Penyihir
Makhluk biadab yang memangsa manusia. Tak peduli siapa dirimu.
Mereka akan memangsamu. Membunuhmu.
Di dunia ini sihir terbagi dua.
Sihir cahaya dan sihir kegelapan.
Berabad-abad tahun lepas. Umat manusia berperang melawan makhluk mengerikan yang dinamakan penyihir. Sang para pengguna sihir kegelapan.
Umat manusia yang berjuang melawan mereka disebut 𝘛𝘩𝘦 𝘩𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. Mereka menggunakan sihir cahaya untuk membunuh para penyihir.
Kini saatnya untuk memburu penyihir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayanagi Souma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 –[ Sihir dan Penyihir 05 ]–
12 Maret 2023
Malam hari, bulan cembung, bintang gemintang, awan kosong tidak menghalangi indahnya langit. Menyisakan hamparan kegelapan di atas sana.
"Sial!"
Bum!
Tembok sekolah berlubang. Aku berhasil menghindar. Pukulan itu tampak mengerikan. Beberapa menit yang lalu aku mengejar penyihir bernama Basyir. Dia bersatu dengan roh kematian. Menjadi makhluk mengerikan berkekuatan yang juga mengerikan. Satu cakarannya bisa membelah gedung sepuluh lantai. Satu pukulannya mampu membuat luruh batu sebesar rumah.
Gedung sekolah berlubang sangat besar karena serangan tadi. Maaf, tapi aku tak bermaksud. Berlari menjauhi area sekolahan, lonceng sedari tadi berdenting menandakan bahaya sedang terjadi. Aku mencoba menggiring penyihir ini ke tempat yang luas, agar lebih leluasa untuk bertarung. Melompat ke atas atap. Mencari area luas di sekitar pegunungan.
Wah, dia mengejarku dengan buas di belakang. Cepat sekali dia berlari. Kecepatannya sama cepat denganku. Penyihir itu memiliki ekor seperti kalajengking yang menembakkan api hitam panas ke arahku. Aku lekas mengelak, berlari zig-zag. Apinya membakar atap. Merayap ke sekitar bangunan. Uh, Guru besar akan sangat murka melihat sekolahnya terbakar.
Penyihir di belakangku mengeluarkan cakaran. Angin menderu terbelah, aku tak sempat menghindar. Terjun ke bawah, mendarat di depan gerbang Akademi. Penjaga gerbang yang melihatku terjatuh langsung berlari membantuku.
"Pergi! Larilah!"
Baru selesai seruan ku ucap. Penyihir itu melesat, mendarat dari langit sembari mencakar tubuh penjaga gerbang menjadi dua. Daging yang tercabik berceceran kemana-mana.
Uh, sudah kuperingatkan padahal. Aku mengerutkan dahi melihatnya. Kejadian itu terlalu cepat dan aku tidak sempat menyelamatkannya. Maafkan aku penjaga gerbang. Saat ini aku memiliki hal yang lebih penting.
Penyihir itu menatapku dengan tatapan membunuh. Beruntung, halaman gerbang sedikit luas. Aku bisa bertarung di sini.
"Cukup, berhenti kejar-kejaran. Aku akan serius."
Aku memfokuskan mana-ku pada tongkat. Bara api mulai menari di kedua ujung tongkat. Sorot mataku berubah tajam. Menghentakkan kaki keras. Melesat secepat kilat, memutar tongkat, menghantam penyihir itu sangat keras. Membuatnya terpental menghantam dinding batu. Retak ke dalam.
Bum!
Penyihir itu bangkit, menggeram, mendesis dengan bahasa yang tak ku mengerti. Lantas membalas serangan dengan kecepatan tinggi. Aku bersiap, melangkah anggun satu langkah ke belakang, membelokkan arah cakaran ke bawah. Garis cakaran besar sejauh lima meter terukir di tanah. Entah seberapa dalam cakaran itu melesak tanah. Cakaran kedua menyusul, memutar tongkat, mengalihkan serangan ke samping. Angin menderu kencang. Bertubi-tubi cakaran itu menyerangku. Aku mengalihkan semua serangan itu ke arah lain. Memainkan tongkat seperti aliran air.
"Kau! Pemilik sihir murni! Grand Witch akan senang mendengar ini. Akan kubawakan beliau kepalamu!" Wajah mengerikan penyihir itu menyeringai lebar setelah mengatakan itu.
Entah mengapa aku mendadak paham yang dikatakan penyihir ini. Dia tidak berhenti mencoba mencakarku. Ekornya juga ikut bermain, menyengatku sana-sini. Tongkatku berputar cepat sedari tadi. Mengalirkan serangan ke arah lain sembari badanku cepat mengelak dari sengatan ekornya. Giliranku menyerang!
Buk!
Tendanganku masuk mendarat tepat di perut. Membuat satu detik celah yang sangat berharga. Tongkat api ku cepat berputar menghantam celah tersebut.
BLAR! BUM!
Penyihir itu terpental menghantam tebing hingga membuat retakan besar. Darah hitam keluar dari mulutnya, terbatuk. Aku mengejarnya, hendak melepaskan serangan terakhir. Ini sudah berakhir!
Baru satu langkah. Tubuhku mendadak kaku. Seluruh tubuhku sangat berat untuk digerakkan. Ibarat tertekan tekanan tak terlihat yang sangat berat. Menggerakkan lidah saja aku tidak bisa. Apa yang terjadi padaku?
"Hahahaha, lihat! Bocah ini sangat ceroboh. Kau bahkan tidak sadar dengan racun yang kusebar di udara. Api itu bukan api biasa bocah. Racun yang bisa membunuh gajah terkandung di dalam asapnya. Dan kau tanpa sadar menghirupnya. Membuat darah berhenti mengalir." Penyihir itu menyeringai senang. Berjalan perlahan, mendekatiku.
Aduh, aku memang merasa udara asap ini terasa berbeda. Tapi tak kusangka itu adalah racun. Tinggal sepuluh langkah lagi penyihir itu dariku. Menjilat cakarnya yang bersimbah darah penjaga gerbang tadi.
Sepertinya ini akhir untukku. Maafkan aku guru karena gagal memenuhi wasiat.
Cakaran tajam itu bersiap membelah tubuhku.
Aku menutup mata, tak ingin melihat.
Crat!
Eh? Aku tidak mati? Penyihir itu melompat mundur karena kaget.
"Sizhu!!!"
Ashley dan Reza datang sembari menutup hidungnya dengan kain lembap. Mei Mei dan Amon menyusul di belakang mereka.
Belasan pedang air melayang, melesat satu per satu ke arah penyihir. Penyihir itu gesit menghindar. Satu tangannya mengalir darah hitam deras.
"Kamu baik-baik saja Sizhu?" Ashley berseru cemas, mengecek kondisi tubuh ku.
Aku tak bisa menggerakkan leher untuk menjawab. Aku masih kaku seperti patung. Mei Mei menyentuh bahuku, merapal mantra penyembuh. Menetralkan racun yang ada dalam tubuhku.
"Uh, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah membantu."
Ashley dan Reza sibuk, fokus menyerang penyihir kalajengking itu. Belasan pedang air ditembakkan tiada henti. Reza mengendalikan roh api dan angin untuk menyerang. Mereka berdua kompak saling mengisi celah.
"Darimana kalian tahu asap ini beracun?" tanyaku penasaran.
"Asap ini memiliki bau merkuri. Beberapa Professor yang sedang mengatasi api yang membakar sekolah mendadak menjadi kaku semua. Baru setelah itu kami sadar asap ini beracun. Gunakan kain lembap sembari tutup hidungmu agar tidak terhirup lagi Sizhu." Mei Mei menjawab, menjelaskan. Memberi kain basah. Uh, aku akan kesulitan bertarung jika harus sembari menutup hidungku seperti ini.
"Kita harus bertahan di sini hingga guru besar datang. Kai sudah pergi ke rumah guru besar untuk memberi tahu."
"Kai?" Sejak kapan Kai turut membantu? Seharusnya semua murid sudah di himbau untuk tetap berada di dalam gedung asrama. Hanya kami berlima yang ada di area sekolah. Jika tidak ada kejadian seperti ini, seharusnya kami sudah terkena hukum karena berkeliaran malam-malam di luar asrama.
"Dia sebenarnya ikut memata-matai bersama. Membuntuti kita saat sedang menunggu Amon keluar kamar tadi sore."
"Aaahhh!"
Ashley terhempas mundur, terjatuh. Penyihir itu berhasil menembakkan api padanya. Mengenai tangan kiri Ashley. Mei Mei tangkas menyembuhkan luka bakar Ashley. Reza menyusul terhempas. Terkena serangan api.
"Minggir!"
Kali ini giliran Amon menyerang. Puluhan bola api sebesar kepala, melayang di atas. Membuat terang langit-langit. Dalam satu isyarat, bola api itu melesat cepat seperti peluru. Menembaki penyihir kalajengking. Telak.
Alih-alih terluka parah, serangan bertubi-tubi barusan hanya membuat gosong sedikit badannya.
Penyihir kalajengking itu berteriak kencang. Sama seperti tadi, membuat gendang telinga kami pecah. Darah segar keluar melalui lubang telinga. Argh! Kali ini bahkan gelombang suaranya terdengar lebih keras. Membuat tanah bergetar, kaca-kaca sekolah berhamburan pecah. Kami tak bisa mendengar sejenak.
Mei Mei memegang tanganku, menyembuhkanku. Lantas terkapar jatuh. Ashley, dan Reza menyusul jatuh. Amon masih bertahan, darah merah mengalir deras dari kedua lubang telinganya. Dia berdiri terhuyung. Memaksa untuk tetap teguh.
Penyihir itu cerdik. Tidak satu detikpun makhluk itu lewatkan dengan sia-sia. Melangkah kilat, memukul Amon hingga terpental sangat jauh. Menubruk tebing sebelah yang berjarak seratus meter lebih. Retak. Kepalanya terbentur keras, membuatnya kehilangan kesadaran.
Serangannya berlanjut ke arahku. Aku berhasil menghindar, melompat jauh. Tapi bukan aku yang dia incar. Penyihir biadab itu mengincar Mei Mei. Hendak membolongi tubuhnya dengan ekornya. Aku segera melangkah menghalanginya.
Crat!
Ekor itu menghujam menembus badanku. Darah segar keluar dari mulutku. Ini menyakitkan sekali. Tapi aku masih tidak boleh mati. Jika aku mati teman-temanku akan ikut mati.
Aku berteriak sekuat tenaga. Mendorong ekor yang menusuk ke dalam tubuhku keluar. Jangan pedulikan rasa sakit. Aku harus membunuh makhluk ini sebelum diriku yang terbunuh.
Bara api membumbung tinggi di sekitarku. Tongkatku sudah sepenuhnya berubah menjadi api. Aku memutuskan ekor penyihir itu dengan tongkatku. Menjerit-jerit, melompat mundur. Penyihir itu bergetar hebat melihat api yang membumbung di atasku. Aku harus membunuh makhluk itu sebelum aku mati. Aku mengambil kuda-kuda, menginjak keras tanah hingga rekah.
"Jurus tongkat kelima; 火龍投擲;
(Lontaran Naga Api)."
Sialan pandanganku buram.
Api di sekitarku berkumpul di belakang tongkat. Tongkatku melesat secepat cahaya, memutuskan tangan kiri Penyihir kalajengking itu. Menancap di tebing.
Uh, aku sudah tidak kuat lagi ...
Gelap. Aku kehilangan pandanganku. Tubuhku terasa sangat dingin dan panas secara bersamaan.
Sebelum mataku kehilangan pandangan, seseorang tiba berdiri di depan.
"Kerja bagus, nak. Biar orang dewasa yang mengatasi sisanya."
***
"Ibu! Sizhu ingin tambah!"
"Aduh, anak ibu ini banyak makan ya! Sini, sup ikannya masih banyak. Sizhu bisa tambah sebanyak-banyaknya."
"Jangan dikasih Bu. Nanti Sizhu jadi gendut seperti bola."
"Heh, Sizhu tidak akan menjadi gendut seperti bola. Itu kak Xin yang akan menjadi gendut seperti panda. Bwee!"
"Sudah, berhenti bertengkar. Xin habiskan mangkukmu. Setelah itu tidur. Besok kita harus berangkat pagi untuk pergi berburu."
"Baik Ayah. Ayo Sizhu makan yang banyak. Biar Sizhu cepat besar menggantikan tugas kakak."
Ini mimpi? Atau aku sudah mati? Siapa mereka? Apa itu keluargaku?
Ini tampak nyata. Sedang malam di sini. Ada sebuah rumah sederhana terbuat dari kayu. Aku tampak bahagia di sana. Ayahku mirip denganku. Begitu juga kakakku. Mata hijauku mirip dengan mata ibuku. Mereka terlihat sangat bahagia. Harmonis sekali.
Namun, dalam sekejap momen harmonis itu berganti menjadi pemandangan yang mengerikan. Seseorang datang tiba-tiba menghancurkan rumah kayu itu. Hancur begitu saja seperti terhempas oleh angin yang sangat besar.
Ayahku berhasil melindungi ibu, kakak, dan aku. Aku yang masih kecil menangis tidak mengerti apa yang terjadi di sana. Seseorang itu menampakkan diri. Rambutnya putih lebat panjang, seorang pria yang terlihat masih muda. Tampak sebaya dengan ayahku. Kulitnya juga putih pucat. Matanya berbentuk seperti mata naga. Sisanya dia terlihat seperti orang biasa.
Ayahku menyuruh kami pergi. Meninggalkannya sendirian melawan orang itu dengan sebuah tongkat kayu. Bara api membumbung di sekitarnya layaknya topan. Malam itu tampak terang benderang oleh cahaya api. Namun, apinya tampak sedikit berbeda. Api ini terlihat lebih lembut dan hangat. Siluet kehijauan terlihat di semburat api. Ayahku segera bertarung sengit dengan orang itu. Tak lama, dia kalah. Jantungnya ditusuk oleh tangan kosong pria pucat itu.
Lantas dalam sekejap berpindah di depan mataku, ibu dan kakak yang sedang berlari kabur. Membunuh ibuku sama seperti membunuh ayahku. Kakakku mengamuk, menyerang pria pucat itu karena amarah. Seperti menembus air, tangan pucatnya menembus jantung kakakku.
Aku yang kecil tampak sangat ketakutan di sana. Melangkah mundur. Menggigil hebat, lantas tidak sengaja jatuh ke jurang. Pria pucat itu membiarkanku terjatuh. Setelah pemandangan mengerikan itu terjadi, mendadak pandanganku kembali gelap.
Siapa pria pucat itu? Mengapa dia membunuh keluargaku?
Entah apa yang sedang kurasakan. Perasaanku campur aduk. Sedih, marah, kesal, dendam, takut, bercampur menjadi satu.
Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak. Tapi, semuanya sudah terlambat. Aku sudah mati. Sekarang aku tidak punya keinginan lagi.
...
...
...
...
...
...
...
"Sizhu!"
Terdengar suara yang memanggil namaku.
"Sizhu!"
Secercah cahaya mulai terlihat. Semakin membesar. Pandanganku silau karena cahaya itu.
"Sizhu!"
Rasanya tubuhku mulai menghangat. Jantungku berdegup.
Perlahan kantung mataku terbuka. Cahaya mentari lembut membasuhku. Harum ini ...
Ini harum shampoo yang biasa Mei Mei pakai. Ternyata hangat ini, hangat pelukan badannya. Tapi dia memelukku terlalu erat. Membuatku semakin lemas.
"Aw, Mei Mei hentikan." Aku berusaha menyadarkan Mei Mei untuk melepas pelukannya.
"Sizhu!" Ashley, Reza, Mei Mei berseru serentak. Amon dan Kai juga ada di sini. Tadi mereka sedang berkerubung di sekitarku.
"Apa yang terjadi? Apa kita semua selamat? Atau kita semua sudah mati?" tanyaku polos menatap sekeliling.
Mereka malah tertawa mendengar ucapanku. Aku serius.
"Kita semua selamat Sizhu. Ini semua berkat dirimu. Andai kamu tidak bertahan hingga Guru besar tiba, kita semua sudah meninggal." Ashley yang menjawab menjelaskan. Mei Mei menangis, membenamkan wajahnya ke dadaku.
"Mei Mei sangat khawatir setelah melihat kondisimu. Kau terluka sangat parah sehingga bisa dikatakan sudah mati. Kami terbangun setelah beberapa jam Guru besar menghabisi penyihir itu. Mei Mei langsung berusaha menyembuhkanmu yang sudah terbujur kaku dingin. Kami kira kau sudah tiada meskipun tubuhmu kembali utuh berkat sihir penyembuhan. Namun, tadi benar-benar sebuah keajaiban. Kau kembali hidup Sizhu." Reza memberi penjelasan lebih rinci. Uh, jadi aku hidup kembali? Ini sangat mengherankan.
"Selamat datang kembali, Sizhu." Ashley tersenyum bahagia. Aku mengangguk.
"Ya, aku senang bisa kembali."
***
19 Maret 2023
Setelah kejadian malam itu. Sekolah diliburkan seminggu untuk memperbaiki kerusakan. Amon tidak jadi dikeluarkan dengan alasan pembunuhan tidak disengaja. Namun, dia tetap terkena hukuman. Guru besar memutuskan menggunakan Amon untuk memperbaiki semua kerusakan yang dia perbuat. Alias disuruh tobat. Dia harus pergi menemui anggota keluarga sepuluh murid yang tidak sengaja dia bunuh. Meminta maaf pada mereka dan mengganti rugi. Semoga Amon mendapatkan kemudahan di masa depan nanti.
Satu Minggu libur, kami selalu berkumpul bersama di kamarku. Entah bermain, atau belajar, dan lain sebagainya. Kai juga ikut berkumpul bersama. Meskipun kerjanya sibuk bermain game sendiri. Aku dan Reza tidak bisa mengalahkannya jika itu tentang game.
Terkadang kami berjalan-jalan ke kota terdekat. Belanja atau sekedar bersenang-senang. Ini sangat menyenangkan. Aku harap hari-hari seperti ini terus berlanjut. Aku juga rindu pada Luxia. Akhir-akhir ini tidak ada kabar tentangnya. Manajer Jianying pun tidak tampak batang hidungnya selama dua pekan lalu. Ternyata aku tidak tahu ada insiden yang lebih besar dari ini.
Insiden yang akan membuat seluruh negeri teringat.
***
/Facepalm/