NovelToon NovelToon
Ditelepon Cucu dari Masa Depan

Ditelepon Cucu dari Masa Depan

Status: tamat
Genre:Poligami / Anak Genius / Pelakor / Menikahi tentara / Mandul / Tamat
Popularitas:142.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sri Wahyuni

"Berawal dari sebuah telpon yang mengaku datang dari masa depan, Nadia akhirnya mengetahui bahwa kedua anak yang diasuhnya ternyata bukan anak kerabat jauh, tapi anak selingkuhan suaminya!

Saat itu juga, Nadia menggugat cerai suaminya dan keluar dari rumah itu. Namun, Keluarga Pradipta tidak melepasnya begitu saja, mereka terus mengganggunya demi hak waris rumah dan kotak musik warisan ibu Nadia. Nadia pun terusik, mengapa mereka terobsesi dengan sebuah kotak musik?

Tak hanya itu, telepon dari masa depan itu datang kembali dan mengatakan bahwa Mayor Arga Wiratama adalah takdirnya. Nadia semakin terkejut ketika pria itu benar-benar nyata dan hadir di depannya. Sebenarnya siapa penelpon itu dan bagaimana bisa?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12

Siska memandang Nadia seperti baru melihat api menyala dari gelas kosong.

"Siapa itu?"

Nadia menempelkan telunjuk ke bibir.

Di telepon, napas Rani terdengar putus-putus. Suara Raka menyusul, lebih jauh, seperti mereka berebut alat yang sama.

"Nenek, dengarkan. Besok Tante Rania akan bilang Nenek mengancam dia di kontrakan. Dia bawa rekaman yang dipotong."

Nadia menekan ponsel lebih erat. "Dari mana dia dapat rekaman?"

"Dia rekam saat datang sama Om Dimas. Tapi cuma bagian Nenek bilang dia ibu kandung."

Raka menyambar, "Jangan takut, Nek. Nenek punya rekaman penuh, kan?"

Nadia melihat Siska.

Siska menatap balik, bingung dan takut.

"Punya."

"Bawa Bu Siska. Jangan datang sendiri. Minta pendamping perempuan dari posbakum kalau bisa."

Suara di seberang berdesis.

Rani cepat berkata, "Dan jangan serahkan kotak musik ke siapa pun. Kalau polisi tanya benda itu, bilang milik keluarga Ibu sendiri."

"Polisi tanya kotak musik?"

"Tante Rania bilang itu barangnya yang dicuri Nenek."

Darah Nadia terasa turun ke kaki.

Kotak itu ada di ruang tamu, di atas meja plastik. Kotak tua yang selama ini ia kira hanya barang peninggalan ibunya. Farhan pernah beberapa kali menyuruhnya membuang, Mama Meri menyebutnya barang rongsokan. Rania baru muncul terang-terangan dua hari, tapi sudah tahu benda itu.

"Rani, kotak ini apa sebenarnya?"

Sambungan makin buruk. Suara Raka terdengar seperti dari dalam air.

"Itu petunjuk ke Buyut Laras. Jangan... jangan biarkan..."

Klik.

Telepon mati.

Nadia tetap berdiri dengan ponsel di telinga.

Siska menunggu tiga detik, lima detik, lalu tidak tahan.

"Nadia. Jelaskan."

Nadia menurunkan ponsel.

Di luar, suara motor lewat. Dari dapur, bau sambal cumi masih kuat. Dunia tampak biasa, padahal baru saja masa depan masuk lewat layar ponsel.

"Aku tahu ini terdengar gila."

"Kalau kamu mulai dengan kalimat itu, biasanya memang gila."

"Nomor itu mengaku cucuku dari tahun 2056."

Siska diam.

Nadia menunggu tawa, bantahan, atau kalimat bahwa ia butuh istirahat. Tidak ada.

Siska duduk pelan di kursi plastik.

"Lanjut."

"Mereka yang memberi tahu aku soal Farhan di restoran. Mereka tahu nama Rania sebelum aku tahu. Mereka tahu aku keluar rumah. Tadi mereka bilang Rania akan lapor polisi besok dengan rekaman yang dipotong."

Siska memijat pelipis. "Aku ingin bilang ini tidak masuk akal."

"Memang tidak."

"Tapi Farhan punya orang yang melihat kamu di klinik. Rania tahu kontrakan ini. Mereka bisa saja membuat laporan."

"Kamu percaya?"

Siska menatap ponsel Nadia. "Aku percaya kamu tidak berbohong. Soal tahun 2056, otakku minta waktu."

Nadia tertawa kecil, lalu duduk karena lututnya melemah.

Siska menarik napas panjang. "Baik. Kita perlakukan ini seperti informasi anonim. Benar atau tidak, kita siapkan diri. Rekaman penuh ada. Video kamera kamu juga ada. Besok kita ke posbakum dulu, bukan ke polisi."

"Rani bilang jangan ke kantor polisi sendirian."

"Berarti kita tidak sendirian."

Malam itu mereka tidak jadi tidur cepat. Siska membantu Nadia menyusun folder bukti: video restoran, rekaman Farhan dan Mama Meri, video kedatangan Dimas dan Rania, tangkapan layar pesan, hasil awal klinik. Semua diberi tanggal.

Kotak musik dimasukkan ke tas kecil dan disimpan dekat bantal.

Menjelang tengah malam, Siska pulang. Ia berjanji datang pagi-pagi.

Nadia berbaring, tapi matanya tetap terbuka. Kata Buyut Laras mengambang di kepalanya. Ibunya dulu jarang bercerita soal keluarga. Nadia hanya tahu ibunya meninggal saat ia masih muda, meninggalkan beberapa kain batik, resep jamu, dan kotak musik itu.

Kenapa Rania menginginkannya?

Kenapa masa depan bergantung pada benda kecil itu?

Pagi harinya, Siska datang dengan wajah kurang tidur dan map tambahan.

"Aku sudah hubungi kenalan di posbakum Pengadilan Agama. Namanya Mbak Laila. Dia bisa ketemu kita jam sepuluh."

"Terima kasih."

"Jangan terima kasih dulu. Hari ini panjang."

Benar.

Sebelum mereka berangkat, dua orang datang ke kontrakan. Seorang laki-laki berseragam cokelat muda dari keamanan lingkungan dan seorang perempuan muda yang memperkenalkan diri sebagai staf kelurahan.

"Bu Nadia?" tanya perempuan itu.

"Iya."

"Kami menerima aduan bahwa ada keributan dan dugaan pengambilan barang milik orang lain. Kami hanya diminta mengecek."

Siska langsung maju. "Aduan dari siapa?"

Perempuan itu terlihat tidak nyaman. "Dari pihak keluarga Ibu Rania."

Nadia merasakan dada sesak, tapi wajahnya tetap datar.

"Barang apa yang katanya saya ambil?"

"Sebuah kotak musik antik."

Siska memandang Nadia sekilas.

Nadia mengambil tas kecil dari kursi, membuka sedikit, menunjukkan kotak musik tanpa menyerahkannya.

"Ini milik saya. Peninggalan ibu kandung saya. Sudah saya bawa sejak sebelum menikah."

Staf kelurahan menatap benda itu. "Ada bukti?"

Nadia membuka ponsel. Ia menunjukkan foto lama dari folder cloud. Foto pernikahannya sepuluh tahun lalu. Di meja rias kamar pengantin, kotak musik itu terlihat di samping cermin. Lalu foto lain dari rumah lamanya sebelum menikah, ibunya duduk di dekat lemari dengan kotak yang sama di atas meja.

Siska menyela, "Kalau pihak lain mengklaim, silakan minta mereka bawa bukti kepemilikan. Jangan datang menekan perempuan yang baru keluar dari rumah suaminya."

Petugas keamanan berdeham. "Kami tidak menekan, Bu."

"Bagus. Maka catat juga bahwa Bu Nadia punya bukti foto bertahun-tahun."

Perempuan staf kelurahan mengangguk. "Baik. Maaf mengganggu. Kami hanya menjalankan pengecekan."

Setelah mereka pergi, Nadia menutup pintu dan bersandar.

"Anak-anak itu benar," bisiknya.

Siska mengambil tasnya. "Maka kita harus lebih cepat."

Di kantor posbakum, Mbak Laila menerima mereka di ruang kecil dengan kipas angin yang berputar malas. Ia perempuan berkerudung abu-abu, bicara ringkas, dan tidak mudah terkejut. Nadia menceritakan kronologi tanpa menyebut telepon masa depan. Siska membantu menunjukkan bukti.

Mbak Laila mencatat.

"Untuk cerai gugat, Ibu bisa ajukan dengan alasan perselisihan terus-menerus, dugaan perselingkuhan, penelantaran emosional, dan perlakuan merendahkan. Soal harta bersama, bisa diajukan terpisah atau setelah putusan cerai, tergantung strategi."

"Kalau suami mengancam menyebut saya sakit mental?"

"Simpan bukti. Jangan terpancing. Kalau ada kekerasan atau ancaman langsung, lapor dengan pendamping."

"Kalau perempuan itu melapor pencemaran nama baik?"

Mbak Laila menatap rekaman video. "Kita siapkan kronologi. Jangan unggah tambahan. Jangan membuat pernyataan yang menuduh tanpa bukti. Fokus pada proses hukum."

Nadia mengangguk.

"Saya juga ingin periksa soal anak-anak," katanya pelan. "Saya diberi tahu mereka anak asuh keluarga. Sekarang ada indikasi mereka anak suami saya dengan perempuan itu."

Mbak Laila tidak langsung bereaksi. "Usia anak?"

"Enam belas dan empat belas."

"Hati-hati. Jangan menjadikan mereka sasaran. Tapi jika status mereka dipakai untuk menekan hak Ibu, asal-usul bisa relevan. Kita perlu dokumen: akta kelahiran, kartu keluarga lama, surat pengasuhan, apa pun."

Nadia menelan ludah. "Sebagian dokumen ada di rumah suami."

"Jangan ambil sendiri. Minta melalui jalur hukum atau mediasi."

Setelah dua jam, Nadia keluar dari kantor itu dengan daftar langkah jelas. Bukan semua masalah selesai, tapi setidaknya jalan tidak lagi gelap.

Di halaman, Siska menerima telepon dari kurir pesanan. Nadia berdiri sendiri di bawah pohon ketapang.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor Farhan yang belum sempat diblokir.

Kamu berani lapor-lapor? Rania sudah lebih dulu buat aduan. Jangan kira semua orang percaya dramamu.

Nadia mengambil tangkapan layar.

Lalu ia mengetik:

Terima kasih. Pesan ini saya simpan sebagai bukti intimidasi.

Farhan tidak membalas.

Nadia menatap layar dan untuk pertama kalinya merasa sedikit puas.

Mbak Laila yang melihat pesan itu berkata, "Respons Ibu sudah tepat. Singkat, tidak emosional, dan langsung mengubah ancaman menjadi bukti."

Nadia tersenyum lemah. "Saya belajar cepat karena lawannya rajin memberi materi."

Siska tertawa pelan, tapi Mbak Laila mengangguk serius. "Terus begitu. Dalam proses hukum, orang yang paling keras belum tentu paling kuat. Yang konsisten biasanya lebih sulit dijatuhkan."

Di seberang jalan, mobil hitam berhenti sebentar. Kaca belakang turun sedikit.

Seorang pria berseragam dinas loreng duduk di dalam, wajahnya terlihat hanya sekejap. Tajam, tenang, asing.

Matanya bertemu mata Nadia.

Lalu mobil itu berjalan lagi.

Nadia tidak tahu siapa dia.

Namun beberapa detik kemudian, kotak musik di tasnya berbunyi satu nada, seolah mengenali sesuatu lebih dulu daripada dirinya.

1
syska
ɪɴɪ ʙᴇᴛᴜʟᴀɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ʏɢ sᴀɴɢᴀᴛ sᴀɴɢᴀᴛ ʙᴀɢᴜs ʏɢ ᴘᴇʀɴᴀʜ ᴀᴋᴜ ʙᴀᴄᴀ...
sᴇʙᴇʟᴜᴍɴʏᴀ ᴀᴋᴜ ᴘᴇʀɴᴀʜ ʙᴀᴄᴀ ᴊᴜɢᴀ ᴄᴜᴍᴀɴ ᴊᴜᴅᴜʟɴʏᴀ ʟᴜᴘᴀ, ᴅᴀɴ ᴛᴏᴋᴏʜɴʏᴀ sᴀᴍᴀ ᴀʀɢᴀ ᴡɪʀᴀᴛᴀᴍᴀ, sᴀᴍᴀ sᴀᴍᴀ ᴛᴇɴᴛᴀʀᴀ ᴊᴜɢᴀ... ᴀᴋᴜ.ʟᴜᴘᴀ ᴀᴘᴀᴋᴀʜ ɪɴɪ ᴏᴛʜᴏʀ ʏɢ sᴀᴍᴀ ʏɢ ᴍᴇɴᴜʟɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀ...
ᴋᴇʀᴇᴇᴇɴɴɴ ᴀʙɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ... ❤️❤️❤️
syska
ʀᴀʏʏᴀɴ, ᴀsʜᴀ, ᴅᴀɴ ᴋɪʀᴀɴɪ ᴋᴀɴ ɴᴀᴍᴀ ᴀɴᴀᴋɴʏᴀ ɴᴀᴅɪᴀ ᴀʀɢᴀ...
syska
ᴘɪʟɪʜᴀɴ ʏɢ ᴛᴇᴘᴀᴛ ɴᴀᴅɪᴀ...
ZQ
jangan jangan Bagas itu ayah kandung Dimas dan Dinda
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
pusing , ulang lagi alurnya
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
ini kenapa yaa ke ulang trus jd pusing
Non
di episode 25 dimulai kotak musik berbunyi,,,
Rani & Raka manggil Nenek
anak² Nadia > Rayyan, Asha ,Kirana
Evy
Seram juga nih kotak musik nya bisa bunyi sendiri..
andi_wathy
iiihhh gue nangis bacanya 😭
Lesmana
crita nya di ulang lagi aja ini , thor...😤😤
Lesmana
asa jgn lupa , nadia.. itu rmh pinjaman sodara siska loh.. bukan rmh sndr🤭🤭🤭
mommy
sok banget gak butuh bantuan dari arga
mommy
aneh, walopun itu dari masa depan, cucunya kan belum lahir, gimana caranya dia tau, kecuali kalo itu sebuah buku cerita
Setiawan
ntar manggil mama , ntar manggil tante.. 😄😄😄
Dita Dwi
rani dan raka kn anak rayyan kok ini malah jadi kembarannya...
Thewie
laku yg bingung apa mmg othor ya gak cek KLO mau di post ya. kembali mengulang2. lama2 jadi aneh thor
Lesmana
ini msk rs yg ke2x nya atau ngulang sih ?? 🙄🙄

kog kejadiannya ky dejavu gini yah
Lesmana
laras ke dokter ini di ulang lg atau udah ke2x nya yah ?? lier aq🤭
Lesmana
loh td bukannya udah sampai di rmh nadia ?? yg disambut bu tatik , kog skrng ulang lg ??
sukensri hardiati
othor nggak ngecek cerita sebelum up...
setelah up juga nggak ngecek komen...jadi kesalahan terulang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!