Kisah ini adalah kisah nyata dari pengalaman seorang wanita bernama Indah Puspita Sari (samaran). Dia adalah wanita yang tegar dan mandiri. Kisahnya dimulai ketika ayahnya meninggal dunia. Hingga pada akhirnya Indah hidup terpisah dari keluarganya dan menjalani kisah hidup yang berliku-liku dan penuh air mata. Bagaimana kisah Indah selanjutnya? Selamat membaca🙏😘
*Autor tidak pandai menulis dan membuat novel, tapi dari tulisan ini semoga para pembaca dapat memetik pelajaran yang terkandung dalam tulisan ini. Terimakasih yang sudah baca🙏 jangan lupa tinggalkan jejak ya😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An Anjarwati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dikejar-kejar
Aku menjalani hariku dengan penuh semangat. Aku tidak berpikir hal yang tidak penting. Usiaku masih sangat muda. Dan tidak penting untuk memikirkan cinta-cintaan. Bagiku bekerja dan menabung serta membantu orang tua itu lebih penting. Kelak aku bisa lebih mandiri dengan usaha dan jerih payahku sendiri.
Sebenarnya ada kesedihan yang teramat sangat dalam hatiku. Bagaimana tidak sedih? ibu kandungku saja seperti orang lain. Setiap aku telpon atau aku mendapat SMS selalu yang ditanyakan adalah uang. Sebagai anak aku harus berbakti kepada ibuku. Tapi aku juga butuh sedikit saja perhatian. Tidak pernah sekalipun ibuku menanyakan kabarku. Aku berfikir mungkin aku ini memang tidak dianggap. Yang dibutuhkan ibuku adalah uang dan tenagaku saja.
Meskipun begitu hatiku masih berbesar hati menerima semua perlakuan ibuku. Semakin lama ibuku semakin keterlaluan. Kalau aku tidak memberikan uang yang diminta, ibu tidak akan mau bicara denganku. Dan kalau jumlahnya tidak seperti yang diminta, ibuku akan marah-marah padaku. Ternyata uang lebih penting daripada aku anaknya.
Semenjak itu, aku tidak mau lagi ambil pusing. Biarlah ibuku seperti itu, aku malas jika harus berdebat dengan ibu. Aku berharap ibuku bisa sadar dengan sikapnya padaku. Dan akan bersikap baik padaku kelak. Anak kandung berasa anak pungut itulah nasibku.
Selama di perantauan banyak sekali para pria yang mendekatiku. Tapi aku selalu santai menanggapinya. Aku tidak mau terlalu dekat dengan pria, karena takut akan terjerumus kedalam hal yang tidak seharusnya. Tapi semakin lama aku semakin dikejar-kejar. Entahlah pria-pria itu sangatlah aneh jika melihatku.
Beberapa kali aku mendapat perlakuan yang tidak baik. Aku dilecehkan oleh banyak pria-pria gil*. Aku bingung dengan diriku sendiri. Kenapa orang-orang itu terlalu bernafsu melihatku? Padahal aku sudah menutup diri dan cuek. Memang di tempat aku merantau sangatlah bebas. Pacaran, kumpul keb*, hamil diluar nikah itu adalah hal yang biasa. Tapi namanya manusia tidak ada yang sama. Dan anehnya mengganggap wanita mudah terperdaya.
Aku semakin tidak nyaman karena terus dikejar-kejar. Tapi aku sudah berusaha menghindar. Mungkin benar yang orang bilang bahwa lelaki itu adalah buaya. Entahlah waktu itu aku sangat muda dan belum mengerti apa-apa.
Ada beberapa pria yang benar-benar nekad. Mereka sangat susah untuk diberi pengertian. Aku sampai pusing memikirkannya. Apapun yang aku katakan seperti tidak ada gunanya. Kakakku sendiri menyadari dengan apa yang terjadi padaku. Wajar karena aku masih sangat muda dan polos. Makanya banyak pria gil* yang mengejar cinta dariku.
Aku bukan tidak tertarik pada laki-laki. Aku juga wanita biasa yang butuh pendamping suatu saat nanti. Aku berharap bisa mendapatkan laki-laki yang baik, setia, bertanggung jawab dan tidak kasar. Mungkin suatu saat jika memang jodoh akan bertemu.
Harta, rupa, usia, jabatan tidaklah penting bagiku. Harta bisa lenyap begitu saja. Rupa bisa berubah seiring berjalannya waktu. Usia tidak menjamin kedewasaan seseorang. Dan jabatan bisa saja hilang ditangan. Karena roda teruslah berputar. Saat ini kita dibawah belum tentu besok dan begitupun sebaliknya.
* **Jika kita cinta kepada seseorang dan memandang orang dari harta, rupa, usia, dan jabatan maka kelak ketika itu semua hilang cinta itu akan mudah menghilang juga. Tapi jika kita mencintai seseorang dengan tulus dari lubuk hati yang terdalam dan menerima apa adanya maka cinta itu tidak akan mudah luntur. Kepercayaan, kejujuran, komitmen dan kesetiaan adalah kunci dari sebuah hubungan untuk bisa langgeng. Meskipun pasti banyak aral melintang.
Tbc**...