No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan diatas benang tipis
Gerbang besar Chang’an menyambut mereka dengan kemegahan yang terasa palsu. Di mata orang awam, kota ini adalah pusat peradaban, tapi bagi He Xueyi, setiap sudut jalanan yang mereka lewati kini terasa seperti mulut raksasa yang siap menelan mereka bulat-bulat.
"Tuan," bisik Bian Zhi, payungnya kini tertutup dan ia gunakan sebagai tongkat penyangga, meski matanya tetap tajam mengawasi atap-atap rumah penduduk. "Kita sedang diikuti. Bukan oleh prajurit Pangeran, tapi oleh sesuatu yang... tidak memiliki detak jantung."
"Secara logika, Bian Zhi," He Xueyi menyahut, ia sengaja memperlambat langkahnya di depan sebuah kedai roti yang aromanya menggoda, "si Pangeran tidak akan membiarkan kita sampai ke Paviliun dengan membawa Jantung Naga itu tanpa pengawasan. Dia takut aku akan menemukan sidik jari energinya di dalam bola cahaya ini."
Xiao Bo, yang sudah mulai pulih dari rasa takutnya karena mencium bau makanan, berbisik dari balik saku, "Tuan, kalau begitu kenapa kita tidak lari saja? Kenapa malah lewat jalan utama yang ramai?"
"Karena lari adalah pengakuan bahwa kita takut, Xiao Bo," He Xueyi membeli sepotong roti wijen dan mengunyahnya dengan anggun. "Dan secara logika, di tempat ramai seperti ini, dia tidak bisa menggunakan sihir hitamnya tanpa menarik perhatian Biro Pengawas Langit. Kita aman... untuk sementara."
Namun, ucapan He Xueyi seolah langsung diuji. Saat mereka melewati jembatan batu menuju distrik Paviliun, seorang pelayan istana berpakaian serba putih sudah berdiri menghadang. Ia membungkuk dalam, memberikan sebuah gulungan sutra berwarna emas gelap.
"Penjaga Paviliun He," suara pelayan itu datar, hampir mekanis. "Kaisar telah mendengar keberhasilan Anda. Beliau mengundang Anda untuk perjamuan minum teh sore ini di Taman Teratai Terlarang. Beliau juga berpesan... agar Anda membawa 'oleh-oleh' dari Danau Cermin untuk diperlihatkan."
He Xueyi menerima gulungan itu dengan ujung jarinya, seolah benda itu adalah sampah yang menjijikkan. "Perjamuan teh? Secara logika, ini adalah undangan eksekusi yang dibungkus dengan aroma melati. Katakan pada Yang Mulia, aku akan datang. Tapi aku punya kebiasaan buruk: aku tidak suka teh yang diseduh oleh tangan orang lain."
Setelah pelayan itu pergi, Bian Zhi mendekat. "Tuan, ini jebakan yang sangat terang-terangan. Taman Teratai Terlarang dibangun di atas titik temu garis naga Chang'an. Di sana, kekuatan pelindung Paviliun Anda akan melemah secara drastis."
"Itulah poinnya, Bian Zhi," He Xueyi tersenyum sinis, senyum yang biasanya menandakan bahwa ia sudah menyiapkan rencana gila. "Dia ingin bermain di 'kandangnya'? Baik. Tapi dia lupa satu hal: Jantung Naga yang ada di tanganku ini bukan hanya barang pajangan. Ia adalah kunci untuk membongkar semua ilusi yang dia bangun."
He Xueyi memutar Lenteranya. Cahaya ungu di dalamnya kini berdenyut pelan, bereaksi terhadap kelopak bunga persik yang diam-diam ia ambil dari jejak kaki Pangeran tadi.
"Bian Zhi, siapkan jaring pengikat jiwa yang paling kuat. Kita tidak akan minum teh sore ini. Kita akan melakukan 'pembedahan' politik langsung di depan wajah Kaisar," perintah He Xueyi. "Dan Xiao Bo, kau punya tugas penting. Masuklah ke dalam sistem drainase istana. Cari tahu di mana mereka menyembunyikan sisa-sisa 'wadah' Jenderal Yuan."
Xiao Bo melotot. "Ke selokan lagi, Tuan Besar?! Secara logika, itu sangat tidak higienis!"
"Lakukan saja, atau kau akan kujadikan bahan isian bakpao besok pagi," ancam He Xueyi singkat.
Saat matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit Chang'an dengan warna merah darah yang mengerikan, He Xueyi melangkah menuju istana. Ia tidak tampak seperti seorang tahanan yang menuju tempat eksekusi, melainkan seperti seorang ratu yang siap mengambil alih tahta yang telah dicemari.
Di balik tembok istana yang tinggi, aroma bunga persik tercium semakin kuat, menutupi bau busuk pengkhianatan yang mulai membusuk di jantung kekaisaran.