Dunia pernah berjalan normal, tanpa adanya sihir, tanpa kekuatan di luar nalar. Hingga suatu hari, sebuah fenomena misterius membawa Mana ke bumi dan memutarbalikkan tatanan realitas umat manusia selamanya.
Di tengah kekacauan era baru tersebut, Asosiasi hadir sebagai pilar keadilan. Mereka menertibkan dunia, melindungi yang lemah, dan dipuja sebagai pahlawan.
UNTUK: 13+
"MOHON DILAKUKAN"
-Like&Share
-Berkomentar
-Memberikan Bintang 5
-Favorit
-Follow Akun Pembuat Novel
-Memberikan Saran Untuk Mengembangkan Novel Atau Cerita Selanjutnya
~•KARYA: R14•~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 : TEROR PERTAMA MURID BARU [PART FINAL]
ARC 1 : THE PARASITE PROJECT
BAB 10 : TEROR PERTAMA MURID BARU [PART FINAL]
Dua jam berlalu bak siksaan abadi di neraka. Matahari kini telah naik seutuhnya, menyorot tajam ke arah Lapangan Sektor C yang tak lagi terlihat seperti fasilitas olahraga modern, melainkan kamp tawanan perang yang luluh lantak.
Putaran demi putaran, kewarasan para murid Kelas Reguler terkikis habis. Sisa-sisa kesombongan masa remaja mereka telah hancur lebur diinjak-injak oleh realita.
Lintasan berstandar olimpiade yang tadinya bersih mengkilap, kini dipenuhi bercak noda menjijikkan. Bau asam muntahan bercampur dengan keringat tengik menguar pekat di udara.
Di setiap sudut lintasan, pemandangan tragis tersaji nyata, puluhan murid terkapar tak sadarkan diri, beberapa meringkuk sambil memegangi perut mereka yang kram, dan tak sedikit yang merangkak menyedihkan hanya demi menyelesaikan sisa putaran dengan air mata dan liur yang menetes ke tanah.
Di putaran kelima puluh, batas akhir dari penderitaan itu akhirnya tiba.
Raka menjadi orang pertama yang melewati garis akhir. Pemuda kekar yang sejak awal berlari sambil tertawa itu akhirnya tumbang dengan lutut menghantam tanah. Dadanya naik-turun dengan sangat ekstrem, wajahnya merah padam, dan otot-ototnya berkedut liar.
Ia tidak lagi berbicar tentang keadilan ia hanya menatap kosong ke rumput sambil terengah-engah hebat.
Beberapa menit kemudian, di barisan paling belakang, Rico menyusul dengan sisa nyawa yang tinggal hitungan persentase desimal.
"Putaran... kelima... puluh..." bisik Rico parau. Matanya langsung memutih sebelum wajahnya menghantam lintasan. Ia pingsan seketika tepat setelah melewati garis imajiner tersebut.
Di sebelahnya, Rey membiarkan tubuhnya ikut ambruk menimpa lintasan di samping Rico. Rey menarik napas dalam-dalam, mengatur ritme dadanya agar terlihat seperti orang yang nyaris mati kehabisan oksigen. Ia mengusapkan debu lapangan ke pipi dan dahinya yang basah oleh sihirnya, menyempurnakan mahakarya aktingnya sebagai murid kasta bawah yang tak berguna.
Prriiiittt!
Suara peluit panjang akhirnya melengking, membekukan seluruh pergerakan di lapangan.
Galang berdiri di tengah lapangan, memegang stopwatch-nya dengan ekspresi yang tak bisa dibaca. Ia menyapu pandangannya ke arah ratusan murid atau lebih tepatnya, ratusan masih sadar, ratusan yang sudah bergelimpangan seperti mayat dan puluhan yang masih segar walaupun terlihat kelelahan.
"Waktu habis," ucap Galang datar, suaranya menggema memecah erangan kesakitan di sekelilingnya.
Galang memasukkan stopwatch ke dalam sakunya, melipat tangan di dada, lalu menatap sisa murid yang masih memaksakan diri untuk duduk. Seringai sadisnya telah hilang, digantikan oleh tatapan dingin seorang prajurit.
"Dari seribu murid Kelas Reguler, hanya ratusan yang berhasil menyelesaikan kuota tanpa pingsan dan puluhan yang terlihat masih segar. Sisanya tumbang menjadi sampah," lapor Galang dengan suara lantang.
Ia menjeda kalimatnya, membiarkan fakta menyakitkan itu meresap ke dalam otak mereka. Lalu, tanpa nada mengejek, Galang mengangguk pelan.
Ia menjeda kalimatnya, membiarkan fakta menyakitkan itu meresap ke dalam otak mereka. Lalu, tanpa nada mengejek, Galang mengangguk pelan.
"Bagi kalian yang masih bernapas dan membuka mata... kerja bagus. Kalian boleh istirahat."
Ucapan
"kerja bagus" itu sama sekali tidak terdengar seperti pujian. Itu terdengar seperti vonis bahwa mereka baru saja bertahan hidup dari seleksi alam tahap pertama.
Bersamaan dengan mundurnya Galang ke pinggir lapangan, gerbang utama Sektor C terbuka lebar. Belasan anggota tim medis akademi yang mengenakan seragam putih steril berbondong-bondong masuk dengan langkah cepat dan efisien. Mereka membawa tandu lipat otomatis.
Namun, tidak ada kelembutan dalam tindakan mereka. Tim medis itu tidak menenangkan murid yang menangis atau memberikan kata-kata penyemangat. Mereka hanya memungut murid-murid yang pingsan, kejang, dan muntah-muntah, lalu melemparkan mereka ke atas tandu layaknya mengangkut tumpukan karung beras. Sangat mekanis. Sangat dingin.
Melihat pemandangan itu, sisa murid Kelas Reguler yang masih sadar hanya bisa terdiam membeku.
Suasana di lapangan berubah menjadi sangat canggung dan mencekam. Tidak ada yang bersorak merayakan keberhasilan mereka. Tidak ada yang mengeluh soal otot yang sakit. Mereka hanya duduk di atas genangan keringat dan muntahan, saling menatap dengan mata kosong dan trauma.
Ilusi tentang Akademi Guardian yang heroik dan keren hancur berkeping-keping. Realita bahwa mereka berada di tempat yang memandang nyawa manusia tak lebih dari sekadar angka probabilitas, membuat mental mereka jatuh ke titik terendah.
Rey, yang masih berbaring di sebelah Rico yang pingsan, membuka satu matanya sedikit untuk mengamati sekeliling.
Menyedihkan, batin Rey datar. Dicuci otaknya dengan doktrin pahlawan, hanya untuk disiksa seperti binatang di hari pertama. Akademi ini benar-benar mesin giling daging yang diciptakan oleh orang-orang gila.
Rey memejamkan matanya kembali, menghela napas panjang.
Aku harus merevisi rencanaku, pikir sang pemalas. Pura-pura menjadi ampas memang membuatku lolos dari radar kekuatan. Tapi kalau standarnya segila ini, menjadi ampas berarti aku harus membiarkan diriku disiksa setiap hari, disuruh membersihkan toilet, dan dilempar ke tandu medis. Aku butuh strategi baru agar bisa rebahan dengan damai tanpa harus muntah darah.
Orientasi hari pertama akhirnya memberikan jeda bernapas.
Setelah jeda istirahat yang tidak lebih dari sepuluh menit, neraka Sektor C kembali berputar. Matahari yang tadinya menghangatkan subuh kini merambat naik menjadi algojo di atas kepala, memanggang rumput sintetis hingga memancarkan uap panas yang seakan membakar kulit.
Menu utama belum selesai. Lari lima puluh keliling nyatanya hanyalah hidangan pembuka.
Di bawah tatapan dingin Instruktur Galang dan pengawasan senyap tim medis yang bersiaga di pinggir lapangan layaknya kawanan burung hering, seratusan murid yang tersisa dipaksa mengambil posisi push-up. Lima ratus kali. Tidak ada toleransi untuk postur yang salah. Setiap kali dada mereka tidak menyentuh tanah, hitungan tidak diakui.
Penderitaan itu perlahan berubah menjadi pembantaian fisik tanpa ampun. Suara napas yang menderu digantikan oleh erangan tertahan dan suara kulit yang bergesekan kasar dengan permukaan yang panas. Telapak tangan mereka melepuh, terkelupas, dan berdarah. Satu per satu, murid-murid yang batas toleransi ototnya hancur mulai ambruk tak berdaya.
Lengan mereka kehilangan tenaga untuk menopang berat badan sendiri. Tim medis kembali bergerak mekanis, memungut tubuh-tubuh yang pingsan ke atas tandu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Siang hari merangsek masuk membawa suhu ekstrem. Siksaan berlanjut tanpa belas kasihan ke menu berikutnya, lima ratus sit-up. Otot perut ditarik hingga batas robek.
Pandangan mata mulai mengabur akibat dehidrasi akut. Lapangan Sektor C kini benar-benar senyap dari keluhan maupun tangisan yang tersisa hanyalah bunyi napas basah, dengkusan keputusasaan, dan detak jantung yang berpacu gila-gilaan.
Seleksi alam Asosiasi Guardian bekerja dengan sempurna, menyaring manusia-manusia biasa dan membuang mereka sebagai produk gagal.
Bahkan Raka, sang pemuja otot yang sejak pagi tak berhenti berteriak tentang keadilan, kini terbungkam. Kausnya sudah hancur lebur basah oleh keringat.
Wajahnya menegang menahan rasa sakit yang luar biasa. Setiap kali ia menarik tubuhnya untuk melakukan sit-up, urat-urat di lehernya menonjol dan rahangnya bergetar hebat. Tidak ada lagi tawa riang. Yang tersisa di mata pemuda kekar itu hanyalah sisa-sisa kemauan keras beringas yang menolak takluk pada batasan biologis manusia normal.
Waktu terus merangkak lambat hingga bayangan perlahan memanjang ke arah timur. Pukul empat sore.
Prriiiittt!
Peluit panjang terakhir dari Instruktur Galang membelah udara sore yang panas.
Bagi mereka yang mendengarnya, suara itu jauh lebih indah daripada melodi surga. Di atas hamparan lapangan yang kini lebih menyerupai zona sisa bencana, puluhan tubuh langsung terhempas ke belakang, menatap langit senja dengan pandangan buram dan dada yang seakan mau meledak.
Galang berdiri mematung, menatap diam hasil karya penyiksaannya sepanjang hari. Dari seribu murid yang menginjakkan kaki di lapangan itu saat subuh dengan penuh harapan, ratusan di antaranya telah tereliminasi dan diangkut ke ruang gawat darurat akademi.
Kini, di bawah siraman senja jingga, hanya tersisa lima puluh murid yang masih mempertahankan kesadarannya. Lima puluh remaja yang tubuhnya telah dihancurkan, namun mentalnya berhasil dipaksa melampaui batas wajar ketakutan.
Dan di antara kelima puluh penyintas yang terkapar setengah mati itu, Raka terbaring telentang menatap langit sambil tersenyum tipis.
"Apakah sudah selesai? " Ucap Raka yang sudah mencapai Batasnya.
Langkah sepatu Galang terdengar berderak saat ia berjalan mendekati Raka. Instruktur sementara itu menunduk, menatap pemuda kekar yang pakaiannya sudah tak berbentuk itu selama beberapa detik.
"Ya. Untuk hari ini, sudah selesai," jawab Galang datar.
Galang kemudian berbalik, mengedarkan pandangannya ke arah lima puluh remaja yang terkapar tak berdaya di atas lapangan sintetis. Angin sore yang hangat berembus, perlahan membawa pergi sisa-sisa bau asam dan keringat yang menguar di udara.
"Dengar baik-baik, kalian berlima puluh!" Suara Galang menggema, menembus kesadaran para murid yang nyaris pudar.
"Lihat sekeliling kalian. Dari seribu orang yang berbaris di lapangan ini subuh tadi, hanya kalian yang menolak untuk tunduk pada kelemahan fisik kalian sendiri. Ratusan lainnya memilih menyerah pada rasa sakit dan membiarkan tubuh mereka diangkut seperti sampah."
Galang melipat kedua tangannya di belakang punggung. Posturnya tegap, sikapnya kini murni layaknya seorang komandan veteran yang sedang mengakui ketangguhan prajurit tempurnya.
"Kalian membuktikan bahwa kalian memiliki tekad. Tekad untuk menolak mati, tekad untuk membuktikan bahwa kalian bukan sekadar tameng daging rendahan. Untuk itu..., aku akui kerja keras kalian. Kalian melakukan pekerjaan yang sangat bagus hari ini."
Mendengar pujian langka yang akhirnya keluar dari mulut sang algojo, beberapa murid tak kuasa lagi menahan air mata yang sedari tadi mereka bendung. Isak tangis kelegaan yang parau terdengar bersahutan memecah keheningan sore. Raka memejamkan matanya, sebuah senyum puas terukir kokoh di wajahnya yang penuh debu dan luka lecet.
"Mulai detik ini, orientasi fisik hari pertama resmi ditutup!" lanjut Galang, suaranya kembali lantang namun kali ini tanpa sepercik pun nada ancaman.
"Tidak ada lagi kegiatan akademi, tidak ada lagi hukuman disiplin, dan tidak ada lagi hitungan repetisi untuk sisa hari ini."
Rasa lega yang luar biasa seolah meledak di dada kelima puluh penyintas tersebut. Beban tak kasatmata yang sedari subuh mencekik leher mereka akhirnya terangkat sepenuhnya.
"Tim medis akan segera datang untuk menangani otot kalian yang robek dan luka luar kalian. Setelah itu, seret tubuh kalian kembali ke asrama. Mandi, isi perut kalian dengan makan malam yang layak, dan tidurlah senyenyak orang mati," ucap Galang sambil melangkah santai menuju gerbang keluar Sektor C.
Tepat sebelum melewati batas pagar, instruktur itu menghentikan langkahnya dan menoleh perlahan ke belakang. Ia memberikan satu senyuman terakhi senyuman tipis yang mempertegas bahwa mimpi buruk ini masih jauh dari kata usai.
"Isi tenaga kalian baik-baik. Dan sampai jumpa di latihan selanjutnya!"
Seiring dengan menghilangnya punggung Galang di balik pintu gerbang utama, kelima puluh murid itu akhirnya bisa membiarkan tubuh mereka benar-benar rileks dalam kelegaan.
Hari pertama yang brutal telah usai, meninggalkan trauma mendalam, fisik yang hancur lebur, namun sekaligus melahirkan fondasi mental baja yang baru.
BAB 10 SELESAI