Risti adalah anak yang dikucilkan di keluarganya, hanya ada ayah dan satu saudara laki-laki yang menganggapnya. Risti adalah anak pertama ibunya yang merupakan istri kedua ayahnya. Sedangkan ibu tiri Risti memiliki 4 orang anak.
Indriana yaitu ibu Risti sudah meninggal saat melahirkan Risti, Risti pun dibesarkan oleh seorang pembantu karena ibu tirinya yang bernama Bu Dewi tidak sudi membesarkan Risti.
***
Suatu hari,
Windi yang merupakan anak sulung Bu Dewi dijodohkan oleh seorang laki-laki yang kabarnya sudah tua, penyakitan dan juga tidak bisa diandalkan. Akhirnya saat hari pernikahan Windi kabur dari rumah, tanpa sepengetahuan Risti tiba-tiba dia yang menggantikan pernikahan kakaknya itu.
Dan ternyata pria yang dinikahkan dengannya adalah seorang mafia
Apakah mereka akan berakhir bahagia?
Simak terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fera Aisha Syaidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aqua
Saat Bu Dewi sadar Leon dan Rama juga sudah sadar, di sana juga sudah ada pak Rian, setelah mendengar jika Rama dan Leon masuk Rumah Sakit, Pak Rian langsung membatalkan jadwalnya dan menuju ke Rumah Sakit. Bu Dewi berlari dan berdiri di antara Rama dan Leon.
“Kalian sudah sadar nak.” Bu Dewi mengelus rambut Rama dan Leon dengan lembut, wajahnya pucat pasi. Leon dan Rama hanya tersenyum.
Ternyata mereka seterlambat ini, maaf nak ayah tidak tepat waktu. (Batin Pak Rian)
“Sebenarnya apa yang terjadi sebenarnya kak?” tanya Jesi, dia sedari tadi tidak bisa berhenti menangis. Rama dan Leon bersamaan menunjuk ke arah Windi yang sedang duduk di kursi, Windi menunduk sambil menggigiti kuku jarinya, wajah Windi sama pucatnya seperti wajah Bu Dewi.
“Maksutnya apa? mengapa kalian berdua menunjuk ke arah Windi?” tanya Bu Dewi bingung. Windi yang sedari tadi menunduk sekarang melihat ke depan, semua mata sudah tertuju padanya.
“Windi, kau pasti tau apa yang terjadi!” bentak Pak Rian.
“Sabar mas, ini Rumah Sakit, tidak boleh berteriak,” kata Bu Dewi. Sebenarnya Pak Rian tau dia hanya ingin memastikan sendiri. Apakah benar atau tidak semua laporan yang sudah diserahkan oleh bawahannya. Windi tidak menjawab, dia hanya diam dan menunduk, tidak berani melihat ayahnya yang kini sedang marah besar itu.
“Kamu ikut ayah sekarang juga!” pak Rian menarik lengan Windi dan menyeretnya keluar, Windi menurut saja, dia tidak mau dipermalukan di depan umum.
“Jesi, kamu jaga Rama dan Leon disini, ibu mau ikut ayahmu.” Bu Dewi lari menyusul Pak Rian dan Windi yang sudah cukup jauh.
“Kak, yang kuat, kakak pasti sembuh,” kata Jesi sambil duduk di antara Leon dan Rama.
Semoga ayah mencoretmu dari kartu keluarga, sangat memalukan. (Batin Leon)
Leon masih geram dengan Windi yang sangat tidak tau malu itu, Windi juga pernah mengkambing hitamkan Leon hingga Pak Rian tidak memberikan uang bulanan Leon selama 3 bulan.
Risti, kamu dimana, kakak sedang sakit sekarang, kakak harap kamu menjenguk kakak di sini. (Batin Rama)
Rama meneteskan air matanya, dia masih sempat memikirkan Risti walau sedang sakit seperti ini.
Jesi tidak berani bertanya karena Rama dan Leon pasti saat ini masih enggan untuk bicara.
***
Sementara itu...
Di rumah Vino,
Vino pulang lebih awal, karena dia mendengar kabar bahwa Rama dan Leon di rawat di rumah sakit, Vino tau jika Risti menyayangi Rama, kakaknya yang selalu mempedulikan dan merawatnya di saat sakit.
“Loh, mas, kok udah pulang?” tanya Risti yang sedang duduk di teras.
“Iya, mas mau ngomong sama kamu dek,” jawab Vino, sembari berjalan mendekati Risti.
“Ngomong apa?” tanya Risti sambil meminum air putihnya.
“Kaka kamu, Rama dan Leon dirawat di rumah sakit,” jawab Vino. Tiba-tiba Risti menyemburkan air putih yang telah Ia minum ke wajah Vino.
“Ehhh, maaf mas, aku terlalu kaget.” Risti mengusap wajah Vino yang basah karena air putihnya.
“Kalau begitu, ayo kita langsung ke sana sekarang juga.” Risti langsung berlari ke dalam, dalam pikirannya sekarang hanya ada Rama.
“Sabar tuan,” kata Roni sambil memberikan sapu tangan.
“Iya.” Vino menerima sapu tangan dan segera duduk di kursi.
10 menit kemudian,
Risti keluar dari dalam, dia sudah berganti pakaian, dia berdandan tipis agar terlihat jika dia sangat terurus di rumah, Risti juga memakai high heells walau dia sebenarnya tidak bisa memakainya, dia tidak mau mengkhawatirkan Rama, Risti jadi ingat kalau dia tidak bertukar kabar dengan Rama semenjak dia menikah.
“Ayo mas.” Risti menarik lengan Vino, agar lebih cepat masuk ke dalam mobil.
***
Di rumah sakit,
Jesi sangat bingung, dia bosan karena Leon dan Rama sedari tadi hanya diam tidak berbicara satu patah kata pun,
“J...jess,” panggil Leon.
“Iya, ada perlu apa kak?” tanya Jesi cekatan, akhirnya dia bicara.
“Ha...us,” ucap Leon lirih.
“Kak Rama juga haus?” tanya Jesi. Rama manggut-manggut, dia sebenarnya haus sedari tadi tapi tidak bisa berbicara, rasanya sangat berat.
Untungnya Jesi membeli Aqua di luar saat Bu Dewi pingsan, sebenarnya merk air putihnya Le Mineral tapi jika di Jawa apapun merk air putihnya sebutannya tetaplah “Aqua”.
Jesi menaikkan tuas tempat tidur Leon hingga Leon nampak duduk sekarang, saat mencoba memberi minum pada Rama, Jesi agak takut karena Rama memakai alat bantu nafas, karena melihat Jesi yang merasa takut akhirnya Rama sendiri yang melepas, setelah minum barulah Rama memakai kembali.
“Eh iya, lupa menurunkan tuas kalian.” Jesi menurutkan tuas keduanya.
Akhirnya peka juga ni anak. (Batin Leon)
Di lantai bawah rumah sakit,
“Mbak, kamar pasien atas nama Rama dan Leon ada di mana ya?” tanya Risti kepada petugas Rumah Sakit.
“Ohhh, pasien yang baru dirawat tadi ya? mereka di Bangsal Minna Arofah ruang nomor 4, lantai 2, dari lurus ke arah tangga itu mbak,” kata petugas tersebut sambil menunjuk ke arah tangga yang menuju ke lantai 2.
“Mkasih ya mbak,” Risti dan Vino langsung menuju ke tangga.
Saat sampai di lantai 2 Risti menyusuri lorong bangsal Minna Arofah dia berlari meninggalkan Vino di belakang, saat sampai di ruang empat Risti langsung masuk, terlihat Jesi, Leon dan Rama yang melihat ke arahnya.
Risti? (Batin Rama)
“Kak Rama.” Risti berlari ke arah Rama sambil menangis saat melihat Rama yang dipasangi alat bantu nafas.
“Ada apa kamu kemari?! siapa yang mengizinkanmu masuk?! pergi!” bentak Jesi. Risti masih menangis sambil menekuk Rama tanpa memperdulikan ocehan Jesi. Rama melotot ke arah Jesi dan Jesi langsung diam dan duduk.
“Sudah kubilang jangan masuk dulu, tunggu aku,” kata Vino yang berdiri di ambang pintu.
Siapa dia? ganteng banget, rambut rapi, dada bidang, tinggi, kulit putih, baju rapi, idaman sekalii. (Batin Jesi)
Jesi melihat Vino dari atas ke bawah seperti sebuah mesin scan tubuh.
“Kamu siapa?” tanya Jesi. Leon dan Rama hanya membatin sebenarnya dia siapa?
“Aku? aku adalah suami Risti, aku adalah kakak iparmu dan Leon, tapi aku adalah adik ipar Rama,” jawab Vino sambil menatap dingin ke arah Jesi. Jesi melongo kaget, Leon dan Rama juga kaget.
“Tidak mungkin, suami Risti kan sudah tua, penyakitan, dan tidak bisa diandalkan.” cibir Jesi. Vino tidak menggubris melainkan langsung berjalan ke arah Risti.
“Tidak perlu menangis sayang, kak Rama tidak akan sampai mati kok,” kata Vino.
“Tapi....tapi, tapi dia terlihat sangat parah.” Risti beralih memeluk Vino.
Hal itu membuat Jesi, Leon dan Rama semakin kaget, apakah benar pria yang sedang memeluk Risti sekarang adalah kakak/adik ipar mereka.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih sudah membaca 🌺
Maafkan Author, dari kemarin paket data Author abis, jika ada yang melihat postingan Fb Author, sebenarnya Fbnya di mode ungu hehe, maap.
Hayo siapa yang kemarin sempat berfikir kalau yang nolong Vino? hehehe
Next episode besok (Hukuman Windi)
Tbc.