Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.
Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.
Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.
Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.
Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 26.
Pagi berikutnya, istana masih dipenuhi rumor tentang kondisi Raja Alexander. Semua orang percaya sang raja masih terbaring koma. Dan itu membuat banyak pihak mulai bergerak lebih berani.
Namun di balik pintu paviliun ratu, Alexander sedang duduk santai sambil membaca laporan militer.
Sementara Evelyn berdiri di depan meja besar dengan wajah serius. “Lucien Arden…”
Ia mengingat nama itu perlahan.
Dalam catatan kerajaan, Lucien muncul beberapa minggu lalu sebagai bangsawan muda dari wilayah barat. Cerdas dan cepat naik. Dan langsung mendapat kepercayaan William.
Alexander melirik Evelyn dari balik laporan.
“Kau mengenalnya?”
Evelyn terdiam sesaat, tapi akhirnya ia memilih untuk menjawab jujur. “Namanya di dunia kami, Julian Cross.”
“Orang dari duniamu?” Tatapan Alexander sedikit berubah.
Evelyn mengangguk pelan. “Pengkhianat paling berbahaya... yang pernah bekerja untukku.”
Mata Alexander menyipit tajam, kalau Evelyn sampai mengatakan seseorang berbahaya… maka orang itu benar-benar ancaman besar.
“Apa dia tahu soal Ruang Ajaib yang sering kau ceritakan padaku?”
“Itu yang paling aku khawatirkan, Julian tidak pernah bergerak tanpa tujuan. Kalau dia datang ke dunia ini… maka dia pasti mencari sesuatu.” Tatapan Evelyn mengeras.
Alexander menarik nafas kasar. “Dan sesuatu itu... kemungkinan besar adalah dirimu.”
Evelyn tidak membantah, karena di dunia modern Julian selalu terobsesi merebut semua yang dimiliki Evelyn.
Kekuasaan.
Organisasi.
Rahasia keluarga Carter.
Termasuk artefak hitam itu.
Sebelum mereka sempat membahas lebih jauh, Kasim Bernard masuk cepat dari luar.
“Yang Mulia.” Tatapan kasim tua itu terlihat aneh. “Ada seseorang yang meminta bertemu Ratu secara pribadi.”
Evelyn mengernyit. “Siapa?”
Kasim Bernard tampak ragu sesaat.
“Komandan baru pasukan bayangan kerajaan.”
Alexander langsung menyipitkan mata. “Pasukan bayangan?”
Bernard mengangguk. “Dia baru dipindahkan ke istana beberapa hari lalu. Anehnya… dia bersikeras hanya mau bertemu Ratu.”
Insting Evelyn langsung bergerak. “Bawa dia masuk!”
Tak lama kemudian, seorang pria tinggi masuk ke ruangan. Rambut hitam pendek, tatapan tajam dan tubuhnya dipenuhi bekas luka. Begitu matanya bertemu wajah Evelyn, pria itu langsung membeku.
Dan Evelyn merasakan hal yang sama, karena wajah pria itu sangat familiar.
Pria itu perlahan berlutut satu kaki, tatapannya tetap lurus pada wajah Evelyn. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara diantara keduanya. Lalu pria itu tersenyum samar, senyuman yang sangat dikenali Evelyn.
“Sudah lama, Boss.”
Mata Evelyn langsung membelalak. “Kau benar-benar Damien…?”
Alexander langsung menoleh cepat. Entah kenapa, ada rasa tak nyaman yang muncul di dalam dirinya saat melihat pria lain tersenyum pada Evelyn. Sedikit rasa cemburu mulai mengusik hatinya.
Sementara pria itu tertawa kecil, tatapannya terlihat sedikit lega. “Syukurlah... jadi memang benar ini Anda.”
Damien Voss adalah tangan kanan paling loyal Evelyn di dunia modern. Pria yang selalu berdiri di belakangnya selama bertahun-tahun. Dan sekarang, dia ada di dunia ini. Dalam tubuh seorang komandan kerajaan, Evelyn berjalan mendekat perlahan.
Wajahnya masih dipenuhi rasa tak percaya, meski sebelumnya ia sudah mengetahui keberadaan Damien melalui Ruang Ajaib.
“Kau ingat semuanya?”
Damien mengangguk. “Sejak awal datang kesini.”
Hening sesaat.
Lalu Damien melirik ke arah Alexander, tatapannya langsung berubah waspada.
“Dan ini—”
“Dia di pihak kita.” Evelyn langsung memotong cepat.
Damien tetap diam beberapa detik, seolah sedang menilai Alexander. Dan Raja Alexander, membalas tatapan itu tanpa mundur sedikit pun. Dua pria berbahaya langsung saling membaca dalam diam, sampai akhirnya Damien menghela napas kecil.
Damien kembali menatap Evelyn, tatapannya langsung berubah serius. “Kita tidak punya banyak waktu, Julian sudah mulai bergerak.”
“Kau tahu sesuatu?” tanya Evelyn cepat.
Damien mengangguk. “Masih banyak yang datang ke dunia ini.”
Mata Evelyn langsung menyipit. “Siapa lagi?”
“Beberapa orang di organisasi mulai terbangun ingatannya. Sebagian ada di pihak kita, tapi sebagian… sudah dipakai Julian.” Damien mengepalkan tangan.
Alexander akhirnya bicara. “Berapa banyak orang dari dunia kalian yang ada di kerajaan ini?”
“Belum tahu pasti.” Damien menoleh pada Alexander, tatapannya berubah dingin. “Namun satu hal yang jelas… mereka semua tertarik pada Ruang Ajaib.”
Napas Evelyn perlahan berubah berat, karena artinya mulai sekarang, permainan ini bukan lagi sekadar perebutan tahta kerajaan. Namun juga, perang lintas zaman. Dan lebih buruk lagi, musuh-musuh dari kehidupan aslinya... mulai datang satu per satu.
tapi musuh Evelyn di dunia modern, juga musuh keluarga Evelyn di zaman kuno