"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 Aku Akan Melindungimu, Walau Nyawa Jadi Taruhan
Malam yang sunyi seketika berubah menjadi neraka di bumi. Lebih dari sepuluh sosok berjubah hitam meluncur keluar dari kegelapan hutan. Mata mereka merah menyala, dan aura mematikan yang dipancarkan membuat udara di sekitar terasa berat dan sulit untuk bernapas.
Mereka adalah para pembunuh bayaran elit dari Klan Naga Hitam, orang-orang yang hidupnya hanya untuk membunuh.
"Tangkap wanita itu! Bunuh anak laki-lakinya!" teriak salah satu dari mereka dengan suara parau.
Dua orang pembunuh langsung melesat maju. Kecepatan mereka luar biasa, meninggalkan bayangan samar di udara. Satu orang mengayunkan golok raksasa ke arah Li Yao, sementara yang lain mencoba menangkap Ling Qingyu.
"Jangan harap kalian bisa menyentuhnya!"
Li Yao berteriak kencang. Ia tidak mundur sedikit pun. Meskipun jantungnya berdegup kencang ketakutan, namun ingatan akan janjinya dan cinta pada Ling Qingyu melenyapkan semua rasa takut itu.
Wush!
Dengan sekuat tenaga, ia mengayunkan pedang kayunya. Ia tidak menggunakan teknik indah-indah, hanya menggunakan kekuatan otot murni dan insting bertarung yang ia latih berbulan-bulan.
Brak! Dung!
Pedang kayu itu berbenturan dengan baja tajam. Suara dentangan keras memekakkan telinga. Li Yao terdorong mundur beberapa langkah, tangannya terasa getar dan mati rasa, namun ia berhasil menahan serangan itu!
"Apa? Pedang kayu bisa menahan seranganku?!" seru si pembunuh kaget.
"Keluar dari jalanku!!" Li Yao mengamuk, matanya memerah menahan tangisan dan amarah. Ia menyerang balik dengan gaya bertarung yang liar namun mematikan, layaknya serigala yang terpojok.
Di sisi lain, Ling Qingyu juga sudah mengeluarkan kekuatannya. Cahaya putih menyelimuti tubuhnya, ia mencoba membentuk perisai energi. Namun lukanya belum sepenuhnya sembuh, dan tenaganya masih jauh dari kondisi prima.
Byur! Byur!
Beberapa anak panah beracun ditembakkan dari kejauhan. Ling Qingyu berusaha menangkisnya, tapi satu anak panah berhasil menembus pertahanan dan melukai bahunya lagi.
"Ugh!" ia terhuyung ke belakang.
"Qingyu!" Li Yao panik melihat kekasihnya terluka. Rasa panik itu berubah menjadi kemarahan yang meledak-ledak.
"Hei, bocah desa! Kau menyia-nyiakan waktumu saja!" ejek pemimpin kelompok itu yang masih bersila di atas dahan pohon, menonton dengan santai. "Dia akan mati, dan kau juga akan mati. Mana ada gunanya perlawanan sia-sia ini?"
"GUNAKAN SUARAMU ITU UNTUK MENJERIT NANTI!!" balas Li Yao tak kalah keras.
Ia melihat tiga orang pembunuh lain mencoba mengepung Ling Qingyu yang mulai lemah. Tanpa berpikir dua kali, Li Yao melemparkan pedang kayunya sekuat tenaga ke arah mereka.
Wushhh!
Pedang itu melesat seperti anak panah, tepat mengenai kaki salah satu pembunuh yang hendak menangkap Ling Qingyu.
"Aaaahh!" teriak orang itu kesakitan.
Kesempatan itu tidak disia-siakan. Li Yao langsung berlari kencang, menerjang tubuh dua orang lain, dan berhasil berdiri di depan Ling Qingyu sekali lagi, membentengi tubuhnya dengan punggung yang kokoh namun gemetar.
"Yao... lari... cepat lari..." Ling Qingyu memegang lengan kekasihnya, air matanya bercampur darah di wajahnya. "Mereka terlalu kuat! Kita tidak bisa menang! Jangan mati bersamaku!"
Li Yao tidak menoleh, ia tetap menghadap ke depan, menghadap puluhan musuh yang siap menerkam.
"Aku sudah bilang berkali-kali, Qingyu..." suaranya berat, tegas, dan penuh keyakinan. "Aku tidak akan pernah lari. Dan aku tidak akan pernah membiarkan mereka menyentuhmu."
Ia menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh energi yang ada di dalam tubuhnya, sekecil apa pun itu. Cahaya putih redup mulai menyelimuti tubuhnya yang kotor dan berkeringat itu.
"Kau mengajarkanku arti menjadi kuat. Kau mengajarkanku arti cinta. Sekarang, biarkan aku yang melindungimu untuk kali ini."
Li Yao menatap tajam ke arah musuh-musuhnya.
"Selama aku masih bisa berdiri... selama darah ini masih mengalir di pembuluh nadiku... tidak ada satu pun dari kalian yang boleh melangkah maju selangkah pun!"
"Ha! Dasar bodoh yang nekat!" seru pemimpin itu dengan sinis. "Bunuh dia! Hancurkan bocah ini!"
Para pembunuh itu kembali menyerang, kali ini dengan kekuatan penuh. Aura kejam mereka seolah ingin menelan hidup-hidup kedua anak muda itu.
Namun Li Yao tidak gentar. Ia mengepalkan tangannya erat-erat.
"Datanglah jika kalian berani! Aku akan menghancurkan kalian semua!!"
Malam itu, di tengah hutan belantara, seorang pemuda tanpa bakat berani menantang maut, hanya demi satu janji: Melindungi wanitanya, walau nyawa harus menjadi taruhan.