IG: ras_by.ar_
Fuxin (70 tahun), seorang Queen Mafia asal Tiongkok yang tidak begitu terkenal geng Mafia nya. Meninggal karena habis usia, tidak terima harus masuk neraka karena merasa dia tidak pernah berbuat kejam.
Maka Kakek langit memberinya sebuah misi untuk pergi ke dunia Beastman. Dengan misi harus menjaga dunia dari kepunahan, dia di bekal dengan sebuah sistem melahirkan banyak keturunan.
Siapa takut? Tidak tahu saja pekerjaan lainnya selain sebagai Queen Mafia Gadungan adalah sebagai Sugar Mommy.
"Banyak sekali laki-laki tampan yang Sixpack di sini?!"
"Kamu imut sekali! Bulu dan kuping nya sangat lembut!" -Fuxin.
"Kakak, aku belum dewasa!" Jantan yang belum dewasa dengan merona.
[ Tuan rumah tolong serius! Jangan mengoleksi suami terus, tidak tahu ya sedang misi? ]
"Kamu pikir aku sedang apa? Tentu saja membuat keturunan untuk misi!"
Sistem menghela napas, entah Kakek langit terlalu tepat memilih host atau emang perempuan ini agak eror...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Fuxin, Yuan, dan Susu segera bergegas menuju sungai. Matahari sudah mulai condong ke barat, menuruni punggung langit perlahan, memancarkan cahaya jingga keemasan yang memantul di permukaan air. Angin sore bertiup sejuk, membawa aroma lembap dari bebatuan basah dan tumbuhan liar di sekitar tepi sungai.
Suara gemericik air semakin jelas terdengar seiring langkah mereka mendekat. Sungai itu tidak terlalu lebar, namun cukup dalam di beberapa bagian, dengan arus yang tenang dan jernih. Dasarnya terlihat dipenuhi batu-batu besar yang halus akibat terkikis waktu.
Setibanya di tepi sungai, Yuan menoleh pada Fuxin dan berkata dengan nada hormat,
“Nona, Kakak kalian tunggu saja di sini. Biar aku yang mengambilnya.”
Tanpa menunggu jawaban, Ze Yuan melompat ke dalam air. Tubuhnya tenggelam sesaat, lalu kakinya berubah menjadi ekor siren berwarna biru gelap yang berkilau tertimpa cahaya matahari. Gerakannya luwes, seperti ikan yang menyatu dengan air.
Fuxin memperhatikan dengan kagum. Meskipun sudah terbiasa melihat perubahan bentuk mereka, tetap saja rasanya luar biasa setiap kali menyaksikannya secara langsung.
Tidak lama kemudian, permukaan air bergolak pelan. Sebuah batu besar dengan bagian tengah agak cekung muncul mengambang, didorong dari bawah. Tak lama setelah itu, Yuan muncul ke permukaan sambil mendorong batu tersebut menuju tepi sungai.
“Nona, apakah seperti ini?” tanyanya sambil terengah ringan.
“Iya, itu benar!” seru Fuxin dengan senang. “Itu yang kita butuhkan.
Yuan berenang ke darat, lalu berdiri dengan ekornya kembali berubah menjadi kaki manusia. Ia mengangkat batu itu dari air, tetesan-tetesan kecil masih menetes dari permukaannya.
“Apakah berat? Biar aku bantu,” ucap Fuxin refleks saat melihat ukuran batu itu yang hampir setinggi lututnya.
Namun Yuan langsung menggeleng.
“Tidak Nona, ini ringan kok. Aku bisa mengangkatnya.”
Dengan satu tarikan napas, ia mengangkat batu tersebut seolah tidak ada beban sama sekali. Fuxin tertegun melihatnya. Batu sebesar itu, bahkan bagi dua orang manusia dewasa, seharusnya cukup merepotkan.
“Aku tidak menyangka,” ucap Fuxin jujur. “Ternyata kamu sangat kuat.”
Yuan terdiam sesaat. Wajahnya yang biasanya terlihat kusam dan dingin kini memerah samar di bagian tulang pipinya. Dengan suara hampir seperti bisikan, ia berkata,
“Terima kasih…”
[ Nilai afinitas Yuan meningkat 5 poin, nilai saat ini 78 (Menyukai) ]
Fuxin menggaruk kepalanya sambil tersenyum kecil. Dalam hati ia bergumam,
‘Mengapa dia mudah sekali menyukaiku? Tapi… mungkin aku memang imut dan kiyowo.’
Mereka bertiga berjalan pulang menuju gua. Lokasi tempat tinggal para siren memang tidak jauh dari sungai, hanya beberapa menit berjalan kaki. Di sepanjang jalan, cahaya matahari perlahan memudar, digantikan warna keemasan yang semakin lembut.
Sesampainya di dalam gua, Fuxin menunjuk sebuah area tidak terlalu jauh dari pintu masuk, namun juga tidak terlalu dalam. Tempat itu cukup datar dan kering.
“Letakkan di sebelah sini,” ucapnya.
Yuan mengangguk dan meletakkan batu tersebut dengan hati-hati.
“Sekarang kita tinggal menyiapkan batu ini untuk dijadikan tungku,” gumam Fuxin sambil memeriksa bagian cekungan di tengah batu.
“Nona,” kata Yuan tiba-tiba, suaranya terdengar sungguh-sungguh. “Apa pun yang ingin kamu lakukan, katakan saja padaku. Aku akan melakukan semua yang kamu suruh.”
Fuxin menoleh, agak terkejut namun juga merasa hangat mendengarnya.
“Kamu baik sekali. Baiklah… aku akan merepotkanmu lagi.”
Sekali lagi, wajah Yuan memerah, kali ini lebih jelas. Fuxin merasa geli melihat reaksi jantan siren yang satu ini, yang tampak garang namun ternyata sangat mudah malu.
[ Nilai afinitas meningkat 1 poin, nilai saat ini 79 (Menyukai) ]
Satu poin lagi, dan perasaan itu akan berubah menjadi cinta.
Saat Fuxin hendak kembali menggoda Yuan, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah kolam di ujung gua, tempat para siren biasa berkumpul.
“Li Yuan! Su Hopu! Li Guan! Apa yang terjadi pada kalian?!”
Itu suara Susu, terdengar panik.
Fuxin dan Yuan langsung bergegas mendekat. Saat tiba di kolam, Fuxin terkejut melihat tiga jantan siren tergeletak di tepi air. Tubuh mereka dipenuhi luka cakaran, beberapa cukup dalam hingga tampak mengeluarkan darah berwarna kebiruan.
“Apa yang terjadi?” tanya Yuan dengan nada tegang.
Namun Fuxin langsung memotong,
“Nanti saja bertanya. Kita harus segera mengobati luka mereka.”
Tanpa menunggu persetujuan, Fuxin berlari keluar gua untuk mencari tanaman herbal yang biasa ia gunakan. Yuan refleks hendak mengikutinya.
“Eh, Nona. Aku ikut—”
Namun baru saja Fuxin sampai di mulut gua, langkahnya terhenti mendadak.
Di sana, berdiri sosok yang sangat ia kenali.
Jantan serigala yang ia temui semalam.
Bulu peraknya berkilau terkena sisa cahaya matahari senja, matanya tajam namun tenang. Ia berdiri seolah sudah lama menunggu.
“Kamu… Ye Ling?” ucap Fuxin kaget. “Sedang apa di sini?”
“Mengambil obat untuk tiga siren itu,” jawab Ye Ling datar. Tanpa banyak bicara, ia langsung melangkah masuk ke dalam gua.
“Tunggu!” Fuxin refleks mengejarnya.
Di belakang mereka, Yuan berdiri terpaku. Ia melihat punggung Fuxin yang berlari mengikuti jantan serigala itu, dan entah kenapa dadanya terasa sesak.
Padahal mereka hanya mengobrol singkat. Tidak ada sentuhan, tidak ada janji. Namun Yuan merasa ada sesuatu yang mengganggu di dalam hatinya—perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Cemburu.
Dan untuk pertama kalinya, Yuan menyadari bahwa ia mungkin tidak sendirian dalam memperebutkan perhatian Fuxin.
***
Sedikit dulu, author sakit huhuhu... 🥳
ditunggu s2 kak