Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
beneran masuk novel?!
"Lah, elu siapa bejir?" tanya Asha dengan nada bingung yang sangat natural. Matanya mengerjap, menatap gadis di depannya seolah-olah orang itu baru saja turun dari piring terbang.
Gadis itu justru mendecit, meletakkan tangannya di pinggang. "Beneran stres nih anak. Kayaknya saraf lo putus satu gara-gara ditolak mentah-mentah kemarin," sahut perempuan itu dengan tatapan prihatin yang dibuat-buat.
Asha refleks tertawa remeh. "Prett! Gue? Ditolak? Gue aja kagak pernah nembak orang, mana ada sejarahnya Asha nembak cowok sampai mewek!"
Perempuan di depannya memutar bola mata malas. "Melody, dengerin gue ya. Elo harus berkaca sekarang! Liat tuh, seberapa hancur dan berantakan maskara elo gara-gara nangis bombay kemarin. Apa otak lo beneran kegeser gara-gara patah hati?"
Asha tertegun. Melody? Dia manggil gue Melody?
Refleks, Asha mencoba membetulkan posisi kacamata tebalnya yang biasanya melorot ke hidung. Tapi jarinya hanya menyentuh kulit wajah yang mulus. Kosong. Tidak ada bingkai kacamata di sana.
"Loh? Kok... kacamata gue nggak ada?" Asha mulai panik, tangannya meraba-raba area matanya seperti orang buta.
"Yee, mabuk cinta ya begini! Elo emang nggak minus, Mel. Cuma kalau soal cowok, mata lo emang katarak! Makanya sadar!" sahut perempuan yang asyik mengoles lip balm itu. "Gue, Rere, sahabat lo yang paling cantik ini, saranin lo mending cuci muka deh."
Rere? batin Asha. Jantungnya mulai berdegup kencang. Nama itu terasa seperti sengatan listrik di ingatannya. Rere? Melody? Nama-nama ini... kok kayak di buku novel semalam?
"Duh, mules! Gue mau ke kamar mandi!" ucap Asha tiba-tiba, perutnya mendadak melilit karena panik bercampur bingung. "Anterin dong, sak berak nih!"
Gadis lain yang duduk di kursi sebelah—yang sejak tadi asyik dengan ponselnya—akhirnya berdiri. "Yaudah deh, gue yang temenin. Ribet amat lu, Mel."
"Ghea?" tebak Asha ragu-ragu saat melihat nametag di seragam gadis itu.
"Ya iyalah, emang muka gue berubah jadi bidadari dalam lima menit?" sahut Ghea jutek sambil menarik lengan Asha.
Asha menurut saja, kakinya melangkah lunglai mengikuti tarikan Ghea menyusuri koridor sekolah yang super mewah itu. Lantainya mengkilap, dindingnya penuh dengan piagam penghargaan, dan setiap siswa yang lewat tampak seperti model majalah.
Rere... Ghea... Melody... gumam Asha dalam hati. Bulu kuduknya meremang saat potongan plot novel dark romance yang ia baca semalam berputar di kepalanya.
Jangan bilang gue jadi Melody? Tokoh figuran yang nasibnya paling tragis karena cintanya ditolak si antagonis gila itu?!
"Gak mungkin, gak mungkin! Gue pasti cuma kecapekan gara-gara begadang, terus ini bunga tidur doang. Iya, bener, ini mimpi!" gumam Asha, mencoba menenangkan jantungnya yang sedari tadi berdisko.
Ia mencoba bersikap santai, meski kakinya terasa gemetar saat menginjak lantai marmer kamar mandi yang dingin.
"Ehh, Mel! Gue kagak mau ya nemenin elo sampai ke dalam bilik. Ntar bau tai lo nyebar ke baju gue, ogah banget!" cetus Ghea sambil menutup hidungnya, berhenti tepat di depan pintu masuk area wastafel.
"Iyee, bawel! Elo boleh pergi, hush-hush!" usir Asha sewot.
"Yaudah, jangan lama-lama. Tapi... gue ngerasa elo hari ini agak aneh deh, Mel," ucap Ghea sambil menyipitkan mata, menatap Asha dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Asha menghentikan langkahnya. "Aneh kenapa?"
"Gak tahu ya, lo kerasa lebih... aktif? Kek satwa liar aja rasanya," celetuk Ghea tanpa dosa.
"Ehh, monyet! Sembarangan lo!" pekik Asha mendelik.
Tapi Ghea hanya tertawa terbahak-bahak dan langsung melesat lari meninggalkan area kamar mandi sebelum kena amuk.
Asha menarik napas panjang, lalu melangkah pelan menuju cermin besar yang terpasang di dinding. Begitu ia mendongak dan menatap pantulan di kaca, matanya hampir melompat keluar.
"Busetttt! Dempul amat ini muka!" teriaknya tertahan.
Ia meraba wajahnya yang terasa berat. "Perasaan gue kagak bisa makeup deh, kok ini malah kayak badut begini?"
Wajah di cermin itu memang cantik, tapi riasannya terlalu tebal. Maskara yang luntur di bawah mata—bekas tangis kemarin—membuatnya terlihat seperti panda yang depresi. Asha kemudian menunduk, menatap nametag yang tersemat di dada sebelah kanannya dengan gemetar.
Melody Fanyera.
Asha tertegun. Otaknya mendadak berputar cepat, memanggil kembali memori tentang bab-bab novel yang ia baca semalam.
"Eh, bentar deh..." gumamnya lirih. "Keknya ini nama figuran yang sempat gue kasihani pas baca semalam. Si Melody yang nasibnya tragis, mati di tangan cowok psiko itu demi nyelamin tokoh utama?"
Asha menggeleng kuat-kuat. "Enggak, enggak mungkin! Gak mungkin itu gue!"
PLAK!
Ia menampar pipinya sendiri dengan keras.
"Aduh, buset! Sakittt!" Asha merintih sambil memegangi pipinya yang memerah. Rasa perih itu terasa sangat nyata, sangat panas, dan sangat bukan mimpi.
Matanya kembali menatap pantulan Melody di cermin dengan ngeri. "Jadi... beneran? Gue transmigrasi ke novel dark romance sampah ini?!"