Gus Fatih diberikan pilihan oleh kedua orang tuanya. Menikahi seorang gadis sholeha yang merupakan seorang ning atau menikahi seorang wanita malam.
Kira-kira siapa yang akan gus Fatih pilih? Apakah gadis sholeha yang pandai agama, atau seorang wanita malam yang hidupnya tak tahu arah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skyl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~Wanita Pilihan Gus Fatih~ part 12
Mereka semua mendekati makam orang tua Inara. Namun, di sana ada sosok laki-laki yang tengah berdo'a seraya menaburkan bunga ke makam tersebut.
Inara maju dan memegang bahu laki-laki tersebut. Membuat sang empuh menoleh dan mereka sama-sama terkejut.
"Siapa?"
"Angga?"
Fatih dan kedua orang tuanya juga terkejut. Sebab mengatahui siapa laki-laki tersebut.
"Fatir?" tanya umi Tifa mendekati mereka. "Ngapain kamu di sini?" tanya umi Tifa, tetapi tak di respon oleh Fatir sendiri.
Mata Inara berkaca-kaca dan langsung memeluk laki-laki tersebut. Fatir pun membalas pelukannya, dari matanya ia sudah tahu siapa wanita yang bercadar di depannya
Akhirnya setelah bertahun-tahun mereka berpisah akhirnya di pertemukan kembali.
"Kamu kemana aja selama ini, ha? Aku udah mencarimu, tapi aku tak menemukanmu," ketus Inara melepaskan pelukannya.
"Maafin aku, Ra. Aku harus menghindar."
"Karena apa? Karena apa kamu harus menghindar dari aku dan kak Dewi?" tanya Inara mendongak ke atas.
Mereka semua termenung mencoba mencerna semuanya. Apalagi Fatih yang menatap mereka dengan dalam.
"Kalian saling mengenal?" tanya Farhan mendekati mereka.
Keduanya pun menoleh. Inara yang baru sadar langsung memundurkan langkahnya ke belakang.
"Kalian ngapain ke sini?" tanya Fatir dengan nada yang tak suka. Bahkan tatapannya seakan menaroh ke bencian.
"Seharusnya abi yang bertanya sama kamu, ngapain kamu di sini? Dan berada di makam orang tua Inara?"
Fatir menghela napas panjang. Tidak mungkin, ia mengatakan tentang tidak-tidak kepada keluarganya kepada Inara. Mau gimana pun mereka tetap keluarganya.
"Inara aku pergi dulu," pamit Fatir ingin melangkah pergi. Namun, cepat-cepat Inara menghentikannya.
"Setelah sekian lama kita berpisah, kamu ingin pergi? Kamu tak kangen denganku?" tanya Inara dengan mata yang berkaca-kaca.
Fatir menoleh lalu menggeleng. Ia menghapus air mata itu, ia tak ingin gadis tersebut menangis.
"Kita bakal ketemu, ok? Tapi sekarang aku ada urusan."
"Janji?" tanya Inara membuat Fatir mengangguk.
"Kamu mau kemana?" tanya Inara lagi.
"Mau pulang, aku ke sini cuma syiara ke makam orang tua kamu aja. Tiap minggu memang aku sering datang, seperti yang kita lakukan dulu. Aku tidak pernah melupakannya, mereka seperti kedua orang tuaku juga."
Inara menangis, Fatir pun melepaskan dengan perlahan tangan Inara alias tangan calon istri kakaknya.
Ternyata gadis yang kakaknya akan nikahi adalah kekasihnya yang sangat dia cintai. Haruskah ia harus rela atau memperjuangkan cintanya?
Saat berpapasan dengan Fatih. Fatir menepuk bahu kakaknya yang masih terdiam.
"Jaga dia baik-baik." Setelah itu Fatir berlari pergi dari sana meninggalkan mereka.
Inara jadi merasa bersalah tadi, memeluk laki-laki di depan keluarga calon suaminya. Namun, mereka hanya tersenyum dan seperti tak jadi apa-apa.
"Ini makamnya orang tua Inara sama Dewi?" tanya umi Tifa membuat mereka mengangguk.
Dada umi Tifa sedikit sesak. Namun, Farhan buru-buru memegang tangan istrinya lalu menggeleng.
Fatih maju dan memberikan do'a kepada almarhum kedua orang tua Inara dan Dewi. Setiap kali Inara akan datang ke makam itu ia akan menangis.
Buktinya sekarang. Inara menangis dalam pelukan kakaknya. Kedua orang tuanya meninggalkan dirinya di usianya yang baru enam belas tahun. Dan sekarang ia sudah ingin menikah.
Inara melepaskan pelukan kakaknya dan duduk di samping Fatih.
"Ayah, tolong restui Inara untuk melanjutkan kehidupan Inara dengan calon suami Inara. Anak yang kalian rawat hingga dewasa kini sudah ingin menikah. Ayah, kak Dewi sudah menepati janjinya menggantikan peran ayah dan bunda sebagai orang tua tunggal Inara. Bahkan, kak Dewi rela tak mencari pasangan hidup hanya sebab tak ingin Inara sendirian, tapi malah Inara yang akan meninggalkan kakak dan menikah."
Dewi ikut duduk dan menangis sambil memeluk batu nisan ayahnya.
Sedangkan kedua orang tua Fatih dan juga Fatih hanya menunduk melihat mereka curhat dan menangis. Ingin rasanya Fatah memeluk calon istrinya. Namun, itu tidak akan mungkin sebelum mereka sah.
Karena sudah di sana begitu lama. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Di perjalanan Inara hanya diam. Fatih tidak menyetir kini geliran abinya. Fatin berada di samping Inara, sedangkan Dewi berada di belakang seorang diri.
Padahal Fatih sudah menyuruhnya untuk duduk di kursi bagian tengah biar dia yang di depan bersama abinya. Namun, wanita itu menolaknya.
"Gus aku boleh bertanya?" tanya Inara menoleh ke arah Fatih membuat Fatih menatapnya lalu mengangguk.
"Boleh, apa?" tanya Fatih. "Tolong jangan menangis lagi, aku tak tahan melihatnya."
Inara menghapus air matanya lalu mengangguk. Hal itu membuat Fatih tersenyum.
"Mau bicara apa hem?"
"Nanti aja, saat cuma ada kita berdua."