Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.
Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gejolak di Ambang Batas
Episode 18
Angin kencang bertiup melintasi Arena Agung, membawa bau karat dan debu batu yang memenuhi indra penciuman ribuan penonton yang masih terpaku di kursi mereka. Di tengah lapangan yang kini hancur berlubang, Gu Sheng berdiri tegak. Kabut hitam tipis, sisa-sisa energi dari Tujuh Bayangan yang baru saja ia lahap masih melingkar di sekeliling kakinya seperti ular-ular bayangan yang mencari mangsa baru.
Setiap napas yang diembuskan Gu Sheng mengeluarkan uap hitam yang kental. Di dalam tubuhnya, sebuah revolusi sedang terjadi.
Pusaran hitam di dalam Dantian Gu Sheng berputar dengan kecepatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tujuh praktisi tingkat Qi Refinement Puncak bukanlah nutrisi kecil; esensi mereka yang telah dikompresi oleh formasi sinkronisasi tadi memberikan ledakan energi yang sangat masif.
Gu Sheng bisa merasakan Qi-nya yang semula berbentuk uap hitam pekat, kini mulai memadat. Di dasar Dantian-nya, setetes demi setetes cairan hitam mulai terbentuk. Ini adalah proses Liquefaction perubahan wujud energi dari gas menjadi cair, tanda mutlak bahwa seseorang sedang bertransformasi dari tahap Qi Refinement menuju Spirit Sea (Lautan Ruh).
Namun, proses ini tidaklah nyaman. Jalur meridian Gu Sheng bergetar hebat, terasa panas seolah-olah ada cairan logam mendidih yang dipaksakan mengalir melalui pembuluh darahnya.
“Tahan, bocah... jangan biarkan energi itu meluap tanpa kendali!” suara Kaisar Iblis bergema dengan nada mendesak. “Kau sedang membangun sebuah lautan di dalam cangkang yang masih sempit. Gunakan Gerbang Kedua (Xiu Men) untuk memperkuat elastisitas meridianmu, atau kau akan meledak sebelum sempat menyentuh musuhmu selanjutnya!”
Gu Sheng menggertakkan giginya, urat-urat di lehernya menonjol hingga tampak seperti akar pohon yang melilit. Ia memejamkan mata sejenak, memfokuskan seluruh kehendaknya untuk menekan gejolak energi di dalam perutnya. Melalui pandangan batinnya, ia melihat pusaran hitam itu perlahan-lahan menelan energi liar dari Tujuh Bayangan, memurnikannya, dan menjadikannya bagian dari kekuatannya sendiri.
Krak!
Suara halus dari dalam tubuhnya menandakan bahwa fondasinya telah mencapai titik jenuh yang sempurna. Meskipun ia belum sepenuhnya berada di tahap Spirit Sea, namun secara kualitas energi, ia sudah melampaui kebanyakan praktisi Spirit Sea tingkat pertama yang ada di benua ini.
Gu Sheng perlahan membuka matanya. Warna merah di pupilnya kini tidak lagi hanya sekadar kilatan, melainkan seperti bara api abadi yang menyala di kegelapan. Ia mengangkat wajahnya, menatap ke arah balkon VIP di mana para penguasa kota duduk dengan wajah yang pucat pasi.
"Mu Chen," suara Gu Sheng terdengar sangat tenang, namun volumenya memenuhi seluruh stadion, membuat gendang telinga para penonton berdenyut kesakitan. "Tujuh bayanganmu sudah tidak ada lagi. Apakah kau akan terus mengirimkan semut-semut kecil ini untuk mengulur waktu kematianmu?"
Mu Chen, yang masih berdiri di tepi balkon, tampak gemetar karena amarah yang bercampur dengan rasa takut yang tak terlukiskan. Ia menatap ke arah tujuh mumi kering yang berserakan di arena—prajurit elit yang ia bangun selama puluhan tahun hancur hanya dalam hitungan menit.
"Binatang kecil..." Mu Chen mendesis, tangannya mencengkeram pagar marmer hingga pagar itu retak menjadi bubur batu. "Kau benar-benar telah menjadi monster. Kau telah menodai kesucian turnamen ini dengan cara yang paling keji!"
Mu Chen menoleh ke arah Senior Zhao (Zhao Ruo) yang duduk di sampingnya. "Tuan Zhao... Anda lihat sendiri? Ilmu iblis pemuda ini sangat berbahaya. Jika dia dibiarkan hidup, dia akan menjadi bencana bagi seluruh wilayah, bahkan mungkin bagi Sekte Pedang Langit Anda!"
Zhao Ruo menyipitkan matanya. Ia tidak lagi tampak malas. Ia menyadari bahwa kecepatan pertumbuhan Gu Sheng melampaui segala logika kultivasi yang ia ketahui. Di matanya, Gu Sheng bukan lagi sekadar sampah yang mengganggu; dia adalah ancaman yang harus segera dipadamkan sebelum menjadi tak terkendali.
"Tenanglah, Paman Mu," ucap Zhao Ruo sambil berdiri perlahan. Aura perak dari tahap Spirit Sea Tingkat Pertama miliknya mulai memancar keluar, menciptakan tekanan yang membuat udara di sekitarnya terasa tajam seperti pedang. "Aku sudah berjanji pada Lin Tian untuk membereskan urusan ini. Ilmu iblis tetaplah ilmu iblis. Di hadapan teknik pedang murni dari sektaku, dia hanya akan menjadi debu."
Zhao Ruo melirik ke arah Lin Tian. "Lin Tian, turunlah. Gunakan Pedang Azure Fang-mu. Aku akan menekan auranya dari sini agar dia tidak bisa menggunakan teknik menghisapnya itu dengan bebas. Tunjukkan pada dunia bahwa Tulang Dewa yang ada di keluargamu jauh lebih mulia daripada kegelapan yang dia bawa."
Lin Tian mengangguk mantap. Meskipun hatinya sedikit gentar melihat nasib Tujuh Bayangan, namun dukungan dari Senior Zhao dan keberadaan pedang pusaka di tangannya memberinya keberanian baru.
Wush!
Lin Tian melompat dari balkon setinggi dua puluh meter. Ia melayang di udara seolah-olah berat tubuhnya hilang, jubah birunya berkibar ditiup angin. Ia mendarat dengan anggun di pusat arena, sekitar sepuluh meter di depan Gu Sheng.
"Gu Sheng!" Lin Tian berteriak, ia segera mencabut pedang Azure Fang. Bilah pedang itu bersinar dengan cahaya biru yang sangat jernih, memancarkan aura dingin yang membekukan butiran debu di sekitarnya. "Kau mungkin bisa mengalahkan prajurit rendahan, tapi kau tidak akan pernah bisa mengalahkan takdir! Aku adalah orang yang dipilih oleh langit, sementara kau hanyalah kotoran yang merangkak dari jurang!"
Gu Sheng menatap Lin Tian dengan tatapan dingin yang tak tergoyahkan. Ia tidak langsung menyerang. Sebaliknya, ia menancapkan pedang Penebas Dosa ke lantai arena, lalu menyandarkan tangannya di atas gagangnya yang tumpul.
"Lin Tian," ucap Gu Sheng, suaranya mengandung nada ejekan yang dalam. "Setelah sebulan, kata-katamu tetap saja penuh dengan kotoran. Kau bilang kau dipilih oleh langit? Langit mana yang kau maksud? Langit yang membiarkan seorang pencuri sepertimu merasa bangga dengan barang curiannya?"
Gu Sheng melirik ke arah dada Lin Tian, seolah-olah tatapannya bisa menembus pakaian dan kulit pria itu. "Aku bisa merasakan Tulang Dewa itu di dalam keluargamu... ia sedang menangis, Lin Tian. Ia sedang meronta karena berada di dalam tubuh yang begitu kotor dan lemah."
Wajah Lin Tian memerah padam. "TUTUP MULUTMU! Hari ini, aku akan membuktikan bahwa kau salah! Aku akan memotong setiap inci dagingmu dan memberikannya pada ajg!"
Di tribun penonton, suasana kembali tegang. Ini adalah pertarungan yang paling ditunggu-tunggu, pertarungan antara sang jenius yang dikhianati dan sang jenius yang naik di atas pengkhianatan tersebut.
Mu Ruoxue berdiri di tepi balkon, matanya terpaku pada Gu Sheng. Di dalam dadanya, rasa panas dari Tulang Dewa semakin menjadi-jadi. Ia merasa seolah-olah tulang itu ingin meledak keluar dari tubuhnya untuk kembali ke tangan Gu Sheng.
"Gu Sheng... kenapa kau harus kembali?" bisik Mu Ruoxue lirih. "Jika kau mati saja di jurang itu, setidaknya aku masih bisa mengingatmu dengan sedikit rasa hormat. Sekarang... aku hanya ingin melihatmu lenyap selamanya."
Kembali di arena, Lin Tian mulai menggerakkan pedangnya. Ia membentuk serangkaian segel tangan yang rumit, membuat cahaya biru pada pedang Azure Fang semakin menyilaukan.
"Jurus Pedang Langit, Sembilan Naga Azure!"
RAAAAAAARRRRRR!
Suara auman naga yang memekakkan telinga bergema di seluruh stadion. Dari pedang Lin Tian, muncul sembilan bayangan naga air berwarna biru yang sangat besar. Naga-naga itu berputar di sekeliling Lin Tian, memancarkan aura yang sangat tajam dan dingin. Setiap naga memiliki panjang sekitar tiga meter, dengan mata yang bersinar penuh amarah.
Ini adalah teknik tingkat tinggi dari Sekte Pedang Langit, yang biasanya hanya bisa dikuasai oleh murid inti. Lin Tian, berkat bantuan sumber daya dari Keluarga Mu, telah berhasil mempelajarinya secara paksa.
"MATILAH!"
Lin Tian mengayunkan pedangnya ke arah Gu Sheng. Sembilan naga Azure itu melesat maju dari berbagai arah, mengepung Gu Sheng dalam sebuah jaring kematian yang tak terhindarkan.
Gu Sheng tetap diam. Ia bahkan tidak mengangkat pedang Penebas Dosa.
“Bocah, apakah kau akan menggunakan teknik Penelan lagi?” tanya Kaisar Iblis.
"Tidak," jawab Gu Sheng di dalam batinnya. "Menelan energi yang lemah seperti ini hanya akan mengotori Dantian-ku. Aku ingin menunjukkan padanya... apa artinya kekuatan fisik yang sebenarnya."
Tepat saat naga pertama hampir menyentuh kepalanya, Gu Sheng tiba-tiba bergerak.
BUM!
Lantai arena di bawah kakinya hancur berkeping-keping karena ledakan kekuatan fisiknya. Dalam sekejap, Gu Sheng menghilang dari tempatnya berdiri. Kecepatannya begitu tinggi hingga menciptakan beberapa bayangan sisa (after-image) di udara.
DUAK!
Tanpa menggunakan senjata, Gu Sheng menghantamkan tinjunya ke arah kepala naga Azure pertama.
Ledakan energi fisik murni yang dikombinasikan dengan berat dari Gerbang Kedua menghancurkan bayangan naga itu seketika menjadi serpihan cahaya biru. Gu Sheng tidak berhenti; ia melompat ke udara, berputar seperti gasing hitam yang mematikan.
BUM! BUM! BUM! BUM!
Dalam hitungan detik, empat naga lainnya hancur berkeping-keping hanya karena hantaman fisik Gu Sheng. Penonton ternganga. Bagaimana mungkin teknik Qi tingkat tinggi bisa dihancurkan dengan tinju kosong?
"Apa?! Bagaimana mungkin?!" Lin Tian berteriak panik. Ia segera mengarahkan sisa empat naga lainnya untuk menyerang punggung Gu Sheng.
Gu Sheng mendarat di tanah dengan sangat tenang. Ia tidak menoleh ke belakang. Sebaliknya, ia meraih gagang Penebas Dosa yang tertancap di tanah.
"Lin Tian, naga-nagamu... tidak lebih dari cacing air yang menyedihkan."
Gu Sheng mengayunkan Penebas Dosa dalam satu putaran penuh secara horizontal.
"PENYEBARAN HAMPA, TEBASAN BUMI!"
BOOOOOOOOMMMMMMM!
Sebuah gelombang tekanan udara yang sangat berat dan berwarna hitam pekat melesat dari bilah pedang tumpul itu. Gelombang tersebut tidak hanya menghancurkan empat naga sisa, tapi juga terus melesat ke arah Lin Tian dengan kecepatan yang tak tertahankan.
Lin Tian membelalak. Ia segera mengangkat pedang Azure Fang untuk menahan serangan tersebut.
KLANG!
Suara benturan logam yang sangat nyaring memekakkan telinga semua orang. Lin Tian terlempar mundur sejauh dua puluh meter, kakinya terseret di lantai arena hingga menciptakan parit yang dalam. Pedang Azure Fang di tangannya bergetar hebat, dan darah mulai mengucur dari sela-sela jarinya.
Lin Tian berlutut, napasnya tersengal. Ia menatap pedang pusakanya yang kini memiliki sebuah retakan kecil di tengahnya.
"Tidak mungkin..." gumam Lin Tian, wajahnya dipenuhi dengan ketidakpercayaan yang murni. "Azure Fang adalah pedang tingkat tinggi... bagaimana bisa pedang tumpul itu melukainya?"
Gu Sheng berjalan perlahan menuju Lin Tian, pedang Penebas Dosa terseret di tanah, menciptakan suara gesekan logam yang memicu rasa takut yang mendalam.
"Lin Tian, ini baru permulaan," ucap Gu Sheng, matanya merah menyala di tengah hujan debu. "Aku akan mematahkan setiap tulangmu, satu demi satu, sampai kau memohon untuk mati. Tapi jangan khawatir... aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja. Kau harus membayar hutang ini dengan sangat lambat."
Atmosfer di Arena Agung kini benar-benar mencekam. Pacing yang lambat ini memberikan waktu bagi setiap penonton untuk merasakan betapa mengerikannya dominasi Gu Sheng. Sang Iblis belum benar-benar mulai serius, namun Lin Tian sudah berada di ambang kehancuran.
"Siapa yang memilih langit sekarang, Lin Tian?" tanya Gu Sheng, suaranya dingin seperti salju abadi.