NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Iva & Tenda Medis

Bab 12

*Dasar menyebalkan.*

Senyum itu masih nyangkut di sudut bibirnya tanpa ia minta.

Lalu—

"Kak!"

Nayla menoleh.

Seorang anak perempuan kecil berlari ke arahnya. Usianya sekitar enam tahun. Di tangannya, ia menggenggam sesuatu.

Lalu Ia berhenti tepat di depan Nayla, menatapnya tanpa rasa takut sama sekali.

"Kakak dokter ya?" Suaranya nyaring, polos.

Nayla mengernyit sebentar, kaget, lalu tersenyum. Mengangguk

"Iya. Kamu tahu dari mana?"

" tahu Dari Ibu kak." Jawabnya singkat. Lalu ia mengulurkan tangan—menggenggam jambu biji kecil yang masih hijau. "Ini buat Kakak."

Nayla menatap jambu itu, lalu menatap wajah anak itu.

"Buat aku?"

"he em" dia mengangguk mantap. "Ini dari pohon di belakang rumah kami kak. Manis."

Nayla menerima jambu itu pelan.

Tangannya yang biasa memegang jarum suntik dan stetoskop, sekarang menggenggam buah kecil dari tangan anak enam tahun.

Sesuatu di dadanya menghangat.

"Makasih ya."

anak itu mengangguk

"oh ya Siapa nama kamu?"

"Iva." jawabnya cepat. Lalu ia duduk begitu saja di sebelah Nayla—tanpa minta izin, tanpa canggung. Nayla tersenyum menggeser sedikit tubuhnya

"iva, namanya bagus sekali"

"terimakasih kak"

"kakak juga cantik"

eh eh Udah pinter muji ya kamu ucap Nayla sambil tersenyum

"Kakak dari mana?"tanya nya lagi.

" kakak dari Jakarta," jawab Nayla sambil merapikan rambut Iva yang berantakan.

"Jauh ya?"

"iya Jauh banget."

Iva diam sebentar, seperti sedang memproses informasi itu. Ekspresinya serius, tapi di mata Nayla malah jadi lucu.

"Kakak ke sini sendirian?"

"enggak kakak bareng rombongan.

"kakak Belum nikah." tanyanya tiba tiba

Nayla mengeleng menatap iva

oh gitu

"Yang tinggi itu siapa kak?" tanyanya lagi

Nayla mengikuti arah jarinya.

Raditya.

Sedang berjalan dari pos komando dengan langkah yang sama seperti selalu—mantap, tidak terburu-buru, tidak peduli pada apapun di sekitarnya.

"Itu Letnan Raditya," jawab Nayla.

"Ganteng ya kak," ucap Iva polos.

Nayla membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

"Nanti Kakak nikah sama dia ya?" lanjut Iva, ringan seperti bicara soal cuaca.

Nayla menegakkan punggung. "Nggak."

"Kenapa?"

"Karena... dia menyebalkan." bisik Nayla

Iva menoleh ke arah Raditya, lalu kembali ke Nayla.

"Tapi kakak itu ganteng," ulangnya serius.

Nayla menatap langit.

_Ya Allah._

"Kamu ini ngomong apa sih, Iva," ucap Nayla gemes.

"Loh—"

Iva sudah sibuk mengejar kupu-kupu yang lewat, berlari kecil tanpa menoleh lagi.

Nayla memandangi punggung kecil itu sebentar bibirnya melengkung tipis. Lalu tanpa sadar, matanya melayang lagi ke arah Raditya yang baru saja menghilang di balik tenda.

_Tapi ganteng._

Nayla menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu antara kesal dan tidak bisa menyangkal.

Nayla beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah berjalan menuju tenda medis beberapa saat kemudian

Nayla berdiri di depan pintu tenda.

Lalu Ia menyibak kain penutup pintu dan melangkah masuk.

matanya menyapu sekeliling Tendanya kecil. Empat ranjang darurat berjejer rapi. Dinding kain putihnya kusam, dengan noda kekuningan di sudut kanan atas yang sepertinya sudah lama dibiarkan.

Di meja darurat pojok ruangan, obat-obatan tersusun seadanya: perban, antiseptik, parasetamol, beberapa ampul yang tak bisa ia identifikasi dari jarak ini.

Lampu portabel menggantung di tengah, cahayanya pas-pasan. Tiba tiba

"Eh—"

Suara kecil dari sudut ruangan.

Nayla menoleh.

Seorang perempuan berdiri dengan celemek putih kusam, kain lap masih di tangan. Rambut hitamnya dikepang satu ke belakang.

"Dokter... Nayla?" suaranya pelan, gugup.

"Iya." Nayla mendekat, senyumnya turun setengah tingkat. "Kamu perawatnya?"

"I— iya, Dok." Perempuan itu buru-buru merapikan celemek. "Nama saya Sari. Sari Wulandari. Saya yang jaga tenda ini." dok

Nayla menatap ruangan itu lagi. Empat ranjang. Obat seadanya. Satu lampu.

"Kamu Sendirian tanya Nayla lagi" —

Sari mengangguk, senyumnya tipis. "Sejak situasinya nggak kondusif. Warga banyak yang takut keluar, jadi saya yang keliling."

Nayla diam. Ia menatap Sari—perempuan yang berdiri di sini tiga bulan dengan bekal seadanya, tetap datang tiap kali ada yang butuh.

Tangannya terulur.

"Sekarang kita jaga bareng,

Sari menatap tangan itu sebentar, lalu menggenggamnya erat. Caranya menggenggam seperti orang yang sudah lama menahan napas.

"Makasih, Dok." Suaranya bergetar.

Nayla balas menggenggam. Kali ini senyumnya muncul sendiri, tanpa dipaksa.

Di luar, angin menyentuh kain tenda. Dinginnya berkurang sedikit.

Ayok aku bantu ucap Nayla.

1
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!