NovelToon NovelToon
Noda Dan Luka

Noda Dan Luka

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Single Mom / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:188.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nita.P

Sebuah Noda di masa lalu membuat Vania harus menanggung semuanya sendiri saat pria yang membuat Noda dan Luka dalam hidupnya itu memilih untuk pergi dan meninggalkan tanggung jawabnya. Vania benar-benar banyak berkorban. Hingga dia harus pergi jauh dari kota tempat tinggalnya dulu.

Sagara Werden pergi ke luar kota untuk menyiapkan resepsi pernikahan dan istrinya yang sempat tertunda. Namun dia harus di kejutan ketik bertemu dengan Wanita di masa lalunya yang pergi dan menghilang dari hidupnya tanpa memberi dia alasan yang jelas.

"Kau telah membuat Noda dalam diriku dan luka yang masih membekas sampai sekarang" Vania

"Aku mencarimu selama ini, tapi kenapa kau pergi begitu saja tanp memberiku kabar apapun?"

Entah apa yang sebenarnya telah terjadi di masa lalu. Semua jawabannya ada di Noda dan Luka... Jangan lupa Like komen di setiap chapter.. dan berikan bintang rate 5

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 #Apa Yang Harus Aku Lakukan?#

Vania menatap wajah tenang anaknya yang sedang tertidur setelah menangis tcukup lamatadi. Bahkan isakannya masih tersisa sampai saat ini. Vania mengelus kepala Gevin dengan lembut. Tak terasa air mata ikut mengalir di pipinya. Mengingat keinginan anaknya tadi, sampai membuat Gevin menangis meraung-raung tadi.

Maafkan Ibu Nak, tapi untuk saat ini Ibu tidak bisa mewujudkan keinginan kamu. Melihat kamu begitu senang saat bertemu Papa kamu saja, membuat Ibu merasa was-was. Takut jika keluarga Papa kamu mengetahui tentang ini, maka Ibu tidak akan rela jika kamu tersakiti.

Tok..tok..

"Va.."

Vania menatap ke arah pintu kamaryang baru saja diketuk dar luar. Vania membenarkan selimut yang menutupi tubuh anaknya, lalu dia segera berjalan ke arah pintu kamar. Vania membuka pintu kamar dan melihat Jenny yang berdiri di depan pintu.

"Ada apa Kak?"

Jenny sedikit melongokkan kepalanya ke dalam kamar, melihat keadaan Gevin yang tadi menangis dan mengamuk pada Ibunya. "Gevin sudah tidur ya?"

Vania mengangguk, dia menutup pintu kamar dan berjalan ke arah ruang tengah bersama Jenny. Disana sudah ada Ibu, sepertinya Jenny memang disuruh oleh Ibu untuk melihat keadaan Gevin.

Vania duduk di atas karpet yang ada di depan sofa, diikuti oleh Jenny. Meski luarannya terlihat biasa saja.Tapi hatinya saat ini sedang benar-benar rapuh. Vania tahu jika semuanya akan ada waktunya untuk terbongkar tentang kenyataan yang ada. Dan seharusnya dia sudah bisa mempersiapkan diri dan hatinya saat ini terjadi.

"Va, apa Nak Gara tidak pernah mengetahui keberadaan Gevin selama ini? Dan kemarin adalah pertama kalinya dia tahu tentang keberadaan anaknya ini?" tanya Ibu dengan lembut.

Vania menatap Ibu, matanya mulai berkaca-kaca ketika Vania mengingat kejadian dimasa lalu. Bagaimana dengan jelas Gara sendiri yang menyuruhnya untuk pergi dari kehidupannya dan tidak lagi muncul di depannya.

"Dia sendiri yang menyuruh aku pergi dari kehidupannya. Dan saat itu aku baru mengetahui jika aku sedang dalam keadaan hamil. Karena aku sudah merasa tidak punya harapan hidup lagi di kota itu. Jadi aku memilih pindah kesini dalam keadaan hamil"

Air mata sudah menetes di pipinya, Vania benar-benar sedang dalam keadaan rapuh dan lemah saat ini. Apalagi ketika dia harus mengingat kembali ke 5 tahun lalu. Jenny yang duduk disamping Vania langsung merangkul gadis itu dan sedikit memberikan tepukan pelan di bahunya.

"Nak, Ibu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian. Tapi tolong fikirkan keputusan yang akan kamu ambil kedepannya nanti. Jangan hanya memikirkan tentang kamu dan kekecewaan kamu pada dia, tapi juga pikirkan tentang Gevin juga. Dia adalah tujuan hidupmu saat ini"

Vania tediam mendengar ucapan Ibu barusan. Memang benar apa yang dikatakan Ibu barusan, Gevin adalah tujuan hidupnya dan kebahagiaan Gevin saat ini adalah hal yang paling utama dalam hidup Vania.

Apa yang harus aku lakukan saat ini?

######

Pagi ini Vania sudah berada di toko bunga. Bersyukur karena Gevin tidak rewel lagi setelah semalam tidur dengan lelap. Vania duduk di kursi kayu yang ada ditoko, tangannya meraba bunga-bunga yang berada di atas meja di depannya. Bunga-bunga indah yang tertata sesuai jenis dan warnanya.

Vania masih memikirkan tentang keinginan Gevin dan juga tentang ucapan Ibu semalam. Hatinya sedang bimbang dan dilema saat ini. Bingung dia harus mengambill keputusan apa saat ini.

Noda dari luka yang diciptakan Gara dimasa lalu masih membekas, meski tidak terlihat ke permukaan.

"Mbak pesan bunganya"

Vania mngerjap kaget saat suara seseorang menyadarkan dia dari lamunannya. Lalu dia tersenyum saat tahu siapa yang datang ke toko bunga dan menjadi pelanggan yng pertama hari ini.

"Kak Hildan, mau pesan apa Kak?"

Hildan tersenyum tipis, dia menatap Vania dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa ada masalah? Aku lihat kamu hanya melamun dari tadi, bahkan aku datang saja kau tidak sadar"

Vania tersenyum, dia mencoba menutupi kesedihan dan kebingungannya saat ini. "Tidak papa Kak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja"

Hildan menatap Vania dengan lekat, menyelidiki dari wajah gadis itu yang sedang berepura-pura tegar saat ini.

"Yakin?"

Vania mengangguk dan tersenyum pada Hildan. "Iya Kak, jadi hari ini mau pesan bunga apa?"

Hildan tidak lagi bertanya appaun, karena dia tahu jika Vania memang sosok gadis yang tertutup. Dia tidak pernah gampang bercerita tentang masalahnya pada siapapun, meski sudah mencoba dipancing untuk bercerita, Vania tetap tidak akan bercerita.

"Dad, cepat"

Vania menatap ke arah mobil yang terparkir di depan toko ini, tepatnya berada di belakang tubuh Hildan yang berdiri di depan toko. Kaca jendela mobil yang terbuka dan seorang anak kecil mungkin seusia dengan Gevin melongokan wajahnya.

"Dia putriku, kau pasti baru melihatnya. Memang baru kali ini aku mengajak dia ke makam mendiang Ibunya. Aku hanya takut jika dia belum siap  untuk menerima jika Mommynya telah meninggal dunia"

Vania menatap gadis kecil itu dengan prihatin. Anak se-usia Gevin seharusnya memang sedang sangat membutuhkan kasih sayang seorang Ibu dan gadis kecil itu sudah harus kehilangan Ibunya diusianya itu.

"Kasihan sekali dia"

Hildan hanya tersenyum melihat wajah prihatin Vania ketika dia melihat anaknya. "Aku mau membeli bunga mawar putih saja"

Vania mengangguk dan segera merangkai buket bunga mawar putih sesuai pesanan dari pelanggan setianya. Setelah memberikan buket bunga yang dia rangkai pada Hildan, dan pria itu juga langsung berpamitan pergi setelah membayarnya.

Vania kembali duduk di kursi, menunggu kembali pelanggan yang datang. HIngga sebuah mobil yang berhenti di depan toko bunga membuat Vania terdiam beberapa saat. Ketika seorang pria keluar dari dalam mobil.

"Aku ingin menemui Gevin dan membawanya pergi"

Deg..

Ucapan Gara yang tiba-tiba itu membuat Vania panik. Dia langsung berdiri dan menatap Gara dengan tajam. "Apa maksudmu? Jangan macam-macam! Apa kamu tidak puas telah menghancurkan hidup aku ini? Apa harus aku mati dulu, baru kau akan puas? Iya Hah?!"

Gara langsung mendekat pada Vania dan ingin menenangkan gadis itu yang histeris. "Sayang, jangan berbicara seperti itu! Aku hanya ingin mengajak Gevin pergi jalan-jalan"

Vania jatuh terduduk diatas lantai dengan tangisan yang pecah. Tubuhnya bergetar hebat, Vania benar-benar sedang sensitif. Apalagi ketika menyangkut tentang Gevin.

"Aku lelah, aku capek dengan semuanya. Aku lelah... Hiks"

Vania benar-benar sedang dalam fase lelah dan lemah. Semua cobaan yang datang padanya, tentu tidak semua bisa dia selesaikan hanya dengan sebuah ketegaran saja. Vania sedang ingin menunjukan jika dirinya memang sedang tidak baik-baik saja saat ini.

Gara ikut berlutut didepan Vania, memeluk Vania yang menangis terisak. Hati Gara merasa tersayat mendengar keluh kesah Vania yang terdengar begitu menyakitkan.

Bersambung

1
Jeni Safitri
Coba aja pala gara setuju dna menerima baik vania pasti todak akan kejadiankan, seharusnya papa gara begitu menyadari vania anak dr org yg dia bunuh krn merampok memyesali dna berbuat kebaikan utk vania
Jeni Safitri
Jangan" perampokkan yg terjadi di rumah vania dulu adalah papanya gara yg sengaja utk bunuh ortu vania krn persaingan bisnis
Jeni Safitri
Ck.. Knp gara ngak lgsg jatuhkan talak 3 ke yunita di depan ortu nya jadi mrk ngak bisa lg menghalangi proses perceraian di pengadilan
Indah Alifah
ssemua karya author seru lho
Nita.P: makasih loh udah mampir.. jangan lupa dukungannya ya..
total 1 replies
Indah Alifah
kdri awal rada2 berat konfliknya aku suka clbk yah👍
Surati
bagus 🙏🙏
Sumarni Tina
mantap nasehat kak Jenny
Suherni Erni
Perebut itu dirimu yunita..klu dibilang perempuan murah ya dirimu.menjijikkan
Sarah Andry Ani
knp tdk jujur sj si vania itu sm gara agar dis tdk tersiksa sendiri
Ida Widiawati
gavin dapat donor ginjal dari siapa ya...
Saira
Luar biasa☺
uyhull01
slmat atas klhiran nya Va,,
uyhull01
ta ampun Gar kmu ini ada ada aja masih sempet kah berpikir kjlasan masa depan🤣🤣🤣
uyhull01
slmat atas kehamilan kdua ya Va,
uyhull01
good job Va,,
Yuni Yanti
gara memang toop lanjut thooor
uyhull01
Va bnar apa kata Jenny ,
mungkin itu calon adik Gevin hadir,
uyhull01
Kmu ykin Va akn bercerai dgan Gara ??
uyhull01
Hahhh akibat ke egoisan mu Pa liat Gara sma Vania jd korban nya,
uyhull01
puas kah pa dri awal papa ingin mnghancurkan Vania dan Gara ??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!