Diandra Gautama terkejut saat ada wanita yang mengaku sebagai istri siri suaminya. Antoni Aljufri. Yang mengejutkan lagi, wanita itu sudah satu tahun berstatus sebagai istri siri Antoni.
Wanita yang diketahui bernama Maria Selena itu, meminta Diandra agar bercerai dengan Antoni. Dengan alasan Maria cemburu karena Diandra selalu di utamakan. Padahal itu terjadi hanya karena harta yang di miliki Diandra.
Antoni bekerja di perusahaan milik keluarga Diandra. Dimana, Hendri Gautama akan mengangkat Antoni menjadi CEO untuk menggantikannya dalam waktu dekat.
Akankah Diandra menanyakan langsung perihal wanita yang mengaku sebagai istri suaminya itu kepada Antoni? atau berbicara dengan Ayahnya terlebih dahulu?
Atau Diandra akan mencari tahu semuanya sebelum mengatakan kepada sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon idaa_nafishaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Hendri Gautama
Seandainya saja Antoni mampu mengatakan itu. Sayangnya, dia tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya.
Beberapa hari berlalu...
Antoni berhasil mengumpulkan banyak sekali bukti tentang keburukan Maria.
"Aku tidak menyangka jika Antoni begitu mudahnya memberikan aku segala sesuatu tentang buruknya Maria. Kita lihat, bagaimana respon Maria saat mengetahui jika Antoni sendiri yang mengumpulkan ini." Diandra tersenyum smirk sambil melihat dokumen yang ada di meja makan.
Seperti biasa, setelah Antoni berangkat ke kantor. Diandra akan mengunjungi beberapa butik yang dia kelola sebagai hobi untuk mengisi kekosongan waktu.
Akan tetapi, kali ini Diandra sudah mempunyai tempat kemana dia akan pergi.
Di salah satu SPA terkenal di kota, Diandra memarkirkan mobilnya dan langsung berjalan masuk menemui seseorang wanita yang sepertinya sedang menunggu antrian.
"Pokoknya saya tidak mau tahu, saya memesan SPA VVIP. Jika diganti VIP saya mau uang saya kembali." Maria tengah berdebat dengan resepsionis saat dirinya tidak mendapatkan pelayanan SPA VVIP.
"Ehem..."
Suara deheman membuat Maria berbalik dan langsung tersenyum menatap Diandra.
"Calon anakku. Apa kamu datang untuk menemani calon Ibu kesayangan kamu ini?" Maria dengan pede nya berjalan mendekati Diandra.
"Tidak, aku datang untuk membuat perjanjian dengan kamu."
"Cih, perjanjian. Memangnya kamu siapa sehingga ingin membuat perjanjian dengan aku."
"Aku Diandra Gautama kan."
Walaupun merasa kesal, tapi Maria tetap mengikuti langkah kaki Diandra menuju kafe yang ada di area SPA tersebut.
"Ada apa? memangnya siapa kamu yang ingin membuat perjanjian dengan aku?"
"Bukankah sudah aku katakan, aku Diandra Gautama. Putri dari Hendri Gautama, orang yang sudah kamu cuci otaknya agar menikahi kamu."
"Apa kamu takut jika sebentar lagi aku akan mendapatkan dua orang yang kamu sayangi?" tanya Maria.
"Aku ingin membuat perjanjian dengan kamu, karena aku juga wanita. Aku memberikan kesempatan kepada kamu untuk memperbaiki kesalahan sebelum terlambat."
"Memangnya perjanjian apa yang bisa kamu tawarkan padaku?" tanya Maria.
Diandra kemudian menyerahkan dokumen yang berisi semua kebusukan Maria.
Baru membuka dokumen itu, Maria segera merobek-robek dokumen itu.
"Siapa yang memberi kamu semua tentang ini?" ketus Maria.
"Siapa lagi jika bukan lelaki kesayangan kamu. Antoni."
Maria langsung menatap tajam Diandra saat Diandra menyebut nama Antoni.
Antoni. Bisa-bisanya dia memberikan segala keburukan aku kepada wanita ini. Kamu memang keterlaluan.
"Apa yang kamu inginkan?" ketus Maria dengan nada kesal.
"Batalkan niat kamu untuk menjadi istri dari Hendri Gautama."
"Tidak bisa."
"Kalau begitu, tinggalkan Antoni."
"Tidak bisa juga."
"Bagaimana jika kamu tinggalkan dua-duanya."
"Diandra. Sepertinya kamu sangat mencintai Antoni ya. Kamu bahkan ingin tetap bertahan walaupun tahu Antoni sudah mengkhianati kamu."
Diandra hanya tersenyum masam menanggapi perkataan Maria.
"Dengar yaa, jika Antoni tidak lebih mencintai aku. Dia tidak mungkin memberikan aku segala bukti yang berkaitan dengan keburukan kamu." Skakmat untuk Maria.
"Maaf, Maria. Aku tidak mempunyai banyak waktu. Keputusan ada ditangan kamu. Sebaiknya ambil keputusan yang tepat sebelum berkas yang sudah kamu cabik-cabik itu sampai pada papaku."
Maria mengepalkan tangan sambil melihat kepergian Diandra. Keinginan untuk memanjakan diri sudah hilang. Maria memutuskan untuk pergi menemui Antoni.
Antoni dan Maria sepakat bertemu di sebuah taman tempat biasa mereka menghabiskan waktu bersama, sebelum Maria mendatangi Diandra dan mengungkapkan jati dirinya.
"Antoni, apa maksud kamu dengan memberikan semua bukti tentang keburukan dan memutuskan aku kepada Diandra?"
"Apa kamu ingin membuktikan jika memang Diandra jauh lebih baik dan jauh lebih kamu cintai daripada aku?"
"Maria, Kenapa kamu berpikir seperti itu. Kita sama-sama tahu jika wanita yang paling aku cintai adalah kamu, untuk itulah aku terpaksa harus memberikan segala keburukan kamu kepada Diandra." Tegas Antoni.
"Why?"
"Maria, tidakkah kamu menyadari jika semua tindakanku ini adalah bentuk tindakan aku untuk menghentikan pernikahan gila kamu dengan Hendri."
"Jika memang kamu tidak ingin aku menikah dengan Hendri, baiklah. Nikahi aku sekarang juga."
"Maria, aku..."
"Tidak bisa kan? Aku tahu kamu tidak akan bisa menepati janji kamu untuk menikahi aku secara sah dimata negara. Jadi jangan pernah berpikir untuk mencoba menghentikan pernikahan aku dan Hendri. Lagipula...."
Maria dan Antoni yang tadinya berdiri dengan jarak, kini Maria melangkah maju membuat jarak diantara mereka hilang.
"Setelah aku menjadi nyonya Hendri, aku akan memiliki banyak waktu untuk bisa bersama dengan kamu dan aku bisa membantu kamu untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan dengan cepat,"
"Tidak, Maria. Sudah aku katakan kepada kamu bahwa aku pasti akan menguasai harta kekayaan dari keluarga Gautama dengan usahaku sendiri."
"Antoni, kamu tidak bisa terus seperti ini dan membuat aku menunggu terlalu lama. Karena..."
"Karena apa?"
"Aku hamil."
"Tidak mungkin."
"Jika kamu tidak segera menikahi aku. Jangan marah saat aku mengatakan jika bayi yang ada dalam kandungan aku adalah bayi Hendri."
----------------
Di sisi lain...
Diandra dan ayahnya sedang berdebat mengenai Maria.
"Papa, setelah semua yang sudah Diandra kumpulkan. Kenapa Papa masih tidak percaya jika Maria adalah wanita yang buruk dan tidak pantas untuk menjadi anggota keluarga kita?"
"Diandra, Papa tahu jika setiap manusia pasti memiliki kesalahan. Papa yakin, semua ini adalah kesalahan Maria di masa lalu dan papa yakin jika Maria yang sekarang sudah berubah. Papa sudah bertemu dengan kedua orang tua Maria dan Papa sudah berjanji kepada mereka untuk segera menikahi Maria dalam waktu dekat."
"Papa bercanda."
"Tidak, Diandra. Papa harus bertanggung jawab pada Maria."
"Bertanggung jawab untuk? tidak, tidak. Jangan katakan papa..."
Dengan menghela nafas panjang, Hendri mengatakan jika...
"Maria hamil anak papa."
Duar !!
Suara petir di luar mengejutkan Diandra. Namun, Diandra tidak lebai dalam rasa kagetnya pada petir itu. Karena sejatinya apa yang di utarakan sang ayah jauh lebih mengejutkan.
"Pa, ini pasti jebakan. Aku mengenal papa."
"Papa tahu, papa sendiri tidak ingat pernah melakukannya dengan Maria. Hanya saja, pernah sekali Papa terbangun dalam keadaan telanjang. Tapi Papa bersumpah jika Papa tidak melakukannya. Lagipula..."
"Kenapa, pa?" tanya Diandra.
"Tidak ada. Yang jelas papa dan Maria akan menikah akhir pekan ini. Jadi tolong bersikaplah baik padanya."
Hendri kemudian memilih untuk pergi meninggalkan Diandra dan tidak memperdulikan panggilan Diandra.
"Argh..., kenapa jadi begini sih? jika Maria benar-benar hamil itu artinya ekspresi marah dan kecewa yang dia tunjukkan saat bersamaku adalah bohong. Aku juga yakin jika bayi yang ada dalam kandungan Maria adalah bayi Antoni."
Diandra mencoba untuk mengikuti kemana sang ayah pergi. Rupanya sang ayah berada di dalam ruang kerjanya dan terlihat menelpon.
"Ya, ya. Aku ingin semuanya berjalan sesuai rencana. Tidak, tidak. Aku ingin itu di tampilkan terakhir. Kau tahu, segala sesuatu yang indah selalu ditujukan di akhir..."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
dibilang bodoh ,tpi pintar dibilang pintar ,tpi bodoh..