NovelToon NovelToon
The Destiny

The Destiny

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:17.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Tianse Prln

Karena adik tirinya (Rachel) yang hamil, Ana terpaksa menggantikan posisi Rachel yang harus melakukan pernikahan bisnis dengan Ray.

Disisi lain Ray sedang mencari seorang gadis di masa kecilnya, dia adalah cinta pertama Ray. Apakah Ana akan terus menjadi mainan Ray? dan apakah pada akhirnya akan diceraikan oleh Ray, jika Ray dapat menemukan gadis masa kecilnya itu?

Silahkan ikuti kisahnya~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tree Park

Hembusan angin sore menerpa wajah pria itu, lama ia berdiri disana, menatap sebuah pohon yang menyimpan sebuah memori.

"Tuan, tiga jam lagi anda memiliki janji makan malam dengan ketua komisaris."

"Iya, tunggu sebentar lagi." Ray masih menikmati hembusan angin dengan pemandangan hijau yang menyejukkan mata.

Lagi? Anda sudah berdiri disini sejak dua jam yang lalu. Apa kaki anda tidak mati rasa? Astaga tuan Raymond, kau selalu seperti ini saat kita datang kemari. — Batin Yohan.

Tree park, sebuah taman pohon yang tumbuh alami, taman ini adalah tempat dimana Ray sering melepaskan penatnya, di sini juga merupakan tempat kenangannya bersama Angel.

Pohon tua yang tumbuh meneduhkan itu— dulu ia duduk disana, menangis seorang diri. Namun, tiba-tiba ada seorang gadis kecil datang, gadis itu bagaikan malaikat yang memberinya semangat, mengingat semua hal itu, membuat Ray semakin ingin menemukan Angel.

"Tuan, anda sudah berdiri cukup lama disini." Ujar Yohan, kembali mengingatkan.

Ray menghela nafasnya sejenak, kemudian menatap ke arah Yohan.

"Ah baiklah baiklah, kau akhir-akhir ini sangat cerewet sekali." Katanya.

"Maaf tuan."

"Lupakan, ayo pergi." Ujar Ray, sebelum pergi, ia memandang pohon penuh kenangan itu sejenak. Lalu kemudian, ia melangkah pergi menjauh dari sana.

Sesampainya di tempat parkir, Yohan membukakan pintu mobil untuk Ray, setelah Ray masuk ke dalam mobil itu, Yohan menutup pintu mobil itu kembali. Kemudian, ia berjalan menuju bagian kursi pengemudi. Tapi, saat dirinya baru saja ingin masuk ke dalam mobil itu, ekor matanya tak sengaja menangkap sosok yang cukup familiar di ingatannya.

Yohan menoleh, punggung perempuan yang dilihatnya itu benar-benar terlihat tidak asing baginya, perempuan itu seperti Ana.

Bukankah itu nona Ana? Apa yang dilakukannya disini? — Batin Yohan.

"Yohan. Apa yang kau lakukan, kenapa lama sekali?!" Tanya Ray dari dalam mobil.

"Ah iya tuan, maafkan saya." Ucap Yohan yang kemudian masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobil itu.

Ah mungkin aku salah lihat. — Batin Yohan.

"Apa saja jadwalku malam ini?"

"Hanya makan malam dengan ketua komisaris tuan, setelah itu tidak ada jadwal lagi." Jawab Yohan.

Ray mengangguk paham. Setelah itu, ia kembali mengedarkan pandangannya ke luar jendela mobil.

Entah kenapa rasanya aku ingin sekali bertemu dengan perempuan itu, sikapnya yang tidak sopan padaku ternyata membuatku candu untuk selalu melihatnya. — Batin Ray.

"Setelah makan malam dengan ketua komisaris, kita pergi ke restoran calon istriku."

"Eh?"

"Apa kau tuli?!"

"Ah maksud saya, baik tuan."

Saya hanya tidak menyangka kalau anda akan memanggil nona Ana seperti itu tuan. — Batin Yohan.

•••

Kenan membantu Ana duduk di bawah pohon, tempat yang dulu sering digunakan keluarganya untuk menghabiskan akhir pekan bersama.

"Apa kakak merasa dingin?"

Pria itu membenarkan syal yang Ana kenakan. Udara di tempat ini memang cukup dingin, karena banyak pepohonan dan juga dekat dengan pegunungan.

Orang normal mungkin tidak akan terlalu bermasalah dengan udara di sini. Tapi, bagi Ana, ini akan menimbulkan masalah.

"Jangan berlebihan, aku baik-baik saja." Ujar Ana dengan senyumannya.

Kenan kemudian duduk disamping Ana, di kursi panjang taman itu.

"Sudah lama sekali ya." Ujar Kenan.

"Em, lama tidak kemari. Sekarang rasanya seperti kita sedang melintasi ruang waktu untuk melihat kenangan masa lalu."

Ana melihat sekeliling taman itu, bayang-bayang dirinya dan keluarganya saat itu terputar di benaknya.

"Waktu berjalan sangat cepat ya kak."

"Hei, kau juga cepat sekali besarnya. Dulu kau sangat kecil dan pendek, sekarang kau tinggi sekali, bahkan lebih tinggi dariku." Kata Ana.

"Tentu saja, aku ini sudah dewasa."

"Iya iya, kau bahkan sudah punya pacar, sedih sekali rasanya, awas saja kalau kau melupakan kakakmu ini."

"Hei apa kakak sedang cemburu."

"Iya! Aku cemburu kau lebih memiliki banyak waktu dengan pacarmu itu dari pada kakakmu ini." Ujar Ana.

"Oh ya ampun, aku tidak percaya ini. Kakak, bagiku kau tetap nomor satu." Ucap Kenan.

"Kau pasti mengatakan hal yang sama juga pada pacarmu. Pacarku— bagiku kau adalah nomor satu. Benar kan?"

"Waah— bagaimana kakak tahu? Apa kakak seorang paranormal?"

"Ingat, jangan bertindak melebihi batas pada pacarmu, jangan sampai membuatnya seperti Rachel."

"Kakak tidak perlu khawatir soal itu, aku tidak akan lupa memakai pengaman saat melakukannya." Canda Kenan.

Ana rasanya seperti tersedak ludahnya sendiri, adiknya itu dengan vulgar mengatakan hal yang bahkan Ana sendiri sangat malu mendengarnya.

"Hei, Kau! Rasakan ini! Beraninya mengatakan hal seperti itu! Melakukan apa hah?!"

Ana memukul badan Kenan tanpa ampun. Dengan cepat, pria itu pun berusaha menghindar dari kakaknya.

"Kemari kau! Dasar setan kecil!"

"Aww sakit, kaaak— aww iya iya, aku hanya bercanda." Ujar Kenan yang kemudian kembali berlari kecil menghindari Ana yang berada tak jauh darinya.

"Kenan, jangan berlari, kau ini! Bagaimana jika kejadian seperti Rachel terjadi lagi hah?!"

"Sudah aku katakan, aku hanya bercanda~" Kenan berhenti berlari dan merengek pada kakaknya itu.

Melihat itu, Ana pun akhirnya menyerah, ia berhenti mengejar adiknya.

"Kemari!"

"Tidak, kau akan memukulku nanti, apa kau tidak tahu kalau pukulanmu itu sangat sakit!" Rengek Kenan.

"Astaga. Apa pantas kau sebut dirimu itu seorang pria, ayo kemari!"

Kenan berjalan pelan, Ana tersenyum melihat adiknya yang mulai mendekat ke arahnya itu.

Saat Kenan sudah berada di hadapannya, Ana langsung memeluk adiknya itu, ia meletakkan kepala Kenan pada bahu mungilnya. Gadis itu mengelus lembut rambut Kenan dan menepuk-nepuk pelan punggung Kenan.

"Oh adikku sayang— maafkan kakak okey. Sudah— jangan menangis lagi."

"Siapa yang menangis, aku hanya terharu, sudah lama kakak tidak memelukku seperti ini. Rasanya nyaman sekali." Ujar Kenan.

"Kalau begitu, kedepannya aku akan sering memelukmu seperti ini." Kata Ana.

Kenan melepaskan pelukannya dari Ana, ia menatap kakaknya dalam diam, kemudian menggelengkan kepalanya.

"Tidak! Pacarku bisa salah paham jika melihatnya."

Ana kembali berpura-pura kesal pada Kenan,

"Kau ingin kupukul lagi ya?! Masih saja membahas pacarmu!"

Kenan menanggapinya dengan senyuman lebar, membuat Ana tertawa.

Mereka tertawa bersama, melepas semua beban walau hanya sesaat. Namun, senyum Ana terhenti saat dirinya tak sengaja melihat sebuah pohon tua yang masih berdiri kokoh, dahannya sangat teduh dan terawat.

Pandangan Ana mulai berputar, rasanya seperti memori ingatan Ana sedang memaksa otaknya untuk mengingat sesuatu. Ana memegangi kepalanya yang terasa sakit.

'Hai' suara gadis kecil itu berhasil membuat seorang pria kecil yang sedang duduk dibawah pohon menoleh padanya, wajah pria kecil itu~

Kilasan ingatan Ana yang seperti telah lama hilang itu berputar seperti film hitam putih, suara gadis kecil yang mengatakan kata 'hai' itu terus memutari kepala Ana.

"Kak! Kakak!" Kenan panik ketika melihat Ana mengerang kesakitan sembari memegangi kepalanya.

Gadis itu terus berteriak kesakitan, air matanya pun mengalir. Ingatan itu seperti ingatan penting yang telah lama hilang, terasa sedih dan menyesakkan.

Ada perasaan tidak nyaman dihati Ana ketika dirinya melihat ingatannya sendiri.

Ingatan yang telah lama tenggelam itu seakan-akan mulai muncul kepermukaan, seperti puzzle yang mulai disusun satu demi satu.

"Kak!" Kenan mengguncangkan tubuh Ana, gadis itu masih diam, tubuhnya terasa lemas, ia jatuh terduduk di tanah, membuat Kenan semakin panik.

Perasaan apa ini? Membuatku gelisah, sesak dan ingin mencari tahu lebih. Apa itu tadi ingatanku? Mungkinkah kecelakaan yang pernah menimpaku dulu membuat beberapa ingatanku menghilang? — Batin Ana.

"Kak Ana."

Ana tersadar dari pikirannya, kepalanya sudah terasa lebih baik sekarang, suara gadis kecil itu juga telah hilang dari peredarannya.

"Bantu aku berdiri." Pinta Ana.

"Apa yang terjadi, kenapa kakak berteriak kesakitan seperti itu? Aku akan mengantar kakak ke rumah sakit."

"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Aku hanya seperti mengingat sesuatu, tapi— rasanya sulit sekali memahami ingatan itu. Apa kau pernah mendengar mama atau ayah berbicara tentang ingatanku atau semacamnya?"

Kenan berusaha mengingat, namun seingatnya, ia tidak pernah mendengar pembicaraan semacam itu.

"Sepertinya tidak ada. Apa ada yang salah dengan ingatan kakak? Semenjak mama sakit sampai meninggal, kakak tidak pernah memeriksakan diri ke rumah sakit, apa kakak baik-baik saja?"

Ana tersenyum, ia berusaha terlihat baik-baik saja dihadapan adiknya itu, tak ingin Kenan khawatir padanya.

"Kakak baik-baik saja, Kakak hanya merasa sedikit pusing. Mungkin butuh sedikit istirahat."

"Kalau begitu, ayo pulang kak. Kau harus istirahat yang cukup, aku tidak ingin melihatmu seperti tadi lagi, aku benar-benar sangat takut." Ujar Kenan yang ditanggapi sebuah anggukan dari Ana.

Setelah itu, mereka berjalan meninggalkan tempat itu. Kenan membantu Ana berjalan menuju mobil mereka yang terparkir di area parkir kendaraan.

"Maaf membuatmu khawatir." Ucap Ana ketika Kenan telah duduk di kursi kemudi mobil itu. Kenan tersenyum lembut menanggapi ucapan kakaknya.

1
Ray Aza
ana terlalu berisik ngabisin energi. udah tau ga bs melawan. kalem dong bls dgn elegan, think smart. dr awal terlalu berisik tp ga hasilin apa2
Erick Mogu
bertele tele
Dessy Yulia Azzahra: Hai kak, mampu yuk ke kisah Dessy dan Alex. judulnya Kak Dessy, I Love You!.
total 1 replies
Anonim
Hati bisa merasakan ketulusan
Retna Celya
terlalu membingungkan jln ceritanya
Dessy Yulia Azzahra: Hai kak, mampir yuk ke kisah Dessy dan Alex. kutunggu ya 😘
total 1 replies
Dee Na
nyebelin si ana lama2, maksa bgt kan
Ermilinda Sariati
bgus bgt
karlina ambar lestari
bagus ceritanya, menarik 🙂
Loveyucie xx
storynya menarik , on the point dan tidak bertele tele
Loveyucie xx
story menarik , on the point dan tidak bertele tele
tenny
sukaaa
tenny
sy suka ceritanya, sekali kali emang ceritanya hrs kayak gini adegan vulgarnya dihilangkan wkwk..
Romatua Siburian
ada perjanjian tapi tak jelas mana pihak 1 masa pihak 2 yg kasar
nurul jannah
rahel kok tdk mengenali aromanya alex
Rumy Tock
Ki
nurul jannah
selingkuh kok bilang bilang🤣🤣🤣
zha syalfa
kupikir mau telp suami 😄
zha syalfa
Ana?
zha syalfa
eh.. dia itu suka tiba² tahu tapi pura² tidak tahu..
ttg sekretaris yuna, ttg angel...
angel angeel.... (versi jawa. ha. h..)
zha syalfa
menghindari?? bukannya titik buta itu spot yg tidak tertangkap cctv ya??
artinya dia menghindari cctv dg berjalan di titik buta.
eh.. gmana sih, eh tau ah. itu lah 😅
🌃⃝⃟•ᵖᵈᶠMipan ZuZuZu
percayalah para reader tercuyunk, klian gk bakal nemu adegan2 yg kalian maksud, krn novel ini abis di revisi jdi bagian 20+ nya gk ada, so gk heran kalo Ana tiba2 hamil tanpa adegan 20+ dulu, tpi menurut gw bagus sih, ceritanya jdi gk bertele-tele, lopyu thor😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!