tukasnya lagi, lalu ia membacakan catatan tersebut.
"Ferdi cepet sembuh ya bangsat. Gara-gara lo sakit, si Jordan sama Sean jadi aji mumpung ninggalin kerjaan mereka ke gue."
"Hahaha." ketiganya tertawa terbahak-bahak.
"Emang Nova nggak tau?" tanya Ferdi.
"Nggak, nggak kita kasih tau." jawab Sean.
"Ember ntar." timpal Jordan.
"Tau sendiri kalau Nova udah fokus sama novel onlinenya itu. Pas ditanya apa, jawabannya pasti jujur. Mau lo tanya soal rahasia yang paling dia simpan pun, bakalan dia jawab kalau lagi terhipnotis sama bacaan." lanjut pemuda itu kemudian.
"Iya sih, ya udahlah. Biar aman cukup kita bertiga aja yang tau." ujar Ferdi.
"Dia beliin apaan itu?" tanya Ferdi lagi.
"Buah-buahan, puding, sama brownies." jawab Jordan.
"Ya udah makan gih!" perintah Ferdi.
"Ntar dulu, buka yang punya pak Nath dulu." ujar Sean.
Jordan membuka apa yang dititip oleh Nath."
"Wah makanan Jepang, Fer. Ada tiga lagi." ujar Jordan.
"Pak Nath tau aja kalau kita juga bakal ikut makan." tukas Sean.
"Ya udah pada makan." ujar Ferdi.
"Oke siap."
Jordan membagikan makanan tersebut dan ketiganya lalu makan.
"Oh ya Fer, tadi Frans telpon." tukas Jordan di sela-sela makan.
"Oh iya lupa gue minta bawain handphone. Handphone gue kan di kantor." jawab Ferdi.
"Ntar malem deh, kita kesini bawa handphone lo." ujar Sean.
"Frans nanya apa aja?" tanya Ferdi.
"Nanyain lo dimana, gue bilang aja lagi di luar kota. Di tugaskan sama pak Nath." tukas Jordan.
"Terus dia bilang apa lagi?"
"Ya bokap lo nanyain elo. Tapi nggak ada masalah yang serius banget sih, biasa aja."
"Nggak ngabarin kalau bokap gue kenapa-kenapa kan?" tanya Ferdi. Ia sangat takut jika terjadi hal serius pada Jeffri.
"Nggak."
"Syukur deh." tukas Ferdi seraya menarik nafas lega.
"Gue pikir tadi bokap gue kenapa-kenapa." lanjutnya kemudian.
"Nggak, aman koq." jawab Jordan.
Mereka pun lanjut makan. Tak lama seorang petugas kebersihan ruangan datang ke kamar Ferdi.
"Selamat siang pak Ferdi."
"Siang pak." jawab Ferdi seraya buru-buru meletakkan makanan dan berpura-pura berbaring. Ia tak ingin kelihatan tidak sakit.
"Ini ada titipan dari ibu Ciara." ujar petugas tersebut.
"Ciara Ferragni?" tanya Ferdi dengan ekspresi bengong." Ia menyebut nama seorang designer sepatu dengan desainnya yang blink-blink.
Jordan dan Sean lalu tertawa.
"Disini tulisannya Ciara Shinta." ujar petugas kebersihan itu.
Yang ia bawa berupa bunga mawar dalam pot dan juga sebuah kotak cukup besar, entah berisi apa.
"Ya udah, tarok di meja aja pak." ujar Ferdi.
Jordan dan Sean membantu petugas tersebut, tak lama petugas itu berpamitan. Kini Jordan dan Sean kompak menatap bunga tersebut.
"Kenapa lo berdua?" tanya Ferdi heran.
"Kali aja ini bunga ajaib, bisa dimakan kek." tukas Sean.
Ferdi terkekeh.
"Jadi si cewek itu namanya Ciara." ujar Jordan.
"Iya kali." jawab Ferdi.
"Itu dalam kotak apaan?" tanya Ferdi.
Sean lalu membuka kotak tersebut.
"Surga Fer." tukasnya kemudian.
"Ternyata pizza dan teman-temannya." lanjut pemuda itu.
Ia dan Jordan pun sumringah.
"Lo sakit aja terus ya, Fer. Seneng gue." ujar Sean lagi.
"Bangsat." seloroh Ferdi seraya tertawa.
"Buka ya Fer?"
"Buka aja, pada makan gih. Kalau ngantuk, tidur. Sofa nya nyaman ini, ya kan?"
"Yoi."
"Hahaha." ketiganya tertawa.
"Kita bertiga kayak orang susah ya, padahal kan kita anak orang kaya." ujar Jordan sambil mencomot satu potong pizza diikuti Sean.
"Kan yang kaya bapak kita, kayak kata Ferdi. Kita mah remahan rengginangnya." tukas Sean.
"Hahaha." Lagi-lagi mereka tertawa.
"Sebenarnya gue heran loh, cewek tuh suka banget sama bunga. Padahal kan yang sakit cowok, malah dikasih bunga." seloroh Jordan lagi.
"Biarin aja, mungkin dia berpikir ini bisa bikin Ferdi cepat healing."
"Halang hiling, halang hiling. Kayak anak Jaksel lu." Sean sewot, ketiganya kembali tertawa-tawa.
"Pizza nya enak, Fer." ucap Sean kemudian.
"Mana sini gue coba." Jordan nimbrung dan diberi satu gigitan oleh Sean.
"Enak kan?" tanya nya kemudian.
"Iya, enak." jawab Jordan.
"Lo mau, Fer?" tanya Sean pada Ferdi.
"Ntar aja, gue ngabisin ini dulu." ucap Ferdi.
Mereka kemudian lanjut makan sambil terus berbincang.
s2 gak kau thor...
s2 yaaaaa🙏🙏🤣🤣🤣🤣
s2 gak kau thor...
s2 yaaaaa🙏🙏🤣🤣🤣🤣
😍😍😍😍😍😍