NovelToon NovelToon
The Masquerades

The Masquerades

Status: sedang berlangsung
Genre:Robot AI / Dunia Masa Depan
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Fredyanto Wijaya

Capella Starheart!

Seorang Gadis Remaja Cantik 16 Tahun baru saja pindah dari kota bawah ke kota layang Star Colossus bersama satu keluarga kecilnya.

Gadis itu tahu tidak akan ada banyak yang berubah di sana.

Memulai kehidupan baru di sebuah perumahan bernama Harmonia, menjalin ikatan baru dengan tetangga dan juga di lingkungan sekolah barunya.

Hidup berdampingan dengan Para Monster dan Kelompok Pahlawan dijuluki The Masquerades sudah biasa di zaman penuh teknologi maju sekarang ini.

Tapi yang jadi pertanyaan adalah... Ada tujuan apa Ibunya membawanya ke atas sana?



(Science Fantasy Ini Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fredyanto Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Part 6)

[BAB 6: Tur Keliling Sekolah]

Pada kartu pelajar yang sudah didapatkan, terdapat daftar durasi waktu Akademi VENOM_ Senin hingga Kamis.

Kartu itu ternyata bukan selembar plastik biasa, mengingat apa itu tadi terbuat. Dengannya, setiap pelajar dapat memeriksa jadwal pelajaran dan setiap info terbaru yang dibagikan oleh pihak Akademi. Juga akses ke loker perlengkapan mereka masing-masing.

Mungkin memang ada perbedaan waktu dengan sekolah pada umumnya tapi beginilah untuk standar sekarang.

Setiap 15 menit jeda pelajaran pertama dan kedua membuat Capella terasa seperti bintang dadakan. Maksudnya seperti orang terkenal.

Sisanya... di sana terasa normal-normal saja, jika dirinya tidak membandingkan dengan sekolah lamanya di kota bawah.

Waktu sudah menunjuk pukul 12:00 yang terpampang dalam bentuk holografik di dinding kelas.

Gelombang ketiga pelajaran yang berlangsung selama 45 menit telah usai. Kelas tiba-tiba langsung kosong dalam sekejap pas alaram jam istirahat untuk makan siang berbunyi. Capella, berbalik dari meja Flora setelah memberikan lembar pertanyaan yang sudah terisi dan langsung kembali ke kursinya.

Tangannya masih memegang pulpen saat tubuhnya bersender mantap di sandaran bangku.

Capella menghela nafas berat. Di depan kelas sana, Bu Flora baru saja berjalan keluar kelas sambil mengatur kaca mata teleskop di dahinya yang agak melorot.

Sedangkan dari arah punggungnya, kursi Galactic baru saja bergeser dengan suara halus, Psss diikuti langkah kaki yang tenang di lantai.

Galactic berlalu di sampingnya dan melompat dengan gerakan ringan ke tepi salah satu meja di arah pukul sepuluh dari Capella_ duduk menghadap samping dengan kaki yang disilangkan. "Jadi.. bagaimana menurutmu tentang tempat ini?"

Mata Galactic yang kemerahan memantulkan cahaya dari penerang ruangan di langit-langit kelas, membuat irisnya terlihat seperti kaca patri yang diisi lava.

Capella sejenak beralih melihat sekeliling ruangan yang tiba-tiba terasa terlalu besar untuk hanya dua orang, sebelum kembali pada Galactic.

"Aku.. tidak tahu," jawab Capella ragu. Suaranya tiba-tiba hampir hilang.

Galactic hanya tersenyum, "Tidak apa. Aku yakin kau akan terbiasa. Lakukan saja yang terbaik dari dirimu, " jemarinya bergerak mengetuk-ngetuk lututnya sendiri dengan ritme tertentu.

"Kamu belum lihat bagian terbaiknya," Lanjutnya, dengan tangannya yang tiba-tiba sudah memegang origami bintang ungu metalik secara ajaib. "Atau sebaliknya."

"Hey.. Bagaimana kamu...," Mata Capella fokus pada bintang tersebut. Tapi kedua tangannya langsung sigap mencari-cari origami bintang miliknya yang tiba-tiba sudah lenyap dari balik jaket one sleeve asimetrisnya.

Masih duduk menyilangkan kaki di sana, Slat! Galactic melempar origami bintang tadi seperti senjata suriken ninja. Capella langsung reflek menangkapnya walau tak sempurna.

"Berhati-hatilah. Jika aku bisa mengambil sesuatu darimu, itu berati yang lain juga bisa. Termasuk benda yang ada dilehermu," Tangan Galactic setengah tinggi saat menunjuk yang ada pada leher Capella. "Liontin itu.. Terlihat spesial. Aku yakin itu berarti bagimu."

"Memang, Ini milik...," Ucapannya menggantung. Mulutnya seperti takut meneruskan kalimat saat liontin bintang itu digenggam begitu kuat di tangannya_ Cukup memberi bekas titik merah tertekan dari setiap ujung bintang perak itu di telapak tangannya.

"...Kau benar! Ini berarti bagiku," Capella mengganti terusan dari kalimatnya. Karena nyatanya, dia tidak ingat benar kapan waktu benda itu dimilikinya. "Dan aku akan berhati-hati, terimakasih atas sarannya!"

Capella mengamati origami yang sudah kembali padanya itu untuk sesaat, lalu kembali menatap Galactic yang sedang menyisir sedikit helai rambut di sekitar keningnya.

"Aku masih tidak mengerti.. kenapa kamu... ."

"Kenapa aku begitu perhatian padamu?" Galactic memotong dan menyelesaikan kalimatnya.

Melompat turun dari meja dengan gerakan sedikit akrobatik yang terlalu luwes. Ketika dia sudah berdiri tepat di samping Capella, "Uh, ya~! Apa kau ingin sesuatu dariku atau...kamu tau.. Karena selama aku menginjakan kaki di kota ini, sebagian dari mereka melihatku seperti darah segar."

"Mm, Entahlah... Menurutmu?!" Ujung jari telunjuknya bergerak mengetuk-ngetuk dagunya sendiri. Matanya melirik ke atas_ berpura-pura berpikir hanya untuk lebih mendramatisir.

Capella hanya terdiam. Kepalanya menunduk sedikit ke meja setelah pertanyaan balik dari Galactic yang membuatnya berpikir jauh lebih keras.

Galactic merespon hanya memiringkan kepala karena lima detik kesunyiannya.

"Dengar... Kamu tidak percaya orang lain, oke aku paham, tapi... Kamu bisa percaya padaku sepenuhnya," Kalimatnya, Dia sekarang tiba-tiba naik ke atas meja Capella. Badannya setengah berputar ke samping_ menunduk langsung padanya.

Tanpa menunggu respon lanjutan darinya, Dia mencoba mengajak Capella ke Kafetaria.

"Aku tidak lapar," senyumnya tanggung. Mulutnya langsung menolak walaupun perutnya sendiri sudah merintih minta makan.

Gadis yang baru dikenalnya itu tidak menyerah.

Dia kembali memancingnya keluar kelas dengan cara lain. Student Guide. Dia memang bukan Officially resmi bertugas menjadi pemandu tur fasilitas atau disebut Student Ambassador, tapi... Dia hanya sukarela.

"Baiklah, Kalau begitu bagaimana dengan tur?" Dia lebih mendekat, tangannya yang hangat menutupi pergelangan Capella sebentar, sebelum melepaskannya lagi saat dia langsung kembali turun dari atas meja dan berpaling pergi dengan postur tegap sempurnanya. "Ayolah!" serunya dari ambang pintu saat dia berhenti sebentar.

Capella menatap dari jauh sebelum perlahan dia beranjak dari kursinya, dan mengikuti langkah Galactic yang sudah duluan pergi keluar kelas dengan senyum ciri khasnya.

Mereka berjalan melewati lorong koridor yang kini dipenuhi murid-murid lain yang lalu lalang. Galactic memperlambat langkahnya setiap kali melewati sudut tertentu, menunjuk ke ruang-ruang dengan gerakan dagunya. "Ruang lab ada di ujung sana," bisiknya. Di berbagai sudut wilayah lain di Akademi VENOM, Galactic juga menunjukan tempat seperti; aula uji coba, kelas perakitan robotik, sampai lokasi WC berada.

Dan lebih banyak lagi yang ditunjukannya.

Sebenarnya Capella tidak sepenuhnya fokus pada ajakan tur Galactic. Karena selama dirinya melintasi berbagai macam fasilitas tempat di Akademi... beberapa orang terlihat melirik udik padanya.

Mungkin ada yang salah dengan bulu matanya?

Hidungnya?

Atau mungkin tato-tato bintang ungu di kanan dan kiri wajahnya?

Tidak seperti cara pandang oleh teman-teman baru di kelasnya sendiri tadi... mereka yang dari kelas lain dan sebagian mengenakan jaket hitam VENOM lah yang mata mereka paling tertuju padanya.

Galactic berhenti di depan sebuah pintu tanpa tanda apapun.

Ketika dia mengetuknya dan langsung membukanya... memperlihatkan ruang kecil penuh monitor yang memajang kode biner berkedip. Dua remaja dengan jaket merah yang seragam melambai pada Galactic, tapi tidak menyapa pada Capella_ seakan dirinya tidak berada di sana.

Galactic hanya mengangguk sebelum menutup pintu lagi. "Mereka dari kelas Cybercode, sepenuhnya khusus dibagian pengawasan," ujarnya singkat sebelum lanjut berjalan.

Turun ke lantai dua, Galactic tiba-tiba berbelok tajam ke arah balkon setengah lingkaran yang menjorok ke tengah lobi utama dengan logo V raksasa terpampang pada dinding menjulang tinggi tepat di atas kepala mereka_ spot yang sempat dilihat Capella saat pertama kali masuk ke lobi utama.

Di ujung dekat tepi pembatas balkon sana.. Dua sosok sedang sibuk berdebat_ seorang laki-laki bertubuh ramping dengan kaos longgar dan celana pendek yang panjangnya sedikit menutupi bagian lutut, lalu seorang lagi adalah Perempuan di kursi roda canggih.

Penampilan berwarna dasar hitam_ Long-Sleeve Bodycon Mini Dress_ bermotif equalizer LED, stoking jaring gelap yang beda tinggi di kanan kiri kakinya, juga headphone biru pekat_ yang lampu neonnya terus berputar halus seperti sedang mengisi daya.

Mendongak di kurisnya, "Eric, kamu terlalu paranoid!" Wanita itu bersuara agak sumbang_ seperti hampir hilang sesaat di beberapa kata_ tapi lebih memperdalam berat suaranya sendiri saat berusaha meyakinkan yang ada di hadapannya. Kedua tanganya sampai gemas melambai-lambai di udara untuk mempertegas kalimatnya. "Kita akan baik-baik saja! Menurutmu.. hal buruk apa yang mungkin terjadi setelah itu?!"

Yang disebut Eric oleh si satunya tadi hanya merespon dengan mengedikan kedua bahunya. "Ah! Aku... ."

Perdebatan mereka berdua langsung terinterupsi saat suara Galactic bergema sampai ketelinga mereka.

Yang di kursi roda menoleh cepat_ rambut space buns Ungu Midnight-nya berayun sedikit, dan matanya tiba-tiba terbuka lebih lebar. "Ah, Gala!" Suaranya berubah lebih lembut dibandingkan ketika berbicara kepada lawan bicaranya tadi. "Kau membawa makanan kecil untukku?"

Galactic hanya merespon tertawa_ sambil mendorong pelan tapi tegas Capella ke depan. "Teman-teman.. Ini adalah Capella! Dan Capella... Kenalkan, ini Eric Foster dan si ahli DJ kami, Bellatrix Seraphine. Mereka berdua dari kelas Cybercode."

"Mereka juga yang telah memperkuat sistem keamanan Akademi ini. Duet Einstein yang diandalkan oleh Kepala Sekolah sendiri," tambahnya sedikit.

Eric hanya menelan ludah. Matanya melirik ke arah Capella dengan penilaian cepat sebelum kembali ke Bellatrix.

Kacamatanya yang terlalu tebal, berat, dan kotak melorot sedikit sebelum ujung jari tengahnya mendorong cepat bridge kacamatanya kembali ke atas.

"Oh Hai! Panggil saja aku Bella! Senang bertemu denganmu!" Bellatrix atau Bella mengendalikan sebelah roda kursinya mendekat dengan gerakan halus. Tangannya yang mengenakan sarung jari terbuka itu langsung menyalami tangan Capella yang sama-sama terbungkus kain.

Ayunan singkat sebelum ditarik kembali.

Perkenalan singkat... Matanya pun bergeser ke arah tablet yang dipeluk Capella.

"Mungkin sebagainya kau coba taruh itu untuk sementara waktu. Jika sudah rusak, itu hanya akan merepotkanmu ya kan?!" desis Bellatrix tersenyum lebar dengan gigi sempurnanya.

Capella tersentak. "Hah?! Bagaimana kamu tahu?!" Tablet di dadanya reflek lebih digeser kesamping_ gerakan spontan berusaha menyembunyikan sesuatu_ tapi wajahnya tetap menghadap depan dengan ekspresi heran dan terkejut yang bercampur.

Gadis yang biasa dipanggil Bella itu tetap menahan senyumnya.

"Oh! Dia.. Sangat peka dengan teknologi. Bella bisa mengetahui banyak hal hanya dengan melihat," Selip yang bernama Eric, melangkah lebih dekat di samping kursi roda Bella.

Tanpa sedikitpun menoleh pada Eric di sebelahnya, "Aku bisa memperbaikinya untukmu," Bella mengulurkan kedua tangannya lurus-lurus kepada Capella.

"Um tidak.. terimakasih," kakinya bergeser mundur sedikit. "Aku bisa memperbaikinya sendiri!"

"Tabletmu itu keluaran tahun 2012, Menurutmu seberapa banyak suku cadang tersisa sekarang?"

Dia terdiam berpikir. Ibunya bisa saja memperbaikinya, tapi yang dipikirkannya mempermasalahkan hal lain. Jika Ibunya tahu tablet warisan mereka dalam keadaan babak belur seperti itu entah respon apa yang akan ditunjukannya nanti.

Capella masih ragu untuk beberapa saat.

Jarinya mengetuk-ngetuk casing tabletnya. Tablet itu seharusnya masih berfungsi_ sebelum akhirnya rusak parah dan mati kerna ulah Suzi dan juga Robin.

Galactic mengangguk pelan kepada Capella, matanya melirik memberi isyarat persetujuan.

Capella memikirkan itu untuk sejenak.

Matanya melirik pada uluran tangan Bella yang masih menggantung di udara sebelum...Capella membuka pelukan tablet itu dari dadanya seperti pintu belakang kontainer truk jenis -Ramp Door- dengan gerakan pelan.

Tanpa mengatakan apapun dia memberikannya kepada Bella.

Masih ada keraguan tapi dia menoba percaya.

"Percayalah, aku lebih tahu ini daripada makan siangku. Piece Of Cake ! " Serunya tanpa ragu, kepalanya bergerak lincah seperti hampir putus_ entah antara ingin mengangguk atau menggeleng. Eric yang berdiri dibelakangnya hanya menggaruk pelipis.

"Kau bisa ambil lagi setelah bel pulang," Lanjutnya. Tanpa mengecek apa saja kerusakan pada tabletnya, tangannya langsung memeluk mantap perangkat persegi itu di dadanya_ seakan benda itu adalah miliknya sendiri. "Kita akan betermu lagi di halaman depan."

Capella hanya bisa memandang tablet warisan itu sudah berada di tangan orang lain. Dia agak khawatir dan merasa tidak nyaman. Selama ini dirinya hampir tidak pernah jauh dari tablet itu dan sudah menjadi bagian dari dirinya.

Ketergantungan?! Ya, mungkin begitu! Tapi hanya beberapa jam berpisah mungkin tidak masalah baginya. Selama dia tidak terus memikirkan tablet itu seperti seseorang yang rindu dengan kekasihnya yang terpisah oleh jarak.

"Baiklah kalau begitu! Sepertinya aku harus pergi," Bella izin, segera pergi dari sana. Kursi rodanya mundur sedikit sebelum berbalik ke arah kiri_ dimana Eric sedang berdiri di arah pukul empatnya tapi dia tidak menyadarinya.

Eric yang berusaha menghindar malah tersandung kakinya sendiri... dan akhirnya kejadian memalukan pun terjadi.

Tubuhnya yang ramping limbung dan terjungkal ke depan. Tangannya yang hanya mencoba menahan jatuh tubuhnya malah tanpa sengaja menyambar paha Bella. Bella sontak terkesiap, seluruh tubuhnya bergetar seperti tersetrum kabel listrik. "HAH!" Dia menjerit pendek.

"Ma Maaf! Aku...," Eric buru-buru berdiri tegap, wajahnya memerah sampai ke telinga. Tapi sebelum sempat menyelesaikan kalimat, roda kursi Bella sudah melindas ujung sepatunya dengan gerakan tajam.

"Kau ini!! Apa yang kau sentuh?!" geram Bella sambil mendorong kursinya mundur. Tapi Capella melihat sudut mulutnya berkedut seolah menahan senyum dan tawa. Eric hanya menggosok sepatunya yang penyok dengan muka masam, tapi matanya tetap tak bisa lepas dari Bella.

Capella hanya bisa tersenyum melihat kejadian tidak teduga itu. Tapi tawanya meledak di dalam diri.

Galactic menggeleng dengan bibir yang tersenyum tipis_ lebih hambar dari Capella, sebelum dia menarik lengannya. "Mereka selalu seperti ini," bisiknya. Arah matanya masih melirik pada kedua rekannya tadi saat memutar badan berpaling, lalu sepenuhnya fokus pada arah di depannya.

Bella mendengus keras, mencoba menggunakan kursi rodanya untuk melindas lagi tapi Eric sigap menjauhkan kakinya. Bella berusaha meraih-raih untuk mendapatkan lengan Eric yang masih berusaha memohon maaf padanya tapi dia sudah terlanjur gemas.

Alis-alisnya menurun drastis.

...----------------...

Akademi VENOM terasa jauh lebih luas dari yang dia kira ketika Gala atau Galactic memberinya tur. Itupun belum semua ditunjukannya.

Hanya yang penting dan sebatas tempat yang diketahuinya selama berada di sana.

Setelah tiga puluh menit jam istirahat makan siang usai, Capella dan Galactic kembali ke kelas untuk menyambung jam pelajaran keempat_ yang berarti jam terakhir.

Mereka selesai pukul setengah dua siang.

Dan sudah waktunya!

Setelah terjebak dalam jam-jam pelajaran yang umumnya membuat para pelajar di sekolah biasa bosan... waktu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Alaram pulang sekolah berbunyi.

Di tengah Bu Flora masih sibuk mempraktikkan proses merakit tahap kedua belas dari hasil gabungan barang-barang bekas masa lama yang masih disimpannya... suara itu memecah suasana kelas.

Suara dering statis terdengar dari langit-langit kelas, dan juga dari lorong koridor di luar ruangan.

Seisih kelas spontan mendongak... termasuk Bu Flora sendiri. Matanya masih tertutup lensa teleskop saat tangannya sibuk mengotak-ngatik langsung diam di tengah proses.

"Akhirnya!" Bisik Robin kepada Suzi, langsung semangat dalam sekejap. Tangannya langsung mengambil buku dari atas meja, dan menggendong anak anjing robot hasil rakitan yang baru diselesaikannya setelah sekian usaha tiga bulan lamanya.

Capella belum sempat menutup buku hitam bersampul logo V itu ketika seluruh kelas_ kecuali Galactic_ bergerak seperti satu organisme panik. Kursi-kursi mereka berdesis saat jalur rel kecil lantai di bawah kaki mereka mundur hampir bersamaan.

Ruangan itu sudah kosong sebelum Flora yang baru membuka mulut sempat mengeluarkan kata pertama.

Flora masih berdiri di balik mejanya. Kaca mata teleskopnya diangkat ke kepala saat melihat mereka langsung berlalu keluar pintu begitu saja.

Bibirnya sekarang terkatup rapat, lalu hanya bergerak sekali untuk membentuk kata "Dah..." yang nyaris tak terdengar. Tangannya yang setengah terangkat melambai singkat sebelum jatuh menggantung lemas di samping tubuhnya.

Jari-jarinya gemetar meraih tali ring di atasnya untuk menurunkan wadah penyimpanan barang itu lagi.

Tapi dia lebih dulu sibuk mengurus hal lain. Tubuhnya agak memutar berpaling dari arah barisan bangku murid dan menekan sebuah tombol merah yang ada pada dinding di sudut kelas dekat mejanya berada.

Panel besar terbuka seperti pintu garasi atau wadah pembuangan belakang truk sampah.

DRAK DRAK DRAK... Suara berat mesin dari roda gerigi berputar di balik sana_ suara yang memecah kesunyian. Barisan rak bergeser satu kali dari atas ke bawah saat tangannya menarik tuas. JRAK!

Di balik ruang pada dinding itu, barisan rak berputar seperti roda kincir ria.

Galactic yang masih duduk di belakang Capella menghela nafas berat. Dari cara dia menatap kepada Bu Flora... Dia sepertinya merasa kasihan dan kecewa disaat beramaan.

"Kasihan Ibu Flora. Dia terlalu baik untuk akademi ini," Bisiknya benar-benar pelan, saat dia mulai beranjak keluar mejanya dan melangkah perlahan ke arah meja guru. Tangannya membawa buku hitam bersampul logo V yang sama seperti yang lainnya saat mereka pergi.

Capella mengikuti Galactic dengan langkah hati-hati, matanya menangkap bagaimana cara Guru muda itu sekarang sibuk menaruh kembali part-part benda dari generasi lama yang biasanya akan dibuang oleh kebanyakan orang lain.

Tangannya yang awalnya lincah di pembukaan jam kelas sekarang bergerak kaku dan lambat seperti mesin yang hampir kehabisan tenaga.

Capella mulai ikut kasihan.

Dengan langkah senyap, Capella menyelip lebih dulu kedepan Galactic yang sudah berhenti di dekat meja Flora. Dari balik punggung Flora yang masih sibuk menaruh berapa barang, "Bu Flora..." Capella memanggilnya pelan.

Tidak seperti biasanya dia membuka percakapan. Karena dirinya memang seharusnya tidak ahli dalam hal itu.

Flora langsung menoleh dalam sedetik. Matanya yang terlihat berkaca-kaca langsung melirik ganti cepat pada Capella dan Galactic. Ada sedikit air mulai turun di sudut matanya sebelum dia buru-buru menggosoknya dengan punggung tangan. "Oh! Capella, Gala..." Suaranya terdengar pecak. Dia tidak menyadari kalau mereka dari tadi masih berada di kelas. "Kenapa.. Kenapa kalian masih disni?"

"Um... Kami hanya...," bingung harus mengatakan apa. Capella ingin menoleh pada Galactic tapi tidak jadi. "...Ibu butuh bantuan?!"

"Oh Tidak.. Tidak usah," Sahut dia apa adanya, Flora mempercepat gerakan tangannya yang berpindah-pindah. Tombol merah tadi kembali ditekannya dan panel besar itu kembali bergerak menutup.

Tapi sebelum panel yang gerakan buka tutupnya seperti garasi otomatis itu sepenuhnya menutup rapat, tangannya sudah lebih dulu mengurus yang ada di atas mejanya.

"Bu Flora.. " Capella mencoba menarik perhatiannya lagi. Suasana lebih lirih lebih prihatin.

" ... " Bu Flora tidak menyahut lagi. Buku terakhir sudah kembali ditaruhnya. Wadah yang sudah penuh itu lalu didorong keatas dan sisanya... mesin itu mulai bergerak menarik otomatis. Semua barang miliknya kembali tersimpan di atas sebelum panel kembali tertutup dengan bunyi Klak! Kunci otomatis dari balik atas plafon.

"Maaf anak-anak... sebaiknya Kalian segera pulang," Putusnya tiba-tiba, langsung bergegas menuju pintu kelas. Arah pandang Capella dan Galactic mengikuti pergerakan Bu Flora yang terburu-buru sebelum keberadaannya menghilang ketika dia langsung berbelok menuju lorong di luar.

Capella dan Galactic hanya terdiam saling memandang satu sama lain, sebelum kembali memandang arah Bu Flora keluar tadi.

Arah yang kini kosong.

1
7 ANGEL KNIGHT
Pengumuman:
Sebelum mulai membaca... Ini Novel tema Science Fantasy Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya. Jadi bagi yang mau penuh konflik atau temanya benar-bener Dark berarti nggak cocok ya! 😄 Karena Ini lebih ke School, Campur Drama Di Sekolah, Rumah, Lebih Santai lah pokoknya. Tapi perlahan konflik permasalahan utamanya mungkin makin naik dan jelas menuju akhir! So.. Happy Reading! 😍
7 ANGEL KNIGHT
/Casual//Casual//Casual/
7 ANGEL KNIGHT
Terimakasih yang udah mau mampir dan baca, Mudah-mudahan suka dengan dunia yang aku buat di sini! Dan silahkan semisal ada yang mau ditanya, atau semisal ada "Anomali" di novel aku silahkan kasih tau aja nanti aku cek ya, Thankyou📝
T28J
lanjutannya kak
7 ANGEL KNIGHT: Iya👍 Ini lagi ada sedikit rapihin yang udah ada dulu ya. Otw bab barunya. Episode 1= 6 Bab semua udah dirapihin dan siap baca. Untuk Episode 2 sama 3 tunggu ya masih dirapihin soalnya👍
total 1 replies
T28J
Thor, ini masih narasi semua, ceritanya kapan dimulai? 🤔
T28J: oke gak papa Thor, saya juga maklum karena ini fantasi
total 2 replies
T28J
masih sedikit bingung dengan kata-kata dari penjelasannya...
semua masih berisi narasi, semoga di next chapter semua menjadi lebih aktif 👍👍👍
tetap semangat Thor, saya suka tema fantasi 🔥
7 ANGEL KNIGHT: Chapter selanjutnya juga jangan lupa di baca ya😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!