Dilarang Plagiat Karya Saya ‼️
Hidup sendirian berada di suatu pulau terpencil, kawasan tersebut sama sekali tidak pernah dikunjungi oleh manusia. Letaknya sangat jauh dan tidak diketahui, namun pada suatu hari seorang wanita cantik tersesat ketika dirinya healing sendirian.
"Merman? Bukannya merman itu hanya dalam mitos belaka? Hahaha, itu bukan merman!"
"Merman tidak mungkin ada dan mustahil jika muncul di dunia nyata! Mitos tetaplah mitos, dan tidak akan pernah menjadi nyata!"
"Hufh... aku salah melihat pasti!" Namun dugaannya salah, makhluk yang ia anggap mitos ternyata memang nyata.
"Ace..." Merman itu bergumam pelan.
"Hah? Kau mengatakan apa?" Dahi wanita itu mengernyit kebingungan.
"Ace... mm ngan igi!"
"....." Mengerjapkan mata dan terdiam membisu.
"Maksudnya?" Pikirnya wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati Menjadi Bimbang
3 Jam Telah Berlalu.....
Ceklek
Thienvra sudah selesai dengan aktivitas mandinya, ia melangkahkan kakinya sambil menggosok rambutnya menggunakan handuk kecil, namun belum mengenakan pakaian hanya terbalut bathrobe.
Tanpa dirinya sadari Chio menatapnya lekat, tangisannya terhenti, lalu menghampiri matenya.
"La la la.." Thienvra asik merias wajahnya seraya bersenandung riang.
Grep
"Mate, kamu wangi sekali, humm..." Hidungnya mengendus-endus leher jenjang matenya. Sementara Thienvra, wanita itu membiarkannya saja, lalu bibirnya mencium lehernya.
"Chio, ck! Hentikan!" Lama-kelamaan Thienvra menjadi risih, wanita itu beranjak berdiri lalu Chio membalikkan badannya, tangannya mencengkram erat pinggangnya, dan didekatkan ke arah tubuhnya.Tidak ada jarak sama sekali diantara mereka berdua.
"Chio! Lepasin aku!" Wanita itu memberontak.
"Lebih baik sana kamu bersihkan diri." Thienvra menahan dada bidangnya yang dimana pria merman itu berusaha ingin cium bibirnya.
"Ih, Mate." Chio mendekatinya tapi Thienvra langsung menghindar.
"Mandi, cepat! Aku sudah siapkan air hangatnya, pergi ke kamar mandi!" Perintahnya wanita itu dengan tegas.
"Mm, tapi cium dulu, ya? Pengen cium bibir kamu, Mate!" Sambil kakinya dihentak-hentakkan ke lantai.
"Baiklah, sini." Lalu Chio menerjang dirinya sampai keduanya terjatuh ke kasur.
Bruk
"Aduh! Chio, kam....." Perkataannya tidak dilanjutkan karena diserang. Setelah itu, Chio pergi ke kamar mandi, dan Thienvra segera memakai baju.
Beberapa Jam Kemudian.....
"Mate, aku sudah mandi!" Seru pria merman itu.
"Ya." Thienvra menjawab singkat.
Grep
"Mate." Panggil Chio dengan memeluknya.
"Kita makan sore, ayo ikut aku." Ajaknya Thienvra, lalu keluar kamar sambil bergandengan tangan dengan matenya.
Sesampainya di dapur, Thienvra menyuruh Chio tuk duduk di kursi tapi pria merman itu tidak mau, dengan alasan seperti ini.
"Tidak ingin berjauhan sama kamu, Mate!" Kata Chio seraya menggeleng kepala.
"Huh, iya, bantu aku memasak okey?" Ujar Thienvra.
"Okey!" Balas Chio.
Wanita itu mengambil bahan makanan di kulkas, Chio mengikutinya.
"Ini bawa." Diterima baik oleh pria merman itu.
Masing-masing membawa bahan-bahannya, dan Thienvra dengan sabar mengajari Chio.
"Pintar juga kamu, Chio. Tapi kamu bisa tahan lapar, kan?" Thienvra tahu jika perut Chio terus berbunyi sedari tadi.
"Bisa kok." Jawab pria merman itu.
Mereka saling bekerja sama, dan sekarang telah siap disajikan. Keduanya berdoa sebelum makan.
"Lauk pauknya mau apa, Chio? Biar aku ambilkan." Ucap Thienvra.
"Sama kayak, Mate." Pintanya Chio dengan manja.
"Siap." Ditaruhnya lauk pauk ke atas piringnya.
Lalu makan sore dengan khidmat, sesekali Chio disuapi matenya.
"Masih lapar" Menepuk perutnya pelan.
"Mau tambah lagi?" Tawar matenya.
"Memangnya boleh, Mate?" Chio malah bertanya balik.
"Boleh banget." Jawab Thienvra, lalu mengambil nasi untuk Chio.
Setelah makan sore tadi saat ini Thienvra dan Chio sedang menonton film di ruang keluarga.
"Mate." Thienvra menoleh ke samping.
"Apa?" Tanyanya Thienvra.
"....." Chio tidak memberi jawaban melainkan tiduran di paha matenya.
Tanpa disuruh Thienvra membelai rambutnya Chio, sehingga pria merman itu memejamkan mata, saking enaknya dengan hal tersebut.
"Chio, kalau misalnya kita tidak bertemu bagaimana?" Wanita itu bertanya.
"Maka aku akan setia menunggu kamu, Mate." Chio jawab.
"Tapi jika aku tidak ditakdirkan untukmu?" Mendengar ucapan itu, Chio bangkit dari terbaringnya.
"Aku meminta dan memaksa pada Tuhan, tolong takdirkan kamu untukku, kamu saja bukan yang lainnya." Lirihnya pria merman itu, tangannya menangkup wajah cantik matenya.
"Hanya dirimu Sayang, Mateku satu-satunya, yang sangat aku cintai." Tuturnya Chio dari hati yang tulus.
"Oh, begitu ya? Apa iya? Atau bisa jadi sebelum bertemu denganku, kamu pernah menjalin hubungan sama wanita dari bangsa lain?" Kata Thienvra sambil beranjak dari kursi, ia pindah duduk ke sofa di seberangnya.
"Mate." Dengan tergesa-gesa pria merman itu menghampirinya.
"Aku tidak seperti yang dipikirkan, Mate. Hatiku ini milik, Mate. Tolong percaya padaku, Mate." Lirihnya Chio, menggenggam tangan matenya.
Pria merman itu duduk di dekatnya, tatapannya terlihat sendu.
"Kita ditakdirkan tuk bersama, Mate." Ucap Chio.
"Oh." Balas singkat Thienvra, lalu dia berlalu dari sana, dan meninggalkan Chio sendirian di ruang keluarga.
"Mate." Chio menatap punggung matenya yang kian menjauh dari pandangannya.
***
"Harus apa aku?" Pikir Thienvra, wanita itu tengah bermain ayunan di taman belakang rumahnya.
"Bingung sekali, hufh.." Helaan nafas berat.
"Tuhan, jika Chio benar-benar takdirku tolong tunjukkan buktinya kepadaku, jika Chio bukan takdirku basmi saja pria merman itu." Celetuknya wanita itu.
"Belum beberapa bulan, tapi kenapa rasanya disaat dekat dengan Chio nyaman banget, ya? Apa benar aku mencintainya? Sayang sama dia? Rasa ini apakah tulus?" Sambil melihat ke atas langit yang indah.
"Langit itu ibaratnya sebuah impian yang sulit untuk digapai, tampak dari mata dekat, tapi nyatanya jauh." Batinnya Thienvra berkata.
Wanita itu ingin menyendiri tanpa diganggu siapapun.
***
Sementara itu Chio, pria merman masih berada di ruang keluarga, tanpa beranjak sama sekali.
Terduduk di tempat bekas matenya duduk tadi, punggungnya bersandar, kepalanya tengadah ke atas, dan air mata menetes dari sudut netranya.
"Tuhan, wanita itu memang takdirku, tapi mengapa dia tidak mengatakan sesuatu? Atau apakah tidak percaya padaku?" Pikirnya Chio.
Televisi tetap menyala, dan film terus berputra tanpa ditonton.
"Diriku yakin bahwa dirinya adalah pasangan hidupku, separuh hatiku, yang nantinya akan melengkapi satu sama lain." Ujar pria merman.
Hatinya terluka sebab matenya tak percaya terhadapnya, dan sangat sakit rasanya.
Waktu berputar dan kini menunjukkan pukul 07.00 malam hari, dalam kamar Thienvra serta Chio, mereka berdua saling terdiam, dan tak ada yang bersuara satu pun.
Lalu ponsel wanita itu berbunyi, Thienvra mengangkatnya.
"Hm, ada apa meneleponku?" Ucap Thienvra dengan malas.
"Astaga, saudara cantikku ini, kamu sedang badmood ya?" Celetuk orang di seberang sana.
"Entahlah." Jawab singkat wanita itu.
"Bagaimana jika aku berkunjung ke rumahmu? Aku ingin kesitu, boleh, kan?" Tanya orang itu.
"Ya." Lalu telepon ditutup secara sepihak oleh dirinya sendiri.
***
"Aku harus membelikan beberapa camilan buat saudara cantikku." Kata orang itu setelah menelepon Thienvra, ya dia merupakan Kakak angkatnya.
"Baiklah, aku siap-siap dulu." Bergegas berganti pakaian.
"Selesai, tidak perlu ribet seperti wanita." Lalu pergi dari apartementnya.
"Thienvra, Kakak datang." Ia telah masuk ke mobilnya, dan menyalakan mesin kendaraannya.
Perjalanannya dari apartement menuju ke rumah Thienvra memerlukan waktu yang cukup lama.
"Aku beli coklat, lalu keripik kentang kesukaannya, apa lagi ya?" Pria itu berpikir.
Sebelum itu, dirinya terlebih dahulu mampir ke supermarket tuk membeli camilan.
"Selesai, semoga Thienvra suka." Batinnya pria itu berkata.
"Baiklah, saatnya aku meluncur ke rumah Adik Thienvra."