NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Suasana perumahan elit itu mendadak gaduh oleh deru mobil patroli yang berhenti tepat di depan pagar hitam tinggi milik keluarga Maya.

Tanpa menunggu lama, Kompol Hendrawan dan Yuana sudah sampai di rumah Maya.

Wajah Kompol tampak sekeras batu, sementara Yuana berdiri di sampingnya dengan membawa map berisi dokumen-dokumen bukti perintah transfer ilegal kepada Riko.

Petugas dengan sigap membuka paksa pintu depan setelah ketukan keras mereka tidak segera dijawab.

Mereka merangsek masuk menuju lantai dua, tempat kamar utama berada.

Maya yang sedang tidur terkejut ketika melihat Kompol beserta rombongan polisi sudah berdiri di depan ranjangnya.

Ia terduduk seketika, rambutnya berantakan, dan matanya membelalak ngeri melihat moncong senjata serta lencana kepolisian di depannya.

"Ada apa ini?! Berani sekali kalian masuk ke rumahku malam-malam begini!" teriak Maya, mencoba menutupi kegugupannya dengan kemarahan.

Kompol Hendrawan melangkah maju, sorot matanya tajam dan penuh penghinaan.

Ia mengeluarkan surat perintah penangkapan yang sudah ditandatangani.

"Saudara Maya, Anda saya tangkap atas tuduhan konspirasi dan percobaan pembunuhan kepada Detektif Zaidan," ucap Kompol dengan suara berat yang menggema di kamar itu.

Maya tertawa sumbang, wajahnya memucat pasi. "Pembunuhan? Zaidan suamiku! Kalian pasti bercanda! Mana buktinya?"

Yuana melangkah maju, menunjukkan layar ponsel yang berisi rekaman percakapan Maya dengan Riko serta bukti aliran dana.

"Riko sudah mengaku semuanya, Maya. Dia sudah kami amankan di sel bawah tanah tempat dia menyiksa Zaidan. Dan sekarang, Guntur—rekan bisnismu—juga baru saja tertangkap di rumah sakit saat mencoba melenyapkan Zaidan."

Mendengar nama Guntur dan Riko disebut, seluruh tubuh Maya gemetar hebat.

Ia menyadari bahwa tembok kemewahan yang selama ini melindunginya telah runtuh.

"Bawa dia!" perintah Kompol tegas.

Dua polisi wanita segera mendekat dan memborgol tangan Maya dengan kasar.

Maya menjerit-jerit memanggil orang tuanya, namun Pak Surya yang juga keluar dari kamar sebelah hanya bisa terpaku melihat putrinya diseret keluar dengan tangan terikat.

Malam ini, kehormatan keluarga mereka habis tak bersisa, seiring dengan Maya yang dibawa menuju mobil tahanan untuk mempertanggungjawabkan segala kejahatannya.

Setelah drama penangkapan yang menegangkan di kediaman Maya, Kompol Hendrawan dan Yuana kembali ke rumah sakit.

Mereka ingin memastikan kondisi Zaidan benar-benar stabil setelah aksi nekat Guntur yang gagal total.

Di dalam ruang perawatan yang kini dijaga ketat, suasana terasa jauh lebih tenang.

Di rumah sakit, Zaidan menatap wajah istrinya dengan tatapan yang sangat dalam, penuh rasa syukur sekaligus penyesalan.

"Dik Sulfi, terima kasih atas semuanya," bisik Zaidan parau, jemarinya yang masih terpasang kabel oksimeter mencoba menggenggam tangan Sulfi.

"Jika tadi siang saja aku lebih waspada, atau jika aku tidak egois membawamu ke pusaran masalahku..."

"Mas, jangan diteruskan," potong Sulfi lembut.

Sulfi meneteskan air matanya.

Ia teringat betapa tipisnya jarak antara hidup dan mati yang baru saja dilalui suaminya.

Rasa haru dan lega bercampur aduk menjadi satu.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Anak buah Kompol masuk dengan wajah sumringah karena operasi malam ini sukses besar.

"Wah, Ibu Pengacara kenapa menangis? Tenang saja, Bu, pelakunya sudah kami ringkus semua," seloroh salah satu petugas sambil menaruh laporan di meja.

Zaidan mengernyitkan keningnya. Ia menoleh ke arah Sulfi, lalu ke arah petugas itu dengan wajah bingung.

"Pengacara? Siapa?" tanya Zaidan heran.

Kompol Hendrawan yang berjalan di belakang anak buahnya tertawa kecil sambil menepuk bahu ranjang Zaidan.

"Tentu saja istrimu!" ucap Kompol dengan nada bangga.

Zaidan melongo. Ia menatap Sulfi yang kini tertunduk malu, wajahnya memerah karena identitas aslinya terbongkar.

"Kamu Detektif Zaidan tapi tidak kenal dengan istri sendiri, bagaimana itu?" goda Kompol Hendrawan sambil melirik Sulfi.

"Jangan-jangan anjing kemarin kurang menggigitmu, jadi otakmu agak sedikit lambat menangkap identitas istrimu yang hebat ini!"

Mereka yang mendengarnya langsung tertawa terbahak-bahak, memecah ketegangan yang menyelimuti ruang ICU sejak malam tadi.

Zaidan ikut tersenyum lebar meski dadanya masih sedikit nyeri saat tertawa.

Ia tak menyangka, wanita "janda desa" yang ia selamatkan dari amukan warga ternyata adalah seorang pendekar hukum yang justru berbalik menyelamatkan karier dan nyawanya.

"Jadi, selama ini aku menikahi seorang pengacara handal?" gumam Zaidan sambil menatap Sulfi dengan takjub.

"Maaf, Mas. Saya belum sempat cerita," bisik Sulfi sambil tersenyum di balik sisa air matanya.

Malam yang panjang itu pun berakhir dengan tawa, menandai awal baru bagi Zaidan dan Sulfi—sepasang suami istri yang kini tak hanya terikat oleh "insiden anjing", tapi juga oleh rasa hormat dan cinta yang mulai tumbuh di tengah badai.

Suasana di ruang perawatan itu berangsur hangat, namun masih ada satu ganjalan yang tersisa di hati Sulfi.

Melihat sahabatnya hanya terdiam, akhirnya Yuana angkat bicara dan meminta izin agar Sulfi diperbolehkan bekerja lagi di firma hukum milik

mereka.

Yuana melangkah maju, menatap Zaidan dengan tatapan serius namun penuh hormat.

"Zaidan, sebagai sahabat sekaligus saksi bagaimana hebatnya Sulfi membantumu malam ini, aku ingin meminta izinmu. Aku ingin membawa Sulfi kembali ke dunia hukum," ujar Yuana tegas.

Zaidan terdiam, beralih menatap Sulfi yang tampak ragu. Yuana kemudian melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, menceritakan rahasia yang selama ini dipendam Sulfi.

"Dulu ia memilih berhenti dan menarik diri dari semua kasus besar demi berbakti kepada suami pertamanya. Ia mengubur bakat dan kecerdasannya karena rasa trauma dan pengabdian. Tapi melihat apa yang terjadi hari ini, dunia hukum merindukannya, Zaidan. Dan sejujurnya, kamu membutuhkannya sebagai bentengmu."

Zaidan menarik napas panjang, lalu menggenggam tangan Sulfi lebih erat.

Ia menyadari bahwa ia hampir saja membiarkan permata yang begitu berharga tetap tersembunyi di balik kesederhanaan rumah kontrakan mereka.

"Aku tidak pernah ingin membatasi langkahmu,

Sulfi," ucap Zaidan dengan suara tulus.

"Jika kembali menjadi pengacara adalah kebahagiaanmu, maka aku adalah orang pertama yang akan mendukungmu. Ternyata benar kata Pak Kompol, aku hampir saja kehilangan nyawa jika bukan karena kecerdasan istriku sendiri."

Sulfi menatap suaminya dengan mata berbinar. "Mas serius? Mas tidak keberatan punya istri yang mungkin akan lebih sibuk di pengadilan?"

"Justru aku bangga," jawab Zaidan sambil

tersenyum tipis.

"Sekarang, kita bukan cuma pasangan suami istri, tapi tim yang akan menyapu bersih orang-orang seperti Guntur dan Maya dari kota ini."

Mendengar restu itu, Yuana bersorak kecil sambil bertepuk tangan, sementara Kompol Hendrawan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat drama manis di depannya.

Malam itu, bukan hanya nyawa Zaidan yang terselamatkan, tapi juga semangat Sulfi yang sempat mati suri kini bangkit kembali dengan kekuatan penuh.

Setelah tawa dan obrolan panjang itu mereda, Kompol Hendrawan, Yuana, dan para petugas lainnya satu per satu mulai keluar untuk memberikan ruang privasi bagi pasangan tersebut.

Sulfi duduk di samping ranjang suaminya, menggenggam tangan Zaidan yang terasa semakin hangat.

Zaidan menatap wajah istrinya dengan lekat, seolah mencari sisa-sisa jejak rahasia yang selama ini tertutup rapat.

"Kenapa kamu merahasiakannya, Sayang?" tanya Zaidan pelan, suaranya terdengar lembut namun penuh rasa ingin tahu.

"Seorang pengacara hebat sepertimu, kenapa memilih untuk diam dan dianggap sebagai janda biasa di desa?"

Sulfi menunduk, bibirnya tersenyum getir. Ingatannya mendadak ditarik kembali ke masa beberapa tahun yang lalu, ke sebuah masa yang penuh dengan kemewahan namun juga dipenuhi rasa takut yang mencekam.

Flashback: Tiga Tahun yang Lalu

Di sebuah kantor hukum megah di pusat kota, Sulfi—yang saat itu dikenal sebagai "Singa Betina Pengadilan"—sedang merapikan berkas kasus korupsi besar.

Di pintu ruangan, berdiri almarhum suami pertamanya, seorang pria lembut namun selalu tampak cemas.

"Sulfi, sampai kapan kamu mau menangani kasus-kasus seperti ini?" tanya suaminya saat itu dengan nada lelah.

"Setiap hari aku menerima ancaman telepon. Ban mobilku disayat, dan kemarin ada orang asing yang membuntuti kita sampai ke depan rumah."

Sulfi menghentikan aktivitasnya. "Ini tugasku, Mas. Kalau bukan aku yang maju, siapa lagi?"

Namun, puncaknya terjadi di suatu malam yang hujan deras.

Sebuah kecelakaan misterius hampir merenggut nyawa mereka berdua.

Suaminya yang sangat mencintainya berlutut di depan Sulfi, memohon dengan air mata di pipinya.

"Demi keselamatanku, demi ketenangan kita... Tolong berhenti, Sulfi. Aku ingin istriku pulang ke rumah tanpa rasa takut. Aku ingin kita hidup tenang, meskipun harus melepaskan semua jabatan dan nama besarmu."

Demi baktinya kepada sang suami dan rasa sayangnya yang begitu besar, Sulfi akhirnya menyerah.

Ia membakar semua kartu namanya, mengundurkan diri dari firma, dan memilih menjadi istri rumah tangga sepenuhnya.

Hingga akhirnya sang suami wafat karena sakit, Sulfi tetap memegang janjinya untuk tidak pernah lagi menyentuh dunia hukum—sebuah janji yang ia bawa sampai ia pindah ke kampung dan bertemu dengan Zaidan.

Kembali ke masa sekarang, Sulfi mengusap pelan punggung tangan Zaidan.

"Aku melakukannya untuk menjaga perasaan Mas yang dulu," bisik Sulfi lirih.

"Tapi hari ini aku sadar, Mas Zaidan berbeda. Mas tidak memintaku untuk bersembunyi, tapi Mas justru menjadikanku rekan untuk berjuang bersama."

Zaidan menarik tangan Sulfi dan mencium punggung tangannya dengan penuh takzim.

"Mulai sekarang, jangan pernah bersembunyi lagi. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa di balik detektif ini, ada seorang pengacara hebat yang menjaganya."

Keheningan malam di ruang perawatan itu terasa begitu sakral setelah rahasia besar Sulfi terungkap.

Sulfi menganggukkan kepalanya perlahan, menyandarkan segala beban masa lalunya pada pundak Zaidan yang kini telah menjadi pelindung barunya.

Melihat gurat kelelahan yang sangat dalam di wajah cantik istrinya, Zaidan meminta agar istrinya untuk naik ke ranjangnya.

Tempat tidur rumah sakit itu memang sempit, namun bagi mereka, itu adalah tempat paling aman di dunia saat ini.

Dengan gerakan penuh kasih, Zaidan mencium kening istrinya dan untuk pertama kalinya ia memeluk tubuhnya dengan erat namun tetap berhati-hati agar tidak menyakiti luka di tubuhnya sendiri.

Pelukan itu bukan sekadar kontak fisik, melainkan sebuah ikatan janji yang baru saja mereka perbarui di ambang maut.

"Terima kasih dan maaf kalau aku belum menjadi suami sempurna sampai Maya melakukan hal yang seperti ini," bisik Zaidan tepat di telinga Sulfi, suaranya bergetar menahan haru.

Ia merasa gagal karena telah membiarkan fitnah Maya dan kekejaman Riko hampir saja merenggut kebahagiaan yang baru saja mereka bangun.

Sulfi mendongakkan wajahnya, menatap mata Zaidan yang kini berkaca-kaca.

Ia menyentuh pipi suaminya dengan lembut, menghapus sisa kekhawatiran yang masih tertinggal di sana.

"Mas, yang terpenting Mas selamat dan sekarang ayo kita istirahat," ucap Sulfi dengan nada yang menenangkan.

Ia tidak butuh kemewahan atau janji-janji besar malam ini.

Baginya, detak jantung Zaidan yang kembali berdenyut normal adalah hadiah paling berharga.

Sulfi merebahkan kepalanya di dada Zaidan, mendengarkan irama napas suaminya yang perlahan mulai teratur.

Dalam dekapan hangat itu, mereka berdua akhirnya memejamkan mata.

Di luar sana, Maya dan Guntur mungkin sedang meringkuk di balik jeruji besi, namun di dalam ruangan ini, hanya ada kedamaian.

Seorang detektif dan seorang pengacara, dua jiwa yang sempat hancur oleh masa lalu, kini bersatu untuk menyongsong hari esok yang jauh lebih kuat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!