"Jika memang darahku bisa melepaskanmu dari belenggu kutukan menuju keabadian, maka aku rela".
Pertarungan dua klan vampir yang berawal dari satu keluarga kini berubah menjadi musuh bebuyutan. Keduanya berusaha memperebutkan kedudukan menjadi penguasa vampir no. 1.
Di saat yang sama keadaan dilema tengah menimpanya, pilih cinta atau klannya? Siapakah yang menjadi penguasa akhir?
Simak kisah mereka💋
DILARANG KERAS PLAGIAT🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Hamil atau Belum?
Beberapa hari setelah pernikahannya dengan Rose, hari-hari Aldric terus diberi kebahagiaan. Dirinya semakin semangat bekerja menjadi seorang CEO di Smith Corp. Terlebih setiap hari dirinya mendapat asupan untuk urusan perut maupun di bawah perutnya.
Rose pun awalnya berusaha untuk terus membangkang pada perintah Aldric, akan tetapi kebaikan suaminya pada nenek Viviane membuatnya berpikir ulang untuk menjadi istri yang baik.
Terlebih nasehat sang nenek yang menyadarkan dirinya bahwa yang namanya jodoh, maut dan rejeki semua sudah digariskan oleh Tuhan. Maka kita wajib mensyukurinya.
Setiap satu minggu sekali Rose akan mengunjungi rumah nenek Viviane sesuai ijin dari Aldric dengan pengawalan ketat. Terkadang bila suaminya tengah tidak sibuk maka akan menemaninya bertemu dengan sang nenek serta bertegur sapa dengan Chris dan Merry.
Hari ini Rose mendadak rindu dengan sang nenek dan ingin berkunjung walaupun tiga hari lalu telah bertandang ke sana. Entah mengapa rasa menggebu bergulung rindu atau apa juga dirinya tak tahu. Yang ada di benaknya ia rindu dengan neneknya dan ingin makan masakan sang nenek.
Sebelum ke sana ia pun memutuskan untuk menghubungi neneknya via telepon yang dipegang perawat pribadi sang nenek. Rose pun segera mendial nomor sang perawat.
"Tut...Tut..."
"Pagi, Nyonya Muda. Ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat dengan sopan.
"Tolong berikan ponselnya pada nenek ya kak, makasih."
Rose pun memerintahkan sang perawat untuk memberikan ponselnya pada sang nenek karena ia ingin bicara langsung pada nenek Viviane.
"Halo cucu nenek yang paling cantik, ada apa? Tumben pagi-pagi sudah menelepon? Apa suamimu sudah berangkat kerja?" cerocos sang nenek dengan riang di seberang sana tak menduga jika pagi ini Rose menghubunginya.
"Tanyanya satu-satu Nek, haha..."
"Begini Nek, aku kangen sama udang bakar pedas buatan nenek. Tolong masakin buat aku ya Nek. Nanti siang Rose pergi ke rumah nenek sama Aldric," ucap Rose.
"Apa kamu lagi ngidam, Rose?" tanya sang nenek.
Mendadak suasana di ponsel hening karena Rose tengah berpikir atas celetukan sang nenek.
"Apa aku memang tengah hamil ya? Ah tapi gak mungkin, kan beberapa hari lalu sempat datang bulan walau cuma sedikit," batin Rose.
"Rose,"
"Rose, kamu masih di sana?" tanya sang nenek memanggilnya.
"Iya Nek. Aku masih di sini ndengerin nenek kok. Tetapi aku rasa belum hamil kok. Soalnya beberapa hari yang lalu, Rose sempat datang bulan walau cuma sedikit dan sebentar saja," cicit Rose lirih.
Saat ini Aldric tengah mandi saat Rose sedang menelepon nenek Viviane. Rose memilih bicara di balkon kamarnya agar tidak terlalu terdengar suaminya jika membicarakan hal yang sedikit tertutup.
"Tapi perasaan nenek mengatakan kalau kamu tengah hamil. Coba nanti kamu periksa saja ke dokter atau pakai alat tes kehamilan dulu buat meyakinkan," tutur Nenek Viviane.
"Siap Nek. Jangan lupa pesananku ya Nek. Oh ya ini Aldric sudah mau selesai mandi. Aku bantu suamiku dulu ya Nek. Mmuach..." ucap Rose seraya memberi ciuman jarak jauh tanda kasih pada sang nenek tercinta.
Kriett...
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Aldric yang hanya mengenakan handuk putih sepinggang dengan buliran air menetes di dada bidangnya semakin membuat Rose tersihir.
"Lap dulu air liurmu itu, Rose?" ledek Aldric.
Rose pun yang mempercayai ucapan sang suami akhirnya mengelap bibirnya namun tak ada jejak air liur menetes. Justru Aldric tertawa terbahak-bahak dan membuat Rose sebal.
"Bugh..."
Sebuah lemparan bantal melayang pada tubuh Aldric namun tak membuat pria ini kesal. Tetapi tingkah istrinya ini semakin membuatnya gemas.
Saat Aldric mengambil baju yang telah disiapkan istrinya di atas tempat tidur untuk ia pakai, mendadak Rose naik ke atas punggungnya.
Hap...
"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanya Aldric dengan senyum merekah.
Ia sudah memegang istrinya dengan kedua tangannya agar tidak jatuh. Rose mengendus-endus leher suaminya. Entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa suka akan aroma tubuh suaminya dan selalu rindu ingin berada di dekapannya.
"Kenapa akhir-akhir ini kamu manja sekali sih. Seperti orang hamil saja," celetuk Aldric.
Deg...
"Apa benar aku memang telah hamil saat ini?" batin Rose.
🍁🍁🍁