TAHAP REVISI🙏
***
Berawal dari kata 'tidak suka' hubungan mereka kian dekat karena sebuah pertengkaran. Batu yang keras, akhirnya luluh oleh air yang tenang.
Seperti itulah Gia dan Riza, dua remaja yang menaiki tangga bersama dari tidak suka, menjadi suka, lalu ke nyaman, dan berakhir dengan saling menyayangi.
***
Sedikit kisah, dari jutaan kisah lain yang mungkin akan membuat kalian tak bisa melupakannya.
@dwisuci.mn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Decy.27126, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
'Kamu baik, Gia, bahkan kamu sepeduli itu sama aku. Andai aku bisa, aku pengen punya hati sebaik kamu, Gi,' batin Riza sambil tetap menatap Gia.
“Jangan lihatin aku kayak gitu, dosa!” ucap Gia tiba-tiba mengagetkan Riza.
“Aku punya mata, serah aku, dong!” balasnya terkekeh kecil.
“Penjiplak!” umpat Gia menatap Riza.
“Dah, tidur aja, Vin. Kalo udah mendingan, nanti kita balik ke kelas.”
“Jangan ninggalin!” pesan Riza sebelum membenarkan posisi rebahannya.
Riza benar-benar tidur, Gia yang menemaninya hanya bisa menghabiskan waktu menunggu pemuda itu dengan bermain ponsel. Sampai bel istirahat berdering, Bu Fitri kembali ke sana untuk mengecek keadaan Riza.
“Gia, Riza gimana?” tanyanya setelah masuk.
“Masih anget, Bu, badannya,” jawab Gia.
“Iya, bener, masih anget,” gumam Bu Fitri setelah memeriksa suhu tubuh Riza.
“Iya, Bu. Biarin dia istirahat dulu, Bu. Biar Gia yang jaga di sini,” saran Gia.
“Nggak apa-apa?” tanya Bu Fitri ragu.
“Iya, nanti ada temen-temen Gia yang mau ke sini juga, kok.”
“Ouh, ya udah. Nanti kalo udah jam masuk, tapi, badannya masih panas, disuruh pulang aja.”
“Iya, Bu.”
“Ya udah, ibu ke luar dulu.” Bu Fitri melenggang keluar dari sana, dia kembali menyisakan Gia dan Riza berdua di sana.
Tidak berselang lama, ada Bagas, Dafa, dan Nela yang datang bersamaan. Mereka langsung masuk dan melihat Riza.
“Kalo lo laper, lo ke kantin aja, Gi. Biar gue sama Bagas yang jaga Riza,” saran Dafa.
Gia menggeleng, dia kembali duduk. “Nggak apa-apa, kita bareng-bareng aja di sini.”
“Emang lo nggak laper?” tanya Nela memperhatikan Gia.
Gia tersenyum. “Aku masih bisa makan lagi nanti.”
Bagas berdecak kecil, dia duduk di ssbalh Gia. “Kenapa lo mau jagain Riza, sih? Harusnya lo minta gue aja yang jagain dia, supaya gue nggak usah ikut pelajaran, gitu.”
Gia menghela napas. “Karena dia sakit gara-gara semalam pergi sama aku.”
“Kalian, pergi berdua?” tanya Dafa terkejut.
Gia mengangguk. “Iya, tugas dari Bu Fatin. Jadi, ya ... gitu.”
“Kalian!” panggil Bu Fitri dari luar ruangan.
“Kenapa, Bu?” tanya Gia setelah menghampirinya bersama dengan Dafa, Nela, dan Bagas.
“Kalian ambil barang-barangnya Riza di kelas, gih,” ucapnya memerintah Dafa, Nela, dan Bagas yang segera diangguki oleh mereka.
“Gia, coba kamu cek, Riza bawa ,HP nggak. Kalo bawa, kamu telfon keluarganya, suruh jemput ke sini,” ucap Bu Fitri diangguki Gia.
“Ada, nih, Bu.” Gia menunjukkan ponsel yang berhasil ia dapat setelah dengan berhati-hati memeriksa jaket Riza.
“Ya udah, kamu coba telfon keluarganya. Riza biar ibu yang bangunin,” perintahnya yang segera dilaksanakan oleh Gia.
“Hallo, assalamualaikum,” salam Gia saat panggilan telah tersambung.
“Iya, hallo, waalaikumsalam.”
Jawab seorang wanita di seberang sana.
“Maaf sebelumnya, ini ibunya Calvin, yah?” tanya Gia ramah.
“Calvin?” beo Vina yang mendengarnya.
Gia menepuk jidatnya pelan. “Emmm, maksud saya ... Riza, Bu.”
“Iya, benar, saya ibunya, Rizanya mana, yah?”
“Maaf, Bu. Saya Gia, teman sekelasnya Calvin. Saya cuman mau nyampein, kalo Calvin sakit di sini.”
“Anak tante sakit apa, Nak?” tanya Vina dengan nada cemas.
“Calvin demam, Bu. Apa bisa Ibu jemput dia ke sini?” tanya Gia sopan.
“Oh, iya, bisa. Tante ke sana sekarang, terima kasih, ya, Gia.”
“Iya, Bu, sama-sama.” Gia menutup sambungan teleponnya setelah lebih dulu memberi salam pada Vina.
“Gimana, udah telefon? Apa katanya?” tanya Bu Fitri yang sudah membangunkan Riza.
“Udah, Bu, ibunya tadi. Katanya mau jemput ke sini," jawab Gia.
“Ya udah, kamu tunggu di sini dulu. Ibu mau ke belakang sebentar,” pamit Bu Fitri, lagi.
Gia menemui Riza, dia memberikan pknsel milik Riza yang tadi diambilnya. “Sebentar lagi mama kamu ke sini.”
“Makasih!” ucap Riza yang lalu menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa.
“Sama-sama, dan maaf, karena kehujanan semalem ... kamu jadi kayak gini,” ucap Gia merasa bersalah.
“Nggak apa-apa,” balas Riza singkat.
Bagas datang membawa tas dan kunci motor Riza, tetapi, dia langsung pamit untuk kembali ke kelas dan meninggalkan temannya itu.
Beberapa saat menunggu, mereka hanya terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing.
“Permisi, Bu. Saya mamanya Riza. Katanya, anak saya sakit, ya?” Samar-samar, mereka berdua mendengar suara itu.
“Itu mama aku udah jemput,” ucap Riza menatap pintu.
“Ayo, aku bantu ke luar,” tawar Gia, menggendong tas Riza, tak lupa kunci motornya dan menuntun Riza keluar dari ruang kepala sekolah.
Vina, mama Riza. Ada rasa sedih dan kasihan saat melihat anaknya lemah seperti itu. Namun, satu yang menarik perhatiannya, gadis cantik yang membantu Riza untuk berjalan ke arahnya. Gadis itu membuatnya kagum dengan aura dan kecantikannya yang sangat alami.
“Ini Rizanya, Bu,” ucap Bu Fitri kepada Vina.
"Ya ampun, Za, bisa sakit juga, ya, lo?" ejek seseorang di samping Vina.
Dia Diki, yang kebetulan sedang berada di rumah saat ibunya meminta untuk menemaninya menjemput Riza.
“Siang, Bu,” salam Gia saat Vina melihat ke arahnya.
“Siang, kamu yang tadi nelfon ya?” tanya Vina menatap Gia.
“Oh, iya, Bu. Ini Gia. maaf, ya, saya tadi harus masuk kelas. Jadi nggak bisa bantu Riza, untung ada Gia, nih. Dia yang bantu jaga dari pagi,” jelas Bu Fitri menyambar.
"Makasih, ya, Gia. Maaf, anak tante jadi ngerepotin kamu,” ucap Vina tak enak.
“Iya, nggak masalah, Tan. Anak Tante nurut, kok. Nggak rewel," canda Gia dengan kekehan di akhir kalimatnya.
“Ya sudah kalo begitu, saya pamit, ya, Bu,” pamit Vina pada Bu Fitri.
“Ah, iya, Bu. Maaf, ya, tidak bisa mengantar sampai depan,” ucap Bu Fitri tak enak.
“Oh, nggak masalah, terima kasih, Bu, mari?” Vina berbalik arah.
Vina menatap Diki. “Dik, kamu bawa motor Riza, ya.”
“Oke,” jawab Diki.
“Oh, yah, ini kunci motornya, Tan.” Gia menyerahkan kunci motor Riza yang langsung diterima oleh Vina dan diberikan pada Diki yang akan membawanya pulang.
“Makasih banyak, ya, Gia. Riza, ayo kita pulang!" ajak Vina, dengan susah payah menuntun Riza yang lemas.
“Tante, biar saya bantu.” Gia langsung menuntun Riza dari sebalah kanan, sedangkan Vina di sebelah kiri Riza.
“Makasih, loh, ya. Udah bantu jaga Riza dari tadi,” ucap Vina saat sudah meletakkan Riza yang langsung tertidur di mobilnya.
“Iya, Tan. Gia juga minta maaf, karena Gia, Calvin jadi sakit,” ucap Gia tak enak hati.
“Karena kamu?” tanya Vina bingung.
“Iya, semalem kita nugas bareng, dan Calvin pulang kehujanan. Maaf, Tan.”
“Oh, bukan salah kamu, Gia. Riza memang mudah sakit kalo kena air hujan, kok, tapi, ya, gitu. Anaknya suka rewel kalo dibilangin, jangan salahin diri kamu, oke," tutur Vina lembut.
“Makasih, Tan,” balas Gia tersenyum tulus.
“Sama sama, cantik. Tante pamit dulu, yah. Kasihan Riza-nya di dalem," pamitnya.
“Hati-hati di jalan, Tan!” Gia melambaikan tangan pada Vina yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu berjalan meninggalkan Gia yang masih melihatnya dari gerbang sekolah.
“Hay, pacarnya Riza, ya?”
Gia berbalik, dia menatap pria yang datang bersama Vina itu dengan bingung.
“Kenalin, Diki. Abangnya Riza,” ungkapnya.
“I don't care!” jawab Gia acuh.
“Wih, pantes Riza suka. Orang galak gini,” gumam Diki, tapi dapat didengar oleh Gia.
“Maaf, tapi aku bukan pacarnya Riza.”
“Oh, bukan pacarnya Riza. Kalo gitu, jadi pacarnya abang aja, mau nggak?”
“Boleh dicoba,” ucap Gia tersenyum smirk.
“Abang saya banting dulu di tengah lapangan sana, sabuk saya item, loh!” lanjut Gia menatap Diki yang terkejut karena ucapannya.
“Eh, nggak, Dek. Abang bercanda doang. Abang punya pacar juga, nggak kalah cantik sama kamu, kok,” ucap Diki cepat.
“Saya pergi dulu,” pamit Gia menundukkan kepalanya sopan.
“Yah, makasih bantuannya!” teriak Diki, hanya dibalas lambaian tangan dari Gia yang tetap berjalan lurus.
“Jadi adek ipar gue cocok tuh anak,” gumam Diki terkekeh, lalu menjalankan motornya menuju rumah.
***
Bersambung
See u next chapter.🖤
spnjang crita karakter gia msh konsisten msh terbaik dan kalau bs gia seharusnya dpt lbh baik lg dr karakter riza😁 dan riza sprti tdk ada lawannya buat dapetin gia kyk gmpang ajha buat riza
tp utk smwnya udh bagus karakternya kuat2👌
salken, kak....
Jd terkenang masa SMA ku😁😁