Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.
Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.
Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LANGKAH BERANI
💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Di sisi lain, di sebuah tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota dan mata dunia, di sebuah gedung tinggi yang megah namun dingin di pusat kota besar lainnya, seorang pria paruh baya duduk di balik meja kerjanya yang besar dan mewah. Di depannya terdapat sebuah layar besar yang sedang menampilkan laporan situasi terkini mengenai organisasi Dante. Pria itu mengenakan pakaian mahal dan rapi, namun sorot matanya yang tajam dan dingin memberikan kesan bahwa ia bukanlah orang biasa.
Ia adalah pemimpin dari kelompok yang menyebut diri mereka sebagai "Elang Hitam". Sosok yang namanya tidak pernah tercatat di buku manapun, namun memiliki kekuasaan dan jangkauan yang luar biasa luas. Di sampingnya berdiri seorang pria muda dengan wajah datar dan tatapan kosong, seolah ia tidak memiliki perasaan apa-apa.
"Jadi, Dante mulai mencium jejak kita, ya?" ucap pria paruh baya itu dengan suara berat namun tenang, matanya tetap menatap layar di depannya.
"Benar, Tuan. Dia mulai melakukan investigasi internal dan ketat. Dan sepertinya dia juga sedang mempersiapkan diri untuk bekerja sama dengan pihak berwajib," jawab pria muda itu dengan nada datar.
Pria paruh baya itu tersenyum tipis, namun senyum itu tidak menyentuh matanya. "Dia memang anak yang cerdas dan berani. Tidak seperti ayahnya yang terlalu kaku dan kolot. Tapi sayang, kecerdasan dan keberaniannya itu salah disalurkan. Dia memilih untuk melawan arus dan memutus hubungan dengan kami. Dan itu adalah kesalahan terbesarnya."
Pria itu memutar kursi kerjanya perlahan, membelakangi layar dan memandang keluar jendela besar yang menampilkan pemandangan kota yang sibuk. "Jika dia mau bekerja sama dengan kita, dia bisa menjadi orang besar dan berkuasa. Tapi karena dia memilih untuk menjadi baik dan membenahi organisasinya, maka dia harus menerima konsekuensinya. Kita tidak bisa membiarkan ada celah atau kebocoran yang bisa membahayakan operasi besar kita."
"Apa rencana Anda selanjutnya, Tuan?" tanya pria muda itu lagi.
"Jangan buru-buru. Biarkan dia sibuk dengan urusannya sendiri dulu. Dengan memusatkan perhatiannya pada pembersihan dan urusan hukum, dia akan semakin lemah dan kehilangan sumber kekuatannya. Dan saat dia merasa sudah aman dan tenang, itulah saat yang tepat bagi kita untuk mematikannya sekali dan untuk selamanya. Tapi jangan lakukan dengan tangan kita sendiri. Biarkan faktor luar atau kesalahan mereka sendiri yang memusnahkan mereka. Kita harus tetap bersih dan tidak terlibat sama sekali," perintah pria paruh baya itu dengan nada dingin dan penuh perhitungan.
"Siap, Tuan," jawab pria muda itu, lalu membungkuk hormat sebelum berjalan keluar dari ruangan itu.
Kembali di kediaman utama, malam telah menyelimuti. Dante duduk di tepi tempat tidur di kamarnya, menatap wajah Elara yang sedang tidur lelap di depannya. Rasa lelah luar biasa terasa di tulang-tulangnya, namun pikirannya tidak mau berhenti berputar. Ia sadar bahwa perjuangannya baru saja memasuki babak yang paling berat dan berbahaya. Musuh yang dihadapinya kali ini bukanlah orang biasa atau kelompok kecil, melainkan organisasi besar yang memiliki jangkauan jauh dan kemampuan yang mengerikan.
Namun, melihat wajah yang terlihat damai itu, semangatnya kembali bangkit. Ia tidak boleh menyerah atau takut. Demi masa depan mereka dan keselamatan orang-orang yang ada di bawah tanggung jawabnya, ia harus terus berjuang dan mencari jalan keluar. Apapun risikonya, ia harus menyelamatkan organisasinya dan keluarganya dari dalam jurang bahaya ini.
Malam itu, di bawah naungan kegelapan yang menyelimuti segalanya, dua kekuatan besar sedang bersiap untuk saling berhadapan. Di satu sisi ada tekad untuk kebaikan dan perubahan, di sisi lain ada kekuatan jahat yang ingin mempertahankan kekuasaannya dengan cara apa pun. Dan di tengah-tengahnya, nasib Dante dan organisasinya tergantung pada keputusan dan langkah yang akan ia ambil selanjutnya. Perang besar ini belum berakhir, dan babak selanjutnya pasti akan jauh lebih panas dan berbahaya dari sebelumnya.
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Beberapa hari telah berlalu sejak Dante menemukan bukti nyata keberadaan logo "Elang Hitam" dalam dokumen keuangan rahasia. Penemuan itu bukan hanya membuktikan bahwa rasa curiga dan peringatan dari uncle Andreas bukan sekadar bualan, tetapi juga membuka mata Dante bahwa musuh yang ia hadapi jauh lebih raksasa dan sistemik dari pada yang selama ini ia bayangkan. Ancaman itu bukan sekadar dendam pribadi atau persaingan bisnis biasa, melainkan serangan terstruktur dari organisasi bayangan yang telah mengakar jauh dan mengatur segala sesuatu di balik layar.
Di ruang kerja utama yang kini terasa lebih sibuk namun penuh tekanan, Dante duduk dan di atas meja penuh berkas dokumen. Wajahnya yang biasanya selalu terkontrol dan penuh wibawa, kini tampak jauh lebih tua dan dipenuhi garis-garis kepenatan. Kantung mata yang menghitam menjadi saksi bisu bahwa tidur nyenyak adalah barang mewah yang tidak mampu ia nikmati belakangan ini. Pikirannya terus berputar memikirkan strategi terbaik untuk menghadapi situasi kritis ini.
Di satu sisi, ia harus tetap menjalankan proses pembersihan dan transisi organisasinya agar bisa beroperasi secara legal dan bersih. Di sisi lain, ia harus waspada terhadap serangan dari Elang Hitam yang kapan saja bisa menyambar. Belum lagi tekanan dari pihak kepolisan dan hukum yang mulai mengintensifkan penyelidikan mereka. Dante merasa seolah sedang terjepit di antara batu dan tempat yang keras.
Pintu ruangan terbuka dan Pak Herman masuk dengan wajah yang tidak tegang. Ia membawa selembar kertas cetak hasil analisis data yang baru saja didapatkan tim investigasi.
"Selamat pagi, Tuan. Maaf mengganggu, tapi ini hasil terbaru dari tim kami," ujar Pak Herman, meletakkan kertas itu di atas meja. "Kami berhasil melacak jejak aliran dana yang sempat mandek sebelumnya. Ternyata uang-uang itu mengalir ke sebuah yayasan sosial dan pendidikan yang terlihat sangat legal dan mulia di permukaannya. Tapi di dalamnya, yayasan itu digunakan sebagai kedok untuk pencucian uang dan pencarian bakat atau agen baru untuk organisasi mereka."
Mata Dante menelisik tulisan di atas kertas itu. Nama yayasannya sangat terkenal, sering mendapatkan penghargaan dan dukungan publik. Siapa yang menyangka bahwa di balik citra baik dan kemanusiaan itu tersembunyi kaki raksasa yang kotor.
"Jadi, mereka memanfaatkan yayasan sosial untuk menyamarkan kegiatan jahat mereka," gumam Dante, wajahnya makin muram. "Mereka benar-benar berpikir dan bekerja dengan cermat. Tidak herannya selama ini tidak ada yang mencurigai."
"Benar, Tuan. Dan yang lebih mengkhawatirkan, yayasan ini memiliki hubungan kerja sama dengan instansi pemerintah dan tokoh masyarakat. Artinya, jaringan mereka sudah menembus ke sektor publik yang seharusnya aman dan bersih. Kita harus sangat berhati-hati, langkah kita bisa saja diawasi dan dipantau oleh orang-orang yang kita anggap mitra atau teman," ujar Pak Herman dengan nada penuh kekhawatiran.
"Terima kasih, Pak. Informasi ini sangat berguna. Ini membuktikan bahwa kita tidak bisa main-main lagi. Kita harus mengambil langkah tegas dan drastis," jawab Dante, matanya menatap tajam ke luar jendela, seolah bisa menembus jarak dan melihat wajah musuhnya.
"Jadi, apa keputusan Anda, Tuan? Apakah kita akan mengambil tindakan terhadap yayasan ini?" tanya Pak Herman.
"Tidak sekarang. Jika kita menyerang secara terang-terangan, kita malah akan terlihat sebagai penjahat yang mengganggu institusi sosial. Kita belum memiliki bukti yang cukup kuat dan bisa dipertanggung jawabkan di pengadilan. Kita butuh waktu untuk mengumpulkan bukti yang lebih kuat. Tapi kita harus memantau setiap gerak-gerik mereka. Dan kita harus waspada, mereka pasti tahu bahwa jejak mereka mulai tercium," perintah Dante dengan suara rendah namun tegas.
"Baik tuan!"
BERSAMBUNG
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^