Apa yang sudah digariskan oleh takdir maka tak ada yang bisa mengubahnya.
Vevina, gadis imut dengan segala pemikiran nya yang random serta tingkah nya yang konyol tapi menyimpan rasa sakit hati atas cinta pertama yang salah.
Luke, seorang aktor muda multitalenta didunia industri hiburan. Terkenal akan keramahan dan wajah tampan nya namun sangat tertutup rapat akan kehidupan pribadi nya terutama akan cerita tentang masa lalu nya.
Sempat terpisah jauh sampai takdir kembali mempertemukan mereka dengan cara nya..!!
Akan kah takdir bisa menyatukan mereka dan berdamai dengan masa lalu yang ada??!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenariansy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korban Sepatu lagi..
Sementara itu di lobby apartemen tampak Anna yang telah tiba terlebih dahulu, dirinya tidak sendiri karena ada Yuna dan Vina yang menemani karena Anna yang meminta untuk ditemani oleh kedua sahabatnya sebelum keduanya berangkat ketoko seperti biasa.
"Aku kok baru tau kalau kalian tinggal digedung apartemen yang sama!!" Ucap Vina dengan wajah terkejut saat mereka tiba dilobby apartemen.
Anna dan Yuna hanya saling pandang dan mengabaikan pernyataan Vina seraya berjalan memasuki lift yang akan mengantarkan mereka kelantai yang mereka tuju. Dengan menggandeng tangan Vina di kiri dan kanan membawanya masuk kedalam lift, hal tersebut mereka lakukan dikarenakan Vina terlihat merajuk kepada keduanya yang mengabaikannya.
"Dih lihat bibirnya maju tau, entar mirip kaya ikan cucut." Ledek Yuna sambil menoel pipi Vina yang masih kesal dengan kedua sahabat nya itu.
"Oohh.. Tu bibir lagi ngirim sinyal buat dikokop kali yun?" Anna pun ikut meledek.
"Masa sech An, mana-mana sini aku mau lihat sampai mana sudah sinyal nya. Jangan sampai sinyal nya nyasar sampai kealien An, nanti aliennya ketagihan malah bibirnya dicopot..." Yuna pun tak kalah meledek.
Anna dan Yuna tertawa sambil meledek Vina tanpa mempedulikan yang diledek sudah menaikan level kesalnya kepada kedua sahabatnya itu.
Untung nya didalam lift itu hanya ada mereka bertiga sehingga Yuna dan Anna semakin menjadi-jadi melancarkan ledekannya terhadap Vina.
Tidak tau kah mereka kalau Vina sedang bersiap untuk melancarkan aksi dramanya atau kedua temannya itu lupa kalau yang sedang mereka ledek adalah sang ratu drama yang akan beraksi disetiap ada peluang.
"Terus saja terus sampai kalian merasa bahagia karena telah menyiksa aku seperti ini, aku terima dan pasrah.. Tak akan jadi masalah untuk ku, lanjutkan saja mau kalian." Ucap Vina dengan mata yang berkaca-kaca seolah-olah hendak menangis dan wajah sedih.
Nah kan mulai dech!!!
Yuna yang sadar akan drama yang sudah dimulai, memutar matanya malas. Berbeda dengan Anna yang langsung memeluk Vina, namun Anna memeluk erat tubuh mungil Vina yang mana membuat Vina merasa sesak dan meminta ampun untuk dilepaskan. Hal itu dilakukan Anna dikarenakan gemas, dan Yuna yang melihat Vina sepertinya sudah mulai sesak nafas itu pun hanya tertawa.
Lift yang membawa mereka kelantai paling atas, namun sebelumnya tadi Yuna terlebih dahulu turun disatu lantai dibawah lantai dimana mereka sekarang. Yuna turun karena ingin keunitnya dulu untuk mengambil baju untuk dibawa ketoko dan berjanji menyusul mereka setelah nya.
Kini Anna dan Vina memasuki unit yang mereka tuju, Anna langsung menuju kamarnya karena ingin mandi, karena tadi diri nya sengaja tidak mandi dengan alasan malas saja jadi lah dia hanya cuci muka dan gosok gigi saja.
"Vin, aku mandi dulu ya.." teriak Anna dari dalam kamar.
"Iya..." jawab Vina tak kalah nyaring.
Vina yang merasa bosan duduk sendirian diruang tamu pun mulai bangun dari duduknya, dia mulai mengamati ruangan-ruangan yang ada disana masih dari tempatnya berdiri tadi. Kemudian dia memberanikan diri untuk berkeliling melihat-lihat apa saja yang menarik perhatiannya, unit apartemen itu sendiri terbilang besar kalau untuk ditinggali sendiri menurut Vina. Dikarenakan memiliki dua lantai, dan ada beberapa kamar dilantai atas juga dilantai dibawah, untuk kamar Anna sendiri ada dibawah tepat disamping tangga..
"Besar banget unit nya" gumam Vina sambil berjalan menuju jendela kaca besar disudut salah satu ruangan, Iya nampak terpesona akan pemandangan perkotaan dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi serta hiruk pikuk jalanan dibawah sana, dengan berbagai kendaraan yang berjejer bagaikan semut kecil yang bergerak pelan karena macet walaupun sudah lewat jam-jam padat di pagi hari. Vina seperti terhipnotis melihat pemandangan tersebut, sampai iya merasakan panggilan alam yang mendesak.
"Duh... Ganggu aja, duh toiletnya dimana ini?" omel vina sambil mencari-cari dimana letak toilet, sampai kearea dapur dan menemukan toilet disana.
Sementara itu Luke pun sudah sampai didepan unit apartemennya, Edo sendiri tidak ikut naik karena diminta kembali kekantor untuk mengambil beberapa berkas penting yang harus segera diserahkan kepada Luke.
Luke pun masuk kedalam unitnya langsung menuju dapur untuk meminum beberapa vitamin karena itu sudah jadi kebiasaan nya di pagi hari. Vina yang sudah menyelesaikan panggilan alamnya kini keluar dari toilet dan terkejut karena melihat punggung laki-laki yang sepertinya sedang membongkar salah satu laci yang ada diarea kitchen set disana,
Vina yang merasa tadi hanya berdua saja dengan Anna pada saat masuk dan tak ada orang lain apa lagi laki-laki disana menjadikannya berpikir bahwa orang itu adalah orang yang menyelinap masuk atau mungkin saja seorang penjahat.
Dengan tanpa ragu Vina mengambil kemoceng yang tergantung didinding didekat pintu toilet yang akan digunakan untuk memukul sang penjahat, dan tanpa berpikir lagi kemoceng yang sudah ditangan pun sudah mendarat beberapa kali dipunggung laki-laki dihadapannya, Tak hanya itu kini sebelah sepatunya pun sudah Vina layangkan dan tepat mendarat dikepala sang penjahat.
Lagi-lagi sepatu Vina makan korban!!
Luke yang merasa tiba-tiba ada benda yang menghantam punggungnya bertubi-tubi itu pun tersentak kaget dan melepaskan gelas yang dipakai untuk meminum vitaminnya itu dan gelas tersebut terjun bebas kelantai bersama beberapa vitamin yang belum sempat ditelannya.
Belum reda rasa kagetnya kini iya merasa kepalanya kembali pusing akibat benturan keras dari sebuah benda yang membuatnya terhuyung hampir terjatuh kelantai kalau saja tangannya tidak reflek bertahan dimeja kompor kitchen set.
"Awas kamu ya, berani-beraninya menyusup masuk kesini hah.. Rasakan itu kekuatan sepatuku!!!" Seru Vina menggebu seraya masih memukul punggung Luke yang sudah terhuyung jatuh.
Luke yang merasa mengenali suara orang memukulnya, berusaha membalikan badannya dan menangkap tangan mungil yang dengan semangat memukulinya dengan kemoceng. Dan benar saja, orang tersebut adalah Vina yang mana akibat gerakan luke yang tadi tiba-tiba berbalik membuat Vina oleng dan hampir saja menginjak pecahan kaca dari gelas yang terjatuh tadi.
Luke dengan sigap memeluk dan menjauhkan Vina dari pecahan kaca yang berserakan dilantai, Vina pun sangat terkejut karena gerakan Luke yang tiba-tiba berbalik dan memeluknya kemudian mengangkat dan memeluk tubuh mungilnya seperti Koala untuk memindahkannya dari area dapur keruang makan yang letaknya tak jauh.
Luke mendudukkan Vina diatas meja makan dan berlutut guna memeriksa kaki Vina kalau saja ada pecahan gelas yang mengenai kaki gadis tersebut, Vina hanya diam saja karena masih terkejut dan juga syok melihat siapa yang ada dihadapan nya saat ini.
Orang yang tadi disangkanya seorang penjahat ternyata adalah Luke, belum lagi tadi diri nya memukul dan kemoceng juga tak lupa dengan sepatu dan sekarang Luke sedang berlutut memperhatikan kaki nya untuk memastikan tidak terkena pecahan kaca.
Ahhhh.... Tolong, Vina malu dan ingin menghilang saja rasanya, Vina meringis dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya karena terlalu malu mengingat kejadian tadi.
Luke tersenyum melihat reaksi Vina yang tiba-tiba meringis dan menutup wajahnya, Luke yakin kalau sekarang Vina sedang merasa malu. Luke pun berdiri dan berjalan mengambil sepatu yang tadi Vina gunakan sebagai salah satu *senjata*nya, kemudian membersikan sepatu tersebut takut kalau ada pecahan kaca yang masuk kedalam sepatu tersebut lalu memakaikannya kembali kesalah satu kaki Vina dengan posisi Vina yang masih duduk dimeja makan.
Merasakan kalau sepatunya dipasangkan kembali, Vina menurunkan kedua tangan yang menutupi wajahnya tadi dan melihat kearah Luke yang sedang berlutut memasangkan sepatu tadi kesalah satu kakinya. Luke terlihat tersenyum saat memasangkan sepatu tersebut, Vina dibuat terpana dan juga merasa bersalah.
"Jangan dipandangi terus, nanti makin jatuh hati terus ingin memiliki.." ucap Luke yang tersenyum memandang Vina dari bawah karena masih berlutut dihadapan Vina.
Vina masih terpaku memandang senyuman Luke pun semakin terpana, dan Luke semakin terkekeh melihat wajah Vina yang menatapnya tanpa kedip, Luke pun bangun perlahan dari posisi berlutut dan mendekatkan wajahnya hingga hampir tak berjarak dari wajah Vina. Vina pun menutup matanya sambil menahan nafas ketika sadar wajah Luke yang hampir tak berjarak dari wajah nya.
"Vin.... Vina, tolongin dong! kamu dimana sech?" terdengar suara Anna yang berteriak kencang dari dalam kamarnya dengan pintu kamar yang terbuka lebar.
Mendengar teriakan Anna, Vina yang tadi menutup mata pun membuka matanya dan terkejut secara tiba-tiba saja Luke mengecup bibirnya lalu kemudian menurunkan Vina dari duduknya diatas meja.
Setelah turun dari atas meja, Vina langsung berlari masuk kedalam kamar Anna dengan jantung yang hampir saja terjun bebas dari tempatnya belum lagi dengan wajahnya merah sama dengan warna kepiting rebus dan ditambah lagi nafas yang memburu seperti habis lari maraton.
Luke yang melihat Vina yang kabur setelah menampakan kakinya dilantai itu pun tersenyum senang karena telah berhasil mengecup bibir mungil yang selalu membuatnya gemas, tak lama terdengar suara pintu yang terbuka dari arah depan. Terlihat Edo masuk dengan membawa beberapa berkas dan juga sekeranjang buah, Edo langsung menghampiri Luke yang masih berdiri ditempatnya tadi masih dengan senyuman yang tersemat dibibirnya.
"Ada apa, kok senyum-senyum gitu?" tanya Edo bingung melihat Luke dengan senyuman yang masih mengembang.
"Tolong kamu bersihkan itu ya, aku mau mandi dulu."
Bukannya menjawab pertanyaan Edo, Luke malah menyuruh Edo membersihkan pecahan gelas yang masih berserakan sebelum berlalu melenggang naik kelantai dua menuju kamarnya masih dengan senyuman yang tak luntur.
Edo yang disuruh hanya menganggukkan kepalanya dan dengan segera membereskan pecahan gelas tersebut setelah meletakan keranjang buah dan berkas yang iya bawa tadi diatas meja makan.
Edo dibuat bingung kenapa bisa dapur berantakan dengan pecahan gelas berserakan, ada beberapa butir vitamin juga dan tak lupa bulu kemoceng yang juga berhamburan disana.
"Ada apa ya, kok bisa-bisanya berantakan begini? mana senyum-senyum gitu. Ihh kok aku jadi merinding ya."
Edo bergidik dan tiba-tiba merasa kalau bulu kuduknya meremang sambil memperhatikan Luke yang naik kelantai dua dan menghilangkan dibalik pintu kamar nya.
💜💕💜💕💜💕💜💕💜💕💜💕💜💕
Terima kasih untuk dukungannya 💜borahe💜
panjang bnget narasi nya..
kok gk di pisah2