NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Beda Usia / CEO
Popularitas:20.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Aroma Antiseptik dan Akhir Sebuah Tugas

​Bau anyir darah dan aroma antiseptik yang tajam menyatu di udara, menciptakan kombinasi memuakkan yang akan menghantuiku seumur hidup.

​Lampu neon di langit-langit koridor rumah sakit berkedip menyilaukan mata setiap kali brankar beroda itu didorong melewati batas lantai. Bunyi decit roda ranjang medis, teriakan paramedis, dan derap langkah kakiku yang berlari tanpa alas kaki menggema di lorong Instalasi Gawat Darurat yang steril ini.

​"Siapkan ruang resusitasi! Tekanan darahnya drop ke 80/50! Kita butuh dua kantong darah golongan O, sekarang!" jerit salah satu perawat sambil terus menekan kasa tebal ke pelipis Bumi.

​"Bumi... bertahanlah, kumohon..." rintihku dengan napas terputus-putus.

​Kedua tanganku yang berlumuran darah mencengkeram erat pinggiran brankar logam itu. Gaun sifon putih yang kukenakan—gaun yang kupakai untuk bersandiwara di lobi resor kemarin—kini hancur lebur, dihiasi noda merah pekat yang mengerikan. Aku tidak memedulikan penampilanku. Aku tidak memedulikan tatapan ngeri dari para pasien lain di ruang tunggu.

​Duniaku telah menyusut. Duniaku kini hanya sebatas pria pucat yang terbaring tak bergerak di atas brankar ini.

​"Maaf, Ibu. Ibu harus menunggu di luar," seorang perawat pria menahan bahuku dengan tegas saat kami tiba di depan pintu ganda bertuliskan RUANG TINDAKAN - IGD.

​"Tidak! Aku istrinya! Aku harus menemaninya!" teriakku histeris, berusaha menerobos masuk.

​Namun pintu ganda itu tertutup rapat di depan wajahku.

​Kakiku yang sedari tadi dipaksa berlari akhirnya menyerah. Aku merosot jatuh ke lantai koridor yang dingin, memeluk lututku sendiri. Tanganku yang gemetar dan berlumuran darah suamiku menutupi wajahku.

​Tangisku pecah, menggema di lorong yang sunyi.

​Tiga tahun lalu, di koridor rumah sakit yang tidak jauh berbeda dari ini, aku menunggu dokter keluar dari ruang operasi untuk memberitahukan kondisi Adrian. Malam itu, aku kehilangan suamiku yang pertama.

​Kini, takdir seolah menertawakanku, mengulang kembali adegan paling traumatis dalam hidupku.

​Ya Allah... bisik batinku, memanggil nama yang baru kemarin sore kembali kuingat. Jangan ambil dia. Ambil seluruh kekayaanku. Ambil Wiratmadja Tech. Biarkan Rendra mengambil semuanya, asalkan Kau mengembalikan napas pria ini. Aku memohon pada-Mu...

​Waktu terasa seperti cairan kental yang menetes sangat lambat. Setiap detiknya adalah siksaan yang menguliti kewarasanku. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku duduk di lantai itu.

​Hingga akhirnya, terdengar suara derap langkah sepatu boots militer mendekat.

​Garda berlutut di depanku. Mantan komandan pasukan khusus itu tampak berantakan, keringat membasahi seragam taktisnya, namun matanya memancarkan rasa hormat yang tak terhingga saat menatapku. Ia menyodorkan sebotol air mineral dan selembar handuk kecil yang bersih.

​"Nyonya Aruna," panggil Garda dengan suara berat dan pelan. "Bersihkan tangan Anda."

​Aku menggeleng pelan, masih menatap pintu ruang tindakan dengan tatapan kosong. "Bagaimana aku bisa membersihkannya, Garda? Ini... ini darah orang yang melindungiku."

​Garda terdiam sejenak. Ia meletakkan botol air itu di lantai, lalu menundukkan kepalanya.

​"Tuan Bumi adalah pria paling tangguh yang pernah saya temui dalam karir saya, Nyonya," ucap Garda tulus. "Beliau menumbangkan enam pembunuh profesional tanpa satu pun senjata api. Beliau meruntuhkan kerajaan Rendra hanya dengan sebuah laptop. Pria seperti Tuan Bumi tidak akan menyerah hanya karena luka di kepalanya."

​Aku menelan ludah, memaksakan diri menatap Garda. "Bagaimana situasi di luar?"

​"Rendra sudah diterbangkan ke Jakarta di bawah pengawalan ketat Bareskrim," lapor Garda dengan nada profesional. "Rekaman audio dan bukti transfer yang disisipkan Tuan Bumi ke dalam email pagi tadi telah menjadi bukti absolut. Haris sudah ditahan, begitu juga Sarah. Wiratmadja Tech aman, Nyonya. Dewan komisaris sedang rapat darurat untuk membersihkan nama Anda."

​Berita itu... berita yang selama tiga tahun ini mati-matian kuperjuangkan, kini terdengar begitu hampa di telingaku.

​Kemenangan korporat ini terasa seperti abu. Apalah artinya sebuah takhta jika raja yang membantumu merebutnya kembali, mati dalam peperangan?

​"Aku tidak peduli pada perusahaan itu sekarang, Garda," bisikku getir. "Panggilkan dokter bedah saraf terbaik di Bali. Berapa pun biayanya. Terbangkan mereka kemari sekarang juga."

​Tepat saat Garda mengangguk dan hendak merogoh ponselnya, pintu ganda ruang tindakan itu terbuka.

​Seorang dokter pria paruh baya yang masih mengenakan scrub hijau bedah dan masker yang diturunkan ke leher, melangkah keluar. Dahinya mengkilap karena keringat.

​Aku langsung melompat berdiri, mengabaikan rasa kebas di kakiku. "Dokter? Suami saya... Bumi..."

​Dokter itu menatapku, lalu mengembuskan napas panjang yang membuat jantungku nyaris berhenti. Namun, sedetik kemudian, sebuah senyum tipis yang melegakan muncul di bibirnya.

​"Tanda vitalnya sudah kembali stabil, Ibu," ucap dokter itu.

​Lututku seketika lemas. Jika Garda tidak sigap menahan sikuku, aku pasti sudah ambruk kembali ke lantai. "Alhamdulillah... Alhamdulillah..." isakku meraup wajahku sendiri.

​"Luka di pelipis kanannya cukup dalam dan memicu pendarahan arteri kecil, yang ditambah dengan kelelahan fisik ekstrem dan dehidrasi, menyebabkan beliau jatuh pingsan ," jelas dokter itu dengan tenang. "Kami sudah menghentikan pendarahannya dan menjahit lukanya dengan tujuh jahitan luar. CT Scan menunjukkan tidak ada pendarahan intrakranial (di dalam otak), yang mana itu adalah sebuah keajaiban mengingat kerasnya benturan yang ia terima."

​"Kapan saya bisa melihatnya, Dok?" tanyaku tak sabar.

​"Beliau baru saja dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. Beliau masih di bawah pengaruh obat penenang ringan dan obat pereda nyeri, jadi mungkin masih setengah sadar. Ibu boleh masuk, tapi tolong jangan memaksanya berbicara terlalu banyak."

​Ruang perawatan VVIP itu sangat luas, dengan jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan taman rumah sakit.

​Namun mataku hanya tertuju pada satu titik. Di atas ranjang rumah sakit yang seprainya berwarna putih pucat, Bumi berbaring dengan mata terpejam.

​Sebagian kepalanya dibalut perban kasa putih yang rapi. Selang oksigen kecil melintang di bawah hidungnya. Jarum infus tertancap di punggung tangan kirinya—tangan yang sama yang terluka saat melindungiku di safe house Kemang tempo hari. Pria ini dipenuhi luka, dan semuanya... semuanya karena aku.

​Aku melangkah mendekati ranjangnya dengan sangat pelan, seolah takut suara napasku akan menyakitinya.

​Aku menarik kursi di samping ranjang, duduk, lalu dengan gemetar mengangkat tangan kanannya yang bebas dari infus. Telapak tangannya yang biasanya hangat kini terasa sedikit dingin. Aku menempelkan punggung tangannya ke pipiku, membiarkan sisa-sisa air mataku membasahi kulit kasarnya.

​"Bumi yang bodoh," gumamku di sela isakan, menatap wajah damainya yang sedang tertidur. "Pria keras kepala yang sangat bodoh. Kenapa kau harus menanggung semuanya sendirian..."

​Ruangan itu sangat hening, hanya diisi oleh suara bip pelan dari monitor jantung.

​Lama aku duduk di sana, memandangi setiap inci wajahnya. Menghitung helaian bulu matanya. Menyadari betapa aku sudah sangat bergantung pada kehadirannya. Aku tidak bisa membayangkan hidup di apartemen mewahku lagi tanpa aroma nasi goreng buatannya, tanpa suara azannya di sepertiga malam, dan tanpa kecanggungannya yang selalu berhasil membuatku tersenyum.

​Tiba-tiba, jari-jari besar di genggamanku bergerak pelan.

​Napas ku tertahan. Aku segera mengangkat wajahku.

​Kelopak mata Bumi bergetar. Keningnya berkerut menahan pening sebelum akhirnya mata cokelat gelap itu terbuka secara perlahan, menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan.

​Pandangannya yang awalnya kabur, langsung mengunci tepat ke wajahku.

​Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Tangannya yang kugenggam membalas genggamanku dengan tekanan yang sangat lemah, namun nyata.

​"Aruna..." suaranya terdengar sangat serak, parau, dan bergetar.

​"Ya. Ya, aku di sini, Bumi," balasku cepat. Aku buru-buru menyeka air mataku dengan lengan gaunku, mencoba tersenyum, meski aku tahu penampilanku pasti mengerikan. "Jangan banyak bergerak dulu. Kepalamu dijahit. Dokter bilang kau mengalami kelelahan yang luar biasa."

​Alih-alih mengeluh tentang rasa sakitnya, mata Bumi justru menyapu wajahku, leherku, hingga ke lenganku. Tatapannya terhenti pada noda darah merah pekat yang mengotori gaun sifon putihku.

​Kepanikan seketika melintas di matanya yang sayu. Ia mencoba mengangkat kepalanya dari bantal. "Darah... kamu terluka? Dia... dia berhasil menyentuhmu?"

​Aku buru-buru menahan bahunya dengan lembut, memaksanya kembali berbaring. "Ssst... Bumi, ya Tuhan, berhentilah mengkhawatirkanku! Ini darahmu. Kau yang berdarah. Aku tidak apa-apa. Tidak ada sehelai rambutku pun yang disentuh oleh bajingan itu."

​Mendengar penjelasanku, Bumi menghela napas lega yang panjang. Tubuhnya yang sempat menegang kembali rileks di atas kasur. Matanya kembali menatapku, kali ini dengan kelembutan yang membuat dadaku sesak.

​Tangan kanannya bergerak pelan, melepaskan genggamanku, lalu terangkat menyentuh pipiku. Ibu jarinya mengusap jejak air mata di bawah mataku.

​"Kau menangis lagi," bisiknya, suaranya mengandung penyesalan yang mendalam. "Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri... untuk tidak lagi membuat Ratu-ku menangis."

​Tangisku kembali pecah mendengar kalimatnya. Aku mencondongkan wajahku, menenggelamkan pipiku di telapak tangannya yang besar dan kasar.

​"Lalu berhentilah menempatkan dirimu di ambang kematian demi diriku," isakku, tak lagi peduli pada gengsi atau wibawa. "Berjanjilah padaku, Bumi. Jangan pernah lagi mengorbankan dirimu seperti itu. Aku tidak butuh pahlawan mati. Aku butuh kau tetap hidup."

​Bumi tersenyum tipis. Sebuah senyum yang sangat damai, seolah ia baru saja menyelesaikan tugas terberat dalam hidupnya dan kini bisa beristirahat dengan tenang.

​Ia menarik tangannya dari pipiku secara perlahan, meletakkannya kembali ke atas kasur. Ada perubahan atmosfer yang aneh di ruangan ini. Sesuatu yang terasa seperti... sebuah perpisahan.

​"Rendra sudah ditangkap, kan?" tanya Bumi dengan suara yang sangat pelan.

​Aku mengangguk sambil mengusap air mataku dengan tisu. "Ya. Kombes Gusti sudah membawanya ke Jakarta. Bukti emailmu menembus seluruh pertahanan hukumnya. Haris dan Sarah juga sudah ditahan. Perusahaanku... saham-sahamku... semuanya aman, Bumi."

​Senyum Bumi semakin mengembang, namun anehnya, sorot matanya terlihat meredup. Bukan karena efek obat, melainkan karena sebuah keputusan yang sedang ia ambil di dalam kepalanya.

​"Alhamdulillah," gumamnya, membuang napas perlahan. "Ibu dan Sifa juga aman di Kemang. Musuh-musuhmu sudah tidak ada lagi."

​"Ini semua berkatmu," aku menggenggam tangannya lagi dengan kedua tanganku. "Bumi, aku tidak tahu bagaimana caraku membalas semua ini. Kau mengembalikan hidupku."

​Bumi terdiam sejenak. Ia menatap langit-langit kamar rumah sakit yang berwarna putih bersih, lalu kembali menatapku. Kali ini, tidak ada kilat posesif atau percikan romansa di matanya seperti saat kami berdansa di aula resor. Yang ada hanyalah tatapan seorang pria berprinsip yang merasa tugasnya telah usai.

​"Aruna," panggil Bumi, suaranya sangat tenang, berbanding terbalik dengan badai yang mulai terbentuk di perasaanku.

​"Ya?"

​"Hutang biaya operasi Sifa yang dua miliar itu..." Bumi menjeda kalimatnya, menelan ludah dengan susah payah. "...kurasa, dengan hancurnya Rendra dan kembalinya perusahanmu, aku sudah menebus hutang itu secara lunas, bukan?"

​Napas ku terhenti seketika. Genggaman tanganku pada tangannya sedikit mengendur. "B-Bumi... apa maksudmu?"

​Bumi memaksakan sudut bibirnya terangkat, menampilkan senyum getir yang menyayat hati.

​"Tugasku sudah selesai," bisik Bumi. Matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha keras mempertahankan raut tenangnya. "Kontrak sandiwara kita... perjanjian untuk melindungimu dari Rendra... semuanya sudah berakhir hari ini."

​Kata-kata itu meluncur seperti belati tajam yang menembus tepat di tengah jantungku.

​Aku menatapnya dengan rasa tak percaya. Di saat aku baru saja menyadari bahwa aku tak bisa hidup tanpanya, pria ini justru sedang menghitung neraca hutang-piutang? Dia berpikir bahwa semua pelukan, tarian, ciuman di kening, dan darah yang ia tumpahkan itu... hanyalah bagian dari sebuah 'Tugas' yang telah lunas?

​"Bumi..." suaraku bergetar hebat. "Kau... kau membicarakan soal akhir kontrak?"

​"Kau tidak perlu lagi berpura-pura menjadi istriku, Aruna," lanjut Bumi, mengalihkan pandangannya dariku karena ia tampak tak sanggup melihat wajahku yang pasti sudah sehancur perasaanku. "Kau bisa kembali menjadi Ratu Wiratmadja Tech. Bebas dari ancaman, bebas dari gosip... dan bebas dari suami miskin sepertiku."

Udara di dalam ruang rawat VVIP itu seakan tersedot habis. Tanganku yang tadinya menggenggam tangannya dengan erat, kini merosot jatuh ke pangkuanku. Bumi baru saja mengajukan pengunduran dirinya dari hidupku, tepat di saat aku baru saja bersiap menyerahkan seluruh hatiku padanya. Pria bodoh ini benar-benar berpikir bahwa ia tidak pantas untukku, dan bahwa cintanya selama ini hanyalah sebuah tugas pelindung berbayar. Aku mengepalkan kedua tanganku di atas pangkuan. Jika Bumi mengira aku akan membiarkannya pergi begitu saja setelah ia membuatku jatuh cinta setengah mati... maka pria jenius ini telah melakukan kesalahan perhitungan terbesar dalam hidupnya.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
ʙᴜᴍɪ sᴀᴍᴀ ᴀʀᴜɴᴀ ᴜsɪᴀ ʙʀᴘ sɪʜ ᴛʜᴏʀ? ᴀᴘᴀ ʟʙʜ ᴛᴜᴀ ᴀʀᴜɴᴀ ᴅɪʙᴀɴᴅɪɴɢ ʙᴜᴍɪ? 🤔🤔😊😊
Misterios_Man: iya kak aruna lebih tua
total 1 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
ᴡᴀʜ sᴇʟᴀᴍᴀᴛ ʙᴜᴍɪ ᴀʀᴋᴀɴ ᴋᴇᴍᴀsᴀɴ sᴀᴄʜᴇᴛ ᴅᴀɴ ᴀʀᴜɴᴀ ᴋᴇᴍᴀsᴀɴ sᴀᴄʜᴇᴛ ᴀᴋɴ sᴇɢᴇʀᴀ ʟᴀᴜɴᴄʜɪɴɢ😊😊😘😘😘
Ayu
Anak Papa Bumi sama Mama Aruna Otewe launching 😄
Ayu
Yeee/Determined//Determined//Determined/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
ʜᴏʀᴇ ʜᴏʀᴇ ʜᴏʀᴇ ᴀʀᴜɴᴀ ʜᴀᴍɪʟ 😊😊😊😘😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
ᴍᴜɴɢᴋɪɴ ᴀʀᴜɴᴀ ᴀᴋʜɪʀ ɴʏᴀ ʜᴀᴍɪʟ 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
ᴀᴀᴀᴀᴀᴀᴀᴀ ᴍᴇᴡᴇᴋ ᴀǫ ᴛʜᴏʀ 😭😭😭😭😘😘😘
Ayu
sampai kapan mau disembunyikan /Scowl/
Ayu
hmm ..konflik rumah tangga, lekas baikan deh ya
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
ᴀᴋʜɪʀɴʏᴀ ᴋᴇᴛᴀʜᴜᴀɴ 😭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
ᴜᴅᴀʜ ᴅɪʙɪʟᴀɴɢɪɴ ᴋᴀɴ ᴋᴀsɪʜ ᴛᴀᴜ ᴀᴊᴀ 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
ᴀʀᴜɴᴀ ᴅᴀɴ ʙᴜᴍɪ ᴀᴍᴀᴛ sᴀɴɢᴀᴛ sᴀʟɪɴɢ ᴍᴇɴᴄɪɴᴛᴀɪ, ᴅᴀɴ ᴄɪɴᴛᴀɴʏᴀ sᴀᴍᴀ2 ʙᴇsᴀʀ ᴊᴀᴅɪ ᴘᴇɴɢᴏʀʙᴀɴᴀɴ ᴛᴇʀᴀsᴀ ʟᴇʙɪʜ ʀɪɴɢᴀɴ 😭😭😭
sitanggang
muter2 kek gangsing alurnya🤣
Misterios_Man: maklum lah pemula ga seperti Kaka yang pakar, mohon ajarin dong suhu buat karya supaya ga muter muter 🙏
total 1 replies
Ayu
Semangat Aruna 💪
ciwizay
wiradmaja tect ini perusahaan peninggala suaminya yang dibangun bersama aruna atau warisan bapaknya aruna thor.
kenapa nama aruna binti baskara wiradmaja.itu menunjukkan itu warisan bapaknya.bukan peninggalan suaminya .pdahal awal bab bilangya aruna mertahankan perusahaan peninggalan suaminya.
Misterios_Man: sebenarnya emang perusahaan peninggalan suaminya cuma pake nama keluarga aruna, karena mau di hibahkan sepenuhnya ke aruna kak.
total 1 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
ᴋɴᴘ ʜʀs ᴅɪʀᴀʜᴀsɪᴀᴋᴀɴ ᴋᴀɴ ʙɪᴋɪɴ ɴʏᴀ ʙᴇʀᴅᴜᴀ 🤔🤔🤔

ᴀʀᴜɴᴀ ɢᴋ ʙᴇʟᴀᴊᴀʀ ᴅʀ ᴋᴇsʟsʜᴀɴ sʙʟᴍ ɴʏᴀ 😭😭
ciwizay
hadeeeh setiap kali aruna bernanapas lega pasti rendra selangkah lebih maju membalas, kayak kompetisi begitu teruuus.
ciwizay
masih penasaran apa yang di inginkan rendra dari aruna,cinta aruna atau hartanya aruna
ciwizay
sarah berani mengumpankan anaknya sebagai sandra agar aruna dan bumi celaka,berarti sarah perempuan yang mengerikan
ciwizay
sumpah tegang pool
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!