Mutiara, gadis yang menjadi korban keegoisan kedua orang tua berjuang untuk terus melanjutkan hidup dengan baik dengan bantuan sang eyang.
Namun saat orang terakhir yang menjadi alasan untuk hidup telah pergi untuk selamanya membuat Mutiara semakin terpuruk.
Namun hidup tidak lah seburuk itu.
Karena takdir memberikannya seseorang yang akan kembali menjadi alasan dirinya bisa kembali tersenyum pada kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
" Kenapa kamu melamun" sentak Irena setelah memukul lengan Savira. Dia yang tadinya keluar kamar hanya ingin mengisi ulang air minum untuk diletakkan kembali dikamar seketika berhenti saat melihat putrinya duduk sendiri dengan pandangan kosong hingga tidak menyadari keberadaannya.
Savira terkejut kemudian menoleh ke arah Irena. namun yang dia lakukan hanyalah melihat Ibunya yang berdiri disampingnya dengan ekspresi seperti orang bingung.
Melihat kelakukan Savira, Irena semakin terheran namun tidak menaruh curiga apapun, dirinya melirik jam yang tergantung didinding "Pergi ke kamarmu dan segera tidur. Ini sudah hampir jam 11"
Perlahan Savira mengumpulkan kesadarannya. Lalu melihat jam dinding yang dilihat Irena. Ada yang salah dengan waktunya. Bukan, waktunya tidak salah tapi dirinyalah yang salah.
"Ibu!" Panggil Savira pelan saat melihat Irena berbalik pergi meninggalkan dirinya
"Ada apa?" balas Irena mengernyitkan keningnya.
"Tidak apa-apa, aku...aku hanya mengantuk" Irena menaikkan alisnya lalu pergi menuju dapur.
Savira naik ke lantai dua menuju kamarnya. Kamar yang seharusnya milik Mutiara namun dengan rengekkan didepan Dwi dan Irena serta kediaman Mutiara, dia bisa membuat pemiliknya berpindah kamar.
Di ujung tangga lantai dua Savira bertemu dengan Rendi yang sengaja menunggunya.
Rendi melihat dengan jelas bagaimana tingkah Savira setelah Berbicara dengan Mutiara. Dia hanya berani mengawasi tidak berani ikut campur, dia hanya bisa mengawasi Savira yang duduk sendiri hampir satu jam lamanya. Tidak masalah dia disebut pengecut tapi rasa takut itu begitu tertanam dalam dirinya
"Jangan mengganggu Kak Ara jika kakak ingin baik-baik saja" terlintas kembali ingatan dikepala Rendi saat dia juga pernah merasakan hal yang sama dengan Savira tadi.
Savira diam tak memperdulikan Rendi maupun perkataanya, yang ada dipikirannya kini hanyalah segera masuk dalam kamarnya dan tidur agar perasaan tidak nyaman itu segera hilang.
"Semoga kak Vira baik-baik saja" Gumam Rendi. Setelah memastikan Savira masuk ke dalam kamarnya dia pun segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya untuk beristirahat.
.
Jam 8 pagi semua anggota keluarga Dwi Cahya keluar dari kamarnya masing-masing untuk sarapan. Semua sudah duduk. dikursi masing-masing namun kening Dwi Cahya mengernyit saat tidak melihat Mutiara
"Ron, Panggilkan Mutiara untuk sarapan bersama!" Titah Dwi pada salah satu asisten rumah tangga.
"Maaf tuan, pagi-pagi sekali Nona Mutiara Izin untuk segera pulang ke rumah Eyang Murti" Ron berucap seraya menunduk, tidak berani melihat tatapan tajam tuannya.
"Kenapa dia tidak minta izin padaku" Ucap Dwi menahan marah yang dapat dilihat dari raut wajahnya.
Ron hanya bisa diam tak membalas perkataan Dwi karena pada kenyataannya Mutiara memang tidak menjelaskan alasan kepergiannya dan sebagai seorang pelayan Ron tidak kepikiran untuk bertanya lebih jauh.
"Anak itu benar-benar tidak punya sopan santun" Dwi mendelik tidak suka saat mendengar ucapan Irena namun tetap diam.
"Pergilah" titah Dwi saat melihat gelagat Ron yang tidak ingin menjelaskan apapun lagi.
Pada akhirnya empat anggota keluarga itu mulai sarapan. Savira yang mendengar keterangan Ron menghembuskan nafas lega atas kepergian Mutiara.
Dwi terlebih dahulu menyelesaikan sarapannya, lalu melirik ke arah Savira.
"Savira, setelah sarapan masuk ke ruang kerja Ayah. Ada yang ingin Ayah bicarakan padamu"
Wajah savira terangkat saat mendengar ucapan Dwi. Ternyata apa yang dikatakan Mutiara semalam bukan hanya sekedar bualan.
"Baik Ayah" Jawab Savira pasrah yang di iringi tatapan penuh tanya dari Irena dan Rendi.
Jarang-jarang Savira dipanggil ke dalam ruang kerja Dwi. Jika begitu sudah dapat dipastikan Savira telah melakukan kesalahan atau ada sesuatu yang ingin Dwi bicarakan berdua namun tidak sampai kedua orang lainnya tidak tahu menahu soal itu.
Apalagi Dwi terlihat tidak ingin menjelaskan apapun, dia langsung beranjak menuju ruang kerja dimana dia akan menunggu Savira disana.
Sepeninggal Dwi dari ruang makan, irena langsung menghentikan sarapannya. Dia langsung mengalihkan netranya menatap Savira yang duduk tepat didepannya.
"Kenapa Ayahmu ingin bicara berdua denganmu? desak Irena ingin tahu. " Apa kamu telah melakukan kesalahan?"
Tergambar dengan jelas rasa khawatir di wajah Irena tentang putrinya. Tingkah savira yang tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menjawab pertanyaan membuat Irena semakin khawatir.
"Jangan diam saja Savira, jelaskan pada Ibu!" cerca Irena pada Savira yang terus melanjutkan sarapannya.
Sedangkan Savira yang terlihat diam diluar ternyata memiliki isi pikiran yang tidak baik-baik saja.
Masih jelas di ingatannya tentang rasa takut yang tiba-tiba hadir dalam dirinya saat berhadapan dengan Mutiara semalam. Entah itu karena tatapan Mutiara yang terasa dingin menusuk atau Mengenai hubungannya dengan Arjuna yang dibocorkan kepada Ayahnya.
"Savira" Hentak Irena, menatap tajam pada gadis dihadapannya.
"Setelah keluar dari ruang kerja Ayah baru Savira jelaskan." ucap Savira seraya beranjak dari duduknya dan langsung melangkahkan kakinya ke ruang kerja Dwi.
Savira mengetuk pelan pintu ruangan tempat Ayahnya berada. Saat terdengar suara dari dalam, Savira masuk lalu tak lupa menutup pintu kembali secara perlahan.
"Duduklah!" Perintah Dwi yang sudah duduk dikursi kerjanya. Savira duduk didepan Dwi yang hanya dipisahkan oleh meja kerja
"Apa benar Arjuna mantan kekasihmu?" Tanpa basa-basi mengajukan pertanyaan pada Savira.
"Benar" Jawab Savira singkat
"Sejak kapan kalian pacaran? kapan kalian putus? Apa alasannya?" cerca Dwi pada Savira.
"Awal tahun ini dan bulan lalu kami putus. Alasannya tidak ada kecocokkan" Savira menjawab dengan yakin.
Dwi menarik napas, lalu membuangnya dengan cepat.
"Itu berarti saat kamu sedang berhubungan dengan Arjuna kamu juga berhubungan dengan Anak Keluarga Ruslan?"
Savira terkejut saat mendengar pertanyaan Ayahnya. Dia bahkan hanya mengenalkan Yalden Ruslan dua bulan yang lalu pada Ibunya karena kepergok jalan berdua. Savira yakin pasti Ibunya yang sudah melapor.
"iya" Jawab Savira semakin menunduk. Gadis itu tidak berani melihat wajah Ayahnya. Savira sedikit merasa malu dengan masalah ini. Apa yang akan dipikirkan Ayahnya saat mengetahui dialah yang menduakan para pria.
"Sekarang Ayah tanya. Kamu serius menjalin hubungan dengan pemuda itu?"
"Untuk sekarang Iya"
Dwi berdecak mendengar jawaban Savira. Apa ini karma darinya yang menikahi Ibu Savira saat masih berstatus suami dari Ibu Mutiara.
Dwi hanya bisa menghela nafas pelan seraya melihat Savira lebih teliti.
"Berhentilah bermain-main dengan pria, Nak!" ucap Dwi pelan demi menjaga perasaan putrinya.
"Aku hanya ingin mencari yang terbaik" kilah Savira memberi alasan akan perbuatannya selama ini.
"Yang setara dengan Rayden tidak akan ada karena kamu terlalu memujanya tanpa melihat kalau Rayden juga manusia biasa yang memiliki kekurangan"
Nasehat Dwi yang mampu membuat wajah Savira memerah entah karena malu atau marah saat tujuannya selama ini terbaca oleh Ayahnya sendiri.
(Ω Д Ω)
babai hadir disini untuk memberi semangat kaka author yang kecteh.. /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/