NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Pahit Tanpa Kafein

​Aroma lavender dan musk sintetik itu seolah masih menempel tebal di udara kedaiku, padahal sang empunya sudah pergi sejak satu jam yang lalu.

​Aku berdiri mematung di balik mesin espresso, menatap kosong ke arah pintu kaca. Suara ketukan stiletto Clara dan senyum manisnya yang merendahkan terus berputar-putar di kepalaku. Kalimat terakhir perempuan itu bagaikan kaset rusak yang menolak dimatikan: 'Jangan jadi beban untuk karier dan masa depannya.'

​Perlahan, aku menundukkan kepala. Mataku terpaku pada celemek denim yang kukenakan. Ada noda cipratan sirup cokelat dan sisa bubuk kopi yang mengering di sana.

​Pikiranku langsung membandingkannya dengan tangan Clara yang sehalus porselen, perhiasan berliannya yang menyilaukan mata, dan betapa tenang, anggun, serta elegannya ia saat menghina duniaku.

​Untuk pertama kalinya sejak Nenek mewariskan tempat ini kepadaku, aku merasa kedai yang paling kucintai ini tiba-tiba terasa begitu sempit, kotor, dan... miskin.

​"Nja? Woi, Nja!"

​Suara pekikan Nisa, karyawan paruh waktuku, sukses menarikku kembali ke bumi dengan kasar. Aku tersentak mundur.

​"Astaga, itu susunya udah hampir tumpah dari pitcher! Lo ngelamun apaan sih?!" tegur Nisa sambil buru-buru mematikan kenop uap panas mesin di depanku. Busa susu itu nyaris saja meluber dan membakar tanganku.

​Nisa menatapku dengan kening berkerut heran. "Lo sakit? Muka lo pucat banget."

​"Sori, Nis," gumamku parau, meletakkan pitcher logam itu dengan tangan gemetar. "Gue... gue cuma kurang enak badan aja. Kurang tidur."

​Nisa menyipitkan matanya, tidak sepenuhnya percaya. "Gara-gara cewek sosialita tadi ya? Gue lihat dari belakang pas lagi nyuci piring, gayanya bossy banget. Kayak mau beli satu blok ini beserta orang-orangnya. Siapa sih dia? Saingan bisnis Pak Arka?"

​Pertanyaan Nisa polos, tapi rasanya seperti menaburkan garam di atas luka terbuka. Aku menelan ludah, menekan rasa perih di dadaku.

​"Bukan," jawabku pelan, suaraku nyaris tak terdengar. "Katanya... dia calon tunangannya Arka."

​Mulut Nisa yang tadinya cerewet mendadak mengatup rapat. Matanya membulat. Sedetik kemudian, raut wajahnya berubah menjadi tatapan simpati yang paling tidak ingin kulihat saat ini.

​Jangan kasihani aku, jerit batinku. Aku tidak butuh dikasihani. Aku hanya butuh jawaban yang jujur dari Arka. Tapi, apakah di duniaku yang kotor oleh ampas kopi ini, aku punya hak untuk menuntut kejujuran dari seorang direktur raksasa properti?

​Sore harinya, tepat pukul dua siang, sebuah mobil BMW hitam parkir di tempat biasanya.

​Lonceng pintuku berdenting. Arka masuk dengan langkah ringan dan kasual. Pria itu sudah sembuh dari demamnya beberapa hari lalu, wajahnya terlihat jauh lebih segar. Ia bahkan tersenyum lebar saat matanya langsung mencariku di balik bar—jenis senyuman tulus yang biasanya sukses membuat hatiku meleleh seketika.

​"Hai," sapa Arka lembut. Ia langsung duduk di kursi stool favoritnya. "Gue kangen banget sama kopi lo. Tiga hari disuruh minum obat terus, rasanya mulut gue pait semua."

Sontak batin ku bergumam , pahit?! Kau belum tahu apa itu rasa pahit yang sebenarnya, Arka.

​Aku tidak membalas senyuman itu. Otot wajahku terasa kaku. Aku hanya mengangguk kecil, gerakanku serba mekanis. Tanpa banyak bicara, aku mulai menyiapkan Iced Americano tanpa gula. Kesunyian yang tercipta di antara kami kali ini terasa sangat berbeda bukan kesunyian yang nyaman dan menenangkan seperti biasanya, melainkan sebuah tembok beton tebal yang sengaja kubangun.

​Arka bukanlah pria yang tidak peka. Ia segera mengerutkan kening, menyadari ada yang salah dengan gesturku. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan mencondongkan tubuh ke depan.

​"Lo kenapa, Nja? Pucet banget," tanyanya cemas. "Ada masalah sama kontraktor lagi? Atapnya bocor? Atau si Revan berbuat ulah lagi hari ini?"

​"Nggak ada," jawabku pendek dan dingin.

​Aku menyodorkan gelas plastik berisi kopi hitam itu ke hadapannya dengan sedikit hentakan. "Tadi ada tamu yang nyariin lo ke mari, Ka."

​"Nyariin gue? Siapa? Vendor?" Arka mengangkat gelasnya santai, bersiap menyesapnya.

​Aku berhenti bergerak. Aku menatap lurus ke dalam manik mata kelamnya, mencari celah kejujuran di sana. "Namanya Clara. Katanya dia baru balik dari London."

​Gerakan tangan Arka terhenti seketika di udara.

​Gelas plastik yang baru saja ia pegang mungkin terasa dingin, tapi aku berani bersumpah tangannya mendadak kaku seperti es. Sorot matanya yang tadi ceria dan hangat langsung berubah menjadi tegang. Ada gurat kecemasan dan kepanikan luar biasa yang melintas jelas di pupilnya.

​Arka tidak langsung membantah. Ia tidak tertawa dan menganggapku salah dengar. Dan reaksi terdiamnya itu... adalah jawaban yang paling mengoyak dan menyakitkan bagiku. Clara benar.

​"D-dia ke sini? Ngapain?" tanya Arka akhirnya. Suaranya merendah, bergetar menahan gejolak di dadanya.

​"Cuma mampir," jawabku, memaksakan senyum getir. "Mau tahu 'warung kopi kecil' mana yang bikin lo betah sampai rela berantem sama direksi buat nge-rombak proyek mall."

​Arka memejamkan matanya, mengumpat tertahan.

​"Kenapa lo nggak pernah bilang soal dia, Ka?!" tuntutku, suaraku mulai bergetar karena emosi yang sedari tadi kutahan akhirnya tumpah. "Soal status lo?! Soal pertunangan itu?!"

​Arka menghela napas panjang dan putus asa. Ia mengulurkan tangannya melintasi meja, ingin meraih tanganku, tapi aku dengan cepat menarik tanganku mundur, berpura-pura mengambil lap meja.

​"Nja, dengerin gue dulu," bujuk Arka, suaranya memohon. "Itu cuma rencana kolot orang tua gue. Penyatuan bisnis. Gue nggak pernah setuju sama perjodohan itu. Gue sama Clara itu cuma"

​"Cuma apa, Arka?!" potongku tajam. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. "Cuma status yang bakal nentuin masa depan karier lo?! Cuma tiket emas buat jabatan lo?!"

​"Senjaa, bukan gitu maksud gue"

​"Dia bener, Ka," suaraku pecah, aku menggelengkan kepala dengan rasa putus asa. "Dunia lo itu di atas sana. Di gedung-gedung kaca yang megah. Sama orang-orang berjas dan gaun desainer. Sedangkan gue?! Gue cuma bagian dari 'proyek' yang lagi lo kerjain. Cuma mainan sementara."

​Aku menelan isakanku. "Kalau gue terus ada di sini... gue ngerasa gue cuma bakal jadi benalu. Gue cuma jadi penghambat buat masa depan lo, Arka."

​Mendengar ucapanku, wajah Arka berubah mengeras. Sorot matanya memancarkan amarah dan rasa frustrasi yang tak terbendung.

​"Jangan pernah ngomong gitu, Senja!! Lo nggak tahu apa-apa soal dunia gue atau apa yang lagi gue perjuangin buat kita!!" bentak Arka. Suaranya meninggi, menggema di dalam kedai.

​"Justru itu masalahnya!!" balasku berteriak tak kalah keras. "Gue emang nggak tahu apa-apa!! Dan lo juga nggak pernah biarin gue tahu!! Lo ngurung gue di dalam ketidaktahuan, seolah gue ini anak kecil yang nggak pantas masuk ke kehidupan asli lo!!," tangsiku pecah tak tertahan lagi.

​Arka tertegun. Matanya menatapku dengan raut wajah hancur, seolah aku baru saja menikam dadanya.

​"Mending lo balik ke kantor lo deh, Ka," ucapku lirih sambil tersedak-sedak , menunjuk ke arah pintu. Air mata deras menetes jatuh melewati pipiku. "Banyak orang yang lebih butuh lo di sana. Tunangan lo lebih butuh lo daripada warung kopi kumuh ini."

​Arka membuka mulutnya. Ia ingin menjelaskan, matanya memancarkan ribuan kata maaf. Ia tampak ingin melompati meja bar ini, memelukku, dan mengatakan bahwa Clara tidak berarti apa-apa baginya.

​Tapi alam semesta seolah ikut mengkhianati kami.

​Ponsel Arka yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar dan menyala hebat. Sebuah nama muncul di layarnya: Handoko Danadyaksa.

​Aku menatap layar itu, lalu menatap Arka dengan senyum paling miris yang bisa kubuat. Tali kekang pria itu sedang ditarik oleh majikannya.

​Arka menatap ponselnya, lalu mengatupkan rahangnya. Ia tahu ia tidak bisa lari lagi. Ia mengambil benda pipih itu dengan tangan gemetar. Ia menatapku sekali lagi dengan sorot mata yang penuh luka dan keputusasaan yang telanjang, sebelum akhirnya berbalik, melangkah pergi keluar dari kedaiku tanpa sepatah kata pun.

​Lonceng pintu berdenting pelan saat pintu kaca itu tertutup rapat.

​Aku berdiri sendirian di balik mesin espresso, ditemani keheningan yang membunuh. Mataku tertuju pada gelas Iced Americano yang bahkan tidak sempat ia sesap.

​Bagiku, sore itu segalanya terasa jauh jauh jauh!! lebih pahit daripada Americano buatanku!!. Pahit yang mengendap tanpa kafein, tanpa gula... hanya rasa sakit yang tertinggal menggerogoti dadaku.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!