Karma tidak pernah salah alamat.
Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.
Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.
Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?
Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Dua Predator
Tidak ada bedak tebal. Atau gincu merah tua. Tidak ada alis yang ditebalkan. Tidak ada polesan apa pun. Rambut digelung tinggi, hanya dengan tusuk konde kuningan.
Di kadipaten, Kusumawati selalu berdandan tebal. Tegas. Alis tajam, bibir merah, kulit putih pucat dari bedak berlapis-lapis. Itu cara dia menegaskan kedudukan. Menunjukkan kekuasaan. Membuat orang-orang takut hanya dengan tampilan luarnya.
Tapi wajah di cermin ini ...
Tampak lebih muda. Polos. Tidak mengintimidasi sama sekali. Kusumawati tidak suka.
Tapi kemudian alisnya berkerut.
‘Kalau aku berdandan seperti biasa, aku akan terlihat seperti Kusumawati. Dan kalau ada Raden Ayu lain yang kebetulan berbelanja di toko yang sama ….’
Dia melirik gincu dan bedak putih yang juga ada di dalam bungkusan.
‘Tidak.’
Lebih baik seperti ini. Wajah polos. Tidak mencolok. Tidak menarik perhatian.
Kusumawati mengambil kerudung panjang, menutupkannya di kepala. Ujungnya ditarik ke depan, menutupi sebagian wajah—hanya mata dan hidung yang terlihat.
‘Sempurna. Tidak ada yang akan mengenaliku.’
Dia berdiri, memakai sandal selop, lalu menatap pantulan dirinya sekali lagi.
‘Bukan Raden Ayu Kusumawati. Hanya Suketi. Nyai seorang perwira Belanda keparat, brengsek, dan tidak tahu malu.’
Pintu terbuka.
Jan Coen melangkah masuk dan berhenti. Matanya melebar. Mulutnya sedikit terbuka.
Dia berdiri di ambang pintu, menatap Kusumawati seperti melihat bidadari turun dari kayangan.
Dia mendekat dan Kusumawati langsung bergerak ke pintu.
"Kenapa terburu-buru?" Jan Coen mengerutkan dahi.
"Aku hafal matamu kalau seperti itu." Kusumawati tidak menoleh, terus berjalan. "Kau akan mengulanginya lagi dan berkata 'sebentar saja'."
Hening.
Lalu tawa Jan Coen meledak.
"Kau tahu pikiranku." Dia terkekeh, mengikuti Kusumawati ke pintu. "Kau mulai hafal. Bagus, bagus, bagus. Itu artinya kau mulai mencintaiku."
‘Cinta?’ batin Kusumawati sembari mendengkus pelan. ‘Apa itu cinta, aku tidak pernah percaya pada cinta.’
Kusumawati keluar dengan langkah anggun, punggung tegak, kepala terangkat.
Langkah seorang Raden Ayu yang biasa berkuasa.
"Hei …!"
Suara Jan Coen menghentikannya.
"Kau berjalan seperti itu, Raden Ayu asli di luar sana akan curiga."
Kusumawati membeku.
‘Benar juga bajingan ini. Kadang dia pintar juga.’
Dia menghela napas. Mencoba melangkah lagi. Lebih santai. Lebih biasa. Tapi susah. Puluhan tahun berjalan seperti Raden Ayu. Punggung tegak sudah menjadi otot. Langkah meluncur sudah menjadi napas.
"Masih kelihatan." Jan Coen menyusul, berjalan di sampingnya. "Tapi sudahlah. Orang akan mengira kau nyai yang sombong. Bukan hal aneh. Orang kaya baru biasanya memang begitu."
Kusumawati menggertakkan gigi.
‘Nyai yang sombong.’
‘Aku Raden Ayu. Bukan nyai sombong.’
Tapi dia menelan kata-kata itu.
‘Sabar. Sedikit lagi.’
\~\~\~
Lorong penginapan dipenuhi aktivitas pagi.
Pelayan-pelayan berlalu-lalang membawa nampan, menyapu lantai, mengganti sprei dari kamar-kamar yang sudah kosong. Aroma teh dan kudapan gurih menguar dari arah dapur.
Tapi begitu Jan Coen dan Kusumawati muncul, semua aktivitas melambat.
Tidak ada yang berani memandang langsung. Mata-mata melirik cepat, lalu mengalihkan pandangan. Tubuh-tubuh secara naluri menepi, memberikan jalan.
Tapi rasa penasaran tetap ada. Bisik-bisik samar terdengar di balik tangan yang menutupi mulut.
"Itu Tuan Jan Coen ...."
"Wajahnya ... berbeda ...."
"Wajahnya cerah …."
"Dia tersenyum!"
“Biasanya tidak pernah.”
Kusumawati bisa merasakan tatapan-tatapan itu. Para pekerja penginapan jelas mengenal Jan Coen.
Dan jelas terbiasa dengan versi pria itu yang lain, yang seperti singa sedang meriang, mudah tersinggung, meledak-ledak tanpa peringatan.
Tapi pria yang berjalan di samping Kusumawati sekarang ...
Wajah cerah. Langkah ringan. Senyum yang tidak pernah padam.
Seperti orang yang baru saja menemukan harta karun.
Dan sang nyai di sampingnya, perempuan yang berjalan dengan punggung terlalu tegak, dagu terlalu terangkat, mata yang menatap lurus ke depan tanpa peduli siapa pun. Sama berbahayanya.
Dua predator yang berjalan berdampingan.
Orang-orang menjauh tanpa disuruh. Insting memberi peringatan.
Kusumawati melirik ke arah meja resepsionis saat mereka melewati lobi.
Matanya mencari pria tua itu. Penjaga malam yang menolak memberinya kereta.
Meja hanya berisi perempuan paruh baya yang sedang menulis di buku besar.
Kusumawati menyimpan wajah pria tua itu dalam ingatan.
‘Awas kalau aku melihatmu nanti. Akan kuminta singa keparat ini menelanmu hidup-hidup.’
Di luar penginapan, kereta kuda sudah menunggu.
Bukan kereta mewah, tapi juga bukan kereta murahan. Kayu cokelat tua yang dipoles mengkilap, ditarik dua ekor kuda hitam yang sehat.
Kusir, pria Jawa setengah baya dengan blangkon dan baju lurik, membungkuk dalam saat melihat Jan Coen.
"Tuan."
Jan Coen tersenyum.
“Hari ini jalankan kereta dengan lebih hati-hati. Nyaiku istimewa.”
“Baik, Tuan.”
Jan Coen membuka pintu kereta, lalu mengulurkan tangan ke Kusumawati.
Gerakan itu aneh di mata sang kusir yang biasa melihat kebiasaan kasar Jan coen. Seperti melayani seorang ratu.
Kusumawati meraih tangan itu; besar, kasar, dan kuat. Dia membiarkan dirinya dibantu naik. Jan Coen bahkan memegangi pinggangnya saat dia melangkah masuk.
“Hati-hati, jangan sampai terjungkal dan mati.”
Kusumawati hanya bisa menghela napas, ia tak terbiasa mendapatkan perhatian sedetail ini dari laki-laki.
Setelah Kusumawati duduk, barulah Jan Coen naik sendiri. Duduk di sampingnya. Mengetuk dinding kereta dua kali.
"Jalan."
Kereta bergerak.
Jalanan di sekitar penginapan tidak terlalu ramai.
Ini kawasan malam, Kusumawati menyadari. Lebih hidup saat gelap turun, saat lentera-lentera dinyalakan dan musik mengalun dari balik pintu-pintu tertutup.
Tapi sisa-sisa semalam masih berserakan.
Di pinggir jalan, seorang pria Eropa tergeletak—pakaian kumal, wajah lebam, mulut terbuka. Masih bernapas, tapi tidak ada yang peduli. Orang-orang melangkahi tubuhnya seperti melangkahi sampah.
Lebih jauh, botol-botol kosong berserakan di selokan. Pecahan kaca berkilau di bawah sinar matahari.
Lalu deretan bangunan dengan pintu-pintu yang dicat merah.
Rumah bordil.
Bukan yang elit—cat mengelupas, kayu yang lapuk, perempuan-perempuan berpakaian tipis yang mengintip malas dari jendela lantai dua.
Kusumawati mengamati semuanya dari balik jendela kereta.
‘Seumur hidup, aku tidak pernah ke kawasan ini. Tempat tinggal setan-setan perempuan itu. Tempat terkutuk.’
Sebagai Raden Ayu, dunianya adalah kadipaten. Pendopo. Keputren. Rumah-rumah bangsawan lain atau pejabat Belanda yang dikunjungi dengan kereta tertutup dan pengawal bersenjata.
Bukan tempat seperti ini, lorong-lorong kotor dengan bau mabuk dan dosa.
"Kau ingin bertemu Nyonya Lim?"
Suara Jan Coen memecah lamunannya.
Kusumawati menoleh.
Jan Coen menatapnya dengan sorot menilai, seperti bisa membaca pikirannya, lagi.
"Aku bisa membawamu ke tempatnya." Dia menyandarkan punggung ke bantalan kursi. "Kau bisa bertanya langsung. Siapa yang menjualmu kepadanya."
Kusumawati tidak menjawab.
"Dan aku yang akan membuat perhitungan." Jan Coen melanjutkan, suaranya santai tapi ada kilat berbahaya di matanya. "Dengan siapa pun yang sudah berani mengubah nasibmu. Meski aku seharusnya … berterima kasih kepada mereka."
Kusumawati masih diam, tapi tatapannya yang penuh kebencian berubah menjadi perhitungan.
Jan Coen perwira. Jaringan luas. Eropa kelas satu. Dia bisa melakukan banyak hal.
Bisa dimanfaatkan. Melawan adik-adiknya, jika memang mereka yang menculik.
Atau melawan siapa pun yang sudah berani menghancurkan hidupnya.
jgn khawatir, bupati baru itu ga diragukan lgi kemampuannya. dijamin ga bakal menyesal telah menggantikan putramu 😁
gak sabar saat mereka dipertemukan lagi dAlam keadaan Keti sedang hamil... 🤭
knp dlu kau singkirkan hadeh kejam kan kau
tp skrg apa coba
Heu heu kangen update arjo lg ndoro..
maturnuwun uda update🙏