Maira, seorang gadis yang terpaksa menikah dengan iparnya, sepeninggal sang kakak.
Pernikahan siri itu banyak menimbulkan percikan api asmara, hingga keinginan untuk bercerai.
Bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan mereka? Apa yang membuat mereka harus menikah secara siri? Akankah mereka bercerai? Atau justru meresmikan pernikahan secara negara?
Baca kisahnya di sini ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Mendengar ajakan Vany yang sepertinya tak ada penolakan dari Reza, Maira memutuskan untuk kembali ke kamar Alisha dengan perasaan kesal.
Tak enak dengan Alisha, Reza justru langsung pergi bersama Vany tanpa berpamitan pada Alisha yang sudah tak ada di meja makan.
Hingga 2 jam lamanya, Reza dan Vany baru kembali ke rumah.
Saat menaiki tangga, Reza melihat masih ada makanan yang ia bawa tadi untuk dimakan bersama Maira, masih utuh dalam bungkusannya. Ia kemudian berlari ke kamar untuk menemui Maira. Sayangnya, Maira yang ditemukannya di kamar anaknya, sedang tertidur pulas.
Niat hati ingin membangunkan Maira, tapi takut mengganggu tidur nyeyaknya. Sementara ia ingin meminta maaf karena sudah makan di luar bersama Vany. Hatinya juga khawatir karena sepertinya Maira belum makan.
Akhirnya, Reza nekat untuk membangunkan Maira dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya. “Ra, Ra, makan dulu yuk.”
Sedikit menggeliat, Maira terbangun. “Besok pagi saja, Mas.
Karena tak berhasil, Reza terpaksa membiarkan Maira tidur tanpa makan terlebih dahulu, meski hatinya merasa bersalah.
###
Keesokan paginya, Reza sudah menyiapkan roti untuk sarapannya, juga untuk sarapan istrinya. Ia lalu meminta maaf pada Maira tentang kejadian semalam. Bahwa ia tak enak menolak ajakan Vany hingga tak jadi makan malam bersama Maira.
Dengan ekspresi datar, Maira hanya mengangguk. Seakan sudah biasa menghadapi hal seperti ini. Namanya juga pernikahan sembunyi-sembunyi, siri pula. Ia justru menyarankan Reza menerima saran Vany yang ingin mengajaknya berlibur ke Bali.
“Cantik ya dia, Mas. 11 12 dengan Kak Nindy. Dia ‘kan tahunya juga kamu duda. Apa tidak mau mencoba?” goda Maira.
Reza hanya menghela nafas, lalu menggeleng. “Aku ‘kan sudah janji akan mencoba mencintai kamu. Aku takut menyakiti mama kalau mempermainkan pernikahan ini.”
“Kalau tidak bisa jangan dipaksa. Urusan mama bisa dibicarakan nanti, mama juga pasti mengerti. Aku berangkat dulu ya, Mas, ada tugas menyusun bahan untuk rapat divisi nanti siang,” pamit Maira meninggalkan suaminya sendiri di meja makan.
###
Sejak kedatangan Vany malam itu, ia jadi sering menemui Reza, bahkan di kantor. Seperti siang ini, saat jam makan siang, Maira melihat Reza keluar ruangannya lalu menyusul Vany yang sudah menunggunya di lobi. Meski benar sudah menjaga jarak dengan Cantika, namun seakan sama saja, karena ia kembali tak bisa menjaga jarak dengan teman wanitanya.
Sementara itu, Maira juga melihat tingkah lucu Cantika yang kesal sendiri karena melihat bosnya itu sedang pergi bersama Vany.
“Bukan cuma kamu yang kesal, aku juga,” gumam Maira dalam hati.
Lagi-lagi, ia berusaha tak terganggu dengan hal ini. Ia pun juga tak pernah lagi protes tentang apa pun yang dilakukan suaminya. Setiap sedang sakit hati karena cemburu melihat suaminya bersama perempuan lain, ia selalu kembali menegaskan dirinya, bahwa Reza memang belum bisa mencintainya. Terbukti dengan mudahnya ia pergi bersama lawan jenisnya, setelah Cantika.
“Mungkin memang jiwanya playboy. Kok bisa Kak Nindy dulu mau menikah dengan laki-laki seperti itu?” tanyanya masih dalam hati.
Melihat Maira yang melamun, Deby mengajaknya bicara. "Ra, kapan-kapan kita main yuk, aku jemput kamu di kosmu."
Maira seketika gelagapan. "Eh, iya nanti kapan-kapan ya. Tapi kita langsung bertemu di tempat saja, tak perlu menjemputku di kos, kasihan kamu karena kosku agak jauh dari kantor."
"Memang kosmu di daerah mana sih, Ra? Biar kapan-kapan kalau aku sedang kesepian bisa main ke kosmu," lanjut Deby ingin tahu.
"Oh, itu di daerah sana, dekat restoran Mixed One," jawab Maira tak ingin memberi tahunya secara detail.
Jelas saja Maira akan kerepotan jika harus berpura-pura menunggu Deby di kosnya, apalagi kalau Deby tiba-tiba ingin mampir di kosnya.
Agar Deby tak semakin bertanya tentang kosnya, ia kemudian menghubungi Sasa untuk mengajaknya makan siang bersama di suatu kafe yang berada di tengah-tengah jarak antara kantornya, dan kantor tempat Sasa bekerja.
Setelah memastikan Sasa bersedia, ia pun langsung memesan ojek online.
Maira pun berpamitan pada Deby saat ojeknya sudah dekat dengan kantor.
Saat di jalan, ia tak sengaja melihat mobil Reza yang sedang dibuka sedikit kaca jendelanya. Reza pun juga tak sengaja beradu pandang dengan istrinya dengan tatapan tak enak hati, juga tatapan ingin tahu ke mana istrinya itu akan pergi. Maira seakan tak gentar meski ia melihat suaminya sedang bersama Vany dalam 1 mobil.
...****************...
""' nyesss 😭