Di tengah kemegahan Manhattan, Liam Vance adalah pangeran es yang hancur. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh kekasihnya, Gretha, yang mengandung anak pria lain.
Dunia idealisme Liam runtuh, mengubahnya menjadi sosok dingin yang mati rasa hingga ia bertemu Anne Margaretha, mahasiswi baru asal Belanda dengan keberanian luar biasa.
Saat seisi kampus menjauhi Liam, Anne justru menantang kebekuan hatinya dengan ketulusan yang tak terduga.
Di antara luka masa lalu dan tembok pertahanan diri yang kokoh, Anne bertekad membuktikan bahwa cinta sejati bukanlah kelemahan. Akankah sinar hangat Anne mampu mencairkan badai salju abadi di hati sang pewaris Vance?
Sequel Novel Elara & Leo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembuktian diatas keraguan
Fitnah yang disebarkan Gretha seperti api yang menyambar bensin di seluruh Manhattan.
Media sosial kampus hingga tabloid hiburan kelas bawah mulai memuat headline yang menyudutkan: "Penerus Vance Seorang gay juga impoten? Skandal di Balik Sifat Dingin Sang Pangeran Es."
Gretha memberikan wawancara anonim yang menyebutkan bahwa selama tiga tahun berpacaran, Liam tidak menunjukkan ketertarikan seksual sedikit pun, bahkan untuk sekadar ciuman bibir. Publik mulai meragukan maskulinitas Liam, dan nama besar Vance pun ikut terseret dalam pergunjingan yang memuakkan.
Di dalam mansion, suasana sangat tegang. Elara (Mommy Liam) membanting tabletnya ke atas meja marmer setelah membaca komentar-komentar jahat netizen.
Sebagai ibu yang sangat mengenal putranya, ia merasa harga diri keluarganya sedang diinjak-injak oleh seorang wanita yang tidak tahu diri.
Elara langsung mendatangi kamar Liam. Ia menemukan putranya sedang duduk termenung di tepi tempat tidur, menatap dinding dengan pandangan kosong.
"Liam!" panggil Elara tegas. "Kau sudah dengar sampah apa yang disebarkan wanita itu di luar sana? Dia mengatakan kau tidak memiliki ketertarikan pada wanita!"
Liam mendongak, matanya menunjukkan kebingungan yang sangat dalam. "Mom... aku... aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apakah ada yang salah denganku? Selama tiga tahun dengan Gretha, aku memang tidak pernah merasa terangsang atau ingin menyentuhnya secara seksual.
Aku selalu berpikir itu karena aku ingin menghormatinya sampai pernikahan... tapi kenapa sekarang publik membuatku ragu pada diriku sendiri?"
Elara mendekat, duduk di samping putranya, dan memegang tangannya. "Liam, dengarkan Mommy. Kau tidak gay. Kau hanya seorang Vance yang memiliki standar moral tinggi. Ayahmu pun sangat menghormati ku sebelum kami menikah. Tapi, apakah benar kau tidak merasakan apa pun... bahkan pada Anne?"
Liam terdiam. Pertanyaan Elara menghantam tepat di jantungnya. Ia mengingat setiap ciumannya dengan Anne. Memang benar, ciuman itu terasa manis dan mendebarkan, tapi karena Liam selalu menekan nafsunya demi prinsip suci, ia menjadi bingung membedakan antara cinta dan gairah biologis.
“Apakah aku benar-benar Gay?” batin Liam menyiksa dirinya sendiri. “Kenapa aku tidak merasa meledak-ledak seperti pria lain saat melihat wanita cantik? Apakah prinsipku ini hanya pelarian dari kenyataan bahwa aku tidak bisa berfungsi sebagai pria?”
Pikiran itu membuatnya depresi. Ia mulai menjauh dari Anne selama beberapa hari karena takut jika rumor itu benar. Ia takut ia tidak bisa memberikan kebahagiaan yang diinginkan Anne sebagai wanita.
Anne, yang mengetahui kegundahan Liam melalui Liana, tidak tinggal diam. Ia tahu Liam sedang mengalami krisis identitas akibat manipulasi mental Gretha. Anne memutuskan untuk mengambil tindakan paling berani yang pernah ia lakukan.
Malam itu, Anne menemui Liam di perpustakaan pribadi yang kedap suara. Liam mencoba menghindar, namun Anne mengunci pintu dan berjalan mendekat dengan tatapan yang sangat intens.
"Liam, lihat aku," perintah Anne.
"Anne, pergilah. Mungkin Gretha benar. Mungkin aku tidak bisa menjadi pria yang kau butuhkan," bisik Liam putus asa.
Tanpa banyak bicara, Anne menarik kerah kemeja Liam, memaksa pria itu untuk menunduk. Anne tidak hanya menciumnya kali ini. Ia menempelkan tubuhnya sangat erat pada tubuh Liam, membiarkan Liam merasakan lekuk tubuhnya secara nyata.
Anne mengambil tangan Liam dan meletakkannya di pinggangnya, lalu ia mulai menciumi leher Liam dengan lembut namun menggoda.
"Katakan padaku, Liam... saat aku melakukan ini, apakah jantungmu masih berdetak normal? Apakah kau merasa dingin?" bisik Anne di telinganya.
Liam membeku. Seluruh sensor di tubuhnya yang selama ini ia kunci rapat-rapat mendadak meledak. Aroma vanila Anne yang bercampur dengan keintiman yang nyata membuat junior Liam yang selama ini tertidur lelap, tiba-tiba terbangun dengan sangat kuat.
Ada gairah panas yang menjalar dari perutnya ke seluruh tubuhnya.
Liam terengah-engah. Matanya yang tadinya sayu kini berubah menjadi gelap karena gairah yang tak terbendung. Ia meremas pinggang Anne dengan kuat, hingga Anne sedikit memekik kaget.
"Anne... berhenti... atau aku tidak akan bisa mengendalikan diri," geram Liam dengan suara bariton yang sangat berat dan maskulin.
Anne tersenyum kemenangan dalam pelukan Liam. Ia bisa merasakan kebangkitan pria itu di balik celananya.
"Jadi, masih mau bilang kalau kau impoten, Mr. Vance? Sepertinya tubuhmu baru saja membantah semua rumor Gretha dengan sangat... keras."
Liam tersentak, menyadari apa yang terjadi pada tubuhnya sendiri. Ia bukan gay. Ia hanya butuh wanita yang tepat untuk membangkitkan singa di dalam dirinya. Dan wanita itu adalah Anne Margaretha.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading 🥰