NovelToon NovelToon
Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Dunia Masa Depan
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada dua piyama

Lihai, berpengalaman, dan mengendalikan. Semua tergantung sofia, Cakka hanya bisa menerima dan merasakan. Dari posisi duduk, kini berubah menjadi tidur dilantai yang dingin tanpa sehelai kain.

Mata mereka terpejam, alih-alih untuk merasakan sensasi bercinta Cakka malah mendapatkan bayang ketika dirinya dipukuli suami Mak Ranti.

Bugh!

Tersadar! Cakka membuka matanya lalu mendorong Sofia hingga jatuh.

Srak!!!

Nafas terengah-engah, perasaan Cakka campur aduk. Bingung, bahagia dan malu. Karena pertemuan pertama mereka seperti ini, Cakka takut setelah ini akan ada orang yang memarahinya lagi. Cakka takut setelah ini, dirinya ditinggalkan atau kalau tidak, ia dijadikan tameng oleh Sofia.

Disisi lain, berkat Sofia Cakka jadi tahu 'terangsang' itu seperti apa. Bentuk paha dan kenyalnya dada, bisa dia dapatkan secara cuma-cuma. Tapi kembali ke pukulan pertamanya ditempat baru, Cakka harus lebih berhati-hati.

"Aku polos! Aku mau menerima apapun, derita, fitnah dan tempat berlindungnya mereka supaya tidak hancur. Tapi itu dulu! Sekarang, aku harus menjaga diri. Menyayangi diri sendiri, agar tidak seperti dulu lagi"

Batin Cakka menguatkannya untuk menjadi manusia yang memiliki harga diri. Kini, Cakka terfokus pada perempuan yang sekarang sedang mematung, menatapnya penuh bingung.

" Kamu kenapa? Kita belum selesai! " Tanya Sofia sembari sedikit demi sedikit mendekati Cakka.

Cakka menggelengkan kepala, tangannya yang kekar itu diam diudara seolah menahan Sofia untuk jangan bergerak mendekatinya lagi.

"Cukup, sebaiknya kamu pulang saja!"

"Pulang?" Sofia tercengang, tak menyangka Cakka mengusirnya. Menolak serangan yang sebentar lagi akan berhasil "Kamu ngusir aku?"

"Ya! Pulang saja, ini malam. Kamu dan aku bukan sepasang suami istri, kalau warga tahu. Kita bisa digerebek"

Sofia menghembuskan nafasnya secara kasar, ia membenarkan piyama yang sebentar lagi akan merosot ke bawah.

"Setelah apa yang berharga dalam diri aku, aku kasih ke kamu, kamu ngusir aku?!"

Nampak jelas wajah Sofia merah padam, mimik muka yang begitu seksi berubah! Mengerut, bahkan bibirnya saja tak memberi sedikit lengkungan senyum. Tubuh tinggi, putih mulus berdiri, mengibaskan rambutnya seolah sedang menjaga harga diri.

"Sebelum pergi, aku minta uang!" Ucap Sofia sembari mamangku kedua lengannya.

Kening Cakka mengernyit.

"Uang?!"

"Ya! Kamu punya uangkan? Aku minta! Kamu sudah mengusirku, aku gak mau terlihat gampangan. Harus ada harga yang dibayar!"

Cakka menghela nafas, benar! Ia terlalu polos. Tak mungkin wanita yang baru dikenal langsung jatuh cinta padanya. Pasti, siapapun yang tiba-tiba baik punya tujuan yang lain, yang lebih bermanfaat dari sekedar menemani.

"Tahu darimana aku punya uang?"

Sofia terdiam, namun masih angkuh dihadapan Cakka.

"Aku gak punya uang, aku tiba disini dalam keadaan miskin"

Sofia menelan ludahnya sendiri sembari sesekali menyisir rambutnya menggunakan jari.

"Berapapun aku terima, pokoknya aku minta uang!"

Cakka tersenyum sinis,raganya perlahan berdiri. Ia berjalan menuju kantong kresek yang tersimpan dipojok ruang. Tak dihitung, ia mengambilnya dengan asal, lalu tubuh yang pasrah itu kembali berbalik arah pada wanita yang masih membuang muka ke arah lain.

"Ini pastinya sangat cukup sekali untuk kamu, mulai detik ini jangan temui aku lagi! Jangan pernah mendengar suaraku lagi! Anggap saja kamu tuli" Pesan Cakka, Sofia hiraukan. Apalagi ketika uang itu sudah disodorkan, tangan Sofia begitu cepat menyambarnya.

"Aku cuma mau ngasih tahu kamu, kalau kamu itu nggak tampan sama sekali. Mau yang lebih jujur? Kalau aku hanya berakting, asal kamu tahu aku ini perempuan bayaran. Memang seperti ini caraku bekerja"

Kini Cakka yang membuang muka, ia mencengkram rambutnya dengan kedua tangan. Kesal, tidak seharusnya ia membuka pintu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, ia terbuai dan harus membayar. Itu yang Cakka lakukan.

Pintu pun dibukanya lebar-lebar. Mempersilahkan Sofia untuk keluar dari rumahnya. Pun Sofia langsung bergegas meninggalkan Cakka yang terdiam di samping daun pintu rumah.

Berlenggak-lenggok centil, seperti menggoda lagi. Tapi Cakka menundukkan kepala, membiarkan mata melihat lantai. Langkah Sofia terdengar sudah memasuki rumahnya dan kini saatnya Cakka menutup pintu, searah seperti jarum jam. Langkahnya dan daun pintu yang didorong oleh tangan membentuk sudut siku-siku, pandangan mata Cakka kini beralih, lurus kedepan.

Terlihat sosok perempuan, memakai piyama berwarna merah menyala, rambut digerai, dan tubuh jenjang, berdiri tepat didepan warung rokok. Perempuan itu tersenyum. Tapi, Cakka tak mau seperti sebelumnya, terlalu senang didekati wanita hingga tak sadar diujung pertemuannya, dia diperas.

Pintu ditutup, dikunci, dan mulutnya berkata "Itu hantu!" Menenangkan batinnya dengan kata yang seharusnya terdengar seram dikebanyakan telinga orang.

(***)

Suara ayam berkokok, membangunkan jiwa Cakka yang sudah melakukan dosa semalam. Ia bergegas kekamar mandi untuk mengguyur dirinya, sembari berniat mandi besar.

Tuhan maha melihat, dan Cakka memohon ampun. Ia berjanji untuk tidak terlibat lagi dengan para perempuan yang menggodanya.

Kembali ke niat semalam, selepas selesai sembahyang Cakka mengambil uang untuk membeli perabotan rumah yang dia perlukan. Tanpa menunggu waktu terang, Cakka langsung bergegas ke pasar. Menaiki angkutan umum.

Cukup lama, hingga beberapa kali angkutan umum yang dinaikinya berhenti menjemput penumpang, ada yang berdiri menunggu, ada yang masih sedang berjalan, ditunggu dipinggir trotoar.

Perempuan, laki-laki, naik. Pun dengan manusia yang semalam dilihatnya didepan warung rokok. Dia datang dari gang berbeda memakai kaos panjang dan rok merah. Dia duduk tepat berhadapan dengan Cakka.

Batinya berkata: "Bukannya semalam dia ada dikampung aku, kok sekarang muncul digang yang lain? Apa dia... Ah! Paling dia berangkat lebih pagi dari aku terus kerumah sodaranya dulu, makanya sekarang dia ada disini"

Pura-pura tak melihat, lagi-lagi Cakka menyebutnya 'Hantu' tapi didalam hati. Sudah beberapa menit berlalu Cakka membuang muka ke arah supir, ia penasaran. Apakah perempuan yang ada didepannya juga melihat ke arah yang lain, atau.... Mata Cakka perlahan menyebar pandangannya keseluruhan penumpang, dan kini saatnya ia melihat perempuan yang ada didepannya.

Clek!

Sepertinya perempuan itu sedari tadi melihat wajah Cakka, karena begitu Cakka mengalihkan pandangannya pada dia. Mata itu, tatapannya begitu menusuk, hingga membuat Cakka sejenak tertegun.

Bibir perempuan itu perlahan melengkung, memberi senyum. Seperti sedang terkena hipnotis, Cakka pun mengikutinya. Ia juga tersenyum! Cukup lama, sampai penumpang yang ada disampingnya menegur Cakka dengan menepuk pahanya.

"Mas!" Cakka terperenjat, wajahnya langsung beralih pada orang yang menepuknya "Udah sampai pasar nih, mau turun nggak?" Tanyanya.

Cakka langsung menengok ke arah luar, ternyata benar! Ini sudah dipasar. Cakka mengangguk, lalu turun tanpa mengucap kata iya. Memberi ongkos pada supir angkut. Entah kenapa, Cakka ingin membayar ongkos perempuan tadi yang ada di depannya.

"Mang, ongkosnya double ya sama yang di belakang!"

Supir pun langsung menengok ke arah penumpangnya yang masih duduk.

"Yang pakai jaket?" Tanya pak supir sembari perlahan menatap wajah Cakka.

"Bukan! Yang pakai rok, udah nggak usah kembalian" ucap Cakka.

Ia langsung berbalik arah menuju pasar, ia tidak memperdulikan apa yang pak supir katakan lagi. Cakka memfokuskan dirinya pada pembelian barang yang akan mengisi rumahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!