NovelToon NovelToon
Pembalasan Seorang ART

Pembalasan Seorang ART

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Imen Firewood

"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.

Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.

Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.

"Hey!"

"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.

"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 43

"Huh ... ish! Nyebelin banget sih, dibalik kebaikannya ... sifat yang selalu memotong kalimat orang lain, bener-bener ngeselin," gerutu Anya pelan, memandang punggung Bara dengan wajah Anya yang malah terlihat imut ketika sedang marah.

Merasa dibicarakan, Bara menghentikan langkah dan menoleh kearah Anya.

"Kenapa?"

"Ah, tidak apa-apa," ucap Anya panik, langsung berusaha menormalkan kembali ekspresinya sebelum menyusul Bara yang lebih dulu meninggalkan. Anya harus mulai terbiasa dengan sifat Bara. Orang yang selalu berbuat baik kepadanya. Walau sedikit mengesalkan.

Kedua karyawan yang masih berada di dalam perusahaan dan melihat kedekatan Bara dan Anya merasa iri.

"Aaa~ ... iri banget, deh! Lihatnya."

"Beruntungnya wanita itu ... eh, tapi dia bukannya karyawan baru di perusahaan ini ya?"

"Iya, dia yang datang juga tadi pagi bersama pak Bara! Banyak juga tahu, yang melihat mereka dan merasa iri dengan wanita itu."

"Aaaa~ udah, ah! Ayok pulang ... bisa apa diriku ini."

Obrolan itu berakhir ketika salah satu wanita mengajak temannya pulang. Berjalan sambil menghapus air matanya yang tidak keluar dengan menggunakan tissue.

•••

Beberapa jam berlalu ...

Sudah beberapa orang yang Bara dan Anya temui, untuk mencari tempat tinggal Anya. Namun sampai saat ini, belum membuahkan hasil. Dengan berbagai macam alasan yang mereka terima dan diantaranya membuat mereka kebingungan.

"Gimana, bu? Apa disini ada kontrakan kosong?" tanya Anya yang kesekian kali. Karena ibu-ibu pemilik sewa itu tampak seperti orang kebingungan.

"Bu?" kata Anya lagi. Suaranya berhasil membuat pemilik sewa itu kembali menatap Anya dan Bara.

"Ada, sih. Tapi ..." kata sang ibu pemilik sewa, menggantungkan kalimatnya sambil berpikir. Dengan perawakannya yang bisa di bilang gemuk, ibu-ibu itu sangat gemoy ketika sedang berpikir.

"Airnye suka mampet!" celetuk ibu lain yang sedang mengangkat jemuran di belakangnya. Orang itu terlihat sudah sangat dekat dengan pemilik sewa, hingga sudah biasa melontarkan ucapan-ucapan seperti itu.

Pandang Anya dan pemilik sewa itu kembali bertemu. Di tengah sekarang sang pemilik hanya bisa tertawa pelan karena merasa malu dengan fakta yang terjadi.

"Hehe~"

Sontak, Anya yang mendengar kalimat itu kembali bertanya. Ia memastikan lagi karena ini menjadi opsi terakhirnya yang ia punya. Karena, harga yang ditawarkan juga bisa di bilang cukup murah bagi Anya yang tidak mempunyai waktu banyak karena hari sudah hampir gelap.

"Beneran, bu?" tanya Anya. Berharap ada solusi lain dari sang pemilik kontrakan untuk masalah Anya.

"Bener, sih ... tapi nggak setiap hari juga macetnya—"

"Iyaa nggak setiap hari. Tapi setiap jam!" celetuk ibu-ibu yang baru saja selesai mengangkat jemuran dan kembali masuk kedalam kontrakannya dengan membawa pakaian. Ia merasa kesal dengan masalah kontrakan yang tidak kunjung pernah selesai itu.

Harapan terakhir Anya hilang sudah. Ketika mendengar ucapan ibu-ibu tersebut. Ia tidak tahu lagi harus mencari tempat tinggal dimana. Di tambah, sekarang hari sudah semakin gelap.

"Yaah~" kata Anya, memasang ekspresi sedih karena merasakan lelah di seluruh tubuhnya usai seharian ini mencari sebuah tempat sewa.

"Sudah gelap. Ayok kita pulang! Kamu bisa tinggal sementara di apartemen denganku," kata Bara, mengajak Anya pergi dari tempat ini untuk tinggal bersama sementara.

"Hm?! Apa?" ucap Anya yang merasa kaget mendengar perkataan Bara barusan.

"Nah, itu dia! Sudah sewajarnya sepasang kekasih untuk tinggal bareng bersama," kata pemilik sewa. Ketika merasa dirinya berhasil menemukan solusi untuk masalah Anya.

"Ah! Ibu salah paham. Kami bukan sepasang kekasih ..." kata Anya, menjelaskan situasinya.

"Tapi—" Anya merasa bingung. Ia benar-benar tidak ingin lagi merepotkan Bara yang selalu saja membantu permasalahannya.

Keadaan di kantor saja, sudah cukup untuk membuat Anya merasa risih dari tatapan karyawan lain yang melihat kedekatan mereka. Apalagi, jika nanti ada yang mengetahui kalau Anya sekarang tinggal berdua bersama Bara.

"Terimakasih, pak Bara. Tapi aku—"

"Tidak ada penolakan. Cepatlah, hari sudah mulai malam!" potong Bara, yang tidak ingin mendengar ucapan penolakan dari Anya. Ia berlalu pergi lebih dulu meninggalkan Anya ke mobil.

"Jangan aneh-aneh. Aku hanya tidak ingin kamu terlambat pergi bekerja besok," ucap Bara di sela-sela langkahnya menuju mobil tanpa menoleh ke Anya.

"Oh, iyaa, satu lagi. Jangan panggil aku pak ketika sudah pulang jam kantor," sambung Bara. Mengakhiri kalimatnya sebelum masuk kedalam mobil.

Sang pemilik sewa kontrakan tiba-tiba tersenyum kecil melihat tingkah mereka berdua. Anya yang memperhatikan malah merasa bingung tidak mengerti apa maksudnya.

"Sudah-sudah ... ibu paham. Silakan kalian pergi," kata pemilik sewa yang masih setia berdiri di depan Anya.

Setelah cukup lama berpikir. Akhirnya Anya menyetujui dan mengikuti keinginan Bara. Walau sempat ada beberapa keraguan yang belum terjawab di dalam dirinya sendiri.

"Sudalah. Aku pikirkan konsekuensinya nanti saja ..."

"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu yaa bu ... terimakasih, dan maaf saya tidak jadi menyewa tempat ibu," kata Anya berpamitan kepada ibu pemilik sewa sebelum pergi.

Ibu itu tersenyum. Ketika melihat Anya berjalan menyusul Bara kedalam mobil, ia sedikit berteriak dengan maksud yang hanya ia tahu sendiri.

"Semoga kalian bahagia~"

Anya menghentikan langkahnya, menoleh ke pemilik sewa yang sudah ia tinggalkan dan ingin kembali berjalan menuju mobil Bara. Hingga suara klakson dari mobil Bara menyadarkan lamunan Anya serta membuat kaget.

Tint ...

Tint !!!

"Astaga, dia benar-benar ..." gerutu Anya, merasa kesal sendiri di dalam hatinya ketika melihat Bara yang tidak sabaran.

Burrm~

Mereka berdua pun akhirnya pergi. Meninggalkan ibu-ibu pemilik sewa yang masih berdiri di depan lahan jejeran kontrakan yang cukup banyak.

Ibu-ibu yang selalu saja memotong kalimat pemilik sewa, sedari tadi mengintip dibalik jendela kecil kontrakannya. Ia melihat ibu pemilik sewa yang masih berdiri di depan halaman.

Ketika pandangan merek bertemu, sang pemilik sewa langsung enggan melihat. Ia membuang pandangannya dengan cepat seraya menghebuskan nafasnya lalu pergi.

"Hem!!"

Melihat ekspresi menyebalkan dari pemilik sewa, ibu-ibu yang mengintip ikut merasakan emosi kecil.

"Yeuu ... dasar gendut!" gerutunya pelan. Hanya bisa merutuki dari dalam dan sebenernya takut jika kalimat itu sampai ketelinga pemilik sewa.

Di dalam mobil Bara. Tidak ada percakapan yang terjadi diantar Anya dan Bara selama mereka menuju ke apartemen.

Sesekali Anya melirik Bara yang fokus menyetir dengan ekspresinya yang dingin dan datar. Membuat Anya bertanya-tanya di dalam hati.

"Kenapa dia seperti ini, ya?" gumam Anya pelan, di dalam hatinya saat sekilas melihat Bara sambil menyetir.

Merasa diperhatikan, Bara memberi kode keras masih dengan ekspresinya yang dingin dan datar.

Ekhm!

Suara itu berhasil membuat Anya gelagapan membuang tatapannya langsung kearah jalan. Berpura-pura ia tidak memperhatikan Bara.

1
falea sezi
lanjuttt
Imenfirewood: Waah, terimakasih banyak ya, kak, udah mau membaca cerita ini. Mulai sekarang, ceritanya akan update setiap hari di jam 7 pagi. Pastikan kakak udah follow biar nggak ketinggalan cerita seru dari Anya. Terimakasih~ Luv!
total 1 replies
falea sezi
kpn mereka bangkrut🤣 ngemis klo. perlu sebel q
Imenfirewood: Kamu udah baca sampai sini?
total 1 replies
falea sezi
majikan laknat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!