Diana seorang gadis pintar dan cantik. Ia dipertemukan dengan seorang bos yang ternyata adalah teman masa kecilnya. Ya teman kecil yang sangat usil padanya.
Selama menjadi salah satu karyawannya, hal-hal konyol selalu terjadi dan membuat si bos dingin itu menjadi bobrok. Adu mulut dan pertengkaran kecil pun tak terhindarkan.
Hingga suatu hari mereka harus menyetujui pernikahan yang tak berlandaskan cinta satu sama lain.
Bagaimana kelanjutannya?
Yuk kita kepoin cerita sama-sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sripujiayu620, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 12
Mata Diana terbelalak saat membaca pesan dari bosnya.
"Kenapa si kutu air itu mengabari ku tiba-tiba sekali! " gerutu Diana dan kemudian beranjak dari kasurnya untuk menyiapkan perlengkapan untuk pergi besok dan memasukkannya ke dalam koper.
Diana berhenti sejenak pada aktivitasnya itu.
"Berapa hari ya di sana? " Diana bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Gak mungkin kan aku harus bertanya dengan bos sombong itu." Batin Diana.
"Palingan juga dua hari. " Diana hanya menduga dan membawa pakaian beberapa lembar saja.
Setelah selesai dengan aktivitas nya mempersiapkan perlengkapan nya, Diana langsung merebahkan tubuhnya lagi kasur nyamannya itu. Sebelum pergi ke alam mimpi, Diana sudah memasang alarm agar tidak bangun kesiangan besok.
Tepat pukul 04:30 alarm yang sudah di pasang Diana tadi malam telah berbunyi. Diana bangun dan langsung mandi.
Diana menuju dapur dan melihat neneknya juga sudah bangun lebih awal darinya.
"Kamu mau kemana pagi-pagi begini? bukannya kantor jam segini masih sepi? " Ucap Nenek Jumanti menyelidik karena melihat sang cucu sudah berpakaian rapi dan wangi.
"Tadi malem Rifki nelpon dan dia bilang kami harus ke luar daerah untuk mencek perusahaan nya. " Jujur Diana.
"Ya sudah sebaiknya kamu makan sarapan dulu ya nak. " Nenek Jumanti mengarahkan Diana untuk duduk di meja makan.
Beberapa menit kemudian rutinitas di meja makan telah selesai. Diana segera pergi menuju bandara dengan menggunakan taksi.
Sesampainya di bandara, Diana melihat sesosok yang familiar. Pria tersebut memanggil nya.
"Hei Nyet! " teriak Rifki karena jarak mereka berdua sangat jauh
Diana berlari menghampiri Rifki yang tengah berdiri tegap seperti tiang bendera sambil melihat-lihat waktu yang tertera di jam tangannya.
"Lama sekali kau! aku sudah menunggumu sekitar jam 4 pagi!" nentak Rifki.
"Jam 4 pagi saja aku masih di alam mimpi. " Jawab Diana tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
Mereka duduk sambil menunggu pesawat keberangkatan mereka.
"Sebenarnya kita akan kemana? " tanya Diana penasaran.
"Kalimantan." Jawab Rifki singkat.
Diana mengangguk mengerti.
Beberapa menit kemudian Diana dan Rifki telah berada di dalam pesawat. Diana sedikit ketakutan. Ya Diana dari kecil memang sangat takut untuk naik pesawat, itu karena di berpikiran akan jatuh dari ketinggian dan mati di tempat.
Diana masih memejamkan matanya agar ketakutan nya itu sirna. Diana seperti orang yang bertemu dengan hantu karena keringat dinginnya yang bercucuran. Tangan dan kakinya pun bergemetar seperti orang yang sedang menggigil kedinginan.
"Kamu harus kuat Diana, bentar lagi sampai ko. " Diana menyemangati dirinya dengan matanya yang masih di pejamkan.
Rifki yang duduk di samping Diana merasa risih dengan sikapnya. "Hei sudah lah jangan takut. " Rifki menepuk pelan pundak Diana agar bisa lebih tenang.
"Rileks kan saja… " bisik Rifki pada telinga Diana, namun tak di tanggapi.
"Bukannya tadi malam kau yang ingin mendoakan pesawat ini untuk jatuh dan di makan hiu? sekarang lah waktu yang tepat untuk kau berdoa. Mungkin saja yang di atas akan cepat menjabah doa mu" Bisik Rifki dan tersenyum licik.
Biasanya Diana selalu saja ada jawaban untuk di lontarkan nya pada Rifki. Namun hari ini Diana tak berkutik, ia hanya fokus untuk tenang.
"Sabarlah Diana, nanti kalau sudah sampai baru kau potong tubuh iblis jadi-jadian ini. " Batin Diana.
kata Khan peta ,,,
😅😂🤣 ithu Khan kata Dora ,,,
smga kedepan'a lebih seru dan menghibur,,,😅