Sebelum membaca bantu follow akun Ig: @siutayi
Segala pengorbanan dan penantian daniah terhadap yoga setelah bertahun - tahun lamanya menunggu janji terhadap lelaki yang ia cintai.
Nyatanya itu hanya janji palsu, yang ada yoga melamar delima adik kandung daniah kepada kedua orang tua nya dan itu semua membuat Daniah marah besar dan membencinya. Apakah Daniah akan menemukan belahan jiwa yang tepat?? ataukah akan kembali kepelukan yoga??
Bagaimana kisah Daniah selanjutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon utayi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pada jam istirahat kerja, Daniah berpikir seperti nya untuk menenangkan hatinya dengan makan ke kafe dikantor nya mungkin itu lebih baik. Tetapi setelah ia berada disana, ternyata ia salah mengira tetap saja hatinya masih kacau dan niatnya untuk makan siang menjadi tidak berselera. Apalagi sekarang tidak ada Nana disamping nya terasa hatinya sepi.
"Na, kenapa kamu tidak menelepon ku??? aku kesepian disini." Sedih Daniah menatap ponselnya menunggu seseorang menelpon nya.
"Daniah, boleh saya duduk disini." Ucap seseorang yang tiba - tiba datang membawa nampan berisi makanan dengan tersenyum terlihat raut wajahnya semakin keriput dengan umurnya semakin tua.
"Eh pak direktur, silahkan duduk saja" Ucap Daniah sopan mempersilahkan direktur duduk dengan tangan kanannya.
"Kamu ada apa?? tidak biasa nya sedih." Tanya pak Daniel Hwa yang duduk berhadapan dengan nya. Karena sedari tadi pak Daniel menatap kearah Daniah hanya menundukkan kepalanya sedih dari kejauhan.
"Tidak ada apa - apa pak direktur, hanya saja saya kesepian tidak ada Nana teman saya rasanya sepi." Jawab Daniah lesu.
Pak Daniel hanya tersenyum, "Memangnya Nana kemana??" tanya pak Daniel sambil memakan makanan nya.
"Dia pulang ke negeri asalnya Korea,, katanya ia mendapat kabar dari sang Kakak nya ayahnya meninggal sementara ibunya koma dirumah sakit telah 6 bulan, tragis sekali pak."Jelas Daniah panjang lebar.
"Ka----"
"Kakek!!" Seru jae Hwa berjalan kearah nya.
Daniah hanya memutar bola matanya malas melihat sosok pria yang ia benci itu kini dihadapan nya. "Sedang apa dia disini?? lalu kakek?? maksud nya apa coba manggil nama direktur kakek???" Gumam Daniah dalam hati.
"Ada apa??"
"Aku sedari tadi mencari kakek aku kira kakek diculik, eh ternyata ada disini."Ucap jae Hwa. Ia tidak menyadari ada seorang wanita muda bersama kakeknya.
"Kau ini bisa saja, mana mungkin kakek bisa diculik. ruangan kakek private ngak mungkin akan ada yang bisa masuk selain bawahan kakek." Ucap pak Daniel mengelengkan kepalanya pada cucunya.
"Ekhem." Daniah sengaja berdehem dengan keras membuat kedua pria itu menatap kearah nya.
"kek, eh maksudnya pak direktur aku permisi dulu." Pamit Daniah pergi meninggalkan dua pria itu disana.
"Lagi - lagi aku ketemu dengan wanita sombong itu lagi bagaimana bisa dia bekerja disini?" Ucap jae Hwa dengan dirinya sendiri memandang Daniah yang berjalan ke tangga darurat dengan berkali - kali mengepak mulutnya.
"Dasar nih mulut kenapa harus keceplosan bicara?? kenapa harus mengatakan kakek! Ihhh ini semua gara - gara cowok arogant itu, coba aja tidak mengatakan kakek aku tidak akan mengikuti katanya." Gerutu Daniah yang baru menyadari dirinya sedari tadi tidak kunjung - kunjung sampai ruangan nya karena menaiki tangga terus.
"Astaga!! Daniah apa yang kamu pikirkan?! Gini kan jadinya lupa!!!" Daniah kembali turun tangga lagi dan menuju pintu lift yang ada dilantai dua ya, karena tadi dia ada ditengah - tengah tangga menuju lantai tiga.
Diruangan direktur.
Pak Daniel duduk disinggasananya dan cucunya yang sedang duduk disofa mengotak - Atik ponselnya.
"Apa kamu tidak bosan memainkan ponselmu terus Ja???" tegur pak Daniel menatap kearah cucunya.
"Tidak kek, malah asik." Ucap jae Hwa matanya tetap memainkan ponselnya sembari tertawa.
"Sudah hentikan main ponselnya, kamu kembalilah ke kantor mu dan urus surat pengunduran diri mu di kantor cabang dan mulai besok gantikan kakek menjadi direktur disini." titah pak Daniel, ia sudah berdiri dihadapan cucu nya dan merampas ponsel nya.
"Apa!!! no kek!!! aku tidak mau!!!" tolak jae Hwa ia berdiri dari tempat duduknya.
"Pliss kali ini ja."
"Lagian kakek masih kuat untuk apa aku mengantikan nya, nanti kalau kakek tidak kuat aku pasti mau menggantikan nya." Ucap jae Hwa ia berhasil mengambil ponselnya pada pak Daniel.
"Nah itu kamu mengerti itu sebabnya kakek ingin kamu mengantikan kakek, kakek ingin menghabiskan waktu bersama nenekmu." Ucap pak Daniel.
"ta------"
"Ngak ada tapi - tapian mulai besok kamu sudah terpangkat menjadi calon direktur." Tegas pak Daniel.
****
Bersambung