Cinta Tapi Menyakitkan, adalah kisah sebuah rumah tangga Anindita Putri dan Elnino Karisma.
El menikahi Anin karena ingin melupakan istrinya yang meninggalkan dirinya begitu saja. Sementara Anin karena sudah jatuh cinta pada El, akhirnya mau dinikahi.
Saling menyakiti bermula ketika Anin tahu bahwa El sudah pernah menikah, dan belum menceraikan istri pertamanya. Pernikahan untuk El adalah sebuah cara untuk melupakan istri pertamanya, dan belum memiliki perasaan cinta pada sosok Anin yang membuat Anin sangat tersakiti.
Anin berusaha untuk bangkit sendiri, dalam sakit hatinya, tiba-tiba banyak sosok pria dengan tulus mencintai Anin dan membuat Anin merasa di cintai, tapi dalam kondisi Anin tidak bisa bercerai dengan El.
Penasarankan bagaimana akhirnya kisah cinta Anin dan El? Akankah El kembali pada istri pertamanya, atau akan tetap bertahan dengan Anin, dan mencintainya?
Yuuuk baca Novel ini sampai akhir 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felicialetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Kembali
Pagi hari El dan Reno sudah siap untuk pergi ke lapangan, tempat dirinya akan melakukan proyek pembangunan dengan clientnya.
Seperti biasa El mengabari dulu istrinya melalui video call.
"Selamat pagi istri ku.. kau jangan lupa sarapan yaaa" ucap El menyapa lebih dulu
"Iya sayang, kamu juga yaa.. Jaga diri baik-baik, jaga hatinya" jawab Anin dengan langsung
El seketika terdiam, karena Anin baru kali ini berbicara seperti itu. Kemarin saat dirinya pergi ke Singapur Anin hanya bilang bahwa ia percaya pada dirinya, tapi kali ini dia meminta agar dirinya menjaga hatinya.
"Ada apa ini? Apa Anin memiliki firasat jika aku kembali bertemu dengan Elvira?" ucap batin El
El masih saja terdiam ia tak bergeming sedikitpun, Anin memperhatikan raut wajah suaminya itu.
"Yang kamu kenapa? Kok malah diam?" tanya Anin tak mengerti itu
"Eh enggak kok, Gak apa-apa.. Aku kerja dulu ya, hari ini mau ke lapangan, lihat dulu lokasinya" ucap El dengan langsung mematikan sambungan telepon.
Anin merasa ada yang aneh dengan suaminya, kenapa ia terlihat seperti ada yang ditutup-tutupi, bahkan tak ada pamit romantis.
"Ah mungkin Kak El terburu-buru" ucap Anin pelan menenangkan dirinya.
El dan Reno melangkah keluar dari kamar Resort, ia menuju tempat sarapan yang sudah di sediakan.
El dan Reno langsung menyendoki makanan ke piring, membawa minuman, lalu mencari kursi untuk duduk dan menikmati makanannya.
El masih saja terdiam, pikirannya kesana kemari memikirkan pertemuannya dengan Elvira kemarin.
"No, gimana kalau Gue ketemu lagi sama Elvira?" ucap El pada Reno
"Ya ini kesempatan Lo, Lo harus cari Elvira dan bicara lagi sama dia. Itukan yang Lo mau dari dulu-dulu?" ucap Reno karena tahu El ingin sekali kejelasan
"Gue udah punya Anin, rasanya Gue gak perlu lagi kejelasan apapun" ucap El dengan tatapan kosong ke sembarang arah
"Harus! Lo harus temui dia lagi! Ya karena itu, Lo udah sama Anin! Lo harus tegasin tentang pernikahan Lo dengan Elvira!" ucap Reno memberi sarannya
"Lo gak mau kan tiba-tiba Elvira datang dan menghancurkan rumah tangga Lo sama Anin?" tanya Reno lagi karena El terdiam begitu saja
"Gue harus cari kemana Ren? Gue ini baru disini. Aaahhh pusing!" ucap El dengan penuh penekanan
Kini giliran Reno yang terdiam, benar juga ucapan si El, mau cari kemana orang hidup yang bergerak di Negara orang lain ini.
"Dia pasti langsung pergi dari sini karena tahu Gue ada disini. Yang dulu Ninggalin Gue juga kan dia!" ucap El dengan sangat kesal
Reno terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu, seperti rasa sakit itu masih saja ada.
"Kamu salah, aku masih disini!" ucap Elvira tiba-tiba dari belakang El dan Reno
El dan Reno langsung menoleh kearah suara yang ada di belakangnya, ternyata itu Elvira yang sedang menggandeng gadis kecil yang kemarin tak sengaja bertemu dengannya.
"El aku mau bicara sama kamu, tolong.. Tolong beri aku waktu" ucap Elvira dengan memohon
"Aku tahu kamu pasti sangat membenci ku, tapi aku mohon kita perlu bicara" lanjut ucap Elvira
El dan Reno saling tatap, El bingung harus bagaimana. Ia sudah ditunggu pekerjaannya, tapi ia juga butuh kejelasan semuanya dari Elvira.
"Saya rasa tentang kita tidak perlu lagi ada yang dibicarakan, Vir.. Apa lagi yang kamu mau dari saya?" ucap El dengan wajah datarnya, namun menahan jantung yang berdebar-debar saat berhadapan dengan Elvira.
Bagaimanapun Elvira, adalah wanita yang sangat El cintai dulu, entah bagaimana kini perasaan El bertemu lagi dengan Elvira. Jantungnya tetap sama, berdebar-debar.
"El, Lo boleh ngobrol dulu sama Elvira baik-baik.. Gue yang akan handle semua urusan kerjaan" ucap Reno menepuk pundak El, lalu mengambil berkas yang ada di meja makan itu, dan langsung pergi meninggalkan El bersama Elvira juga seorang gadis itu
El terdiam melihat kepergian Reno begitu saja, Reno mengerti pasti banyak sekali pertanyaan dan kejelasan yang ingin El selesaikan dengan Elvira.
Elvira memandang lekat El, sudah bertahun-tahun ia tak pernah bertemu lagi dengan El.
"El.. Maafin aku.. Banyak yang ingin aku jelaskan semuanya" ucap Elvira dengan wajah seriusnya penuh harap.
"Kita bicara disana bagaimana? Disini tidak enak di dengar banyak orang" ucap Elvira sembari menunjuk sebuah bangunan rumah terpisah dekat resort, lalu melihat sekitarnya yang lumayan ramai
El hanya mengangguk, lalu mengikuti Elvira berjalan dari belakang, menuju rumah yang di tunjukan oleh Elvira itu. Bangunannya memang tidak mewah, namun sangat elegan. Rumah sempit, 2 tingkat dan sangat nyaman.
"Silahkan masuk, El.." ucap Elvira dengan ramahnya
El hanya mengangguk, jujur saja ia merasa sangat canggung bertemu lagi dengan Elvira, penampilannya berubah, dari busananya ia lebih simpel dan sederhana.
"Ini rumah kami El.." ucap Elvira lagi ketika El terduduk di sofa ruang tamu yang sempit itu
"Sebentar aku buatkan minuman dulu untuk mu.." lanjut ucap Elvira sembari melangkah ke dapur, dan meninggalkan Erina berdua dengan El
El hanya mengangguk, ia sungguh tak mampu percaya dengan kejadian ini. El bingung harus bersikap seperti apa, apa harus senang, apa harus sedih. El jadi hanya bisa terdiam saja.
El mamandang lekat wajah gadis yang duduk didepannya itu, banyak sekali yang ingin ia tahu tentang gadis ini. El merasa gadis ini sangat mirip dengan dirinya, belum lagi Alis yang tebal, mata yang meruncing sipit dan hidung mancung persis mirip dengan dirinya.
"Siapa nama kamu?" tanya El dengan suara pelan karena merasa ragu
"Erina, Om.. Om yang kemarin membuat jidat ku terpentok kan?" jawab Erina, lalu membahas hal yang kemarin
"Iya, maafkan saya.. Itu tidak sengaja, Apa masih sakit?" ucap El merasa tak enak hati
Tiba-tiba Elvira datang dengan 2 cangkir teh hangat dalam nampannya, sembari tersenyum manis ke arah Erina juga El.
"Sudah tidak apa-apa kok.." ucap Elvira merasa tak enak Erina masih membahas yang kemarin
"Silahkan diminum dulu El.." lanjut ucap Elvira sembari menyodorkan secangkir teh itu didepan El
El lagi-lagi hanya mengangguk, di depan Elvira sungguh ia tak mampu berkata-kata apapun. Rasa marahnya takut menguasai dirinya dan takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
"Erina sekarang kamu naik ya ke kamar kamu.." ucap Elvira pada putrinya itu
"Iya Mami.." jawab Erina dengan cepat lalu berjalan meninggalkan ruang tamu dan membiarkan Ibu juga tamunya berdua.
"El.. Aku ingin minta maaf sama kamu.. Kamu pasti gak akan bisa maafin aku, aku ngerti itu. Ini kesalahan besar ku, aku tahu itu.." ucap Elvira terlihat menundukan pandangannya, dan memasang wajah sedih
El tetap tidak bergeming, ia hanya memperhatikan Elvira yang ada di hadapannya itu.
"Tapi Aku punya alasan kenapa aku harus pergi meninggalkan kamu.." lanjut ucap Elvira, matanya sudah berkaca-kaca dan kembali menatap El
"Apa alasannya?" tanya El dengan wajah dinginnya
"Ini semua.." ucap Elvira sembari merentangkan tanganya
"Yaaa ini semua, Resort ini milik ku.. Aku usahakan sendiri, orangtua ku memintanya waktu itu. Aku berhasil dan Aku senang, tapi Aku kehilangan mu.. Aku ingin kembali pada mu, tapi aku sangat malu, aku tahu kamu pasti marah sekali" ucap Elvira dengan air mata yang mulai menetes mengalir di pipinya perlahan
El terdiam batinnya sangat berkecamuk, rasanya ingin sekali meluapkan semua emosi yang sudah meronta-ronta sejak lama.
"Maafin Aku El.." lanjut ucap Elvira sembari memegang tangan El yang disimpan dilutunya itu
"Maaf Vira, sekarang bukan waktunya.. Semua sudah jauh terlambat" ucap El dengan angkuh sembari melepaskan genggaman tangan Elvira
El lalu bangkit dan hendak keluar dari rumah kecil itu, langkahnya membesar, karena terburu-buru. El merasa sangat cukup mendengar penjelasan segitu saja.
"Tunggu!" ucap Elvira masih dengan air matanya
"Kamu harus tahu satu hal, kita bisa berpisah, tapi kamu dan dia tidak akan pernah terpisah selamanya" ucap Elvira menahan langkah kaki El
El menoleh ke arah Elvira dengan tatapan tajamnya.
"Dengan siapa?" tanya El sangat penasaran
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa, like, coment, dan vote 😊
Biar authornya semakin semangat! Makasih