NovelToon NovelToon
THE DANGEROUS TWINS

THE DANGEROUS TWINS

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Anak Kembar / Reinkarnasi
Popularitas:627
Nilai: 5
Nama Author: maiaqua

“Melukai orangku, jangan harap mati dengan tenang.”
— Zeon Ashviel Arken

“Berhentilah bicara… atau kuledakkan mulutmu itu.”
— Zyra Ashviel Arken

Dua anak kembar yang pernah hidup sebagai agen bayaran mematikan tiba-tiba kembali ke masa lalu, ke waktu di mana keluarga asli mereka masih ada.

Namun masa lalu bukan tempat yang aman. Setiap langkah mereka bisa mengubah takdir, dan setiap keputusan membawa mereka lebih dekat pada kebenaran yang tidak seharusnya dibuka kembali.

Di antara keluarga yang dulu mereka kenal… dan kehidupan baru yang mereka jalani, satu pertanyaan muncul:

Apakah mereka akan memperbaiki masa lalu, atau menghancurkan segalanya sekali lagi?

happy reading 🐢
Don't Copy!!!!!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maiaqua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Pengawal baru

Malam semakin larut.

Hujan yang sejak sore turun perlahan kini mulai mereda. Sesekali suara gemericik air terdengar dari atap mansion.

Di kamar keluarga, suasana jauh lebih santai dibanding sebelumnya.

Sean yang tadi murung akhirnya kembali duduk dekat ranjang bayi Zyra dan Zeon.

Meski begitu...

Tatapan emerald miliknya masih sering melirik perban kecil di dahi adiknya.

Seolah memastikan luka itu benar-benar tidak bertambah parah.

"Aku sudah bilang tidak apa-apa."

ucap Hans sambil meminum teh yang disiapkan pelayan.

"Kalian semua bereaksi seperti Zyra kehilangan satu tangan."

"Aku bisa membuatmu kehilangan satu tangan."

jawab Alfa datar.

Hans langsung tersedak.

"Batalkan. Aku tidak jadi bercanda."

Sian langsung menoleh ke arah Sean.

"Lihat?"

"Apa?"

"Om Hans memang bodoh."

"Setuju."

Sean mengangguk serius.

Hans menatap mereka tidak percaya.

"Kalian ini sebenarnya ponakanku atau musuhku?"

Zelvyna menutup mulutnya menahan tawa.

Mata emerald miliknya terlihat hangat saat memperhatikan anak-anaknya.

Sedangkan di ranjang bayi...

Zyra sedang sibuk mengamati pemuda yang berdiri dekat pintu.

Eres.

Sekarang dia tahu namanya.

Dan semakin diperhatikan...

Semakin terlihat kalau pemuda itu berbeda.

(POV Zyra)

Dia terlalu tenang.

Tidak seperti pengawal biasa.

Cara berdirinya.

Cara matanya mengamati ruangan.

Cara dia selalu memilih posisi yang bisa melihat semua pintu.

Itu bukan kebiasaan orang biasa.

Itu kebiasaan orang yang pernah hidup di lingkungan berbahaya.

Mirip aku dan Zeon.

"Kenapa berdiri terus?"

tanya Zelvyna lembut.

Eres sedikit terkejut karena diajak bicara.

"Nyonya?"

"Duduk saja."

"Tidak perlu."

jawab Eres cepat.

"Sudah terbiasa berdiri."

"Kalau begitu kau membuatku merasa seperti penjahat."

ucap Zelvyna sambil tersenyum.

Eres terlihat bingung.

Sangat bingung.

Sampai Sean tertawa kecil.

"Kak Eres lucu."

Eres membeku.

"Apa?"

"Kak Eres lucu."

ulang Sean polos.

"Kau seperti tidak tahu cara santai."

Sian mengangguk.

"Benar."

"Aku tidak pernah melihatmu tersenyum."

tambahnya.

Untuk pertama kalinya...

Ekspresi Eres terlihat sedikit canggung.

Dan itu berhasil membuat suasana ruangan menjadi lebih ringan.

"Tersenyumlah."

Sean memberi saran.

"Tidak bisa."

jawab Eres jujur.

"Kenapa?"

"Aku lupa caranya."

Ruangan langsung sunyi.

Beberapa detik.

Lalu...

"HAHAHAHAHA!"

Sean tertawa paling keras.

Bahkan Zelvyna ikut tertawa kecil.

Sementara Alfa hanya menggeleng pelan.

(POV Zeon)

...

Dia tidak bercanda.

Aku bisa melihatnya.

Dia benar-benar lupa cara tersenyum.

Orang seperti apa yang bisa mengatakan kalimat itu dengan wajah serius?

Tiba-tiba...

Alfa berdiri dari kursinya.

"Ikut aku."

ucapnya.

Eres langsung tegak.

"Baik, Tuan."

Keduanya berjalan keluar menuju balkon samping.

Tanpa sadar...

Perhatian Zeon ikut tertuju ke sana.

Di luar balkon.

Angin malam berembus pelan.

Alfa bersandar pada pagar batu.

Sedangkan Eres berdiri tegak di belakangnya.

"Berapa usiamu?"

tanya Alfa.

"Enam belas tahun."

jawab Eres.

"Sejak kapan menjadi pengawal?"

"Hampir tiga tahun."

Alfa terdiam.

Tatapan blue sapphire miliknya mengarah ke taman yang gelap.

"Tiga belas tahun."

gumamnya.

"Itu terlalu muda."

Eres tidak menjawab.

Karena dia tahu itu benar.

"Ayah dan ibumu?"

tanya Alfa lagi.

Untuk pertama kalinya...

Tatapan Eres berubah.

"Mereka sudah meninggal."

jawabnya pelan.

Alfa menoleh.

Kini dia mengerti.

"Dibunuh?"

tebaknya.

Eres mengangguk.

Satu kali.

"Dulu ayahku adalah pengawal pribadi seorang pengusaha berpengaruh.""

ceritanya perlahan.

"Suatu malam wilayah kami diserang."

"Mereka melindungiku."

"Dan tidak pernah kembali."

Suasana menjadi hening.

Dari balik pintu balkon yang sedikit terbuka...

Sean tanpa sengaja mendengar semuanya.

Mata emerald bocah itu perlahan membesar.

"Aku hidup karena mereka mati."

lanjut Eres tenang.

"Tidak ada keluarga yang tersisa."

"Jadi aku memilih menjadi pengawal."

"Kenapa?"

tanya Alfa.

Eres terdiam beberapa saat.

Lalu menjawab.

"Karena aku tidak ingin melihat keluarga lain kehilangan orang yang mereka sayangi."

Kalimat itu membuat Alfa membeku sesaat.

Karena entah kenapa...

Pemuda itu mengingatkannya pada dirinya sendiri.

Alfa menatap Eres beberapa saat.

Lalu melirik ke arah ranjang bayi tempat Zeon dan Zyra berada.

Kedua bayi itu sudah tertidur.

Seperti biasa.

Berdampingan.

"Aku menyerahkan mereka padamu." ucap Alfa tenang.

Eres sedikit terkejut.

"Mereka, Tuan?"

Alfa mengangguk.

"Zeon dan Zyra."

Tatapan blue sapphire miliknya melunak sedikit.

"Mereka masih terlalu kecil untuk melindungi diri sendiri."

"Baik, Tuan."

jawabnya tegas.

"Saya bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti mereka."

Di balik pintu...

Sean yang mendengar itu perlahan mengepalkan tangannya.

"Aku juga."

gumamnya pelan.

Sian yang tiba-tiba muncul di belakangnya membuat Sean hampir melompat.

"Kau menguping."

ucap Sian.

"Kau juga."

balas Sean.

"Kau menangis?"

"Aku tidak menangis!"

bantah Sean cepat.

"Kau memang menangis."

"TIDAK!"

Sian menatapnya beberapa detik.

Lalu tersenyum tipis.

Sangat tipis.

Hampir tidak terlihat.

"Kita sama."

ucapnya pelan.

"Kalau ada yang menyakiti Zyra..."

Tatapan emerald Sian berubah dingin.

"...aku juga tidak akan memaafkannya."

Sean terdiam.

Lalu tersenyum.

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan kecil tadi siang.

Sementara di dalam kamar...

Zyra yang mendengar sebagian percakapan itu perlahan menoleh ke arah Zeon.

'Ze.'

'Hm.'

'Aku mulai takut.'

Zeon mengernyit.

'Takut apa?'

Zyra menatap langit-langit kamar.

Lalu tersenyum kecil.

'Takut terlalu menyayangi mereka.'

Untuk sesaat...

Zeon tidak bisa menjawab.

Karena jauh di dalam hatinya...

Dia juga merasakan hal yang sama.

1
awesome moment
twins n dikelilingi org2 yg posesif. musuh mrk sadar g y? klo twins kesenggol, bakalan ketemu neraka sgra mrk tu
awesome moment
lama blm up date
maiaqua: dah update beb😘
total 1 replies
awesome moment
d yg tau mrk mundur ke baby
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. semangat terus ya author.

btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh singgah profile.. terima kasih 🤭
maiaqua: iya makasih😘 kamu juga semangat yah💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!