NovelToon NovelToon
Vengeance Of A Killer.

Vengeance Of A Killer.

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Anak Genius / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Ilmu Kanuragan
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Lucas, pembunuh bayaran paling mematikan dari Akademi Bayangan Utara, adalah master pisau dengan elemen air yang tak tertandingi. Obsesinya untuk menjadi yang terbaik dan persaingannya dengan Diana, senior ahli pedang es, membentuk dirinya. Namun, kedamaian hancur saat akademi diserang. Master Loe dan Niama gugur, memicu amarah Lucas yang melepaskan kekuatan airnya menjadi badai penghancur. Di tengah reruntuhan, Lucas bersumpah membalas dendam atas kematian mereka. Dengan sebuah lambang spiral gelap sebagai petunjuk satu-satunya, ia memulai misi pencarian dalang di balik kehancuran ini. Akankah balas dendam mengubahnya atau ia menemukan kebenaran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyempurnaan Klon Air

"Kudengar Master Brian sering mengadakan pertemuan di menara itu setiap malam bulan purnama," bisik seorang murid kepada temannya, suaranya sedikit tertahan. "Dan hanya murid-murid senior yang dipercaya yang boleh hadir." Lucas mencatat detail itu dalam benaknya. Bulan purnama, itu berarti ia punya jendela waktu yang terbatas.

Lucas tahu jika ingin mendekati menara itu, ia harus bertindak sangat hati-hati. Menara itu letaknya di bagian paling belakang sekte, dikelilingi taman terlarang yang jarang dilalui murid biasa. Penjagaan di sana pasti berlapis dan ketat, jauh lebih rahasia daripada area lainnya.

Ia kembali membuka peta sekte yang ia sembunyikan. Jari-jarinya melacak jalan setapak yang paling tidak terlihat, mencari celah di antara pepohonan rimbun dan dinding-dinding tinggi. Lucas mempertimbangkan setiap detail, bahkan arah angin dan bayangan yang akan terbentuk saat malam.

"Malam ini bulan purnama," gumam Lucas pada dirinya sendiri. Ia harus siap. Rasa gugup bercampur dengan tekad kuat. Ini adalah kesempatan terbaiknya untuk menyelidiki, bahkan jika itu berarti mempertaruhkan segalanya.

Lucas menghabiskan sisa hari itu dengan latihan rutin, memastikan tidak ada yang mencurigai gerak-geriknya. Ia masih berpura-pura menjadi murid biasa, yang terkadang canggung dengan pedang, tetapi penuh semangat. Setiap interaksinya di sekte, setiap senyum ramahnya, adalah bagian dari penyamarannya.

Saat malam tiba, Lucas menunggu hingga sebagian besar murid terlelap. Suasana sekte mulai hening, hanya ada suara jangkrik dan angin malam yang berdesir. Ia mengenakan pakaian serba gelap, yang ia temukan di lemari kamarnya, berharap bisa menyatu dengan kegelapan malam.

Lucas menyelinap keluar kamar, bergerak tanpa suara. Ia menggunakan elemen airnya untuk meredam langkah kakinya, membuatnya berjalan seringan bulu. Lorong-lorong yang biasanya ramai kini terasa sunyi dan panjang, menciptakan ketegangan yang mencekam.

Ia menghindari patroli penjaga dengan mudah, mengubah dirinya menjadi gumpalan air tipis yang mengalir di balik bayangan atau menyatu dengan embun di dinding. Kemampuan penyamaran airnya telah berkembang jauh sejak pertarungan melawan Raven.

Setelah beberapa saat, Lucas berhasil mencapai taman belakang sekte. Udara di sini terasa lebih dingin, dan pepohonan menjulang tinggi, menciptakan labirin bayangan yang sempurna. Menara terpencil itu menjulang di kejauhan, siluetnya yang gelap tampak misterius dan penuh rahasia.

Ia mendekati menara itu dengan sangat hati-hati. Aura energi gelap yang samar-samar bisa ia rasakan, memancar dari dalam menara. Itu adalah jenis energi yang sama yang dikeluarkan Raven saat pertarungan mereka, namun kali ini jauh lebih kuat dan pekat.

Lucas menemukan semak-semak lebat di dekat dinding menara, tempat yang sempurna untuk bersembunyi. Ia merunduk, mengamati sekeliling. Ada dua penjaga yang berdiri di depan pintu menara, postur mereka tegak dan pedang mereka tergantung di pinggang, memancarkan aura bahaya.

Ia mencoba menyerap informasi lebih jauh, mendengarkan percakapan dari dalam menara. Suara-suara samar terdengar, tetapi ia tidak bisa menangkap detailnya. Hanya ada bisikan-bisikan rendah dan tawa licik yang sesekali menyeruak, membuat bulu kuduk Lucas merinding.

Lucas sadar tidak bisa mendekat lebih jauh tanpa terdeteksi. Ia memutuskan untuk mencari titik pengamatan lain, mungkin di atas pohon atau di balik dinding. Ia harus melihat apa yang terjadi di dalam menara itu, siapa saja yang hadir, dan apa yang mereka rencanakan.

Ia memanjat salah satu pohon tertinggi di dekat menara, menggunakan cengkeraman elemen airnya untuk memastikan pijakannya tidak goyah. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat sedikit bagian dalam menara melalui celah jendela yang terbuka. Pemandangan itu membuatnya terkejut.

Di dalam, Master Brian duduk di sebuah singgasana gelap, di hadapan beberapa murid senior yang berlutut. Di antara mereka, Lucas mengenali beberapa wajah yang sering ia lihat di halaman latihan, termasuk Ellyza. Master Brian memegang sebuah bola kristal hitam yang memancarkan energi gelap pekat.

Master Brian berbicara dengan nada rendah, suaranya dipenuhi otoritas yang menakutkan. "Kekuatan gelap akan segera bangkit sepenuhnya," katanya, "dan kalian adalah kunci untuk kebangkitan itu." Lucas merasakan hawa dingin menjalari tulangnya. Ini lebih serius dari yang ia duga.

Salah satu murid senior yang berlutut, seorang pemuda yang tampak bersemangat, mengangkat kepalanya. "Apa yang harus kami lakukan, Master Brian?" tanyanya, suaranya dipenuhi antusiasme yang aneh.

Master Brian tersenyum licik. "Kalian harus mengumpulkan lebih banyak energi spiritual dari murid-murid sekte. Semakin banyak yang kalian kumpulkan, semakin cepat kekuatan gelap ini akan mencapai puncaknya." Lucas tidak percaya apa yang ia dengar. Master Brian menggunakan murid-murid sekte sebagai tumbal.

Lucas melihat Ellyza di antara mereka, wajahnya tampak tegang, tapi ia tidak melakukan apa-apa. Apakah ia dipaksa atau ia juga menjadi pengikut Master Brian? Pertanyaan itu berputar di benak Lucas. Ia harus menemukan cara untuk mengungkap kebenaran ini.

Ia tidak bisa tinggal lebih lama lagi. Deteksi elemen Master Brian mungkin saja bisa merasakan kehadirannya jika terlalu lama di sana. Dengan hati-hati, Lucas turun dari pohon, bergerak mundur secara perlahan, menjauh dari menara terkutuk itu.

Kembali di kamarnya, Lucas berbaring di ranjang, mencoba memproses semua informasi yang ia dapatkan. Master Brian bukan hanya dalang di balik kehancuran akademi, tetapi juga berencana untuk membangkitkan kekuatan gelap, menggunakan murid-murid sekte sebagai korban.

Lucas tahu ia harus bertindak cepat. Ia harus mencari cara untuk menghentikan Master Brian, tetapi ia tidak bisa melakukannya sendiri. Ia butuh bantuan, dan orang pertama yang terlintas di benaknya adalah Diana.

Ia harus mencari cara untuk berbicara dengan Diana, mengungkap kebenaran tentang Master Brian, dan meyakinkannya untuk bergabung dengannya. Namun, itu akan sulit, mengingat Diana sangat menghormati Master Brian sebagai mentornya. Lucas harus sangat berhati-hati agar tidak membahayakan Diana.

Malam itu, tekad balas dendam Lucas semakin membara, bercampur dengan keinginan kuat untuk melindungi Diana dan murid-murid sekte yang tidak bersalah. Ia tidak akan membiarkan Master Brian berhasil dengan rencana jahatnya.

Selain mencari Diana, Lucas juga punya rencana cadangan yang lebih rumit, ia ingin menciptakan klon air yang tidak hanya mirip secara fisik, tetapi juga mampu meniru emosi dan perilaku manusia secara meyakinkan. Ini adalah upaya untuk menyusup lebih dalam ke struktur sekte tanpa dicurigai, bahkan oleh Master Brian sendiri. Lucas membayangkan klon-klon itu akan menjadi mata dan telinganya yang tidak terlihat, bisa berinteraksi dengan orang lain, dan mengumpulkan informasi penting yang tidak bisa ia dapatkan secara langsung.

Lucas mulai melatih klon airnya di tempat tersembunyi, di salah satu kolam kecil yang jarang dikunjungi di taman belakang sekte pada dini hari. Ia memusatkan energinya, mencoba menanamkan fragmen-fragmen emosi ke dalam setiap klon yang ia ciptakan. Tantangannya bukan hanya membuat mereka bergerak dan berbicara, tetapi membuat mereka merasakan keraguan, kegembiraan, atau bahkan ketakutan, yang semua itu merupakan inti dari penyamaran sempurna.

Prosesnya sangat melelahkan, memerlukan konsentrasi yang luar biasa dan pemahaman mendalam tentang psikologi manusia. Awalnya, klon-klon itu hanya mampu meniru ekspresi kaku, seperti boneka. Namun, Lucas tidak menyerah, ia terus bereksperimen, mencoba menghubungkan inti elemen air klon dengan memori dan perasaannya sendiri. Perlahan, ia melihat kemajuan, klon airnya mulai menunjukkan respons yang lebih alami, senyum tipis yang bukan sekadar gerakan otot, dan tatapan mata yang sedikit lebih hidup, semua itu adalah langkah kecil menuju penyamaran yang tak terdeteksi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!