"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"
"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"
Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
"Itu belum semuanya. Dia nggak hanya menggoda Ayahku, tapi juga bermain mata dengan laki-laki lain di desa. Apa kau tahu betapa parahnya Ayah dicemooh, dan digunjingkan oleh orang-orang di desa bertahun-tahun yang lalu ?" Kata Tuan Gavin
"Walau begitu, ayahku tetap menahannya. Cuma bisa menyalahkan dirinya yang nggak ada kemampuan memberikan kehidupan lebih baik kepada ibu." Sambung Tuan Gavin kepada mereka semua.
"Kenapa bisa begini ?" Ujar Nyonya Sonia.
"Demi mempertahankan ibuku, ayahku membawa ibuku bekerja di kota. Mereka mengalami banyak kesulitan, kemudian dengan susah payah, mengandalkan pengetahuan pembuatan arak yang dipelajari dari buku, mendapat penghargaan dari pemilik restoran. Sejak saat itu, ayah mulai membangun kekayaan kita." Jawab Tuan Gavin sambil menghela nafas pelan seakan-akan dadanya sesak untuk menceritakan tentang masalalu sang ibu.
"Benar. Apakah ini asal mula bisnis arak keluarga kita ?"Tanya Nyonya Sonia.
"Benar. Sampai sekarang, keluarga kami mengandalkan bisnis arak ayahku untuk jadi tulang punggung keluarga. Arak yang dibuat ayahku adalah arak terbaik." Tuan Gavin membenarkan pertanyaan dari Nyonya Sonia.
Tuan Gavin menghela nafas pelan dan melanjutkan ceritanya. "Aromanya menyebar jauh, menyentuh hati."
Sedangkan Nadira, melihat ke arah Tuan Gavin sambil membuka kembali kipas lipat yang dibawanya. Setelah itu, Tuan Gavin pun melihat ke arah Nadira, dimana Nadira masih melihat ke arahnya. tuan Gavin bingung, kenapa Nadira menatapnya seperti itu, hingga akhirnya dia celingukan mencari sana sini takut bukan dia yang dilihat oleh Nadira dari dekat.
"Nona Nadira, apa di belakangku ada sesuatu ?" Tanya Tuan Gavin sambil melihat lagi ke arah belakang.
"Nggak ada. Lanjutkan ceritamu." Kata Nadira.
"Ohhh...."
"Hal-hal yang terjadi kemudian, hampir semua orang di kota Jata mengetahuinya. Kemudian, keahlian ayahku dalam membuat arak makin meningkat, dan namanya makin terkenal. Lalu, dia mulai membuka toko sendiri. Tanpa di duga, pada saat itu, ibuku malah kawin lari dengan seorang pekerja." Sambung Tuan Gavin.
"Ini nggak mungkin" Sanggah Nyonya Sonia.
"Sonia. Saat itu kau masih kecil, tapi aku sudah besar. Aku ingat jelas hal ini." Kata Tuan Gavin sambil menunjuk ke arah kepalanya sebagai tanda bahwa ia di suruh berpikir kembali.
"Sonia, apa kau lupa tatapan kebencian di mata ibu, saat melihat kita berdua ketika kita masih kecil ?" Sambung Tuan Gavin sambil menunjuk ke arah matanya dengan amarah yang jelas.
"Haaaahhhh..."
"Lalu aku coba bilang pada ayahku. Aku bilang kita nggak perlu ibu ini. Ayahku takut, takut kami kehilangan kasih sayang ibu, lalu bawa orang untuk mengejar kembali ibuku. Dia memaafkan semua kesalahannya. Ini adalah cerita keluarga kami. Aku kasih tahu kalian semua, untuk memberi tahu kalian, bagaimana ayahku hidup selama beberapa puluh tahun ini. Mana mungkin sampai sekarang baru bisa mencelakai ibuku ?" Kata Tuan Gavin.
Sementara Tuan Gavin sibuk menceritakan kisahnya yang lalu, Nadira sekali-kali melihat sekeliling entah apa yang sebenarnya ia cari.
Sedangkan Adrian, masih saja tetap berdiri seperti patung dengan tangan yang di taruh di dada. Dia menyimak semua obrolan itu, seakan-akan tak ingin melewati hal yang akan atau mungkin disampaikan oleh Pamannya, ibunya ataupun juga Nadira.
"Kenapa kalian mengubur nenek hidup-hidup ? bukankah karena benci ?" Tanya Adrian, yang mana masih penasaran.
"Itu kejadian yang sudah sangat lama. Mana mungkin kami masih benci sampai sekarang ? Hal ini, aku dicelakai oleh Bima. Aku tahu, kau nggak bisa menerima Nenek yang paling menyayangimu, adalah orang yang seperti ini. Tapi aku kasih tahu. Saat dia melahirkan ku, ia masih saja saling menggoda dengan pemilik restoran. Dia bahkan pernah menenggelamkan kepalaku ke air, mencoba menenggelamkan ku. Kemudian, ketika dia melahirkan ibumu, dia melakukan hal yang sama. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." Jawab Tuan Gavin sambil marah-marah dan juga sambil menunjuk ke arah Ibunya Adrian.
"ibu, apakah benar ?" Tanya Adrian kepada ibunya.
"Nenekmu, memang nggak menyukai kami. Dia nggak pernah memedulikan kami, dan nggak mau memberikan perhatian kepadaku. Aku tanya padanya, dia bilang kalau ada apa pun, jangan cari dia. Dia hanya menunjukkan sedikit kebaikan saja pada generasi yang lebih muda." Kata Nyonya Sonia sambil menangis, sedangkan Adrian hanya berkacak pinggang saja seolah ia sudah mulai mengerti.
"Humph..... Hahahaha.... kebaikan ? Dia itu berhati jahat. Sekarang dia sudah tua dan takut kita nggak merawatnya, jadi dia berusaha memperbaiki hubungan ini." Kata Tuan Gavin sambil menunjuk-nunjuk ke arah adiknya itu.
Sedangkan Nadira, dia menutup kipas lipat ditangannya, dan diketuk lah meja itu menggunakan kipas lipat itu, seakan dia sudah mulai bosan.
"Sudah selesai ?" Tanya Nadira.
"Nona Nadira, aku jamin semua yang ku katakan adalah benar."Jawab Tuan Gavin.
"Tapi dia sepertinya nggak setuju dengan ucapanmu." Ujar Nadira.
Sedangkan Tuan Gavin malah celingak-celinguk seolah mencari sesuatu, tapi Nadira malah tetap melihat ke arah Tuan Gavin, sedangkan Nyonya Sonia malah melihat ke arah Nadira.
"Nona Nadira, siapa yang kau bicarakan ?" Tanya Nyonya Sonia.
"Ibumu. Dia terobsesi dan nggak mau melepaskan, mulai bersemangat saat mendengar cerita kakakmu. bahkan dalam penderitaan dan perjuangan, dia nggak mau berhenti. Coba tebak, apa kebenaran yang kau katakan membuatnya malu atau kebohonganmu yang membuatnya marah." jawab Nadira sambil melihat ke arah Tuan Gavin dan Nyonya Sonia. Sedangkan Tuan Gavin malah melihat ke arah adiknya.
"Nona Nadira, aku jamin semua yang kukatakan adalah benar. Kalau aku berbohong, aku akan disambar petir." Tuan Gavin marah sambil bersumpah dihadapan Nadira yang masih duduk dengan tenang itu, sedangkan Nyonya Sonia malah menatap kakaknya itu.
"Menurutku, semuanya bukan. Dia, pasti menderita sakit hati yang mendalam karena disalahpahami oleh anak kandungnya sendiri selama puluhan tahun." Kata Nadira, tapi Tuan Gavin dan Nyonya Sonia, malah saling menoleh seakan masih belum percaya dengan apa yang di sampaikan oleh Nadira.
"Hahahaha ..... Selama puluhan tahun berapa besarnya harapan yang ku pendam padanya, sebesar itu pula lah rasa kecewaku padanya. Ibuku memang orang seperti itu, nggak setia, nggak bertanggung jawab, dan jahat." Ujar Tuan Gavin tertawa sambil marah-marah.
Nadira menoleh kearah Nyonya Sonia seakan bertanya. "Apakah kamu juga berpikiran seperti itu ?"
Nyonya Sonia menoleh ke arah Nadira, sambil menunjuk dirinya sendiri. "Aku... ?"
"Sonia, apa kau lupa ? Saat kau kecil, sudah berapa kali kau marah kepadanya, karena dia nggak menyayangimu ?" Kata Tuan Gavin.
Flashback on
Nyonya Sonia, diam sebentar lalu mengingat dimana masa itu. Dimana, pada saat itu ibunya sedang sakit. Nyonya Sonia berada di samping ibunya sambil memegang tangan ibunya. Sedangkan dalam tidurnya ibunya mungkin merasakan sakit sehingga ia berteriak.
"Ibu.... Ibu...."Panggil Nyonya Sonia kepada ibunya yang mana ibunya sedang kesakitan itu, menggenggam tangannya sambil memberikan kehangatan pada tangan sang ibu.
"Sayang, jangan menangis. Ada ibu, jangan menangis." Kata Nyonya Erna, tapi matanya masih tertutup saat dia berbicara kepada anaknya itu.
Setelah itu, Nyonya Erna kesakitan dan berteriak dan juga Nyonya Sonia tetap memanggil ibunya itu.
"Ibu...." Panggil Nyonya Sonia sambil menggoyangkan badan Nyonya Erna sedikit agar tetap dalam keadaan sadar.
"Arvin, kau akan mati tragis."Kata Nyonya Sonia.
Flashback off
"Aku nggak berpikir begitu." Katanya kepada Nadira.