Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Sedikit Ketenangan Bagi Theo
Sore tiba, di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke apartemennya, wajah Bianca tampak tegang.
Ponselnya terus bergetar menampilkan pesan peringatan dari Siska mengenai ancaman vendor logistik yang menuntut dana jaminan dua puluh miliar rupiah besok pagi.
Bianca menggertak giginya dengan geram. Dia tahu, jika Falcon Corp runtuh sekarang, dia tidak akan bisa lagi memeras harta Theo, dan posisinya sebagai calon nyonya besar Falcon akan lenyap.
Terlebih lagi, Theo bisa saja menyelidiki memo-memo pencairan dana fiktif yang selama ini dia lakukan bersama Reno jika perusahaan sampai diaudit total karena bangkrut.
"Sialan, aku terpaksa memakai jalur darurat," gumam Bianca ketus.
Dengan tangan yang gemetar, dia menghubungi salah satu kontak investor gelap jaringan lamanya untuk mencairkan dana talangan jaminan atas nama Falcon Corp menggunakan aset rahasia yang pernah dia gelapkan dulu.
Bagi Bianca, ini adalah investasi taktik. Dia harus menyelamatkan wajahnya di depan Theo agar tidak dicurigai, sekaligus mengamankan posisinya sebagai pahlawan perusahaan.
Sementara itu, Theo pulang dengan perut yang keroncongan. Begitu berjalan ke ruang makan, aroma harum dari ayam goreng bumbu lengkuas dan sayur asam masakan Bik Sumi langsung menyergap indra penciumannya.
Karena siang tadi hanya makan mi instan hambar di kantor, Theo tanpa gengsi langsung duduk dan menyendok nasi dengan kelaparan.
Ratna, ibunya, keluar dari kamar sambil memakai masker wajah.
"Theo, di mana si Bianca? Kenapa seharian ini dia tidak kelihatan batang hidungnya?"
Theo mengunyah makanannya dengan cepat sebelum menjawab, "Bianca sedang sakit di apartemennya, Ibu. Dia kelelahan karena memikirkan masalah kantor dua hari ini."
Ratna hanya mendengkus, lalu kembali masuk ke kamarnya. Selesai makan malam, hati Theo
merasa bersalah sekaligus khawatir.
Mengingat Bianca yang sedang sakit sendirian di apartemen setelah berjuang untuk kantor, Theo berinisiatif untuk mengemas sisa makanan yang masih hangat ke dalam kotak bekal. Pria itu berniat pergi ke apartemen Bianca untuk memberikan perhatian romantis.
...****************...
Di saat yang bersamaan, suasana di dalam apartemen mewah Bianca justru sedang sangat panas.
Bianca baru saja tiba di apartemennya dan langsung mendapati Reno sedang asyik meminum alkohol di sofa ruang tamunya. Di atas meja, berserakan beberapa kantung belanjaan barang branded milik Reno yang dibeli menggunakan uang kas kantor tadi sore.
...Drrt... Drrt......
Ponsel Bianca di atas meja bergetar. Layar menampilkan nama Theo. Bianca langsung tersentak, meraba dadanya yang berdegup kencang karena kaget. Dengan tangan agak gemetar, dia menggeser tombol hijau.
"H-halo, Theo? Ada apa malam-malam begini menelepon?" tanya Bianca, berusaha mengatur suaranya agar terdengar lemas dan serak seperti orang sakit.
"Bianca, aku sekarang sedang di jalan menuju apartemenmu. Aku membawakan makanan hangat yang dimasak Bik Sumi untukmu. Sepuluh menit lagi aku sampai," ujar suara Theo.
"Apa?! Kamu mau ke sini?!" Bianca langsung berdiri tegak, matanya membelalak panik.
"Iya, aku ingin memastikan kondisimu. Sudah ya, aku sedang menyetir." Panggilan pun terputus.
Bianca langsung melempar ponselnya ke sofa dan menatap Reno dengan wajah panik.
"Reno! Gawat! Si idiot Theo mau ke sini sekarang! Dia sudah di jalan!"
Reno yang semula santai langsung melompat berdiri.
"Sialan! Kenapa tiba-tiba sekali?!"
"Jangan banyak tanya! Cepat bereskan semua barang-barangmu!" teriak Bianca panik.
Suasana apartemen langsung berubah menjadi kacau dalam sekejap. Bianca dan Reno bergerak secepat kilat, mengambil jaket, sepatu, puntung rokok, hingga kantung-kantung belanjaan mewah milik Reno agar tidak ada satu pun jejak pria lain yang tertinggal di dalam apartemen.
Tepat saat terdengar suara langkah kaki di lorong luar dan bunyi sensor kunci pintu apartemen mulai berbunyi, Reno tidak punya pilihan lain.
"Aku lewat belakang!" bisik Reno. Pria itu bergegas membuka pintu kaca balkon, memanjat pagar pembatas dengan cepat, dan bersembunyi di area tangga darurat luar yang gelap gulita.
...Cklek...
Pintu apartemen terbuka. Bianca buru-buru merebahkan dirinya di sofa, menarik selimut tebal sampai ke dada, dan memejamkan matanya, berpura-pura lemas tak berdaya tepat saat Theo masuk ke dalam apartemennya.
"Bianca..." panggil Theo, Ia masuk sambil menjinjing tas kain berisi kotak bekal.
Melihat Bianca yang terbaring lemas dengan wajah yang dibuat sepucat mungkin, rasa iba di hati Theo makin melembut. Dia duduk di tepi sofa, mengelus rambut Bianca dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana keadaanmu? Aku membawakanmu makan malam. Oh ya, ada kabar baik," ujar Theo dengan senyum lebar yang lega.
"Pihak vendor logistik pelabuhan baru saja menelepon bendahara kita, Siska. Mereka membatalkan ancaman penarikan diri karena dana jaminan dua puluh miliar sudah masuk dan terverifikasi! Masalah kita selesai, Bianca!"
Bianca memaksakan sebuah senyuman manis yang terlihat sangat tulus, menggenggam tangan Theo dengan manja.
"Benarkah, Theo? Ah... syukurlah. Berarti panggilan telepon dan negosiasi darurat yang aku paksakan dengan rekan investorku sebelum aku ambruk sakit tadi akhirnya membuahkan hasil. Aku benar-benar takut perusahaanmu kenapa-kenapa, Theo."
Theo menatap Bianca dengan binar kekaguman dan rasa terima kasih yang teramat dalam.
"Jadi ini semua karena usahamu, Bianca? Terima kasih banyak... kamu benar-benar penyelamat karierku. Aku tidak salah memilihmu."
Dipicu oleh rasa lega karena proyeknya selamat, ditambah suasana apartemen yang remang-remang, hasrat Theo malam itu terasa bangkit kembali.
Dia menunduk, menarik tubuh Bianca ke dalam pelukannya, mencoba memulai sebuah momen romantis yang intim sebagai tanda terima kasihnya.
Theo mencium kening Bianca, lalu turun ke pipinya. Namun, tepat saat Theo hendak mengecup bibir Bianca, hidung pria itu mencium aroma lain.
Itu bukan aroma parfum mahal sweet vanila Bianca yang biasa dia cium. Ada samar-samar aroma parfum maskulin pria lain yang tajam, bercampur dengan bau asap rokok yang tipis di sekitar bantal sofa.
Aroma itu entah mengapa langsung memicu memori bawah sadar Theo. Pikirannya mengingatkan kembali bayangan rumah kecilnya yang dulu selalu bersih tanpa noda.
Dia teringat pada Zarlin tidak pernah membiarkan ada bau asing di rumah mereka. Tubuh istrinya itu selalu beraroma segar seperti sabun bayi yang menenangkan, tapi dia selalu menyebutnya bau dapur, dan rumah mereka dulu selalu terasa damai, tidak seperti apartemen Bianca yang mendadak terasa pengap.
Gerakan bibir Theo seketika berhenti. Dia menarik diri sedikit, menatap wajah Bianca dengan tatapan yang curiga.
Bianca yang menyadari perubahan dari Theo langsung merasa ketakutan setengah mati. Jantungnya berdegup kencang.
"Apa si bodoh ini menyadari keberadaan Reno? Atau dia mencium bau parfum Reno di sofa ini?"
batin Bianca panik, senyum manisnya terasa kaku karena ketakutan rahasianya akan terbongkar malam ini.
"Kenapa Theo?" tanya Bianca
"Ah, tidak. Mungkin aku hanya merasa kelelahan. Tapi aku merasa wangi parfumemu bukan seperti ini." ujar Theo.
Bianca berusaha menenangkan dirinya agar tidak panik.
"Oh, tadi sebelum pulang ke apartemen, aku masih mengurus keuangan, banyak karyawan mu yang mendekatiku karena panik, jadi mungkin parfume mereka menempel ditubuhku." ucapnya.
Theo langsung merasa tenang. Karena suara yang dibuat Bianca sejujur mungkin di mata Theo. Jadi Theo tidak menaruh kecurigaan lagi.
"Oh iya, Bianca. Maaf, aku hampir menuduhmu yang tidak-tidak." ujar Theo sambil mengelus bibir bawah Bianca.
...****************...
Sementara itu, sangat kontras dengan ketegangan dan kepalsuan yang terjadi di apartemen Bianca, suasana di rumah Zarlin yang berada di justru terasa begitu damai dan menenangkan.
Di tangannya, dia memegang tablet yang menampilkan laporan bahwa dana jaminan Falcon Corp baru saja diperbarui secara mencurigakan oleh pihak eksternal.
Zarlin tersenyum tipis, dia tahu ulah si Bianca mulai mencairkan dana dan menguras aset rahasianya demi menutupi keburukannya di depan Theo.
Tristan masuk ke dalam rumah setelah selesai menelpon sekretarisnya diluar, kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka, memancarkan kesan santai namun tetap teramat menawan.
Di kedua tangannya, dia membawa dua cangkir mug keramik yang berisi air hangat.
"Pikiranmu terlalu keras bekerja hari ini, Zarlin," ujar Tristan dengan suara beratnya yang melembut.
Ia mengulurkan salah satu cangkir ke tangan kiri Zarlin, sengaja menghindari tangan kanan wanita itu yang masih memar akibat cengkeraman Theo waktu itu.
Zarlin menerima cangkir itu, merasakan kehangatan menjalar dari telapak tangannya ke seluruh tubuhnya.
"Terima kasih, Tristan. Kamu... kenapa belum pulang? Ini sudah hampir tengah malam."
"Bagaimana aku bisa pulang dengan tenang, jika aku tahu kamu belum tenang."
Zarlin menunduk, meniup air hangat itu untuk menyembunyikan senyuman tipis yang di bibirnya.
Selama tiga tahun menikah dengan Theo, malam-malamnya selalu dihabiskan dengan menunggu sendirian di ruang tamu sampai ketiduran, atau menerima makian saat Theo pulang dalam keadaan marah.
Dia tidak pernah tahu bahwa rasanya ditemani, dijaga, dan diperhatikan secara detail oleh seorang pria bisa sehangat dan sedamai ini.
"Proyek pelabuhan besok akan menjadi awal yang besar bagi kita, Tristan," pengalihan isu yang dilakukan Zarlin terdengar lirih.
Tristan hanya tersenyum sinis mendengar itu.
"Tentu, kita akan mengurusnya besok."
Tanpa mereka berdua sadari, dari tadi Ayah dan Ibunya Zarlin memperhatikan gerak-gerik mereka, seolah merasa ada yang aneh.
"Amelia, menurutmu putri kita baik-baik saja?" tanya Pak Bramasta, suaminya
Amelia menghela nafas pelan
"Sebenarnya aku merasakan hal yang aneh, Bram. Sebagai seorang ibu, aku merasa ada yang aneh dari putri kita. Terkadang aku merasa janggal karena Zarlin dan Tristan sedekat ini. Sedangkan putri kita sudah punya suami." ujar Amelia
Bramasta mengangguk, Ia juga sebenarnya merasakan hal aneh. Walaupun Zarlin sudah menikah, mereka sebagai orang tua tak luput untuk memperhatikan putri kesayangan mereka
itu justru malah menguatkan kebenaran...
semoga lancar proses perceraiannya !!