NovelToon NovelToon
Cinta Sang Ratu Bayangan

Cinta Sang Ratu Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:532
Nilai: 5
Nama Author: vier08

Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.

Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.

Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.

"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.

Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DENDAM ARLON

"Ibu, apa Ibu tidak merasa ada yang aneh dengan Arlon?" tanya Arkan tiba-tiba, memecah keheningan.

Ratu Selena yang sedang memijat pelipisnya mendongak.

"Maksudmu si cacat itu? Dia bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur tanpa bantuan. Apa yang aneh?" tanya Ratu Selena, mendengus sinis.

"Tadi... saat aku tiba di paviliun, aku merasa ada aura yang berbeda, Elena tampak begitu percaya diri, dan Arlon... meski dia tidak ada di sana, aku merasa dia sudah merencanakan ini semua bersama istrinya," jawab Arkan dengan nada ragu.

Ratu Selena tertawa hambar, dengan senyum sinis yang menghiasi wajah nya.

"Arlon itu sampah, Arkan," jawab Ratu Selena, menggeleng kan kepala nya.

"Tapi Ibu, tadi dia mencuri panggung di depan para Lady. Sekarang semua orang membicarakan kebaikan hati Elena dan kebusukan Clarissa, itu bukan langkah orang bodoh," ucap Pangeran Arkan, merasa harga dirinya sedikit terluka karena sempat terpesona sejenak oleh akting Elena tadi.

Ratu Selena meletakkan cangkir tehnya dengan dentingan keras.

Tak

"Maka dari itu kita harus menyerang balik. Jika dia ingin main drama, kita beri dia panggung yang lebih besar. Bukankah Minggu depan adalah Festival Persembahan Musim Semi?" tanya Ratu Selena dengan senyum misterius.

"Iya, itu acara di mana setiap anggota keluarga kerajaan harus memberikan persembahan terbaik mereka di depan rakyat," jawab Arkan mengangguk pelan.

"Tepat sekali," ucap Ratu Selena.

"Sebagai istri dari Pangeran sampah itu, Elena wajib mempersembahkan sesuatu yang berharga. Karena mereka miskin dan tidak punya apa-apa, aku ingin tahu apa yang akan dia bawa ke atas altar, jika dia gagal, atau jika persembahannya memalukan, rakyat sendiri yang akan mengusirnya dari istana, bahkan Raja akan semakin membenci mereka," lanjut Ratu Selena, tersenyum miring.

"Dan kita bisa memastikan bahwa tidak ada satu pun pedagang atau pengrajin di ibu kota yang mau menjual barang berharga kepada mereka," sambung Arkan mulai paham dengan arah pembicaraan ibunya.

"Hem. Sekarang pergilah, besok kita akan menonton pertunjukkan yang sangat menarik," ucap Ratu Selena, mengibaskan tangannya.

"Baik."

"Malam ini milikmu, Elena, tapi besok, istana ini akan menjadi penjara yang sesungguhnya bagimu dan Pangeran sampah itu," batin Arkan sambil melangkah keluar dari ruangan Ratu, meninggalkan sang Ibu yang masih terjebak dalam rencana busuknya.

Sementara itu, kembali ke Paviliun Bintang yang remang-remang.

Elena yang masih duduk bersandar pada Arlon tiba-tiba bersin.

"Seseorang pasti sedang membicarakan mu," goda Arlon, tangannya masih setia menggenggam tangan Elena, menyerap energi kehidupan yang mengalir hangat.

"Pasti Ratu tua itu," gumam Elena malas.

"Atau keponakannya yang tidak punya otak itu. Aku bertaruh Clarissa sekarang sedang menangis sampai matanya bengkak," ucap Elena, mendengus dingin.

"Kamu terlalu berani, Elena, menaruh barang di saku Clarissa di depan hidung para pengawal? Itu gila," ucap Arlon terkekeh, dadanya terasa lebih ringan sekarang.

"Gila tapi berhasil, kan?" ucap Elena menoleh ke arah Arlon.

Arlon menatap lekat wajah cantik Elena, jarak wajah mereka begitu dekat hingga dia bisa dengan jelas melihat garis wajah Elena, yang begitu sempurna.

"Lagipula, aku tidak suka barangku dituduh hasil curian, jadi lebih baik aku buat itu jadi kenyataan bahwa dia yang mencuri," lanjut Elena, tersenyum miring l.

Arlon menatap kantong kecil berisi cincin emas yang tadi dilemparkan Elena.

"Cincin itu milik pelayan pribadi Clarissa, kan? Kenapa kamu mengambilnya?" tanya Arlon penasaran.

"Itu bayaran dari rasa sakit di tanganku," jawab Elena santai sambil menunjukkan lebam keunguan di pergelangan tangannya.

"Dia memegang tangan ku terlalu keras tadi, jadi, aku mengambil cincinnya sebagai biaya pengobatan. Adil, kan?" lanjut Elena.

Arlon terdiam sejenak, lalu dia menarik tangan Elena yang lebam itu dan mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya.

"Maaf," bisik Arlon pelan.

"Untuk apa?" tanya Elena heran.

"Karena aku masih terlalu lemah untuk melindungi secara langsung, mambuat mu harus berakting seperti pelayan rendahan dan membiarkan dirimu disakiti hanya untuk memenangkan posisi kita," ucap Arlon dengan nada yang terdengar tulus sekaligus pahit.

Elena tertegun, dia terbiasa hidup keras sebagai pembunuh, di mana luka adalah hal biasa dan tidak ada yang pernah meminta maaf padanya karena luka itu.

"Jangan berlebihan Arlon, ini hanya lebam kecil," Elena mencoba menarik tangannya, tapi Arlon menahannya.

"Ini bukan soal kecil atau besar, Elena, ini soal harga diri. Tapi tenang saja, setelah aku lebih kuat nanti, aku pastikan mereka yang membuatmu seperti ini akan membayar seribu kali lipat," janji Arlon dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan tajam.

Arlon masih terus menggenggam lembut tangan Elena, dan sialnya membuat detak jantung Elena sedikit tidak beraturan.

"Elena," panggil Arlon lirih, suaranya kini terdengar lebih dalam.

"Hmm?" jawab Elena tanpa menoleh.

"Kenapa kamu tidak bertanya tentang Ibuku?" tanya Arlon tiba-tiba.

"Semua orang di istana ini tahu ceritanya, atau setidaknya, versi yang dikarang oleh Selena," lanjut Arlon, dengan kilatan cahaya kebencian di mata nya.

Elena terdiam sejenak, tidak langsung menjawab, sebagai pembunuh bayaran, rasa penasaran adalah kelemahan, tapi di ruangan sesunyi ini, dia merasa dinding pertahanannya sedikit terkikis.

"Aku tidak dibayar untuk menjadi pendengar curhatmu, Pangeran," jawab Elena ketus.

"Tapi jika itu membuatmu berhenti memasang wajah sedih seperti anjing kehujanan, bicaralah," lanjut Elena, melirik Pangeran Arlon.

Arlon terkekeh pahit, dia sudah terbiasa dengan sifat istri nya, galak tapi memiliki hati yang baik dan tulus.

"Ibuku... dia bukan wanita bangsawan tinggi, dia hanya seorang wanita yang sangat dicintai Ayahanda, dan itulah kesalahannya. Selena tidak bisa membiarkan ada orang lain yang memiliki hati Raja," ucap Arlon, mulai bercerita.

Arlon menatap tangannya yang bertautan dengan tangan Elena.

"Dia meracuni Ibuku perlahan-lahan, sama seperti yang dia lakukan padaku sekarang. Bedanya, saat itu aku masih kecil dan tidak bisa melakukan apa pun selain menontonnya perlahan-lahan kehilangan nyawa," lanjut Arlon, dengan suara bergetar.

Cengkeraman tangan Elena tanpa sadar mengerat, dia tahu rasanya kehilangan, dia tahu rasanya tidak berdaya. Di dunia klan pembunuh, dia melihat banyak nyawa hilang, tapi ada sesuatu dalam suara Arlon yang membuatnya merasa marah.

"Jadi itu alasanmu tetap bertahan di sini?" tanya Elena pelan.

"Aku bertahan karena aku ingin melihatnya kehilangan segalanya," desis Arlon, matanya berkilat tajam.

"Aku ingin dia melihat anak kesayangannya, Arkan, jatuh merangkak di kakiku, dan aku butuh kamu untuk itu, Elena, bukan hanya sebagai energi ku, tapi sebagai satu-satunya orang yang tidak menatapku dengan rasa kasihan," lanjut Arlon, menatap Elena dalam.

Aku tidak pernah merasa kasihan pada monster, Arlon. Dan aku melihat monster yang sedang tidur di dalam dirimu," jawab Elena menoleh, balik menatap mata Arlon.

Arlon menyeringai, sebuah senyuman yang terlihat haus darah namun juga sangat tampan.

"Kalau begitu, jangan pernah lepaskan tanganku, karena monster ini hanya tunduk pada pemiliknya," bisik Arlon, dengan suara berat nya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!