NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benih di Tengah Badai

Pelarian dari Amalfi membawa mereka ke sebuah bunker mewah yang tersembunyi di balik pegunungan Alpen, Swiss. Di sini, udara dingin yang menusuk tulang kontras dengan teknologi canggih yang memantau setiap jengkal pergerakan global. Namun, bagi Aara, ada sesuatu yang jauh lebih mengguncang daripada ancaman The Collector atau pengkhianatan Vico.

Sudah tiga minggu sejak mereka mendarat di Swiss, dan Aara merasa ada yang salah dengan tubuhnya. Kecepatan reaksinya sedikit melambat, dan aroma kopi yang biasanya ia cintai kini membuatnya mual luar biasa.

Aara berdiri di depan cermin kamar mandi yang beruap. Di tangannya, sebuah benda kecil plastik menunjukkan dua garis merah yang tegas. Jantungnya, yang biasanya tetap tenang bahkan saat ditodongkan senapan, kini berdegup kencang hingga terasa menyakitkan.

"Hamil..." bisiknya lirih. Suaranya hilang ditelan suara gemericik air.

Seorang agen elit yang sedang diburu dunia, berpasangan dengan raja mafia yang memalsukan kematiannya. Ini bukan waktu yang tepat. Ini adalah bencana. Bagaimana mungkin seorang anak bisa bertahan hidup di dunia yang ingin menghancurkan orang tuanya?

Aara segera menyembunyikan alat tes itu di balik jubah mandinya saat pintu kamar mandi terbuka. Kenzo berdiri di sana, hanya mengenakan celana panjang hitam, handuk tersampir di bahunya. Matanya yang tajam langsung menangkap perubahan aura pada Aara.

"Kau pucat, Aara. Apa kau sakit?" Kenzo mendekat, tangannya yang besar dan hangat menyentuh dahi Aara.

Aara memaksakan senyum centilnya, meski kali ini terasa sedikit hambar. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Kenzo, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu agar Kenzo tidak bisa melihat keraguan di matanya.

"Hanya efek cuaca Swiss yang membosankan, Sayang. Aku butuh hiburan... atau mungkin kau hanya kurang keras memelukku semalam," godanya dengan nada manja yang biasa.

Kenzo tidak tertipu. Ia mengangkat dagu Aara, menatap dalam ke mata wanita itu. "Kau tidak bisa berbohong padaku, 'Cherry'. Ada sesuatu yang kau sembunyikan."

Aara melepaskan diri, berjalan menuju jendela yang memperlihatkan pemandangan salju abadi. Ia tahu ia tidak bisa menyimpan ini sendirian. Kenzo berhak tahu, meski ia takut pria dingin itu akan menganggap janin ini sebagai "kelemahan" yang harus dilenyapkan.

"Kenzo... jika aku bilang aku membawa sesuatu yang akan membuat misi kita semakin sulit, apa yang akan kau lakukan?" tanya Aara tanpa menoleh.

Kenzo berjalan mendekat, berdiri tepat di belakangnya. "Aku sudah menghadapi tentara bayaran dan agen pemerintah. Tidak ada yang lebih sulit dari itu."

Aara berbalik perlahan, mengambil tangan Kenzo dan meletakkannya tepat di atas perutnya yang masih rata. "Ada nyawa di sini. Anakmu."

Hening.

Ruangan itu seketika menjadi sangat sunyi hingga suara napas Kenzo pun terdengar jelas. Kenzo tertegun. Pria yang tidak pernah ragu menarik pelatuk itu kini tampak mematung. Matanya menatap tangan yang berada di perut Aara, lalu beralih ke wajah wanita itu.

"Hamil?" suara Kenzo terdengar sangat rendah, hampir seperti bisikan.

"Ya. Dan aku tahu apa yang kau pikirkan," Aara mulai bicara cepat, nada centilnya hilang berganti dengan ketegasan seorang agen. "Ini adalah risiko. Anak ini akan menjadi target. Dia akan menjadi titik lemah kita. Jika kau ingin aku... membereskannya, katakan sekarang."

Kenzo tiba-tiba mencengkeram bahu Aara, bukan dengan kekerasan, melainkan dengan posesifitas yang luar biasa. Ia menarik Aara ke dalam pelukannya, sangat erat hingga Aara bisa merasakan detak jantung Kenzo yang tidak beraturan.

"Membereskannya?" geram Kenzo di telinga Aara. "Kau pikir aku monster macam apa? Ini adalah darah dagingku. Milikku. Jika dunia menganggap anak ini adalah titik lemah, maka aku akan membakar dunia agar mereka tahu bahwa anak ini adalah alasan kenapa aku akan menjadi lebih kejam dari sebelumnya."

Aara tertegun. Ia tidak menyangka reaksi Kenzo akan sedalam ini. Air mata yang jarang ia keluarkan kini jatuh membasahi dada pria itu.

Sejak saat itu, suasana di bunker berubah. Kenzo menjadi sepuluh kali lebih waspada. Ia memesan peralatan medis paling canggih yang bisa dibeli dengan uang gelapnya dan mendatangkan dokter bedah kepercayaan yang pernah menyelamatkan nyawanya dulu.

Aara, meskipun sedang hamil, tidak mau hanya duduk diam. Ia tetap memantau pergerakan *The Hive* dari komputernya. Namun, setiap kali ia terlalu lama di depan layar, Kenzo akan datang dan mengangkatnya secara paksa untuk beristirahat.

"Kenzo, aku hamil, bukan lumpuh!" protes Aara manja saat Kenzo membawanya ke tempat tidur untuk ketiga kalinya hari itu.

"Kau adalah pembawa ahli waris Arkana. Diam dan makan buahmu," perintah Kenzo sambil menyuapkan sepotong apel ke mulut Aara.

Aara mengunyah apel itu sambil mengerucutkan bibirnya. "Kau jadi sangat membosankan semenjak tahu aku hamil. Mana Kenzo yang kejam dan liar itu?"

Kenzo merangkak naik ke atas ranjang, mengurung tubuh Aara di bawahnya dengan hati-hati agar tidak menekan perutnya. Ia mencium bibir Aara dengan gairah yang kini bercampur dengan rasa sayang yang mendalam.

"Dia masih di sini, Aara. Dan dia sedang menyiapkan neraka bagi siapa pun yang berani menyentuhmu dan anak kita," bisik Kenzo dengan suara yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.

Di tengah kebahagiaan kecil itu, sebuah notifikasi merah muncul di layar pusat kendali. Radar jarak jauh menangkap adanya pergerakan anomali di dasar pegunungan.

Aara segera bangkit, mengabaikan protes Kenzo. Ia memeriksa data satelit. "Mereka menemukan kita, Kenzo. Bukan The Hive, tapi unit 'Ghost' dari FBA. Mereka tidak menggunakan helikopter, mereka mendaki secara manual dalam kegelapan."

Kenzo mengambil senapan serbu di samping tempat tidur. Matanya berkilat dengan kemarahan yang tenang. "Mereka memilih waktu yang salah untuk bertamu."

Aara mengambil sabuk senjatanya, namun Kenzo menahan tangannya.

"Tidak. Kau masuk ke ruang perlindungan inti. Biar aku yang menangani ini," perintah Kenzo tegas.

Aara menatap Kenzo dengan tatapan centil namun mematikan. "Jangan konyol, Sayang. Anak ini perlu tahu sejak dalam kandungan bahwa ibunya adalah agen terbaik yang pernah ada. Aku tidak akan membiarkanmu bersenang-senang sendirian."

Kenzo menatap perut Aara, lalu kembali ke matanya. Ia tahu ia tidak bisa melarang wanita ini. "Satu goresan saja di kulitmu, dan aku akan meratakan markas besar FBA besok pagi."

Aara tersenyum puas, mengecup bibir Kenzo sekilas sebelum mengisi peluru ke pistolnya. "Setuju. Mari kita tunjukkan pada mereka kenapa mereka seharusnya membiarkan hantu tetap tidur."

Pertempuran di salju abadi Alpen baru saja dimulai, dan kali ini, Kenzo dan Aara tidak hanya bertarung untuk nyawa mereka sendiri, tetapi untuk masa depan yang kini berdenyut di dalam rahim Aara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!