NovelToon NovelToon
Istri Sempurna Pilihan Oma

Istri Sempurna Pilihan Oma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.

Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.

Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.

Terimakasih....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 Perjalanan Bisnis

Ayana terlihat mengobrol di depan printer bersama dengan Diva.

"Jadi kamu kamu akan melakukan perjalanan bisnis bersama dengan Pak Emir dalam beberapa hari ke depan?" tanya Diva.

"Iya, untuk mengecek proyek di desa Tasika," jawab Ayana.

"Bukankah desa itu adalah kelahiran kamu dan seingatku kamu juga dibesarkan oleh Nenek kamu dan sampai akhirnya melanjutkan sekolah ke Jakarta?" tanya Diva.

"Ya benar! Makanya proyek itu diberi kemudahan karena orang-orang di sana mengenal Nenek dengan baik dan juga mengetahui bahwa aku bekerja di perusahaan yang membangun proyek tersebut," jawab Ayana.

"Semoga saja dengan adanya investasi perusahaan dan proyek di desa Tasika, bisa membuat desa kamu semakin maju dan banyak orang yang mendapatkan lapangan pekerjaan tanpa harus jauh-jauh ke Jakarta," ucap Diva.

Ayana hanya mengagukkan kepala mengambil lembaran yang sudah selesai di print.

"Aku juga berharap Pak Emir memindahkan kamu ke proyek itu ketika sudah jadi nanti," sahut Diva.

"Kenapa? Kamu tidak suka aku bekerja di perusahaan ini?" tanya Ayana dengan dahi mengkerut.

"Bukan seperti itu Ayana. Aku jelas senang jika kita berdua terus bersama-sama membangun karir di perusahaan ini, tetapi seperti yang kamu ketahui sendiri bahwa kamu tidak mau tinggal di rumah orang tuamu dan jika kamu sudah dipindahkan ke proyek yang lain otomatis kamu bisa tinggal bersama Nenek kamu dan lagi pula aku sangat khawatir dengan kamu yang menjadi Sekretaris pak Emir,"

"Kita tidak usah munafik dan pasti sudah tahu sisi gelap dalam dunia perusahaan apalagi seorang Sekretaris, kamu berhijab dan pasti banyak sekali orang-orang yang kamu hadapi dalam rekan-rekan bisnis dari pak Emir dari pertemuan yang tidak sepantasnya dan aku takut kamu tidak nyaman dan justru akan mendapatkan tindakan pelecehan," ucap Diva.

Ayana hanya tersenyum mendengar kekhawatiran dari sahabatnya itu.

"Makasih ya, kamu sudah khawatir kepadaku. Aku juga terkadang takut dengan pekerjaanku dan seperti apa yang kamu katakan tidak munafik jika hal-hal yang aku hadapi selama menjadi sekretaris cukup karena hal yang mudah, tetapi jika pimpinan kita bersifat positif dan bijaksana, maka tidak ada yang perlu dikawatirkan," ucap Ayana.

"Hmmm, tapi aku mau tanya deh sama kamu, kamu pernah tidak sih memesankan kamar Hotel untuk pak Emir dengan rekan bisnis wanita, ya kita hanya bisa melihat saja bahwa pak Emir cuek dan seperti tidak mudah tergoda oleh wanita, tetapi bukankah yang paling tahu itu adalah kamu. Biasanya semua sisi gelapnya pasti diketahui oleh sekretarisnya," ucap Diva tiba-tiba saja penasaran.

"Alhamdulillah selama aku menjadi Sekretaris Pak Emir, tidak ada hal apapun yang bersifat negatif, beliau benar-benar bekerja sesuai dengan urusan pekerjaan, bertemu dengan klien wanita atau pria tidak ada bedanya, tidak ada hal yang khusus dan memang hanya membicarakan pekerjaan, aku juga tidak pernah melihat beliau minum alkohol. Jadi menurutku beliau pimpinan yang amanah dan bijaksana," jawab Ayana.

"Kamu yakin?" tanya Diva terkesan tidak percaya.

"Sangat yakin," jawab Ayana memang sudah pasti mengetahui sisi buruk dari atasannya itu dan selama ini memang tidak ada yang mengkhawatirkan dirinya.

"Ya semoga saja," sahut Diva berharap benar apa yang dikatakan temannya itu.

****

Ayana berada di dalam kamar yang terlihat sedang memasukkan beberapa lipatan pakaian ke dalam koper dan juga printilan-perintilan lainnya dan sudah pasti tidak lupa dengan dokumen-dokumen penting.

"Berapa lama kamu di desa?" tanya Dewi tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu kamar dengan kedua tangan dilipat di dada.

"Mungkin 3 sampai 4 hari," jawab Ayana.

"Jangan lama-lama, nanti kalau dapat bonus kamu langsung kirim saja ke rekening Mama," ucap Dewi.

Ayana sampai melihat serius ke arah ibunya itu, bicara mereka tidak lepas dari uang dan uang begitu juga yang diinginkan oleh ibunya darinya.

"Ayana harus buru-buru pergi. Sebentar lagi bos Ayana akan tiba," ucap Ayana menutup kopernya karena memang sudah selesai.

Ayana siang ini memang jadwalnya berangkat, tadi pagi dia masih harus ke kantor untuk mengambil berkas-berkas dan setelah selesai langsung pulang ke rumah mandi berganti pakaian dan menyiapkan pakaiannya.

"Ayana pamit dulu. Assalamualaikum!" ucap Ayana mencium tangan ibunya itu.

"Hati-hati," sahut Dewi terdengar begitu cuek.

Ayana melewati Dewi dan menghentikan langkah ketika suami ibunya itu tiba-tiba saja berdiri di hadapannya.

"Kamu tidak berpamitan kepada Papa?" pria itu mengulurkan tangannya ingin dicium oleh Ayana.

"Ayana, dia juga merupakan Ayah kamu, ayo sopan lah sedikit kepadanya!" titah Dewi.

Ayana ragu, pria itu hanya ayah sambungnya dan terlebih lagi usia mereka tidak berjarak jauh, sama saja Ayana bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahramnya dan terlebih lagi tatapan pria itu selalu saja tidak baik kepadanya, terkesan melecehkan yang membuat Ayana tidak nyaman.

"Heh, jangan diam saja ayo cepet lakukan!" tegas Amelia tidak pernah menyadari bahwa putrinya itu merasa takut.

Tin-tin-tin-tin-tin.

Suara klakson mobil tiba-tiba saja berbunyi.

"Mobilnya sudah datang! Ayana pamit. Assalamualaikum!" ucapnya langsung pergi buru-buru dan untung saja mobilnya datang tepat waktu dan dengan begitu dia tidak mencium punggung tangan pria tersebut.

"Putrimu semakin lama semakin tidak punya sopan santun dan tidak bisa menghargaiku di rumah ini, tidak menganggapku dan melihatku sebagai musuh," ucap pria itu.

"Sayang kamu jangan berbicara seperti itu, kamu tenang saja nanti Ayana akan menerima kamu apa adanya, yang terpenting jangan berpikiran apapun dan percaya padaku," ucap Dewi membujuk suaminya.

****

Ayana berada di depan rumah dan mobil berwarna hitam mewah itu sudah berhenti dan memang ternyata benar bahwa itu adalah mobil Emir dan Emir keluar dari kursi pengemudi.

"Pak Arya tidak ikut. Pak?" tanyanya ada Emir tentang sopir yang biasa membawa mereka.

"Ibunya dilarikan ke rumah sakit dan tidak bisa ikut bersama kita, kemungkinan akan menyusul setelah kondisi ibunya membaik," jawab Emir.

"Begitu! Baiklah," sahut Ayana langsung memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil.

Dia sangat mandiri dan tidak perlu membutuhkan orang lain untuk mengangkat koper yang cukup berat tersebut.

Kemudian Ayana memasuki mobil dengan duduk di kursi belakang.

"Kamu pikir saya adalah sopir kamu," sahut Emir.

Ayana sedikit kebingungan dan akhirnya mengerti kemudian kembali keluar dari mobil.

"Maaf. Pak," sahut Ayana ingin memasuki kursi pengemudi.

"Mau ngapain kamu?" tanya Emir dengan nada kesal.

"Menyetir," jawab Ayana.

Memang jika tidak ada sopir yang menyetir seperti biasa sudah pasti dia akan menggantikan supir tersebut untuk membawa ke tempat pertemuan klien dan kemanapun itu.

"Perjalanan bukan 1- 2 jam, tetapi hampir 8 jam, sok hebat kamu...." ucap Emir memasuki mobil dan sudah pasti harus menyenggol sedikit Ayana yang menghalangi jalannya.

"Ayo masuk! Saya tidak punya waktu untuk menunggu kamu bengong!" titah Emir yang sudah masuk terlebih dahulu.

"Baik pak!" Ayana menganggukan kepala lagi-lagi dia bahkan berniat untuk duduk di kursi belakang, tetapi sudah mendapat teguran yang akhirnya membuatnya duduk di kursi depan.

Akhirnya mobil itu melaju dengan kecepatan normal. Dewi keluar dari rumah melihat kepergian mobil tersebut dengan senyum penuh arti.

Bersambung....

1
Oma Gavin
wah emir jadi sasaran empuk lastri nanti pakai jurus pamungkas obat lucknut biar emir kepanasan dan majuk jebakan lastri
shinta liliand
emir gk gentle bgt jd cowok.. tp jg kaasae ngomong sama omanya hmmm susaaah
Enz99
bagus
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dew666
💜💜💜💜
Dew666
🍎🍎🍎
nurlizan lizan
thor lbh teliti lg, bnyak typo🙏
Dew666
💝💝💝
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
Dew666
👄👄👄
Ridwani
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!