Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.
Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepastian Yang Tertunda
Mey terlihat sedikit murung, duduk dengan kedua tangannya yang menyangga dagunya, 'Kapan mereka datang,' benaknya.
Selang beberapa menit kemudian dia bangkit dari duduknya dan menghampir mereka berempat yang ada di tempat nongkrongan, karena melihat Metallo dan Ibunya dari kejauhan menuju ke situ.
"Bukankah itu Mey? Hm..." Ibu Elena menggelengkan kepalanya pelan, "Apakah dia yang menghidupkan lampu dan juga...." Ibu Elena menghentikan pertanyaan kepada anaknya, ketika melihat teman-teman Metallo yang berada di tempat nongkrongan itu.
"Bukan, Bu... Lihat itu," ia mengarahkan tangannya ke arah Faelo, "Selain dia, tidak ada orang lain yang berani memasuki rumah pada saat kita tidak ada di rumah."
"Hm... Benar." Ibu Elena dan iapun mulai mempercepat langkah mereka agar sesegera mungkin sampai ke rumah mereka.
Seperti biasanya Metallo langsung menuju ke rumah mereka tanpa menghiraukan teman-temennya yang berada di tempat nongkrongan. Sesampainya di depan teras rumah mereka, barulah ia menoleh ke belakang, "Jangan diam saja. Sini! Buat apa kalian duduk di situ."
"Tingkahmu memang tak pernah berubah dari dulu," cetus Martin, menatapnya dengan tatapan yang sangat sinis.
Mereka bertiga langsung bergegas menghampiri Metallo, sedangkan Faelo dan Indri masih saja duduk di situ.
Melihat teman-temennya yang lain telah menjauh, Indri menggigit bibir bawahnya. Dia kemudian menatap Metallo dengan tajam, dan penuh amarah karena tak menyangka Metallo bertingkah seperti orang dewasa.
Dia sama sekali tidak mau bersama Festo, sebab ada Metallo disitu, sehingga Indri memanggilnya, "Kau... Sini dulu."
Seketika Faelo sadar akan tingkah Indri yang demikian, sebab Faelo tahu bahwa Indri sangat menyukai Metallo, tetapi tidak dengannya.
"Aku?" pintanya, mengerutkan dahi dan menatapnya penuh tanya.
"Iya, kau!" tegas Indiri.
Mey sama sekali tidak menyukai mereka menutupi sesuatu darinya, raut wajahnya seketika menjadi cemberut, 'Apa lagi yang mereka sembunyikan dariku,' dia menggelengkan kepalanya pelan, sebelum menghampiri Ibu Elena dengan penuh kekecewaan, dilain sisi dia juga sangat senang membantu Ibu Elena.
Ibu Elena sangat senang terhadap tingkah Mey yang ingin membantunya. Dia kemudian mengarahkan Mey ke dapur bersamanya, sembari mengatakan bahwa Ibu Esi mencarinya.
"Hm... Tidak apa-apalah, Bu. Soalnya tadi sore sebelum Ibu dan Metal datang ke rumah kami. Aku telah meminta izin kepada Ibu, bahwa malam ini Aku dan Indiri akan kesini... Kami akan menyelesaikan tugas yang diberikan Pak Lias bersama Metal."
Ibu Elena menggaruk-garukkan kepalanya, " Oh, tetapi kenapa dia tidak memberi tahukan ini kepada Ibu, ya," Ibu Elena tidak menyangka dengan tindakan Metallo yang demikian sebab setahunya, Metallo selalu bilang jikalau dia dan teman-temennya mengerjakan tugas di rumah mereka.
Metallo tersenyum lebar, ia berdiri depan pintu dapur. Ia kemudian batuk pelan, "Jangan terlalu dipikirkan, Bu. Sungguh, tidak ada tugas sama sekali malam ini... Aku hanya ingin bersenda gurau bersama teman-temanku seperti hari-hari kemarin, Bu."
Ibu Elena mengerutkan dahinya, sebelum menatap Mey dengan senyuman hangat yang menghiasi ayu parasnya, dia kemudian menggelengkan kepalanya pelan, sembari menatap mereka berdua secara bergantian hingga munculah satu demi satu ingatan Ibu Elena mulai nampak, ketika dia masih gadis sampai sekarang yang membuatnya sedikit terharu dengan semua skenario hidup yang telah berlalu, 'Hm... Elena... Elena, ah... Sudahlah ini masa muda mereka.'
Mey langsung menghampiri Metallo, walau masih ada rasa canggung berada di dekatnya. Dia sama sekali tak merasakan pusing lagi, sebab luka di tangan Metallo telah dibaluti denga kapas dan juga obat Merah, sehingga aroma amis darah telah menghilang. Da kemudia memukul pundak Metallo serta mencubit pinggangnya, "Kamu, dimana Indri?" gumannya pelan.
"Oh... Dia dan teman-temen yang lain ada di tempat nongkrongan."
Mey tersenyum lebar menatapnya, oleh karena perasaanya telah membaik ketika melihat Metallo yang sekarang ini ada di hadapannya, "Awas kau," dia menunjukan kepalan tangan kanannya kepada Metallo seakan-akan memperingatkan dia.
"Hm... Nanti juga pasti akan kuci..." mulut Mulut memang ceplas-ceplosan, hingga membuatnya sedikit salah tingkah terhadap Mey.
Mey tersenyum canggung, menatapnya dengan tatapan yang sangat sinis, "Kalau bisa, dan jikalau engkau berani terhadap diriku."
Metallo tertawa kecil serta menatapnya dengan tatapan yang sinis pula, sebelum meninggalkan Mey dan Ibunya disitu.
"Mey, bantuin Ibu, ya," panggil Ibu Elena, yang sedang membersikan beberapa pisang untuk direbus.
Tanpa basa-basi Mey mengangguk pelan, seraya menghampirinya dan mengambil beberapa pisang lain yang belum dibersihkan oleh Ibu Elena, sedangkan Ibu Elena mulai menuju ke gudang mereka untuk mengambil seekor Ayam jantan yang akan dia panggang nantinya.
ketika Metallo keluar dari situ ia sedikit kaget melihat kearah tempat nongkrongan itu. Disana hanya ada dua sejolinya yang sedang bermain gitar.
'Kemanakah perginya mereka berdua?' Ia menghampiri mereka dengan penuh tanya, sebab baru beberapa menit ia meninggalkan mereka, namun begitu cepat keduanya menghilang.
"Dimanakah Indri dan Faelo?"
Kedua temannya tak menghiraukan dirinya. Irama gitar dan nyanyian yang mereka lantunkan sungguh membuatnya geram.
"Sini Gitarnya. Biarkan aku yang mengiringi kalian," ia kemudian mengambil Gitar itu dari Festo, "Dimana mereka berdua?"
Martin mengarahkan Gitar itu kearah Indri dan Faelo. Rupanya mereka berdua berada di samping rumahnya Pak Agus, yang tidak jauh dari mereka.
*****
"Indri... Malam begitu indah, dihiasi bintang dan bulan yang begitu terang... Aku sendiri sadar bahwa jawabanmu akan berpaling dariku," Faelo menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum menatapnya dengan penuh makna.
"Tapi ketahuilah, Indri. Metallo..." dia menggelengkan kepalanya pelan, dan tidak melanjutkan kata-kata kiasannya sebab Faelo tahu jikalau dia memberitahukannya, Indri pastinya sangat kecewa dan juga persahabatan dia dengan Mey akan renggang.
Indri mengerutkan dahinya, tatapannya yang berbinar-binar, kini menjadi sinis mengarah tajam pada Faelo, "Bagus jikalau engkau sadar diri... Aku tak mau lagi mendengar kata-kata indahmu... Jadi, tolong lepaskanlah tanganku."
"Engakau pikir semudah itukah, aku melepaskanmu?" iming-iming Faelo untuk menakut-nakutinya.
Sebenar Faelo tidak mau berlama-lama dengan Indri disitu jikalau jawaban dari dia memuaskan kalbunya, sebab Metallo dan teman-temennya yang lain pasti akan berpendapat yang tidak-tidak mengenai dirinya, tetapi apa yang dikatakan Indri membuat amarah makin membakar.
"Pergilah," ungkap Faelo, dengan nada datar.
Namun ketika Indri melangkahkan kakinya, Faelo malah menariknya lagi.
"Apa yang engkau inginkan dariku!"
"Tidak ada yang aku inginkan darimu, tetapi aku butuh kepastianmu," dia kemudian merapatkan dirinya kepada Indri, dan menatapnya dengan tajam.
[Prak...] "Tidak dengarkah engkau," bersamaan dengan itu, satu pukulan didaratkan Indri mengenai pipi kirinya, "Lepaskanlah Aku! Faelo, janganlah engkau membuatku menyakitimu lebih parah lagi."
Faelo memegang dan mengelusi pipinya sesaat, "Indri... Pukulanmu tidak terasa sakit bagiku," dia kemudian mencondongkan wajahnya, "Pukulkanlah juga yang kanan."
Metallo dan kedua temannya seketika terdiam, "Hm... Lumayan pukulannya," guman Martin, yang melihat jelas gerakan tangan Indri.
Mereka bertiga menelan air liur mereka, mengingat betapa sakitnya pukulan yang diberikan oleh Pak Lias beberapa waktu lalu, akibat bolos saat pelajarannya sedang berlangsung.
Metallo dan Festo yang dari tadi membelakangi mereka berdua. kini mulai mengarahkan pandangan mereka pada kepada Faelo dan Indri, "Hm... Biarkan saja," guman Festo, kepada kedua temannya dan berharap tidak diantara mereka yang ikut campur urusan mereka.
Metallo menarik nafas dalam-dalam, ia kemudian menggelengkan kepalanya pelan, "Hm... Kenapa kalian mengijinkan mereka berdua pergi dari tempat ini? Bukankah itu tempat yang tidak aman untuk mereka?"
Metallo menyalahkan kedua temannya, sebab ia beranjak pergi dari tempat itu berharap keduanya bisa memiliki sedikit waktu bersama disitu, malah Festo dan Martin menghampiri mereka berdua, sehingga Faelo menarik paksakan Indri ketempat yang sedikit gelap.
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Dikelilingi kebencian
Thor, itu maksudnya bagaimana ya??